
Rama Putra Tama sekarang berada di ruang ibu Presdir TGR Global Company, Mawar Raditya. Sesuai rencana hari ini bahwa setelah pelajaran usai ia akan diantar ke Perusahaan dan bukannya ke rumah.
Pasalnya mama dan Sovia juga ada di Perusahaan saat ini jadi walaupun ia pulang ke rumah ia hanya akan menemukan rumah dalam keadaan sepi meskipun banyak pelayan di sana.
"Eyang, Rama sekarang udah pintar membaca lho." ujar Rama bangga.
"Alhamdulillah, cucu eyang udah pintar banget. Sini deh baca buku ini, eyang mau dengar." Nyonya Mawar Raditya menyerahkan satu buku dongeng milik Rama sewaktu masih kecil dan ikut ke Perusahaan dan sekarang masih ada di mejanya ini.
"Eyang, ini buku untuk anak kecil. Rama tidak mau baca itu lagi, bosan. Rama kan udah besar eyang." ujar Rama menolak. Ia merasa buku fiksi itu sudah tidak cocok baginya.
"Hahahaha," tawa Nyonya Mawar Raditya menggema di ruangan itu. Ia tak menyangka kalau Rama secerdas itu bisa langsung menolak yang ia inginkan.
"Trus maunya Rama baca buku kayak bagaimana?" tanyanya lagi masih dengan senyum.
"Rama mau baca buku ini." jawab Rama sembari mengambil sebuah buku tentang bisnis yang cukup tebal dan tidak muat di tangan mungilnya. Nyonya Mawar Raditya melotot tak percaya.
"Rama sayang, itu bukan buku untuk anak kecil. Buku itu berat, banyak tulisannya dan gambarnya pun tidak ada." Nyonya Mawar berusaha mengambil kembali buku tebal itu tetapi Rama tak mau melepaskannya.
"Rama baca buku yang banyak gambarnya saja ya sayang?" ia mau anak seusia Rama baiknya mengkonsumsi bacaan yang sesuai umurnya saja tapi sepertinya Rama sudah mulai menunjukkan kecerdasannya yang di atas rata-rata.
"Eyang, TGR itu apasih?" tanya Rama setelah menghabiskan setengah dari buku yang ia perebutkan tadi dengan Nyonya Mawar Raditya sang Presdir.
Ia sekarang membuka-buka majalah bisnis yang ada di atas meja di depan kursi kebesaran eyang putrinya.
Sejak ia pintar mengenal huruf latin. Selalu ada rasa penasaran dalam hatinya setiap memasuki lokasi gedung pencakar langit tempat semua anggota keluarganya bekerja. logo TGR dalam ukuran besar terpampang angkuh di dinding gedung tinggi nan menjulang ini. Belum lagi logo itu ada dimana-mana setiap ia memasuki ruangan demi ruangan perusahaan multi raksasa ini.
"TGR itu singkatan dari Tama Gala Raditya." jawab Nyonya Mawar tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di hadapannya. Ia sesekali memperbaiki letak kacamatanya.
"Siapa itu Tama eyang?" tanya Rama lagi penasaran. Yang ia tahu Gala Raditya adalah nama papanya.
"Oh, itu. Tama adalah anak pertamanya eyang sayang tapi ia sudah lama pergi dan tidak bisa kembali ke sini lagi." jawab Nyonya Mawar Raditya kemudian melepaskan kaca matanya. Ia menatap wajah Rama yang semakin hari semakin mirip dengan almarhum Tama putra sulungnya.
"Sini deh peluk eyang putri." lanjut Nyonya Mawar sembari merentangkan tangannya menyambut Rama putra Tama agar masuk dalam pelukannya.
__ADS_1
"Eyang, apakah om Tama tidak rindu sama eyang putri?" tanya Rama sambil mendongak memandang wajah Nyonya Mawar yang sedang meneteskan air mata.
"Kenapa ia tidak pernah kembali?" lanjut Rama lagi sembari tangan mungilnya menghapus air mata Nyonya Mawar Raditya yang mengalir tiada henti.
"Karena Tama sudah bertemu Tuhan, dan sudah mengirim Rama ke sini sebagai gantinya." Nyonya Mawar menciumi seluruh permukaan wajah Rama dan memeluknya erat.
"Oh begitu ya, Om Tama pasti baik sekali."
"Oh pastinya sayang, Ia seperti Rama. Baik dan sopan sama orang tua."
"Andai Rama bisa bertemu om Tama, pasti Rama senang sekali." Nyonya Mawar mengangguk tanpa bisa menahan kesedihannya yang semakin menyayat hati.
"Eyang, Rama mau main sama dedek Sovia. Rama mau ngasih tahu kalau kita punya om selain om Deka." ujar Rama sembari menggeliat untuk melepaskan diri dari pelukan eyang putrinya.
"Hem, baiklah sayang, eyang akan mengantarmu ke sana." Nyonya Mawar Raditya kemudian memperbaiki riasan wajahnya yang sempat kacau oleh air mata yang sudah mengering.
"Memangnya Rama tahu dedek Sovia sekarang ada dimana?" tanyanya kepada Rama yang sudah siap membawa ransel kecilnya.
"Ada di Daycare eyang." jawab Rama cepat.
"Tadi aku mampir di ruangan kerjanya papa tapi sepi padahal asisten papa di depan ruangan bilang papa dan mama ada kok di dalam dan udah lama gak keluar-keluar." jelas Rama panjang lebar. Nyonya Mawar langsung tersenyum faham. Ia tahu betul apa yang sedang dilakukan oleh putra dan menantunya itu di dalam sana.
"Papa sama mama mungkin lagi istirahat dan tak mau diganggu jadinya sepi." jawab Nyonya Mawar sekenanya. "Oh iya, yuk kita ketemuan sama dedek Sovia." ia pun meraih tangan mungil Rama dan melangkah ke lantai 3 dimana ruang daycare berada.
"Assalamualaikum bunda Tika." sapa Nyonya Mawar ceria saat mereka berdua memasuki area daycare.
"Waalaikumussalam ibu. Eh, ibu Presdir. Silahkan masuk Bu." bunda Tika menjawab sembari membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan pimpinan tertinggi TGR Global Company itu untuk masuk.
"Eh, ada Rama juga. Udah besar ya Bu..." bunda Tika menghampiri Rama yang langsung dicium punggung tangannya oleh putra Vita Maharani itu.
"Assalamualaikum bunda." sapa Rama sopan. Bunda Tika tanpa sadar mencubit pipi Rama karena gemas.
"Tambah tampan deh."
__ADS_1
"Terima kasih bunda." jawab Rama sopan tetapi meringis menahan sakit di pipinya.
"Sovia mana Tika?" tanya Nyonya Mawar setelah mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan cucu keduanya itu.
"Sovia sedang bermain di dalam sana Bu. Kami ada ruangan bermain baru sesuai instruksi ibu Presdir waktu itu."
"Oh bagus dong, lebih bervariasi pasti bikin anak-anak tambah betah."
"Iyya Bu, terima kasih banyak." ujar Bunda Tika tersenyum.
"Gimana Sovia? rewel gak, Tika?" tanya Nyonya Mawar sambil memandang Tika. "Ini kan hari pertamanya masuk di sini." lanjut Nyonya Mawar.
"Oh tidak Bu. Semua cucu Ibu Presdir selalu aman kalau masuk di sini. Gak kayak itu Bu putranya ibu Miska sedari tadi nangis terus sejak ditinggal sama mamanya." ujar Bunda Tika dengan wajah siap bergibah. Ia tidak tahu kalau putranya Miska adalah cucu Nyonya Presdir juga.
"Andika juga masuk sini?" tanya Nyonya Mawar antusias. Ia lama tak bertemu dengan anak balita itu.
"Ibu Presdir kenal sama Andika?" tanya bunda Tika takut-takut.
"Ya iyalah, dia juga salah satu cucu saya."
Jedarrrr
Bunda Tika merasa badannya tiba-tiba membeku. Ia seperti terkena tumpahan seember es balok yang begitu dingin. Senyumnya ia tarik terpaksa.
"Gak papa Tika, santai saja. Setiap anak kan punya sikap dan kebiasaan yang berbeda-beda. Kamu kan ahli menilai banyak anak yang sudah lama kamu asuh di sini."
"Eh, iya ibu. Makasih pengertiannya." Tika menunduk malu, untung ia belum menghibahkan Miska terlalu jauh.
Duh Tika jangan gitu dong sama anaknya Pak Reno Sebastian, nanti kena semprot sama eyang Ninick lho.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor, mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess, dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang banyak supaya othor tetap semangat update nya.
Nikmati Alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍