
Rama menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya malam ini. Sungguh ia tak bisa tidur. Bolak-balik di dalam kamarnya bagai setrikaan membuat ia lelah sendiri.
Bayangan gadis kriwilnya membalas sentuhannya tadi siang begitu mengusik hatinya. Ia yakin gadis itu pasti melakukan itu semua karena sedang tertekan. Ia tahu gadis itu bukan gadis murahan yang gampang menyerahkan sesuatu yang berharga dari dirinya.
"Aaaakh." Rama menjambak rambutnya sendiri akan kerumitan masalah ini. Belum lagi persoalan adiknya yang cukup menguras emosinya. Hingga ia sempat memberi hadiah yang sangat berharga di tubuh Andika karena telah berani-berani membuat adiknya menangis.
"Pukul aku kak Ram!" teriak Andika di dalam ruang gym yang kedap suara itu. Rama sengaja memanggil Andika malam itu juga setelah para tamu kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
"Baik, kalau kamu melawan itu lebih bagus." jawab Rama sambil memasang kuda-kuda untuk menyerang Andika putra om Reno.
Bugh
Dash
Rama betul-betul menjadikan Andika sebagai samsaknya kali ini karena pria itu tidak melawan sama sekali.
"Lawan aku bodoh!" teriak Rama karena lawannya hanya diam saja. Nafasnya sampai tersengal karena emosi.
"Pukul aku sampai Sovia mau memaafkan aku Kak, Ram." ujar Andika dengan menahan sakit yang ia rasakan. Sakit hati dan sakit di tubuhnya.
"Oh Fuckhh!" umpat Rama Kemudian berlutut karena sudah lelah menghajar Andika.
"Kupikir kamu bisa menjaga hati Sovi, tetapi apa? kamu malah menyakiti perasaannya, Hhh." lanjutnya dengan nafas memburu karena emosi sudah di ambang batasnya. Mata elangnya menatap tajam pria muda yang kebetulan adalah kerabatnya.
"Maafkan aku kak. Aku terlambat menyadari kalau Sovia sangat berharga untukku. Selama ini aku cuma menganggap dia hanya gadis manja yang menyebalkan. Maafkan aku Kak Ram." Andika menunduk. Hatinya tak kuat kalau Sovia selalu menolak atau menghindarinya.
"Dan sekarangpun kamu lebih terlambat lagi. Hati Sovi sudah mati untukmu. Ia membencimu." timpal Rama yang membuat Andika semakin hancur.
"Perempuan itu baru saja menghubunginya kalau ia sedang mengandung anakmu."
Duarr!!!!
Andika sampai terhuyung ke depan karena pendengarannya bagaikan tersambar petir.
"Apa? siapa?" tanya Andika bingung. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya sendiri.
"Memangnya kamu pernah tidur sama siapa saja sampai bingung begitu, hah?" Rama mulai terpancing lagi.
__ADS_1
"Sumpah, aku tak pernah melakukan hal seperti itu pada siapa pun. Selama ini perempuan yang dekat denganku cuma Sovia." Rama langsung merangsek maju dan mencengkeram kerah kemeja Andika.
"Aku harap kamu tidak pernah menyentuh adikku."
"Tidak kak. Aku tak pernah menyentuh Sovia." jawab Andika semakin galau dan resah.
"Bertanggung jawablah pada perempuan itu dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumah ini." tegas Rama sambil berlalu dari hadapan Andika yang semakin sakit atas apa yang terjadi.
"Ini pasti perbuatan Elsa." geram Andika dalam hati kemudian keluar dari ruangan itu dan segera menuju mobilnya. Malam ini ia akan menemui Elsa dan meminta penjelasan gadis itu.
🍁
"Mas, dari tadi kok melamun sih." tanya Vita sembari mengelus dada bidang suaminya dari balik piyama yang sedang dipakai oleh Gala.
"Hem..." Gala hanya menjawab dengan deheman. Vita jadi merasa dicuekin karena sepertinya suaminya itu sedang terlibat sebuah perang batin yang cukup meresahkan. Biasanya saat tangannya mulai meraba dan menyentuh tubuh suaminya itu sudah pasti akan berakhir dengan pergulatan panjang dan melelahkan tapi kini suaminya itu diam saja bahkan ketika tangannya sudah membuat gerakan-gerakan ekstrim.
"Mas, lagi mikirin apa sih?" tanya Vita dengan suara merajuk. Gala langsung membalikkan tubuhnya ke arah istrinya dalam posisi miring. Ia menatap wajah Vita dalam.
"Putramu lagi jatuh cinta sayang." ujar Gala dengan raut wajah serius.
Vita ingin tertawa seketika. Ia tak menyangka suaminya akan segalau ini jika Rama sedang jatuh cinta.
"Kenapa mas, bukannya wajar kalau ia jatuh cinta." Vita tersenyum senang karena tebakannya selama ini benar. Putranya itu pasti sedang jatuh cinta dari tingkahya yang sangat aneh.
"Wajar sih, tapi sayangnya perempuan yang ia cintai itu yang tidak wajar." jawab Gala dengan dahi berkerut pusing.
"Maksudnya apa nih mas?" Vita langsung bangun dari posisi berbaringnya. Ia begitu tertarik dan juga penasaran akan cerita suaminya.
"Dia mencintai tunangan orang lain. Dan ia memaksa aku untuk membantunya." Gala menarik nafas panjang karena kerumitan ini.
"Culik mas, kita harus culik gadis itu. Pasti cepat beres." Ujar Vita memberi ide. Gala langsung tersenyum dengan ide istrinya itu.
"Ide yang bagus. Tapi sayangnya calon suami gadis itu adalah cucu Reksadana."
"Hah? Reksadana si tua aneh itu?" Vita membelalakkan matanya tak percaya. Gala mengangguk membenarkan.
"Mundur aja deh mas, nanti aku carikan gadis lain yang lebih cantik dan menarik." ujar Vita tiba-tiba merinding membayangkan akan melawan seorang seperti Reksadana.
__ADS_1
"Andaikan bisa semudah itu pasti permasalahan cinta ini cepat beres." jawab Gala masih dalam mode bingung. "Eh tahu gak, Rama sampai ngancam aku lho tadi." lanjut Gala lagi.
"Ngancam apa mas?"
"Pokoknya kita harus membantunya dalam waktu 24 jam ini. Kalau tidak, katanya ia tak akan membuat kita tidur nyenyak."
"Wah niat banget ya sama si itu cewek, Hem." ujar Vita sembari ikut berpikir keras.
"Kira-kira cewek itu tampangnya kayak siapa ya?" Vita menatap langit-langiit kamarnya mencoba menerka-nerka sosok yang menjadi idaman putranya itu.
"Aaaaaaah." tiba-tiba ia berteriak karena bayangan yang muncul di atas langit-langit kamarnya itu adalah seorang gadis kriwil yang ia lihat di kamar Sovia waktu itu. Gadis kriwil gersek dengan gaya tidur yang gak banget.
"Ada apa sayang?" tanya Gala yang kaget akan teriakan istrinya itu.
"Gak papa mas, cuma mikirin ya enggak-enggak." jawab Vita cengengesan.
🍁
Rama yang masih belum bisa menutup mata padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari itu meraih handphonenya dan membuka beberapa informasi tentang tuan Reksadana. Ia berusaha mempelajari informasi itu baik-baik. Mencari celah agar ia bisa mengalahkan orang itu dan merebut kembali Az-Zahra Aisyah.
"Tuan Reksadana ini usianya sepantaran dengan eyang Putri. Dan ia juga seorang pengusaha yang sudah lama malang melintang di dunia bisnis jasa dan pelayanan."
gumam Rama setelah membaca biodata tentang orang tua itu.
"Apa mungkin eyang putri kenal dengan orang ini?" tanyanya dalam hati. Kembali ia membaca lagi informasi-informasi itu, termasuk silsilah keluarga dan juga sahabat-sahabat yang pernah dekat dengan pria tua itu.
Deg
Dadanya tiba-tiba berdegup kencang ketika melihat bahwa salah satu sahabat lama tuan Reksadana adalah Raditya, eyang kakungnya yang tidak pernah dilihatnya selama hidupnya ini.
---Bersambung---
🍁
Wahhh othor tegang, adakah like, komentar dan hadiah bunga sekebon atau kopi secangkir????
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1