Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 167 Cinta Oh Cinta


__ADS_3

Rama kembali ke kamarnya dengan sejuta dugaan dan rencana. Ia menghubungi beberapa orang kepercayaan papanya agar mencari tahu informasi penting tentang Reksadana. Setelah menunggu beberapa saat informasi yang ia butuhkan ternyata sangat cepat sampainya.


Ia ingin sekali bertindak sekarang tetapi karena acara makan malam bersama para tamu sebentar lagi, akhirnya ia hanya mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual santai dan kembali ikut bergabung dengan orang-orang di ruang keluarga.


Andika terlihat kesal setengah mati karena diabaikan oleh Sovia yang sedang sibuk mengobrol bertiga dengan Tanaka Akihiko dan juga Arya asisten pribadinya di Restoran D'Sov. Mereka bertiga sibuk membicarakan tentang resep masakan kuliner tradisional di negara ini yang akan dibandingkan rasanya dengan masakan dari Jepang yang rada-rada mirip. Seperti Shusi dan lemper. Mochi dan onde-onde. Mie ramen dan Mia ayam. Dan masih banyak yang lainnya.


"Sovi, bisa bicara sebentar gak?" tegur Andika yang sudah merasa kering duduk di sana tanpa diajak ngobrol sedikitpun.


"Boleh, Kakak Dika ku sayang." jawab Sovi tersenyum manis dengan mata berkedip-kedip lucu tetapi Andika malah merasa horor jika Sovia bicara dengan nada seperti itu. Ia yakin ada aura tidak menyenangkan dalam suara gadis itu.


"Ayok!" ajak Andika dan menarik tangan gadis itu agar keluar dari lingkaran 2 pria yang sedang sibuk menarik perhatiannya itu.


"Hey, bicaranya di sini aja. Gak enak sama Arya dan Akihiko, dan juga kan banyak orang di sini." ujar Sovia berusaha menolak dan melepaskan genggaman tangan Andika di tangannya. Tetapi Andika malah mengeratkan genggamannya.


"Gak! aku ada hal penting yang bersifat pribadi. Yang aku mau bilang sama kamu." ujar Andika tanpa mau mendengarkan alasan Sovia. Ia sudah sangat jengah dengan pengabaian dari gadis itu. Akhirnya Sovia mengikuti kemauan Andika yang menyeretnya ke sebuah ruangan di dalam rumah itu. Andika langsung menutup pintu ruangan yang ternyata adalah ruang perpustakaan kemudian menatap Sovia dengan pandangan tak terbaca.


"Sovi, kamu semakin berbeda deh akhir-akhir ini." ujar Andika tanpa mengalihkan pandangannya pada bola mata gadis itu. Sovia yang merasa risih ditatap seperti itu langsung memandang ke arah lain.


"Berbeda apaan, biasa aja. Aku masih seperti yang dulu."


"Nih lihat, chat aku sama sekali kamu belum baca." Andika memperlihatkan handphonenya tetapi Sovia tidak menggubris.


"Sovi!" panggil Andika gemas plus kesal.


"Ada apa? ngomong yang penting-penting aja bentar lagi makan malam. Semua pasti menunggu kita di sana."


"Aku suka sama kamu Sovi." dengan susah payah Andika mengakui perasaannya.


"Tolong jangan bikin aku cemburu terus." lanjutnya lagi sambil meraih tangan gadis itu tapi langsung ditepis kasar oleh gadis yang berstatus sepupunya itu.


"Hmm suka ya? kok aku baru tahu. Kirain udah asyik sama si Elsa." jawab Sovia dengan bibir mencibir.

__ADS_1


"Sovi, dengarkan aku plis," ujar Andika sembari memegang kedua bahu gadis itu agar menghadap ke arahnya.


"Aku dan Elsa udah putus. Itu artinya kami berdua tidak ada hubungan lagi."


"Oh gitu ya?" jawab Sovia berusaha menahan sakit hatinya. Artinya Andika betul-betul pernah menjalin hubungan khusus sama Elsa. Bukan hanya sekedar gosip atau sebuah pengalihan dari dirinya.


"Trus kalau kamu udah putus langsung mau ke aku gitu?" tanya Sovia mendelik kesal.


"Kayak aku ban serep aja." Sovia berusaha menahan air mata yang kini siap jebol dari pertahanannya.


"Maaf ya Andika kakak ku tersayang, permisi. Aku gak mau dicariin mama." ujar Sovia kemudian melepaskan diri dari Andika yang masih memegang bahunya. Ia keluar dari perpustakaan itu dengan hati sedih. Ia kecewa karena ada nama Elsa yang pernah mengisi hati pria itu. Dan ia benci pada dirinya sendiri karena jadi gadis yang sangat egois, tak mau berbagi.


Andika yang ditinggalkan di dalam ruangan perpustakaan itu hanya bisa meninju tembok sampai jari-jari tangannya berdarah.


🍁


Setelah acara makan malam yang cukup dingin antara Andika dan Sovia tetapi begitu nyaman bagi yang lain. Rama segera mendekati papanya. Berbisik kalau ia ingin membicarakan suatu hal penting.


"Katakan Ram." ujar Gala yang langsung bicara pada inti masalah yang ingin dibicarakan oleh putranya itu.


"Ada apa? apa ada masalah dengan orang itu?" tanya Gala balik. Rama mengangguk.


"Dia mengambil calon istriku pa." mata Gala melotot kaget. Ia tak menyangka akan berurusan dengan orang seperti Reksadana. Petinggi dari Double Insurance yang mengaku sebagai keturunan bangsawan.


"Tak kusangka tua bangka itu masih suka daun muda. Hem." jawab Gala sembari menyentuh dagunya berpikir.


"Bukan untuk dia sendiri Pa, tapi untuk cucunya." jawab Rama gemes sama gaya papanya yang salah duga.


"Trus gimana maunya kamu?" tanya Gala penasaran. Pasalnya ia tahu siapa itu Reksadana. Orang penting yang punya banyak koneksi di bagian pemerintahan dan juga salah satu lawan bisnis yang selalu ingin menjatuhkan TGR.


"Rara harus jadi milikku pa." jawab Rama tegas. Ia tak akan rela jika gadis kriwilnya dimiliki oleh orang lain meskipun itu temannya sekalipun.

__ADS_1


"Yakin kamu tidak mau gadis lain?" tanya Gala berusaha memancing putranya. Ia tahu bagaimana rasanya jatuh cinta.


"Pa, kalau papa tidak mau bantu aku akan jalan sendiri." ujar Rama kesal karena papanya terkesan tidak serius.


"Hahahaha, santai. Keturunan Raditya tidak akan dikacangin oleh orang seperti Reksadana." Tawa Gala dalam ruangan itu membuat Rama ikut tertawa.


"Sekali Raditya jatuh cinta, maka perempuan itu pasti jadi miliknya, ngerti kamu?" ujar Gala dengan tatapan angkuhnya.


"Baik Pa terima kasih. Aku tunggu bantuan Papa kurang lebih 24 jam! kalau tidak, aku akan buat papa dan mama tidak bisa tidur nyenyak." ujar Rama sambil berlalu dari hadapan Papanya.


"Eh, anak ini. Malah ngancam Papa. Tapi aku suka. Dia asli keturunan Raditya. Hahaha." sekali lagi Gala terbahak-bahak merasa bangga dengan putranya.


Rama yang baru keluar dari ruangan kerja papanya langsung mencari Sovia adiknya.


"Sovi!" panggil Rama dari luar pintu kamar Sovia. Tidak ada jawaban tetapi ia yakin adiknya itu ada di dalam karena Sarah baru saja mengatakannya ketika bertemu tadi di tangga.


ceklek


Rama membuka pintu itu perlahan dan mendapati Sovia sedang menangis di atas ranjangnya.


"Sovi, kamu ngapain?" tanya Rama sembari melangkah mendekat ke arah tempat tidur adiknya. Sovia segera menghapus air matanya dan langsung menghambur ke pelukan kakak laki-lakinya itu.


"Kak," Sovia menangis sesenggukan dalam pelukan Rama yang bingung atas apa yang sedang terjadi.


"Hey, ada apa?" tanya Rama penasaran.


"Andika kak, dia jahat." ucap Sovia disela-sela tangisnya. Rama menarik nafas panjang. Ia sudah lama curiga akan kedua orang ini. Ini pasti ada hubungannya dengan kata CINTA.


---Bersambung--


Mana dukungannya untuk muda mudi yang sedang kalut karena CInTA ini... Betul kata Cut Patkay teman Sun Go Kong bahwa Begitulah Cinta deritanya tiada akhir...ckckck...

__ADS_1


Like dan Komen Plisss


Nikmati alurnya dan happy reading 😍 😍😍😍😍


__ADS_2