
Dua pasangan bulan madu itu kembali ke hotel dengan tenaga dan energi yang sudah terkuras habis. Ranjang adalah tempat yang paling mereka rindukan setelah seharian berkeliling melihat indahnya bunga-bunga yang sedang mekar di musim semi itu.
Malam yang cukup dingin di Tokyo itu mereka habiskan dengan berselimut lelah. Tak ada aktivitas berarti yang mereka lakukan selain tidur dengan nyenyak. Karena besoknya mereka akan mengunjungi destinasi tempat wisata yang lain yang tak kalah menariknya dengan yang mereka kunjungi hari ini.
Rara menelusupkan kepalanya ke pelukan suaminya.
"Tidurlah," bisik Rama sembari mencium kening istrinya lembut. Rara semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami, menikmati malam kedua mereka di kota Tokyo sampai mereka benar-benar tertidur dengan lelap.
Di tempat lain di waktu yang sama.
Andika dan Sovia yang juga merasa lelah dengan perjalanan panjang keliling Tokyo berburu bunga mekar sepanjang hari ini kini sedang berbaring di ranjang dengan saling berpandangan.
"Sovi, lelah banget yah?" tanya Andika dengan senyumnya yang samar.
"Hem, iyya. Tapi seru jadi lelahnya gak kerasa." jawab Sovia sembari memejamkan matanya. merelaksasi tubuhnya sendiri. Andika langsung bangun dan menghampiri istrinya yang cukup berjarak dengannya.
"Sovi?" panggilnya pada perempuan cantik yang sedang berbaring sembari menutup matanya itu. Pandangannya tak lepas dari tubuh istrinya yang berbalut pakaian tidur yang cukup menggoda kelelakiannya itu.
"Hem?" jawab Sovia bagai gumaman. Ia sebentar lagi menuju alam mimpi karena rasa lelah dan kantuk yang mulai menyerangnya.
Saat ini di Tokyo Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Sebuah waktu yg cukup larut bagi mereka yang sedang ingin beristirahat merehatkan tubuh dan pikiran atas segala aktivitas yang cukup sibuk seharian ini.
Tetapi tidak bagi Andika, justru di malam yang sudah semakin larut ini ia tidak bisa tidur. Bayangan rasa dari tubuh istrinya semalam ingin ia ulangi dan cicipi lagi dan lagi.
Andika menatap jam tangannya kemudian melepaskannya dari pergelangan tangannya. Sudah pukul 24.30. Itu berarti sudah lebih dari satu jam ia mondar-mandir di dalam kamar itu merasakan gelisah sembari memperhatikan sosok cantik yang sedang tertidur pulas di atas ranjang.
__ADS_1
Ia frustasi dengan keinginannya pada tubuh seksih itu hingga ia membulatkan tekad akan melakukannya saja malam ini daripada ia didera sakit kepala tak tertahankan.
Dengan langkah perlahan ia mendekati tubuh Sovia dan melepaskan gaun tipis yang sedang digunakan oleh istrinya itu hingga tampaklah sudah sosok yang sangat ia rindukan. Sekali ia menyentuh tubuh itu ia merasakan kalau itu semua memang diciptakan untuknya begitu pas dan sangat cocok.
"Sovi, maafkan aku sayang." bisiknya dengan suara parau. Kedua tangannya begitu terampil menyentuh semua keindahan yang terpampang penuh di depan matanya. Hingga terdengar lenguhan dari istrinya baru ia berhenti sejenak.
"Maafkan aku sayang, tapi aku tidak bisa tidur." bisiknya lagi kemudian mendaratkan bibirnya ke setiap inci dari sosok putih dan mulus di depannya.
Hingga ia berhenti lama sekali di dua buah benda yang sangat menarik perhatiannya. Semalam ia belum sempat mencicipi ini karena terlalu menikmati bagian yang lain.
"Dika..." ujar Sovia saat mulai merasakan sensasi lain pada tubuhnya. Rupanya tindakannya yang bermain cukup lama di daerah itu membuat Sovia terbangun dan menyadari kalau ia sedang berada di bawah Kungkungan suaminya.
Dika tersenyum samar dan membelai lembut wajah istrinya, "Maaf ya, aku tidak bisa tidur kalau belum ini." bisik Andika sembari melanjutkan yang ia lakukan tadi. Sovia tidak menjawab ia hanya balas tersenyum dan merasakan kantuknya sudah menghilang. Ia siap melayani apapun yang diinginkan oleh suaminya. Hingga mereka baru menghentikan kegiatan menyenangkan mereka setelah pukul 3 dini hari.
"Udah bisa mandi kok jam begini." ujar Andika setelah dari kamar mandi. Ia benar-benar telah membersihkan diri kemudian siap melaksanakan sholat malam.
"Gak dingin kan ada air hangat. Ayok bangun. Nanti tambah terasa lelahnya kalau gak langsung mandi." ujar Andika kemudian mengangkat tubuh istrinya ke dalam bathtub.
"Aku tunggu ya, kita sholat bersama." ujar Andika kemudian meninggalkan istrinya untuk mandi suci setelah melakukan sebuah ibadah yang diberkahi.
π
Setelah sholat subuh, Rama dan Rara turun ke lobi hotel yang mereka tempati. Mereka berdua ingin menyaksikan suasana pagi di kota Tokyo.
Tokyo, merupakan salah satu kote terbesar di dunia dan juga ibu kota dari negara Jepang. Kota metropolitan satu ini sebelum berganti nama menjadi Tokyo pada tahun 1868, disebut sebagai Edo, sebagaimana kota ini merupakan pusat Jepang pada zaman Edo (1608-1868). Sebagai ibu kota sebuah negara, menjadikan Tokyo kota metropolitan yang banyak diincar wisatawan untuk berwisata, baik wisata sejarah, leisure juga wisata belanja.
__ADS_1
"Mas, Tokyo ini benar-benar kota sibuk ya, tidak pagi, siang, sampai malam. Orang-orangnya sibuk terus beraktivitas. Mereka rajin bekerja." ujar Rara saat mereka sudah berada di trotoar besar dan luas yang dipenuhi oleh pejalan kaki pagi itu.
"Makanya negaranya maju karena mereka tidak malas. Bagi mereka waktu adalah bekerja dan mencipta." jawab Rama sembari menatap Tokyo Tower dari kejauhan.
Tokyo Tower. Belum lengkap rasanya jika ke Tokyo tanpa mengunjungi tower yang satu ini. Tower merah dengan tinggi 332.9 meter yang terletak di distrik Minato, Tokyo ini merupakan simbol dari kota Tokyo. Dibangun pada tahun 1958 sebagai broadcasting tower yang meng-cover hingga 100 kilometer di area Kanto.
Di ketinggian 150 meter, terdapat observatory utama dari Tokyo tower. Di main observatory ini, kita bisa menikmati 360ΒΊ view kota Tokyo. Ada banyak cafe juga di sini, sehingga kita bisa bersantai sambil menikmati pemandangan kota Tokyo dari ketinggian.
"Apa pagi ini kita akan kesana mas?" tanya Rara mengikuti pandangan mata suaminya.
"Maunya kesana sama Sovia dan Andika tetapi aku hubungi mereka, handphonenya pada tidak aktif. Mungkin mereka masih tidur." jawab Rama dengan mata masih memandang Tokyo Tower.
"Ya udah biarkan mereka tidur, pasti kecapekan habis itu." ujar Rara tersenyum manis. Rama langsung menariknya ke dalam pelukannya.
"Ayok kembali ke kamar aja dulu. Gak enak mengunjungi tempat-tempat cantik di sini tanpa mereka." ajak Rama kemudian melanjutkan langkahnya ke arah hotel tanpa melepaskan rengkuhannya pada pinggang istrinya.
"Mas, lapar." ujar Rara sembari tersenyum manis.
"Iyya kita cari sarapan dulu baru makan..." ujar Rama yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
"Apaan tuh sarapan sama makan, sama aja kali."
"Ya bedalah..." jawab Rama dengan tersenyum samar.
---Bersambung--
__ADS_1
Yuk kita sarapan dulu sambil baca karya receh ini... Jangan lupa like dan komentar nya ya...
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ