
Sepanjang perjalanan pulang, Sarah tak mengucapkan kata satupun. Sovia sudah bisa menebak kalau perasaan sang adik pasti sedang tidak baik.
"Apa ini karena Adam?" tanya Sovia karena ia merasa suasana di dalam mobil itu begitu dingin dan menyeramkan. Yang terdengar hanya Isak tangis tertahan dari penumpang di sampingnya.
"Ini," lanjut Sovia sembari menyerahkan tissue pada adik bungsunya itu. Sarah mengambil tissue itu tapi tetap diam, ia hanya melempar pandangannya ke luar jendela.
"Kayaknya gadis itu dekat banget ya sama Adam. Trus cantik lagi. Adam pasti seneng banget jalan sama tuh cewek." ujar Sovia sembari melihat jalanan yang lumayan macet di depannya. Ia terus memprovokasi adiknya agar mau meluapkan emosinya itu daripada ditahan dan membuat dada jadi sesak.
"Kalo aku sih setuju aja kalau gadis itu jadian sama Adam, secara mereka sama-sama lulusan Harvard kan?" ia melirik Sarah yang masih sibuk menyusut hidungnya dengan tissue itu.
"Coba kamu gak ngambek pasti kita bisa duduk berdekatan dengan mereka di dalam bioskop trus lihat mereka mesra-mesraan. Aku tadi dapat nomor kursi yang dekat dengan mereka lho. Adam pula yang bayar." Sovia tersenyum samar karena Sarah sudah mulai bereaksi dengan melempar tissue itu pada kakaknya.
"Kalau Kak Sovie gak berhenti ngomong, aku akan turun di sini saja." geram Sarah pada akhirnya.
"Turun di mana? di sungai? kita kan sedang diatas jembatan ini." tanya Sovia dengan wajah yang dibuat serius padahal sedang sangat merasa lucu dengan adiknya itu.
"Ih kakak, sebel. Lain kali aku gak mau nemenin kamu ngemol lagi " kesal Sarah dengan bibir cemberut.
"Nah gitu dong, gak nangis. Laki-laki itu memang begitu dek, makanya aku tak mau menikah sama perempuan, gak asik, hahahaha." ujar Sovia terbahak-bahak karena semakin lucu dengan kata-katanya sendiri.
"Ih, udah sana diam. Tambah bikin jengkel aja." Sarah meremas udara semakin kesal. Bukannya ia dihibur malah diledekin sama sang kakak.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah. Pas mobil berhenti, Sarah langsung turun dan berlari ke kamarnya. Ia butuh tempat pribadi untuk melanjutkan tangisnya yang terganggu dengan keisengan Sovia.
"Sarah, kamu sudah pulang?" tanya Vita saat melihat putrinya langsung berlari ke lantai dua dan bahkan masuk rumah tidak memberi salam.
"Udah Ma, ini bahkan belanjaannya ditinggalkan begini saja," jawab Sovia yang mengekor di belakang Sarah. Ia mengangkat kedua tangannya memperlihatkan tas belanjaan yang begitu banyak milik Sarah dan dia sendiri.
"Kenapa dia, Sov?" tanya Vita penasaran. Matanya masih memandang ke arah tangga dimana Sarah tadi berlari kesana.
"Ngambek."
"Kenapa?"
"Kesal mungkin sama Adam." jawab Sovia sembari mengangkat kedua bahunya. Ia lalu meletakkan tas-tas itu di atas meja kemudian duduk di Sofa di samping mamanya.
"Kalian ketemu Adam? di mana?"
"Iya Ma, ketemunya di Bioskop sama seorang cewek cantik gitu. Makanya Sarah ngambek dan berakhir kita gak jadi nonton. Padahal ini jarang banget lho Ma aku ada waktu bebas kayak gini." jelas Sovia menggerutu kesal.
__ADS_1
"Ih kamu, kasihan adekmu tuh, jangan mentingin perasaan sendiri." tegur Vita pada Sovia yang sekarang malah sibuk dengan handphonenya.
"Iya deh Ma, aku minta maaf."
"Udah ah, mama mau lihat Sarah dulu." ujar Vita kemudian berdiri dari duduknya.
"Gak usah Ma, ia pasti butuh waktu sendiri." Sovia menggeleng sembari menarik tangan mamanya untuk duduk.
"Oh, iya biarkan saja dulu kalau begitu, nanti kalau udah baik pasti akan cerita sendiri." lanjut Vita merasa kalau Sovia benar. Sekarang ia hanya perlu menghubungi Risma Yanti tentang masalah ini.
🍁
Vita memandang wajah putrinya yang nampak berbeda hari ini.
"Ada apa Ma?" tanya Sarah karena sang mama memandangnya sampai tak berkedip.
"Kamu kelihatan lebih dewasa sekarang dan baru kali ini, mama lihat kamu pakai kacamata."
"Ah biasa aja Ma, sekali-kali tampil beda gak apa-apa kan?" ia menggunakan kacamata untuk berangkat ke Perusahaan pagi ini untuk menutupi matanya yang membengkak karena menangis semalaman.
Ia sudah bertekad untuk melupakan Adam dan akan berusaha membuka hatinya untuk orang lain saja. Ia merasa capek menunggu yang tidak ada kepastian.
"Aku berangkat duluan Ma, Pa." pamit Sarah yang membuat Gala serta Vita semakin curiga terjadi sesuatu pada putri mereka itu.
"Mas?" Vita menatap sang suami yang tiba-tiba tersenyum sendiri.
"Ada apa sayang?" tanya Gala sembari meraih istrinya itu dan memintanya duduk di sampingnya.
"Karena sekretarisku itu sudah berangkat duluan dan pastinya sangat bisa diandalkan. Aku mau bersamamu dulu pagi ini." ujar Gala sembari merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya.
"Ih mas. Sarah itu lagi tidak baik-baik saja. Dia lagi sedih sama Adam mas." Vita berusaha melepaskan rengkuhan suaminya itu yang tidak menghiraukan kegalauan hatinya.
"Aku tahu sayang, aku cuma mau lihat sedewasa apa sekarang putra Deka itu." jawab Gala kemudian membawa istrinya ke kamar. Hari ini tak ada hal penting dan mendesak yang harus ia kerjakan di Perusahaan. Bersama istrinya pagi ini adalah hal yang paling mendesak baginya, atau seharian ia akan merasakan sakit kepala yang berkepanjangan.
Sarah tiba di loby pagi itu saat keadaan Perusahaan masih sepi. Ia langsung menuju finger print untuk absen daftar hadir hari itu kemudian menuju lift dan menekan Lantai tertinggi di Perusahaan itu.
"Tunggu Sar!" teriak Adi yang baru datang dan ikut masuk ke Lift itu sebelum tertutup.
"Pa kabar Sar?" tanya Adi dengan nafas terengah-engah karena memburu lift yang berisi Sarah seorang.
__ADS_1
"Baik Di, seperti yang kamu lihat." jawab Sarah datar.
"Oh," Adi kehabisan kata-kata. Ia lama terdiam dan lift berbunyi tanda ada orang yang akan masuk.
Tring
"Adam?" tanya Adi saat melihat pria yang masuk itu adalah Adam dari lantai 15. Sarah langsung mendongak dan sempat bertatapan dengan pria itu selama sekian detik.
"Adam?"
"Adi?"
Mereka berdua saling menyapa secara bersamaan sedangkan Sarah hanya bisa diam mematung. Posisinya yang berada diantara kedua pria itu membuatnya bisa merasakan tubuh Adam menyentuhnya.
Deg
Hatinya tiba-tiba berdebar hebat. Ia bahkan bisa merasakan parfum pria yang dirindukannya itu menguasai indra penciumannya.
"Adam? udah lama di Indonesia? kok tidak memberi kabar?" tanya Adi Nugroho dengan pertanyaan yang beruntun.
"Iya, Di Aku udah lama di sini." jawab Adam singkat dengan mata melirik sedikit pada Sarah yang hanya diam saja.
"Trus ngapain kamu berkeliaran di sini padahal kamu bukan karyawan kan?" Adam tidak menjawab. Ia sedang malas berbicara.
"Kenalkan nih, sekretaris paling cantik yang aku pernah bilang itu, dia sekretaris terbaiknya pak Presdir. Sarah." ujar Adi Nugroho mengalihkan pembicaraan. Ia ingin menunjukkan pada Adam kalau ia sudah sangat mengenal gadis yang ada diantara mereka berdua.
Adam melirik Sarah kemudian tersenyum samar tetapi gadis itu hanya mendengus pelan. Adi langsung tersenyum. Ternyata Sarah memang seperti ini pada semua cowok. Padahal Adam tak kalah tampan darinya. Dan Sarah tetap tak tersentuh.
Tring
Lantai tujuan Adi Nugroho sudah sampai. Ia keluar dari lift itu sembari menarik tangan Adam.
"Kamu harus lihat ruang kerjaku." ujar Adi dengan senyum cerah diwajahnya.
"Baiklah." jawab Adam dan ikut keluar tetapi sebelumnya ia berbisik pada Sarah.
"Tunggu aku di ruanganmu." Sarah tak bereaksi. Ia sedang menata debaran di dadanya yang seakan berlomba untuk bertalu-talu.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍