
Tepuk tangan menggema di ball room hotel berbintang 5 itu. Rama Putra Tama yang didaulat memberikan pidato singkat di atas podium mendapatkan sambutan yang sangat menggembirakan. Selain tampan ia juga sangat menguasai publik speaking.
Pidatonya yang berisikan ajakan untuk mengembangkan usaha dibidang pariwisata di acungi jempol oleh semua peserta yang hadir. Ia sendiri mengeksplorasi alam yaitu keindahan laut yang dimiliki oleh kota ini sebagai bagian dari usaha dan bisnisnya.
"Kamu hebat Ram!" ujar salah seorang pengusaha muda bernama Fadhlan.
"Makasih." jawab Rama singkat. Ia sendiri tak menyangka akan ditunjuk untuk berpidato singkat di depan semua peserta meeting yang hadir. karena ia hanya orang baru di daerah ini.
"Kami juga ingin banyak belajar darimu." ujar yang lain yang baru ikut bergabung dalam percakapan ringan antara Fadhlan dan Rama.
"Ah, jangan merendah. Kalian malah lebih hebat dari aku. Kalian sudah mempunyai cabang bisnis di mana-mana." ujar Rama sambil tersenyum. Ia sudah tak sabar ingin pulang ke rumahnya berkumpul bersama anggota keluarga lainnya.
"Tempat wisata yang kamu kelola itu maju pesat lho. Pasti manajemennya bagus." ujar Fadlan antusias.
"Ah iya, usaha sekecil apapun harus diatur dan dikelola dengan baik supaya lebih terarah dan jelas." jawab Rama.
"Well, aku sedang ada urusan keluarga yang sangat penting, mohon maaf aku meninggalkan acara ini terlebih dahulu." ujar Rama kemudian bersegera untuk pamit.
"Tunggu Ram, boleh aku minta alamat rumahmu?" tanya Fadhlan sambil menahan langkah Rama.
"Mohon maaf, untuk apa ya?' tanya Rama penasaran. Selama ini ia tak pernah mau menerima tamu di rumahnya. Baginya rumah adalah privasinya dengan istrinya dan keluarganya.
"Oh, tidak boleh ya?" ujar Fadhlan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf ya bro, aku belum bisa memberikan alamat rumahku. Aku biasanya bertemu dengan orang itu di tempat kerja, di tempat wisata aku. Kalau ada perlu datanglah ke sana." jawab Rama kemudian segera melangkah keluar dengan cepat. Ia benar-benar ingin bertemu dengan orang-orang di rumahnya terutama mamanya yang sangat ia rindukan. Fadhlan hanya bisa menatap punggung Rama yang semakin menjauh dengan tersenyum.
"Apa ada yang ia sembunyikan di rumahnya?" ujarnya pelan.
"Hey, kok melamun?" tegur Adi, salah satu peserta meeting.
"Kamu kenal Rama Putra Tama itu?" tanya Fadhlan masih dengan wajah penasaran pada sosok Rama.
"Ternyata ia adalah pewaris TGR Global Company, perusahaan multi raksasa di Ibukota. Aku tadi mencari informasinya sejak ia mulai berpidato di depan umum tadi." jelas Adi sang pengusaha sepatu dan sandal.
__ADS_1
"Pantas saja ia ditunjuk oleh panitia acara. Padahal tidak ada dalam rangkaian acara kita kan dan juga ia orang baru di sini." Fadhlan semakin kagum kepada sosok muda tadi. Ia lalu berpikir akan mengunjungi tempat wisata Rama secepatnya. Ia ingin banyak belajar pada pria muda itu.
"Ayo masuk, acara belum selesai lho. Masih ada sesi hiburan." ajak Adi yang melihat Fadhlan masih betah berdiri di depan pintu.
"Hem, iya ayok." mereka berdua pun masuk kembali ke pusat acara diadakan.
🍁
Rama sampai di rumah saat semua orang berkumpul di halaman depan rumah yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang sangat indah dan cantik hasil kerja tangan Heru yang multi bakat.
"Sini Ram, duduk di samping mama." panggil Vita saat Rama baru sampai dengan wajah cerah. Lelahnya langsung hilang saat mendapati keluarganya berkumpul di rumahnya yang sederhana.
Rama langsung membuka jasnya dan memberikannya pada Rara yang datang menjemputnya di depan pintu. Setelah itu ia menghampiri mamanya yang sedang duduk di samping sang Papa.
"Gimana Ma, rumah ini nyaman kan?" tanya Rama sambil meraih tangan mamanya. Vita tersenyum lembut.
"Selalu nyaman sayang, Dari dulu sebelum direnovasi, rumah ini akan selalu ada di hati mama karena kenangannya yang begitu banyak." jawab Vita dengan mata berkaca-kaca. Kenangan indah sebelum orangtuanya meninggalkannya kembali terbayang.
"Hah? sampai segitunya ya Pa?" tanya Sarah yang ikut bergabung dengan duduk di samping Papanya tepat di pegangan kursi yang diduduki oleh Gala sang Papa.
"Iya, semua orang panik, papa dibikin stress, dan kami semua baru tahu kalau Rama yang mamamu bawa kabur adalah putra dari Abang Tama," jawab Gala dengan pandangan menerawang jauh, mengingat kenangan itu. Kenangan yang begitu indah.
"Ih, kok bilang aku bawa kabur Rama sih, mas?" protes Vita merajuk. Rama, Sarah, dan Rara akhirnya duduk di lantai pas di dekat kaki orang tua mereka. Mereka penasaran dengan kelanjutan cerita tentang Rama dan orang tuanya.
'Ya iyalah, dengar ya semuanya, mamamu ini sengaja bikin papa menderita, ia meninggalkan Papa dan eyang justru saat tahu kalau Rama yang selama ini ia rawat adalah putra Bang Tama kakaknya Papa." jelas Gala sengaja menyalahkan istrinya agar Vita mau menceritakan yang sebenarnya kenapa ia kabur waktu itu.
"Wah kisahnya papa sama mama seru banget ya." ujar Sarah dengan mata berbinar senang. Ia sendiri belum pernah mendengar cerita-cerita masa lalu dari kedua orangtuanya.
"Ih, mas. Apa perlu aku bongkar semua modusmu ke aku waktu itu?" ujar Vita mendelik berpura-pura marah.
"Bongkar aja, supaya Rama tahu begitu berartinya dirinya untukmu sayang." jawab Gala dengan tatapan ke arah Rama yang sedang menunduk.
"Mama waktu itu merawat Rama yang masih bayi banget, karena ditinggal sama kak Gita dan mas Tama. Mama merawatmu sayang seperti anak mama sendiri sampai semua orang mengira aku ini single parent." Vita mengelus kepala Rama yang sengaja ia taruh di pahanya.
__ADS_1
"Papamu ini malah menuduh mama waktu itu memiliki kamu dengan tuduhan macam-macam." lanjut Vita dengan pandangan tajam ke arah suaminya. Gala langsung meremas tengkuknya merasa malu.
"Trus lanjutannya gimana ma?" tanya Sarah antusias. Vita menarik nafas kemudian melanjutkan,
"Yah, mama marah dong, mama langsung gak mau ngomong sama pak GM yang suka maksa ini. Kita musuhan." jawab Vita dengan wajah mengeras marah. Ia teringat bagaimana sakit hatinya waktu itu.
"Maaf sayang. Habisnya waktu itu kamu selalu menolak aku." Gala meraih tangan istrinya dan meremasnya lembut.
"Trus kapan mama tahu kalau aku ini cucunya eyang putri?" tanya Rama sambil menatap mata mamanya. Vita tersenyum.
"Waktu itu Ibu Presdir, yaitu Ibu Mawar Raditya berulang tahun dan mengundang kamu sayang untuk datang ke rumahnya. Karena kamu kelelahan bermain dan akhirnya tertidur di kamar kamu sekarang yang dulunya adalah kamar mas Tama. Disitulah mama melihat foto kak Gita dan mas Tama di sana."
"Mama baru ingin cerita ke eyang putri, eh tidak jadi karena ada musibah yang terjadi di keluarga Papamu yang berakhir mama kabur dan membawamu kemari."
"Wah ternyata kisah mama dan papa penuh lika-liku juga yah?" ujar Sarah dengan senyum di wajahnya.
"Dan Papa tak pernah lelah berjuang mendapatkan hati mamamu." timpal Gala balas tersenyum.
"Papa suka maksa sih." ujar Vita dengan senyum malunya.
"Mas Rama juga suka maksa Ma," timpal Rara yang sedari tadi diam saja menyimak kisah masa lalu papa, mama, dan suaminya.
"Perempuan itu memang harus dipaksa kalau tidak mereka bisa bikin kita gila." ujar Gala yang langsung mendapat dua jempol dari Rama.
"Om, aku juga mau maksa Sarah, boleh?" tanya Adam yang juga ternyata ada di sana dan hanya menyimak pembicaraan keluarga bahagia itu.
"Dam, hati-hati kalau ngomong. Di dalam kamar sana om punya golok yang tajam banget." Adam langsung kabur dari sana dan memilih bermain game di dalam kamar saja. Semua orang menahan tawanya yang ingin meledak dengan ekspresi marah Gala Putra Raditya sang Papa.
----Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1