Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 163 Keresahan Hati Andika


__ADS_3

Elsa menatap Andika lekat. Gadis itu merasa pria tampan di hadapannya ini berubah drastis.


"Dik, kamu kok gak mau lagi jalan sama aku sih?" tanya Elsa dengan muka ditekuk kesal. Andika tidak menjawab ia seperti biasa sibuk dengan gadgetnya. Permainan ML begitu menarik perhatiannya daripada gadis Seksih di depannya ini.


"Dika!" seru Elsa dan langsung merebut handphone pria itu agar perhatiannya hanya tertuju padanya.


"Eh, apaan sih." ujar Andika juga kesal. Ia menarik kembali handphone itu tetapi Elsa menggenggamnya erat dan mengancam akan memecahkannya Jika Andika tidak memperhatikannya.


"Kenapa?" tanya Andika akhirnya mengalah.


"Papa dan mama udah nungguin niat baik kamu. Kapan sih kamu ngelamar aku?" ujar Elsa yang membuat Andika langsung pias seketika. Pasalnya dulu ia pernah berjanji pada gadis ini jika akan menikahinya saat ia sudah punya pekerjaan dan penghasilan sendiri.


"Aku minta maaf Sa kayaknya hubungan kita harus selesai deh sampai di sini." ujar Andika dengan wajah menunduk. Ia tak mau melihat wajah sedih gadis yang pernah sangat dekat dengannya itu.


"Aku tidak mau, enak saja. Kamu pikir aku ini apa hah?"


"Tega sekali kamu hanya jadikan tempat pelarian saja!" teriak Elsa dengan emosi. Ia betul-betul membuktikan ancamannya dengan melempar handphone Andika hingga pecah. Kemudian dengan menyusut air mata yang sudah menganak sungai ia kembai berujar, "Jangan kira aku tidak tahu kalau kamu ada main di belakangku dengan sepupu mu itu."


"Elsa! jangan sembarang kalau bicara. Sudah kubilang kita selesai ya selesai, ngerti kamu? jangan bawa-bawa Sovia di sini." ujar Andika sudah sedikit emosi dengan tuduhan gadis itu apalagi sudah mulai membawa-bawa nama Sovia di sini.


"Eh, aku tidak menyebut nama gadis centil itu ya, kamu sendiri yang bilang. Berarti benar kan?" tantang Elsa lagi masih dengan emosi yang sudah membuat wajahnya memerah. Andika tidak lagi menjawb. Ia tak mau orang-orang melihat pertengkaran mereka. Ia kemudian berjongkok dan mengumpulkan puing-puing handphonenya yang sudah tak berbentuk.


"Kamu tega, Dika!" Elsa kini menurunkan suaranya kemudian berlalu pergi dengan rasa sakit yang teramat sangat.


Andika hanya bisa meraup wajahnya kasar. lambat laun ini memang harus terjadi. Karena ini adalah murni kesalahannya memberikan harapan pada gadis itu.

__ADS_1


flash back on


"Andika!" teriak Sovia dari jauh. Gadis cantik Putri Gala putra Raditya itu selalu saja mengganggunya tidak di rumah, di kampus maupun di tempat mana saja yang penting mereka bertemu.


Ia ingin sembunyi tapi keburu kelihatan sama gadis manja itu.


"Antar aku ke Moll ya bentar habis kuliah, ada nih yang mau aku beli." ujar Sovia yang selalu membuatnya jengkel. Karena ia jadi terkenal di kampus sebagai cowok keren tetapi menjadi baby sitter Sovia Putri seorang mahasiswi jurusan psikologi yang super manja.


"Maaf, Sovi aku udah janji sama pacar aku." jawab Andika dengan mencari alasan yang dibuat-buat agar sepupunya ini sedikit bisa mengerti dan membatasi keinginannya bermanja-manja padanya.


"Heh, memangnya kamu punya pacar?" tanya Sovia dengan wajah berubah kesal.


"Punya dong, makanya kamu harus mulai mengerti gak boleh ngerepotin aku terus nanti pacar aku marah." lanjut Andika dengan wajah senang karena rencananya mulai berhasil. Sovia mulai ingin beranjak meninggalkannya.


"Eh, kan ada Pak Min, kamu bisa ngajak dia shopping di Mall, gak akan ada yang marah." ujar Andika merasa tak enak hati karena sudah menolak ajakan Sovia. Ia memang selalu seperti itu. Selalu merasa jengkel kalau Sovia manja padanya tetapi kalau gadis itu sudah merajuk pada akhirnya ia akan mengalah dan mengikuti kemauan putri om Gala itu.


Elsa merasa bangga karena cowok pintar dan keren di kampusnya mengakuinya sebagai pacar yang sebenarnya sudah lama ia taksir. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia bahkan lebih gencar mendekati Andika dan malah lebih manja padanya daripada Sovia.


Andhika merasa sedang makan buah simalakama. Hingga pada suatu hari Elsa memaksanya datang ke rumah orang tuanya pada saat papanya lagi sakit.


"Dika ke rumah yuk, papaku lagi sakit dan katanya butuh teman cerita sesama laki-laki gitu." ujar Elsa pada saat perkuliahan telah selesai.


"Sakit apa sih kok aneh gitu permintaannya?" tanya Andika heran. Elsa tidak menjawab malah menangis. Andika jadi tidak enak hati akhirnya ia mengajak semua teman laki-laki di kelasnya untuk sama-sama menjenguk papanya Elsa yang katanya sakit keras itu.


"Yang mana nih pacarnya Elsa?" tanya Om Gilang papanya Elsa saat mereka semua sudah sampai di rumah itu. Semua orang menunjuk Andika yang saat itu sedang membalas telepon dari mamanya.

__ADS_1


"Dika sini nak," ujar Gilang saat semua orang sudah keluar dari kamar itu. Tinggal mereka berdua saja yang ada di dalam atas permintaan pria tua itu.


"Berjanjilah untuk menjaga Elsa nak, karena mungkin sebentar lagi om akan pergi meninggalkannya." ujar Gilang saat itu dalam kondisi yang sangat lemah. Andika hanya diam saja. Ia sangat mengerti permintaan pria itu.


"Elsa tinggal di sini hanya bersama mamanya, tidak ada lagi keluarga yang lain nak. Kalau om pergi maka Elsa siapa yang jaga." lanjutnya lagi dengan disertai batuk untuk melonggarkan pernapasannya.


"Aku percaya padamu nak." Gilang menggenggam tangan Andika erat.


"Memangnya om sakit apa? kenapa sampai berpikir akan pergi secepat ini." tanya Andika penasaran.


Gilang diam kemudian menarik nafas berat. " Ini rahasia kita nak. Saya mengidap penyakit kronis yang mungkin tidak akan bisa bertahan hingga Elsa selesai kuliah." ujar Gilang dengan meneteskan air matanya. Andika tersentuh hatinya dengan kondisi pria itu.


"Baiklah Om, saya akan menikahi Elsa kalau sudah punya penghasilan sendiri." ujar Andika sembari membalas genggaman tangan Gilang.


Flash back off


Andika meraup wajahnya kasar. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Papanya Elsa tetap sehat-sehat saja sampai sekarang dan juga ia sama sekali tidak mempunyai perasaan sedikitpun kepada gadis itu.


Mungkin Elsa akan sangat membencinya tetapi ia tidak mau lebih menyakiti hati gadis itu jika hubungan ini dipaksakan.


Bayangan Sovia tiba-tiba berkelebat di pikirannya. Gadis itu pasti akan lebih membencinya lagi jika janji pada papanya Elsa ia lanjutkan. Akhir-akhir ini ia sudah kembali dekat dengan gadis itu meskipun ia belum bisa memastikan perasaannya sendiri.


---Bersambung--


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Vote, vote ,vote...like dan komentar pliss...supaya othor semangat update nya...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2