
"Sar, kamu ada waktu gak weekend ini?" tanya Adi sengaja menghampiri gadis itu saat melihatnya menuju toilet.
"Maaf, Di kalau weekend aku selalu kumpul bareng keluarga." jawab Sarah dengan lugas, ia sudah mengerti arah pembicaraan asisten dari Rama kakaknya itu.
"Oh gitu ya? padahal aku mau lho ngajak kamu ke rumah aku."
Sarah cuma tersenyum dan mencoba menghindari pria yang baru dikenalnya itu. Ia tak mau bermain dengan api. Hatinya akan ia jaga buat Adam seorang, sampai pria itu melambaikan tangannya dan memintanya sendiri untuk menyerah.
"Ayahku sangat menginginkan kamu datang ke rumah, Sar. Aku sering cerita tentang kamu sama beliau." ujar Adi sembari memandang arah lain. karena Sarah tetap menghindari pandangannya.
"Sampaikan aja salamku pada pak Syam, beliau begitu baik padaku dan banyak membagi ilmunya juga." jawab Sarah santai.
"Permisi ya Di, aku mau masuk." lanjutnya sembari menunjuk toilet dengan tangannya.
"Oh silahkan, maaf ya aku mengganggu waktumu." ujar Adi kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke mejanya.
"Sial! dia memang tak tersentuh." gerutunya saat baru duduk di kursinya. Rangga hanya terkekeh menyaksikan kekesalan di wajah Adi.
"Aku bilang juga apa, dia itu gak seperti cewek-cewek pada umumnya. Dia itu cuma memandang kita bagai butiran debu." ujar Rangga dengan senyumnya yang mengejek.
"Aku jadi penasaran cowok seperti apa yang ia inginkan, secara aku kan ini termasuk level 9, tampan paripurna dan lulusan Harvard university." ujar Adi menyombongkan dirinya.
"Woy, sadar. Jangan mentang-mentang dari Harvard ya, kamu jadi sombong begitu. Aku yang dari Moskow aja gak sombong banget." Rangga melambaikan tangannya di depan wajah Adi Nugroho yang selalu membawa-bawa Harvard ketika sedang ingin menunjukkan jati dirinya.
"Cih, level kita beda lah, jodoh juga pasti beda, lihat saja nanti kalau aku pasti bisa mendapatkan Sarah, apapun caranya." ujar Adi Nugroho dengan mengepalkan tangannya dibawah meja.
π
"Mau kemana sayang?" tanya Vita pada putri bungsunya yang nampak cantik pagi itu dengan outfit yang senada dengan hijabnya yang berwarna pastel dipadukan dalaman hitam.
__ADS_1
"Mau jalan Ma sama Kak Sovi ngemol gitu deh trus nonton dan happy- happy." jawab Sarah sembari memperbaiki posisi kerudung pashminanya.
"Bawa Reza dan Renzy?" tanya Vita lagi. Ia membayangkan kedua bocil itu akan ikut dan mengganggu waktu mereka berdua.
"Gak Ma, kita mau nitip dua bocil itu sama Uti Miska."
"Bagus dong, kalian bisa nyantai-nyantai."
"Iya Ma, kak Sovie pengen merasakan kembali jadi gadis hihihi." ujar Sarah sembari menutup mulutnya tertawa.
"Hush, udah punya anak dua malah mau jadi gadis lagi, hadeh...apa kata dunia Hem." Vita menepuk dahinya pelan. Sarah semakin tertawa dibuatnya.
"Artinya enakan jadi gadis aja dong ma, kalo gitu." ujar Sarah dengan wajah berbinar senang.
"Gak boleh gitu juga, punya pasangan dan keluarga itu nikmat sayang. Semua kebaikan di dalamnya bernilai ganda pahalanya."
"Mau nikah deh kalau gitu, ups." Sarah menutup mulutnya dan cepat kabur dari hadapan mamanya yang menatapnya sambil tersenyum.
π
"Jadi? mau nonton apa nih kita?" tanya Sovia pada sang adik setelah berkeliling Mall dengan tangan penuh dengan kantong belanjaan.
"Cari film komedi aja deh kak, bisa bikin hati senang and fresh lagi." jawab Sarah sembari memasuki pintu bioskop. Mereka berdua melihat daftar film yang terpajang di dinding.
"Sarah? kamu Sarah kan? mau nonton juga?" tanya seseorang dari arah samping gadis itu. Ia sedikit pangling dengan penampilan gadis itu sekarang yang sudah menggunakan hijab di kepalanya.
"Eci? kamu udah lama di sini?" tanya Sarah balik, dengan wajah tak percaya.
"Baru seminggu mendarat, udah lulus juga kan." jawab Eci dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Wah selamat, udah Master of Harvard nih." ujar Sarah sembari menjabat tangan gadis itu.
"Sama siapa Sar?" tanya Eci sembari mencari teman nonton gadis itu.
"Sama kak Sovie, tuh lagi beli Snack dulu." tunjuk Sarah dengan wajah yang tiba-tiba berubah warna.
Disana ia melihat Sovia bersama dengan Adam sedang mengobrol.
Ia langsung menatap Eci kemudian kembali melempar pandangannya ke arah Adam. Segala prasangka muncul dihatinya.
Tiba-tiba ia merasakan palu godam menghantam hatinya, sakit tapi tak berdarah ketika Eci Karin dengan wajah gembira mengatakan kalau ia nonton bersama Adam.
"Kamu cari pacar juga Sar, supaya nonton gak sama kak Sovie aja," ujar Eci saat Sovia dan Adam sudah berada di depan mereka berdua dengan popcorn dan juga minuman ditangan mereka.
Sarah tersenyum berusaha menahan airmatanya tidak bobol dan tumpah saat itu juga.
Adam udah lama di negara ini dan tidak memberiku kabar sama sekali
"Sarah? kamu gak nyapa aku?" ujar Adam dengan suara canggungnya. Ia menatap gadis itu dengan rasa rindu yang sangat.
"Hai Dam, pa kabar?" tanya Sarah dengan suara bergetar. Ia memelankan suaranya agar tidak kentara kalau ia sedang menahan emosi di dadanya. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam.
"Sarah?" panggil Adam dengan canggung.
"Maafkan aku. Aku.. tidak jadi nonton," ujar Sarah kemudian berlari dari tempat itu. Ia membutuhkan tempat sepi untuk menangis.
"Maaf ya, aku juga pamit, aku yang nyetir soalnya." ujar Sovia sembari memperlihatkan kunci mobilnya. Ia berlari mengikuti Sarah yang ia tahu pasti sedang tidak baik-baik saja.
---Bersambung--
__ADS_1
Duh, hati othor sakit lihat Sarah bersedihπ, mana nih dukungannya untuk Sarah eh, othor, klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ