Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 212 Tokyo Love Story 2


__ADS_3

Sesuai janjinya semalam, pagi ini Rara yang berinisiatif menggoda suaminya untuk memberi sebuah pelayanan maksimal sebelum diminta oleh suaminya. Ia mulai menghampiri Rama yang sepertinya sibuk dengan gadgetnya setelah sholat Subuh.


"Mas."


"Hem."


"Aku kayak gak nyaman ya semalam boboknya di sini."


"Kenapa?" tanya Rama sembari menyimpan gadgetnya di atas meja. Ia heran kalau istrinya merasa tidak nyaman padahal tidurnya nyenyak begitu sampai-sampai tubuhnya sendiri sudah tidak dapat tempat yang layak.


Semua readers tahu kan kalau gaya tidur Rara seperti gasing memutar dan menguasai ranjang. Kalau tidak dipeluk ya ia akan menguasai ranjang king sizenya itu.


"Aku pegel mas, ini sakit semua." ujar Rara sembari memperhatikan bahunya yang putih itu kepada suaminya. Ia mulai membuka piyamanya di depan Rama dengan gaya yang cukup menggoda.


"Sini aku pijitin." ujar Rama tersenyum. Rara langsung duduk dipangkuan suaminya dengan senyum malu-malu tapi sedikit liar.


"Mas, kalau aku tidak bisa memberi kamu bayi, apa kamu akan meninggalkanku?" ujar Rara sembari menikmati pijitan lembut suaminya yang kadang diselingi dengan kecupan di lehernya.


Cup


"Awwwww." teriak Rara pelan. Rama bukannya menjawab malah menghisap lehernya dengan sangat keras. Yang ia pastikan akan memberikan bekas keunguan nantinya.


"Mas, jawab." ujar Rara lagi yang merasakan tangan suaminya sudah bukan lagi di daerah bahu tetapi semakin ke bawah ke daerah favorit sejuta umat.


"Mas, aaah." Rara benar-benar sudah dibuat melayang oleh suaminya. Tubuhnya lemas tak bertenaga hingga ia merasakan kalau sudah berada di atas ranjang empuk hanya dalam hitungan beberapa menit.


"Mas, kalau aku..." Rama capek mendengar pertanyaan yang tak bermutu dari istrinya itu, ia membungkam mulut Rara dengan mulutnya agar cuma suara dessaahan nikmat yang ia dengar.


Ia tidak mau membahas tentang anak sekarang. Toh sekarang ini ia sedang ingin menanam benihnya ke dalam sel ovuum istrinya itu. Ia ingin membawa Rara itu terbang jauh tanpa memikirkan yang berat-berat.


Mereka saling berpandangan dengan senyum puas setelah baru saja mendarat di bumi. Ternyata mereka berdua tak kuat berlama-lama di kayangan.


"Mas, capek." rengek Rara dengan manja. Ia kembali merapatkan tubuhnya ke dada bidang suaminya dan mulai melukis gambar abstrak di sana.


"Kalau capek, jangan mancing lagi dong." ujar Rama kemudian menghentikan gerakan tangan istrinya di atas dadanya. Ia gampang tersulut hanya dengan gerakan-gerakan biasa dari istrinya itu.


"Mas,"

__ADS_1


"Hem."


"Dika sama Sovia lagi ngapain ya di sebelah?" tanya Rara dengan suara dibuat penasaran.


"Paling mereka lagi kayak gini juga." jawab Rama kemudian menutup matanya. Ia ingin terlelap sebentar saja untuk menyegarkan kembali tubuhnya. Tetapi sepertinya istrinya itu terus mengajaknya bicara.


"Katanya capek, kok ngomong terus dari tadi. Kalau gak mau diam aku bikin kamu teriak minta ampun, mau?"


"Jangan dong sayang, nanti bentar siang kita gak bisa jalan-jalan keliling Tokyo."


"Ya udah istirahat dulu baru kita sarapan."


"Iyya deh mas," Rara ikut menutup mata dan akhirnya tertidur juga dalam pelukan suaminya.


🍁


Satu jam berikutnya kedua pasangan bulan madu itu sudah berjumpa di depan kamar mereka dengan tubuh dan wajah segar.


"Sovia kamu cantik sekali pagi ini sayang." teriak Rara histeris.


Wajah Sovia memang nampak bercahaya dan berseri-seri. Ia menunduk dan menarik kembali Rara yang gesrek itu ke dalam kamarnya.


"Ra' jangan bikin aku malu." bisiknya pelan. Untung Dika sama Rama ada di depan kamar.


"Gimana rasanya? enak gak?" tanya Rara sambil menaik turunkan alisnya. Sovia tak mau bertemu pandang dengan Rara yang sudah lebih berpengalaman dalam hal ini. Ia cuma menjawab dengan suara pelan.


"Sakit banget Ra' ampun."


"Hahahaha. Awalnya sih sakit tapi lama-lama enakkan?" Rara sampai memegang perutnya sambil tertawa. Ia sendiri mengingat bagaimana ia menolak Rama dan bahkan menangis karena kesakitan.


Sovia mendengus, ia semakin malu kalau membahas ini. "Udah ah, ayo kita keluar. lapar nih." ujar gadis itu karena Rara mulai menatapnya dengan pandangan aneh.


"Sini deh." panggil Rara pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.


"Dika dahsyat juga ya. Tuh leher kamu kayak habis dihisap vampir. Biru-biru gitu." ujar Rara sembari memeriksa keseluruhan tubuh Sovia dari leher sampai bagian dada.


"Ah, masak sih. Aku kok gak perhatikan." jawab Sovia malu. Ia segera menutupi bekas-bekas itu dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Ih kamu juga." lanjutnya sembari melihat kearah leher Rara yang cukup terbuka karena rambutnya ia ikat tinggi-tinggi. Rara ikut tersenyum malu. Rupanya ia masih punya urat malu.


"Kakakmu bukan Vampir tapi drakula." ujar Rara dengan mata berbinar bahagia. Ia nampak bangga karena bisa merawat drakula tampan seperti Rama.


"Jadi gimana dong, kita kan mau jalan nih." Sovia tampak panik dengan situasi baru yang melandanya. Rara langsung berjalan ke lemari yang ada di dalam kamar itu.


"Kamu bawa syal kan?" tanya Rara sembari melihat-lihat isi lemari Sovia.


"Iyya aku bawa dua." jawab perempuan cantik itu kemudian mengeluarkan syal yang ia ambil dalam sebuah bungkusan plastik.


"Wah, aku pinjam satu ya. Aku gak bawa soalnya." ujar Rara dan mulai mengambil yang sesuai dengan motif pakaiannya sekarang. Sovia mengangguk setuju karena syal yang tersisa juga sesuai dengan motif baju yang sedang dipakainya sekarang.


"Solusinya adalah kita pakai syal ini trus pakai mantel seperti ini, gimana cantik kan?" Rara berputar-putar di depan Sovia memperagakan hasil karyanya.


"Iyya, udah gak kentara kan udah ketutup. lain kali kita harus bilang sama para vampir dan drakula tampan itu mengigitnya harus di tempat yang tersembunyi hihihi." ujar Rara yang dibalas tawa lucu oleh Sovia.


"Ayok udah lapar nih. Mereka berdua pasti udah kekeringan menunggu di luar." ajak Sovia kemudian mereka berdua keluar dari kamar itu dengan tawa gembira.


Setelah mereka sarapan di restoran. kedua pasangan itu pun bersiap untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di Tokyo.


Saat ini di negeri Sakura sedang berlangsung Musim semi.


Musim semi yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei ini adalah waktu yang dinanti-nanti oleh banyak orang di Jepang.


Hal itu dikarenakan bunga Sakura akan mekar di seluruh Jepang. Biasanya awal musim semi juga ditandai dengan mekarnya bunga Sakura pada akhir bulan Maret setiap tahun. Musim semi juga menandakan suhu udara tak lagi dingin dan mulai hangat.


Salah satu kegiatan yang tidak bisa dilepaskan saat itu adalah orang Jepang menonton pemandangan bunga Sakura atau disebut dengan ohanami.


Kegiatan ohanami biasanya dipenuhi dengan acara makan dan minum serta bernyanyi.


"Aku sudah tidak sabar lihat bunga-bunga sakura itu mas." ujar Rara sembari melompat dan berputar dengan gembira di depan hotel yang mereka tempati. Ketiga orang yang melihat aksi Rara itu hanya bisa tersenyum ikut merasakan kebahagiaan Rara.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey??


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2