Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 146 Weekend Istimewa Gala Dan Vita


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Vita Maharani mengetuk pintu kamar putrinya di pagi buta itu untuk membangunkan mereka sholat subuh. Ia tahu ada alarm yang selalu bertugas membangunkan kedua gadis itu tetapi kenyataannya mereka akan bangun untuk mematikan alarm itu kemudian jatuh tertidur lagi.


Sovia dah Sarah yang memang berbagi kamar cukup menguntungkan Vita Maharani karena ia tak perlu membangunkan dua kali. Ia cukup mengeluarkan suara birunya maka kedua gadis itu langsung lompat dari tempat tidur.


Lama ia mengetuk tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya ia mendorong pintu itu dan melangkah masuk di tengah kegelapan karena kedua putrinya tidak ada yang bisa tidur jika lampu menyala.


Klik


Vita memencet switch on pada saklar listrik di dinding dan melihat satu pemandangan yang sangat membuatnya tercengang.


"Astagfirullah!" lafadznya tak percaya akan penglihatannya. Ia sampai mengelus dadanya karena kaget luar biasa. Di atas ranjang putrinya yang biasanya berisi dua sosok cantik kini berubah menjadi tiga sosok dengan keadaan yang cukup hancur dan berantakan. Sosok aneh itu yang membuatnya menganga tak percaya. Rambut kriwil yang menutupi kepala sosok itu begitu mengganggu penglihatannya dan juga gaya tidurnya yang begitu bar-bar. Kakinya berada di kepala Sovia sedangkan kepalanya menggantung di sisi ranjang.


"Sovi! Sarah! bangun sayang. Sholat subuh dulu." panggilnya pada kedua putrinya tetapi tidak berani mendekat takut sosok itu melompat dan menerkamnya.


Hhmmmpp


Terdengar lenguhan dari arah ranjang. Entah suara siapa itu yang jelasnya Vita merasa sedikit lega. Bersyukur kalau mereka bertiga masih hidup.


"Sovi! Sarah! bangun sayang. Papa nanti kesini lho kalau kalian belum bangun." Seketika kedua orang putrinya langsung melompat dari ranjang karena takut jika papanya disebut.


Gedebugh


"Awwwwww." teriak Rara yang jatuh dari ranjang karena kedua orang itu melompat tak izin terlebih dahulu.


Vita langsung menghampiri sosok aneh itu yang ternyata adalah seorang gadis manis.


"Kamu siapa sayang?" tanya Vita penuh perhatian. Ia yakin usia gadis ini sepantaran Sovia putri pertamanya.


"Aku Rara tante." jawab Rara sambil meringis menahan sakit di kepala dan bokongnya.


"Cuci muka dulu ya.Trus sholat sama Sovia, tante tunggu di bawah." ujar Vita dengan senyum teduhnya. Rara mengangguk kemudian berjalan ke kamar mandi.


🍁

__ADS_1


"Mas, ada hal penting yang mau aku ceritakan." ujar Vita dengan nafas memburu. Ia baru saja kembali dari kamar putrinya setelah memastikan mereka semua telah melaksanakan sholat subuh.


"Aku juga ada hal penting sayang," jawab Gala dan langsung mendekap istrinya erat.


"Mas, ini beneran penting banget." ujar Vita yang merasa geli karena Gala sudah mulai mendaratkan bibirnya ke lehernya yang jenjang. Apalagi pakaiannya sekarang yang cukup rendah dibagian dada hingga belahan dua asetnya semakin menggoda suaminya itu.


"Penting mana dengan yang ini sayang, Hem." bisik Gala dengan suara beratnya kemudian mengarahkan tangan istrinya itu kebawah. Kesebuah benda yang sudah sangat mengeras karena sebuah tegangan tinggi."


"Mas," Vita sudah tak ingat lagi apa yang ia ingin sampaikan, suaminya begitu lihai menggodanya dengan sentuhan-sentuhan yang membuatnya lupa segalanya. Otaknya seketika blank, yang ada hanya keinginannya mencapai puncak kenikmatan bersama sang dominan, suaminya tercinta. Dessahan dan lenguhan mereka berdua menghiasi suasana pagi di kamar itu.


"Aaaaaakh." lenguh Gala saat puncak itu datang. Ia meledakkan dirinya berkali-kali di dalam tubuh istrinya tercinta. Usia yang semakin matang tidak pernah menghalangi keduanya untuk mereguk kenikmatan bersama. Justru mereka semakin sering melakukannya karena mereka merasa hal itu adalah obat awet muda.


"Makasih mas," ujar Vita dengan nafas masih memburu. Bibirnya merekah indah. Suaminya selalu bisa membuatnya berteriak berkali-kali dan lupa usia.


"Aku yang berterima kasih sayang," jawab Gala yang masih setia dengan posisinya itu. He is on top of his wife guys.


"Istirahat ya, ini weekend, kita habiskan berdua saja di kamar ini. Jangan kemana-mana." lanjutnya lagi kemudian merapatkan kembali tubuh mereka yang sudah bermandi peluh.


"Tapi anak-anak mas." ujar Vita yang baru teringat akan hal penting yang mau ia ceritakan tadi tapi keburu mendapat serangan yang memabukkan.


"Mereka sudah dewasa. Biar mereka mengurus dirinya sendiri."


Akhirnya mereka melanjutkan kembali hal-hal yang mungkin terlewatkan pada ronde pertama tadi. Saling berbagi rasa dan damba.


"I love you Vita Maharaniku." ujar Gala disela-sela hentakan-hentakannya.


"Me too." jawab Vita pelan sembari mencengkram ujung bed covernya merasai bagian dari suaminya itu memasuki dirinya lagi dan lagi.


🍁


Sovia tahu kalau setiap weekend begini mama dan papanya akan mengurung diri di kamar seharian, untuk itu ia sering mengajak Sarah adiknya menuju ke dapur untuk melihat persiapan sarapan yang dipimpin oleh para asisten rumah tangga. Tetapi ternyata Sarah menolak. Ia belum bisa mengikuti hobby mamanya itu, jadinya ia hanya tinggal di kamar bersama Rara.


Sovia sudah mulai belajar ke dapur karena permintaan mamanya. Meskipun hanya melihat-lihat orang memasak atau kalau bisa memberikan bantuan sekadarnya.


Sementara itu Sarah yang masih di kamar mengajak Rara ke ruangan gym. Gadis itu memang suka berolahraga dan malas jika berhubungan dengan dapur. Ia suka senam dan menari, mengikuti hobby mamanya yang lain.


"Ra, pakai ini." ujar Sarah sambil menyerahkan pakaian senam kepada Rara.


"Aku kok mengsedihkan banget ya, semua pakaian kalian aku pakai. Jadi malu nih." balas Rara sembari duduk di ranjang. Ia memeluk pakaian senam itu di dadanya.

__ADS_1


"Ih gak apa-apa kali, kita kan teman." jawab Sarah kemudian mengikat rambutnya ke atas. Rara pun akhirnya memakai pakaian senam itu yang cukup terbuka di bagian dada dan punggungnya. Ia mendengus karena tak biasa berpakaian terbuka seperti itu. Ia biasanya tampil tomboi dan memakai jeans bekel dan kaos kebesaran.


"Kamu biasa pakai ginian?" tanyanya pada Sarah.


"Hem, iyya kenapa? tapi dalam rumah aja di ruang gym dan di kamar. Papa pasti marah kalau lihat aku keluar rumah pakai pakaian terbuka.


"Tapi di sinikan ada cowok juga." jawab Rara memberi alasan.


"Mereka kan saudara aku jadi gak apa-apa lah."


"Oh gitu ya?" jawab Rara masih memandang tubuhnya yang cukup seksi dengan balutan pakaian senam pemberian Rara.


"Tapi kalau kamu gak nyaman ya diganti aja. Gak apa-apa kok." ujar Sarah lagi. Ia jadi merasa tidak enak sama Rara karena ia sendiri memakai pakaian senam yang model celana panjang dan tertutup sedangkan yang ia berikan adalah pakaiannya yang lama yang pernah kena teguran papanya.


"Iyya deh. Aku gak nyaman banget maaf ya." ujar Rara pelan takut Sarah jadi tersinggung. Mereka berdua akhirnya berganti pakaian menjadi kaos dan trening saja.


"Ayok masuk." ajak Rara ke dalam ruangan gym yang ternyata sudah ramai dengan para cowok ganteng generasi kedua Tuan Raditya. Adam langsung menoleh melihat dua cewek manis yang sedang berdiri di depan pintu kaca.


"Sarah, Az-Zahra sini." panggil Adam dengan semangat. Ia sedang berada di atas treadmil dengan headset dikupingnya. Sarah menarik tangan Rara menghampiri Adam yang sudah sangat berkeringat itu. Otot-otot nya begitu jelas dibalik kaosnya yang sudah basah.


"Mau main yang mana?" tanya Adam pada dua gadis itu sambil menunjuk beberapa alat olahraga di ruangan itu. Sarah langsung menjawab, "Gak kami mau senam aja." Lalu ia menarik tangan Rara yang sejak tadi diam saja ke ruangan di sebelahnya yang hanya berbataskan dinding kaca di segala sisinya.


Sarah pun memutar musik senam dan mulai melakukan pemanasan. Rara hanya mengikuti apa yang dilakukan Sarah yang tanpa sadar sedang diperhatikan oleh Rama yang sedang melatih otot tangan dan lengannya dengan mengangkat barbel berukuran sedang. Rupanya dinding kaca itu didesain transparan dari sisi tempatnya berdiri sedangkan dari sisi Rara ia tak bisa melihat apapun dari sisi lainnya. Senam yang lebih ke tarian Bollywood itu membuat keduanya merasa bebas mengekspresikan diri. Hingga keringat bercucuran dan membasahi kaos mereka berdua.


"Wah capek banget." ujar Rara sambil berbaring di lantai.


"Nih minum dulu." Sarah memberinya sebotol air dingin. Rara langsung meneguknya buru-buru sampai terbatuk.


"Pelan-pelan!" teriak Rama dari ruangan disebelahnya. Rupanya sedari tadi ia memperhatikan apa saja yang dilakukan kucing kriwil itu lewat kaca transparan.


"Astaga." ujarnya pelan saat sadar apa yang sedang dilakukannya di sana. Ia celingak-celinguk mencari tahu semoga tidak ada yang melihat tingkah konyolnya itu. Bibirnya tiba-tiba berkedut dan tersenyum samar.


---Bersambung---


🍁


Mana nih dukungannya untuk karya ini, othor tunggu ya gaesss


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2