Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 130 Nikmat Mana Lagi Yang Kamu Dustakan


__ADS_3

Gala Putra Raditya bersujud syukur di depan pintu ruang Operasi. Air matanya tak bisa ia bendung karena bahagia. Beberapa menit yang lalu seorang dokter menginformasikan kalau nyonya Vita Maharani berhasil melalui masa kritisnya dan Operasi berjalan dengan lancar. Ibu dan anak selamat.


"Alhamdulillah ya Allah." bisik Gala dalam hati. Ia sampai berjanji tidak akan membuat Vita hamil lagi kalau terjadi sesuatu pada salah satu dari dua orang yang sedang berjuang di dalam sana.


"Terima kasih sayang sudah mau berjuang untuk anak kita." bisiknya pelan di telinga istrinya yang baru saja siuman setelah pengaruh anestesi yang diberikan dokter sudah menghilang.


"Aku mohon maaf sayang, sudah membuatmu berkali-kali dalam masa sulit seperti ini." ujar Gala lagi kemudian mengecup lembut bibir istrinya.


"Mas, aku juga terima kasih sudah mas percaya mengandung anak mas." ucap Vita dengan senyum teduhnya.


"Bayi kita perempuan lagi sayang." ujar Gala tersenyum. Mereka berdua sepakat tidak akan mencari tahu jenis kelamin anak mereka lewat USG. Karena mereka mau itu jadi kejutan bagi keluarga mereka.


"Alhamdulillah mas, Kan sudah ada Kakak Rama yang akan jagain mereka." jawab Vita masih dengan senyum bahagianya.


"Masih mau nambah gak?"


"Mas, ini saja masih sakit banget." gerutu Vita manja.


"Bercanda sayang," Gala tertawa senang melihat istrinya kembali bermanja-manja lagi.


"Eh, mas. Hany mana?" tanya Vita yang tiba-tiba teringat akan sahabatnya itu. Yang terakhir kali ia temui sampai ia berhasil melahirkan meskipun melalui Caesar.


"Masih di luar. Nangis terus dianya. Emangnya kenapa sih sampai seperti ini kejadiannya?" Gala menatap istrinya penasaran.


"Nangis? mas marahin Hany ya?" Vita langsung membulatkan matanya menuduh suaminya telah memarahi Hany sampai nangis gitu.


"Ya enggak lah. Kurang kerjaan amat aku marahin anaknya orang. Aku cuma nanya tapi dianya langsung nangis." Gala tetap bertahan dengan pendapatnya.


"Iyya, tapi nanyanya pake urat kan. Jadi Hany langsung takut." ujar Vita lagi sewot.


"Astaga sayang , sahabatmu aja tuh yang cengeng masak ditanya aja langsung nangis."


"Permisi tuan dan Nyonya Raditya." ujar seorang perawat menghentikan perdebatan mereka berdua yang sangat tidak berfaedah.


"Ada apa suster?" tanya Vita dengan mengalihkan pandangannya dari suaminya ke wajah suster itu.


"Bayinya udah mau ***** nyonya."

__ADS_1


"Oh iya bawa kemari sus. Alhamdulillah air susunya udah lama keluar sebelum dedeknya lahir." jawab Vita ramah.


"Wah bagus dong nyonya jadi si dedek bisa langsung kenyang." jawab suster itu ramah.


"Siapa dulu dong papanya," ujar Gala ikut nimbrung. Ia merasa yang paling berjasa di sini hingga air su su itu aktif berproduksi.


"Padahal dulu waktu anak pertama gak gini lho sus." ujar Vita lagi sambil membuka kancing depan bajunya untuk memberi minuman pertama untuk bayinya.


"Berarti rezeki anak kedua dong."


"Iyya sus. Rezeki papanya juga, bisa langsung nyenyak kalau malam." timpal Gala yang langsung dapat cubitan panas dari istrinya.


"Awww. sakit sayang." gerutu Gala berpura-pura kesakitan. "Suster bisa tunggu di luar gak?" tanya Gala bernada mengusir ke arah suster itu.


"Bisa tuan. Maaf mengganggu kenyamanannya." ujar suster itu kemudian berlalu dari hadapan tiga orang ini.


"Kenapa disuruh keluar mas?" tanya Vita denah suara berbisik takut dedek bayinya terganggu yang sedang asyik *****.


"Aku gak mau dia lihat punyaku." jawab Gala santai.


"Yang itu..." Gala menunjuk dengan bibirnya. Vita langsung tersenyum faham.


"Aku ada saingan lagi sayang."


"Mas, mau dapat cubitan lagi gak?" mata Vita melotot marah.


"Ya ampun kejamnya kamu sayang. Udah dapat saingan auto libur panjang lagi. Nasib, nasib." Gala menepuk kepalanya pura-pura frustasi.


"Mas, gak bersyukur nih."


"Syukur sayang, sangat bersyukur. Banyak nikmat yang sudah Allah kasih ke aku. Istri yang cantik dan Solehah. Anak-anak yang sehat dan lucu. Nikmat yang mana lagi yang aku dustakan sayang."


"Kalo gitu diam saja mas. Biar dedeknya tenang nenennya nanti dia kira mas mau rebutan Hem." Gala tersenyum samar melihat Vita sewot seperti itu. Ia sengaja menggoda terus istrinya agar rasa sakit yang ia rasakan cepat terlupakan.


Sementara di luar sana.


Hany yang sudah berjam-jam duduk di ruang tunggu merasa badannya sudah kaku. Ia meregangkan otot-ototnya sampai meninggalkan bunyi krek. Pandangan matanya tak sengaja bertemu dengan mata Pandu yang sedang melangkah ke arahnya bersama seorang dokter perempuan yang lumayan cantik.

__ADS_1


"Hany? kamu disini?" tanya Pandu memastikan penglihatannya sembari matanya menelisik keadaan sekitar siapa tau ada orang lain yang sedang bersama gadis itu.


"Oh Hai, Pandu." ujar Hany sembari berdiri dari duduknya ia sedang ingin mengunjungi Vita Maharani yang katanya sudah sadar dan bisa dikunjungi.


"Lagi ngapain di sini?" tanya Pandu lagi masih dengan rasa penasaran di hatinya.


"Aku, ..." belum selesai ia berucap. Dokter perempuan yang bernama dr. Hasriani Ningsih itu langsung memotong kata-katanya.


"Pandu, ayok cepetan. Aku udah lapar banget nih. Sedari tadi meeting tidak kelar-kelar." gerutunya manja sembari menarik tangan Pandu agar menjauh dari Hany.


"Eh, iya maaf ya Han. Kami ke kantin dulu. Tapi jangan kemana-mana!" ujar Pandu memberi ultimatum. Ia sebenarnya tidak ingin pergi dari sana tapi Ningsih memaksanya untuk menemaninya makan. Rapat tentang rehabilitasi gedung untuk ruang perawatan anak yang dimenangkan oleh perusahaannya membuatnya semakin sering ke rumah sakit ini dan jarang menemui gadis incarannya ini.


"Gak. Aku udah lama di sini mau pulang, capek." jawab Hany santai. Ia sudah ingin tidur di kasurnya yang empuk untuk beristirahat setelah kepanikan yang cukup menguras emosinya hari ini.


"Aku bilang jangan kemana-mana. Aku yang antar kamu pulang." paksa Pandu tegas. Hany langsung memutar bola matanya malas. Ia menghentakkan kakinya di lantai kemudian memasuki ruang perawatannya Vita.


Pandu segera menarik tangan Ningsih ke kantin dan memaksa dokter anak itu untuk makan.


"Kamu cuma punya waktu lima menit atau aku tinggal!" ujarnya tegas. Ia tak mau Hany meninggalkannya.


"Memangnya aku makan gak pake mengunyah?" gerutu Ningsih kesal. Ia tahu Pandu pasti punya rasa sama gadis tadi dan ia tidak suka itu.


"Menurut teori kesehatan. Makan itu harus pelan-pelan supaya bagus dicerna dalam usus." ujar Ningsih sambil menyuap dengan pelan.


"Aku tinggal." ujar Pandu dan langsung meninggalkan Ningsih yang sengaja berlama-lama di sana.


"Ih sebel." umpat Ningsih sambil mendorong piringnya yang berisi makanan ke sudut meja. Tiba-tiba rasa laparnya menguap. Ia tak lagi berselera.


"Awas kamu Pandu. Akan kubuat kamu jadi milikku."


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2