
Kemeriahan pesta malam itu masih sangat nampak. Beberapa tamu undangan sengaja berlama-lama duduk di sana untuk menikmati hiburan yang disuguhkan oleh artis papan atas di negara ini.
"Apa kamu lelah, sayang?" tanya Adam dengan wajah khawatir. Ia memandang Sarah yang nampak meregangkan otot punggungnya.
Perempuan cantik itu hanya tersenyum hangat, ia merasa kupingnya menangkap kata sayang dari Adam. Untuk pertama kalinya pria itu mengucapkan kata mesra seperti itu padanya, dan jangan ditanya, hatinya langsung berdebar kencang.
"Ah iya pinggangku sedikit sakit." jawab Sarah sembari menyentuh pinggangnya.
"Kalau gitu kita istirahat saja dulu, gimana?" Sarah menggeleng. Ia yakin masih bisa bertahan duduk di Pelaminan itu. Toh ini cuma sekali seumur hidup, jadi apa salahnya jika bertahan sedikit lebih lama.
"Oke, baiklah. Tapi kalau lelah kamu harus bilang ya," ujar Adam sembari meremas tangan istrinya lembut.
Sarah mengangguk lucu dan balas menggenggam tangan suaminya.
"Udah berani pegang-pegangan nih." tegur Vita yang duduk disamping mereka berdua. Sarah tersentak dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman Adam.
"Ih gak apa-apa sayang, cuma ditahan dulu ya. Takutnya tamunya yang masih jomblo kebelet semua noh minta kawin juga." ujar Vita bercanda. Adam hanya tersenyum samar dan mulai memandang ke depan ke arah para tamu dan juga band penghibur.
Setelah berfoto bersama kedua mempelai sebagai rutinitas wajib dalam sebuah pesta pernikahan, seluruh anggota keluarga kembali ke rumah masing-masing. Tetapi ada juga yang masih tinggal di hotel sebagai akomodasi yang disiapkan oleh tuan rumah yang ingin beristirahat dan menginap.
"Aku mau pulang aja Dam, lebih nyaman tidur di rumah deh kayaknya," ujar Sarah pada Adam saat pria yang telah menjadi suaminya itu menatapnya menunggu apa keinginan sang istri.
Sarah memang sejenis gadis rumahan yang menganggap Rumah adalah surganya. Home sweet home adalah ungkapan yang sangat cocok untuknya.
"Baiklah kita pulang aja," ujar Adam kemudian membawa istrinya itu pulang ke rumah kediaman Raditya menggunakan mobil Papanya.
Dan ternyata seluruh anggota keluarga yang lain pun memutuskan ikut juga pulang ke rumah dan tidak ada yang tinggal di hotel.
"Mas, aku senang sekali lho hari ini." ujar Vita dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya sejak tadi pagi.
"Aku juga sayang, kita semua bahagia karena tugas kita sebagai orangtua sudah berkurang."
"Menjaga anak perempuan bagaikan menjaga mutiara yang sangat berharga. Dan sekarang itu sudah diambil alih oleh Adam yang akan menjadi imam dari putri kita itu." ujar Gala sembari meremas tangan istrinya lembut.
"Iya mas, semoga mereka berdua bisa menjalani mahligai Rumah tangganya ini dengan saling memahami dan juga dewasa."
"Aamiin, meskipun begitu kita semua tetap akan selalu mendampingi mereka."
"Iya Mas," percakapan mereka terus berlanjut sampai mereka tiba di rumah kediaman Raditya. Dimana ada banyak keluarga yang tinggal di sana.
__ADS_1
Rama dan Rara belum berniat untuk memiliki rumah sendiri. Begitupun dengan Sovia dan Andika, mereka semua masih betah tinggal bersama dengan segala keramaian dan kehangatan yang ada di dalam di rumah itu.
🍁
Untuk kedua kalinya Adam memasuki kamar Sarah sang istri. Pertama sewaktu mereka belum sah dan melihat sesuatu yang sangat indah dan masih terbayang sampai sekarang.
Dan yang kedua ini saat ia telah sah dan halal melihat apa saja yang ada pada istrinya itu.
Adam duduk di sebuah sofa single sembari memperhatikan suasana sekeliling kamar yang bernuansa pastel itu.
Sarah sendiri berusaha membuka pakaian pengantinnya dibantu oleh tim wardrobe pada acara itu.
"Jangan goyang dulu ya mba Sarah, ini penitinya kayaknya nyangkut di sini deh, awas ketusuk," ujar gadis yang sedang membantu Sarah itu. Sang pengantin cantik itu menurut.
"Awwww." teriak Sarah karena benar-benar tertusuk jarum pentul dibagian bahunya. Adam langsung berdiri dari duduknya dan meminta gadis wardrobe itu untuk keluar saja, ia yakin bisa membantu sang istri untuk membuka pakaian pengantin itu.
"Iya Mas, tapi dikumpulin pentulnya ya mas, takutnya ketusuk lagi, bahaya benda tajam." ujarnya sebelum keluar dari kamar pengantin itu.
Adam hanya tersenyum samar, ia tahu apa yang harus dilakukan untuk sang istri tercinta agar selalu aman dari yang namanya hal-hal yang berbahaya.
"Gak usah dibantuin ah, aku bisa sendiri kok," ujar Sarah pada suaminya yang sibuk membuka kancing belakang kebayanya.
Sedangkan Adam di belakang sana begitu terpesona dengan punggung sang istri yang begitu putih dan mulus. Tangannya tanpa disadari mulai bergerak membelai bahu seputih susu itu dengan lembut hingga turun ke punggung dan berhenti di sebuah kain penutup tipis yang memakai pengait. Ingin ia membuka pengait itu tetapi ia mengurungkan niatnya dan menunggu reaksi sang istri.
"Dam, awww perutku sakit sekali ," ujar Sarah tiba-tiba ditengah keheningan mereka berdua. ia sampai membungkuk dan memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Sarah, kamu kenapa?" tanya Adam dengan panik, ia langsung menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang.
"Tolong ambilkan obat di kotak P3K di sana Dam," ujar Sarah sembari meremas perutnya yang semakin nyeri. Adam dengan langkah cepat memberikan sebutir obat anti nyeri itu beserta segelas air putih.
"Nih minum cepat." ujar Adam dengan wajah khawatir. Ia terdiam memandangi wajah istrinya yang masih menunjukan rasa nyeri yang sangat.
"Aku panggilkan mama ya," ujar Adam karena tak tega melihat istrinya seperti itu.
"Gak usah sebentar lagi biasanya baikan kok," jawab Sarah sembari menarik tangan sang suami.
"Oh, jadi kamu biasa kayak gini? apa mama tahu?"
"Iya setiap bulan pasti penyakit ini datang."
__ADS_1
"Wah gawat itu, itu bisa berbahaya sayang," Adam menatap mata istrinya lembut.
"Aku akan bawa kamu periksa ke dokter, besok gak bisa bantah."
"Ih, ini tuh biasa bagi perempuan, siklusnya ya seperti itu, setiap bulan saat tamu datang pasti akan sakit dan nyeri seperti ini." jelas Sarah tersenyum. Rupanya obat anti nyerinya sudah bereaksi hingga ia sudah merasa lebih enakan.
"Oh jadi kamu selalu terima tamu setiap bulan? dan kali ini aku tamunya SAR? ckckck gak nyangka aku, tamunya cowok apa cewek?"
Sarah kembali meremas perutnya karena tertawa terpingkal-pingkal. Ia merasa sangat lucu dengan jalan pikiran Adam yang sangat polos itu.
"Kamu sudah master di Harvard tapi belum pintar juga, sana kamu belajar pelajaran biologi aja." ujar Sarah dengan wajah berubah cemberut kemudian bangun dari tidurnya untuk membersihkan diri dan juga berganti pakaian. Ia merasa tamu itu sudah benar-benar datang sekarang jadi ia butuh bersih-bersih dan menggunakan pembalut.
"Hey, jelaskan padaku tamunya cowok atau cewek, Sar?!"
"Gak akan aku jelaskan, rugi kamu belajar jauh-jauh sampai di Cambridge tapi itu saja tidak tahu." ujar Sarah kemudian meninggalkan Adam dan menuju kamar mandi dengan hanya menggunakan pakaian dalam saja, kebaya tadi sudah berhasil dibuka oleh sang suami dengan sangat elegan.
Karena bosan menunggu sang istri di kamar mandi, ia akhirnya keluar kamar setelah berganti pakaian juga. Ia ingin mencari sesuatu untuk dimakan karena selama diacara resepsi tadi ia belum makan apapun begitupun dengan Sarah sang istri, hingga ia memutuskan untuk ke dapur untuk mengambil makanan untuknya dan untuk Sarah.
"Dam, kok kamu disini? istri kamu mana?" tanya Vita yang kebetulan juga turun ke dapur mencari cemilan untuknya dan suami yang katanya ingin menghabiskan malam ini dengan nonton pertandingan bulutangkis antara Indonesia dan Malaysia.
"Sarah lagi kedatangan tamu Ma, jadi aku kesini aja dulu." jawab Adam sembari mencari makanan di lemari pendingin.
"Tamu apa? malam-malam begini Dam?" tanya Vita bingung.
"Katanya tamunya rutin datang setiap bulan Ma, dan perutnya tuh nyeri,"
"Hahahaha," Vita tak bisa menahan tawanya kemudian menepuk bahu menantunya itu.
"Selamat berlibur Dam, tamu itu baru pulang setelah 7 hari." Adam diam dan semakin bingung tetapi ia hanya diam karena tak mengerti. Yang penting ia harus membuat Sarah makan dulu supaya kuat melakukan malam pertamanya ini dengannya.
"Aku duluan ma," ujarnya sembari membawa nampan yang berisi buah dan juga kue kesukaan istrinya itu, susu pun ada.
Vita hanya menggeleng-gelengkan kepalanya memandang punggung Adam yang pastinya akan tersiksa selama 7 hari ke depan.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya , okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1