Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 189 Roti Sobek Dan Belalai Beracun


__ADS_3

"Mas, gimana ya kabarnya putri kita sekarang?" tanya Dyah pada suaminya saat menyajikan makan siang di meja makan.


"Pasti baik-baik saja, buktinya ia tidak menghubungi kita kan?" jawab Ilhamsyah santai. Ia mulai mengunyah tempe goreng gurih buatan istrinya itu dengan nikmat.


"Tapi aku kok khawatir mas, takut Rara kenapa-napa." Keluh Dyah lagi dengan wajah yang ditekuk khawatir. Ia memandang foto keluarganya yang terpajang di dinding. Dimana Rara ada ditengah-tengah mereka sedang tersenyum ceria berikut rambut kriwilnya yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Rara itu orangnya ceroboh mas, dan suka rada aneh dan urakan gitu, kadang ia bisa bertingkah sangat memalukan. Aku takut suaminya tidak tahan." ujar Dyah lagi dengan mengeluhkan sifat putri semata wayangnya itu.


"Hush, jangan mikir yang tidak-tidak. Aku lihat Rama itu anak baik. Ia sangat mencintai putri kita. Aku yakin ia pasti bisa menerima Rara apa adanya." ujar Ilhamsyah bijaksana. Ia tahu betul kekurangan putrinya itu. Dan ia yakin Rama adalah orang yang tepat yang akan membimbingnya menjadi dewasa.


"Tapi,mas." Dyah masih ragu. "Aku coba telpon mereka. Aku takut Rara bertingkah aneh, gaya tidurnya itu lho mas, kadang bikin aku tepok jidat." Dyah segera mencari handphonenya dan segera mencari nomor Rara putrinya.


"Sayang, jangan ganggu mereka. Biarkan mereka saling mengenal. Toh semua orang tidak ada yang sempurna." ujar Ilhamsyah kemudian merebut handphone dari istrinya itu dan memutuskan panggilan yang belum terjawab itu.


"Mas," Dyah menatap suaminya masih dengan wajah cemberut.


"Biarkan Rama yang menundukkan keanehan putrimu itu. Itulah tugasnya sebagai suami. Lagipula kita kan sudah menyerahkan putri kita padanya." Jelas Ilhamsyah pada istrinya itu.


"Memangnya kamu tidak ingat bagaimana kelakuanmu sewaktu kita baru menikah?" Ujar Ilhamsyah mencoba mengenang masa-masa ketika mereka pengantin baru. Dyah langsung tersipu malu. Ia ingat ia sampai kabur dari kamar pengantinnya sewaktu suaminya itu meminta haknya padanya. Hingga hampir sebulan barulah ia bisa menerima Ilhamsyah sebagai suami seutuhnya.


"Mas, kok aku diingetin sih sama masa-masa memalukan seperti itu." ujar Dyah tersipu malu. Ia jadi ingat kedua keluarga sampai ingin memisahkan mereka berdua karena dirinya belum bisa menerima suaminya bahkan selalu menolak jika ingin disentuh oleh suaminya itu.


"Memalukan ya?" tanya suaminya sembari mendekati istrinya.


"Iyya mas, aku kadang suka malu kalau ingat sifat ku dulu." ujar Dyah sembari menutup wajahnya. Ilhamsyah langsung tersenyum.


"Dan ketika kamu sudah merasakannya, kamu malah tidak membiarkan aku keluar rumah, ingat?"


"Aaakh, mas. Jangan diteruskan dong malu." ujar Dyah semakin malu jadinya.


"Dan kamu malah sekarang yang sering minta duluan."

__ADS_1


"Ih mas, sebel, udah..." ujar Dyah kemudian berlalu ke kamar. Ingin menyembunyikan diri di bawah selimut.


🍁


Rara memejamkan matanya menikmati apa yang Rama lakukan padanya. Ia seakan diajak terbang kembali ke nirwana padahal ia bahkan belum membersihkan diri dari sisa perlombaannya tadi bersama suaminya.


Tak sadar ia mendesah dan kadang berteriak pelan saat Rama menghisap terlalu keras miliknya. Ia bahkan meremas kuat rambut Rama karena tak kuat menahan rasa yang terlalu indah yang diberikan suaminya itu.


Rama menghentikan aksinya, menatapnya lembut menanti reaksi selanjutnya dari istrinya itu.


"Ram, plis." ujar Rara bagai sebuah gumaman, memohon dengan sangat agar suaminya itu memasuki dirinya segera. Rama bisa melihat istrinya itu begitu tersiksa dengan apa yang ia berikan. Tetapi ia ingin bermain lebih lama. Ia ingin Rara memintanya dengan memohon padanya lewat balasan sentuhan. Ia tak peduli ketika istrinya meremas selimut karena ia kembali membenamkan wajahnya di daerah sensitif istrinya itu.


"Akkkh ,Ram, kumohon. Aku..." teriak Rara tak tahan. Dengan agresif ia mendorong tubuh suaminya itu ke bawah dan membalik posisi. Ia tak peduli sekarang suaminya akan menganggapnya apa.


"Hem, aku suka gayamu sayang." ujar Rama dengan senyumnya. Ia akan meladeni kemauan istrinya itu dengan sangat baik.


Tiga puluh menit berikutnya Rara tumbang di atas tubuh suaminya dengan peluh dan lelah yang teramat sangat. Bersamaan dengan layanan kamar yang mengantarkan mereka makan siang.


"Istirahatlah," ujar Rama lembut sembari memperbaiki posisi istrinya agar lebih nyaman. Ia tahu Rara pasti sangat lelah karena nekat memimpin permainan.


🍁


"Ra' plis jangan bikin aku takut." ujar Rama lagi.Ia segera memercikkan air pada wajah istrinya itu agar segera tersadar.


"Minum!" gumam Rara pelan setelah tersadar dari pingsannya. Rama segera memberi segelas air putih agar istrinya segera meminumnya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Rama takut.


"He ehh, huaaaa." Rara tiba-tiba menangis dan semakin membuat Rama panik.


"Ada apa sayang? mana yang sakit biar aku panggilkan dokter."

__ADS_1


"Aku capek, lelah banget sekarang gak bisa bangun. huaaa." tangis Rara semakin menjadi-jadi.


"Badanku pada gemetaran semua Ram. Semua gara-gara kamu tahu gak?" Rama jadi bingung sendiri. perempuan yang dicintainya itu bahkan melemparinya dengan bantal.


"Trus aku bisa apa sayang?" tanyanya karena tidak tahu bagaimana menghadapi istrinya yang tiba-tiba berubah mood seperti itu.


"Makan dulu ya, biar kamu kuat lagi."


"Huaaaa, kamu jahat." teriak Rara semakin kencang. "Makan pun aku tak sanggup." keluh Rara lagi dengan air mata yang meleleh dipipinya. Rama semakin bingung jadi ia dengarkan saja istrinya itu menangis sampai puas. Ia hanya menyuapi perempuan cantik itu sekali-kali sambil mendengarkan ia menangis.


"Lain kali jangan pancing aku lagi. huaaaa." ujar Rara sambil mengunyah makanan yang disuapkan oleh suaminya dengan rakus. Jelas sekali kalau ia sedang kelaparan.


"Astagfirullah. Ra' aku gak mancing kamu sayang, tapi kamu yang mancing aku." jawab Rama balas menuduh tetapi tangannya tetap memilihkan lauk dan terus membuat Rara menghabiskan makanannya.


"Huaaaa. Tuh kan kamu gak ngaku. Bawa aku pulang ke mama " ujar Rara pas setelah dua piring tandas di depannya.


"Iya, aku sekarang ngaku kalau aku yang mancing kamu. Sekarang minum ini." ujar Rama sembari tersenyum samar. Ia menyerahkan obat anti nyeri pada perempuan yang telah ia bobol berkali-kali itu.


"Apa ini?" tanya Rara dengan wajah polos.


"Obat. Supaya kamu tidak perih, dan kamu bisa berjalan dengan nyaman." jawab Rama dengan santai.


"Bentar aku kompres dengan air hangat." lanjut Rama lagi karena ia tahu, milik istrinya itu pasti sedang membengkak karena di serang 3 kali dalam waktu yang cukup lama dan panjang.


"Rama!" teriak Rara kesal. Ia semakin keki karena suaminya begitu ringan mengatakan itu semua.


"Minum susu dulu." ujar Rama tanpa mau memperdulikan tatapan membunuh dari istrinya. Rara tanpa sadar meminum habis susu penambah energi itu kemudian mendelik kesal.


"Bawa aku pulang ke mama, aku tak mau terpancing lagi sama roti sobek sama belalai beracunmu itu!" sungut Rara menggemaskan.


---Bersambung--

__ADS_1


Duh Rara, apa sih maumu???


Dukung terus karya ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang banyak supaya othor tetap semangat update nya, okey???


__ADS_2