
Vita Maharani kembali ke perusahaan ketika jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. di depan pintu ruangannya ia dihadang oleh Hany sahabatnya.
"Dari mana saja? aku cari di kantin tapi tidak ada. Kamu makan siang di luar ya?" tanya Hany tanpa jeda. Vita hanya membalas dengan senyuman.
"Ko' gak dijawab sih?" tanya Hany lagi sembari melipat tangannya di dada. Ia memindai keseluruhan tubuh sahabat cantiknya ini dengan pandangan curiga. Matanya berhenti di tangan Vita yang sedang menenteng sesuatu.
"Aku memang makan siang di luar bawel" Vita berlalu dari hadapan Hany menuju meja kerjanya sendiri.
"Bawa apa tuh?" tanya Hany lagi sembari menunjuk tas kertas cantik yang baru diletakkan oleh Vita. Akhir-akhir ini Vita mempunyai sifat curiga yang terlalu tinggi sejak Vita keceplosan menyebutkan nama Pak GM.
"Ini dari owner Cafe Gulu Gulu yang ada di jalan MTos itu, sovenir karena sudah makan di tempat itu, katanya" jelas Vita sembari membuka benda itu. Dan ternyata isinya adalah bermacam-macam coklat dan juga fotonya saat bersama Pandu tadi.
"Wow, ternyata lagi makan sama cowok tampan ya" teriak Hany sampai membuat karyawan lain memandangi mereka berdua.
"Ssst! jangan ribut" Vita menaruh telunjuk di bibirnya menyuruh Hany diam.
"Vita, ini ada surat dari pak Deka untukmu" ujar Ira Zerni yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka. ia sempat melihat gambar Vita dan Pandu di sana. Tetapi ia berpura-pura tidak melihatnya.
"Eh, ibu..." Vita berbalik dan menarik ujung bibirnya agar segera membentuk senyum manis.
"Surat apa ya Bu?" tanya Vita penasaran. ia heran baru kali ini ada acara surat-suratan di Perusahaan ini. biasanya juga lewat WhatsApp atau email.
"Saya juga tidak tahu, tapi dari amplopnya ini sih dari Dewan Kehormatan Perusahaan" jawab Ira dengan dahi berkerut.
"Kamu pernah melakukan kesalahan?" Ira menatap Vita menanti jawaban. Vita hanya menggeleng. ia merasa tidak pernah melanggar aturan perusahaan.
"Baiklah, silahkan kamu buka suratnya, saya permisi"
"Makasih Bu" ucap Vita kemudian merobek dan mulai membaca isi suratnya.
"Isinya apa Vit?" tanya Hany penasaran karena melihat wajah Vita berubah pucat.
"Aku dipanggil ke Ruangan Dewan Kehormatan Perusahaan sekarang" jawab Vita sembari melipat surat itu dan menyimpannya di laci.
"Aku kesana dulu ya Han, doa'kan aku kembali dengan selamat" canda Vita sembari meraih tas tangannya yang berisi handphone.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🍁
Tiga orang petinggi "TGR" global company menghadapi Vita Maharani yang sedang duduk di kursi terdakwa. Termasuk diantaranya Gala Putra Raditya sang General manager.
Vita menatap mereka satu persatu dengan perasaan sedikit gentar. Ia masih berpikir terus apa kesalahannya sehingga ia sampai di sidang di sini bahkan dengan menggunakan pemanggilan lewat surat resmi perusahaan.
"Ibu Vita Maharani, anda tahu kenapa anda berada di sini?" tanya pria paruh baya yang berambut putih. Usianya mungkin sekitar lima puluhan.
Dengan menggelengkan kepalanya pelan Vita menjawab, "Saya tidak tahu Pak"
"Coba anda ingat-ingat lagi apa ibu pernah melakukan kesalahan kepada salah seorang karyawan di sini? atau mungkin petinggi di perusahaan ini?"
Vita semakin bingung. ia berusaha memeras otaknya mengingat apa yang pernah dilakukannya kepada karyawan lain seperti dirinya.
"Sepertinya anda memang selalu lupa kalau anda sering berbuat salah dan menyakiti hati orang lain" Kali ini suara Gala Putra Raditya yang tertangkap di telinganya. Ia mendongak dan menatap matanya. Hatinya merasa berdebar dan kecewa secara bersamaan. Pandangan Gala begitu dingin dan datar.
"Saya pernah beradu mulut dengan Miska Todler beberapa hari yang lalu" Vita akhirnya ingat akan ancaman Miska padanya, kemungkinannya itulah kesalahan yang dimaksud para anggota Dewan Kehormatan Perusahaan yang terhormat di depan sana.
"Bukan hanya beradu mulut bu Vita Maharani, Anda bahkan melukai tangannya" ujar pria berambut putih itu lagi.
"Bisakah saya melakukan pembelaan?" Vita Maharani berujar dengan tegas. Ia tak mau disalahkan sendiri oleh laporan Miska sepihak.
"Tentu saja, silahkan"
"Waktu itu Miska sengaja membuat saya marah dan sakit hati, Kata-katanya membuat saya kecewa pada seseorang" ujar Vita kemudian matanya berhenti pas dimata elang Gala yang juga menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Saya membalas kata-katanya hingga akhirnya ia menyerang saya"
"Tentu saja saya tidak tinggal diam, makanya tangannya saya patahkan" Vita menjelaskan dengan senyum samar.
"Anda tahu bahwa peraturan perusahaan kita tidak membenarkan adanya kekerasan dalam bekerja kan, baik itu verbal maupun fisik" lagi-lagi pria berambut putih itu yang berbicara, sepertinya ia sengaja menghakimi Vita Maharani dengan sangat tak berperikemanusiaan.
"Baiklah, setiap kesalahan harus ada hukumannya" Gala putra Raditya yang sedari tadi diam, mengambil alih pembicaraan.
"Anda, ibu Vita Maharani mendapatkan hukuman yaitu, anda harus pindah kerja dari tempat anda sekarang!" Ujar Gala tegas dengan suara beratnya.
__ADS_1
"Apa?" Vita sampai menutup mulutnya kaget dengan keputusan pak GM.
"Sidang dibubarkan dan ini untuk anda, tempat kerja anda yang baru" Gala menyerahkan Surat Keputusan kepada Vita Maharani yang masih diam membisu.
Ketiga orang itu berlalu meninggalkan Vita Maharani sendiri yang sedang merasa kacau. Dibukanya pelan-pelan SK yang baru ia terima. seketika matanya melotot tajam.
"Apa ini? aku harus pindah ke ruangan Pak GM?" ujarnya marah.
"Hukuman model apa ini?" ia menyimpan Surat Keputusan itu ke dalam saku roknya. Kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat memburu sang GM.
Dengan nafas terengah-engah ia masuk ke ruangan GM tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bisa bapak jelaskan maksudnya apa ini?" tanyanya dengan nafas memburu. Ia menyerahkan kembali lembaran SK itu ke hadapan Gala yang sedang duduk angkuh di kursi kebesarannya.
"Kamu bisa baca kan, Laksanakan keputusan itu atau hukumanmu bisa lebih berat" ujar Gala datar tak berperasaan.
"Tapi kan..." Vita belum selesai menjawab Gala sudah menimpalinya.
"Kamu hanya bawahan di sini, perintah atasan adalah mutlak!" Vita langsung diam dan sadar diri.
"Meja ibu Vita di sebelah sini ya" Ujar Deka ketika suasana berubah hening. Ia menunjukkan sebuah meja kosong yang baru saja di sulap olehnya atas perintah General Manager.
Vita Maharani akhirnya mengalah, tidak ada lagi kata yang ingin ia ucapkan. Bentakan Gala tadi seketika membuatnya sadar akan posisinya di sini. Ia menyeret kakinya menuju meja yang ditunjukkan oleh Deka sang asisten.
Sementara itu Gala menatap punggung Vita dengan senyum miring.
"Kamu harus menjadi tahananku di sini, agar kamu bisa menikmati pesonaku" gumamnya dalam hati dengan tingkat kenarsisan melebihi rata-rata.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai hai readers tersayang nya othor, cuma mau mengingatkan, jangan lupa like dan komen yah
gitu aja
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1