
Mereka pulang diantar oleh Reno. Suasana di dalam mobil jadi ramai karena celotehan Rama yang lucu. sedangkan Reno. Ia ingin sekali memulai pembicaraan yang lebih pribadi dengan Vita. Tetapi sepertinya Rama tidak ingin memberinya kesempatan untuk berbicara.
Mungkin waktu dan tempat tidaklah tepat. Akan ia cari waktu yang pas untuk mereka berdua tanpa Rama.
Sekitar 20 menit berkendara. Akhirnya mereka sampai di kostan Vita. Reno turun dan membukakan pintu untuk Vita kemudian membawa begitu banyak oleh-oleh yang dikirim oleh mamanya untuk Bu Dewi dan mainan yang banyak untuk Rama.
Setelah itu ia kembali untuk menggendong Rama yang sepertinya tertidur lagi. Ia meraihnya dari tangan Vita agar gadis itu lebih nyaman berjalan.
Gala memandang marah pemandangan yang ada di depannya. Ia tak habis pikir akan apa yang dilakukan Vita bersama Reno mantan asisten mamanya. Ia memukul setir dengan rahang mengetat emosi.
Ia berjam-jam di sini menunggu Vita pulang setelah sempat bertanya sama Bu Dewi ibu kost Vita kalau gadis itu belum pulang sama sekali. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Terakhir Vita pergi meninggalkannya karena emosi.
Resah dan gelisah ia rasakan karena Ia kehilangan koneksi dengan gadis pujaannya.
Setiap dihubungi hanya suara operator yang menjawab. dan kini apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, mematahkan segala prasangka dihatinya.
Vita Maharani yang ia khawatirkan malah asyik-asyikan bersama Reno. Mengabaikan dirinya yang hampir mati karena khawatir.
Ia masih menunggu sampai Reno pulang. Baru ia melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Ia ingin menenangkan dirinya sendiri.
Kediaman Raditya
Kedatangan Gala Putra Raditya ternyata sudah lama dinantikan oleh anggota keluarga lainnya. Ketika ia lewat dan menyapa sekilas ia langsung disuruh ikut bergabung dalam pertemuan dua keluarga itu.
Ia ingin kabur ke kamarnya tetapi demi sopan santun akhirnya ia duduk dan menyimak pembicaraan orang tua.
"Karena nak Gala sudah ada di sini bersama kita semua baik kita langsung saja menentukan waktu yang baik untuk acara pernikahan ini" ujar Robby Todler tak tahu malu.
Gala langsung berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal marah.
"Apa-apaan ini?" Gala bertanya dengan darah mendidih marah. Semua orang menatapnya kaget. Nyonya Mawar bahkan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tahu Gala pasti akan menolak mati-matian.
"Maaf paman, saya bukan anak kecil yang harus diaturkan pernikahannya" ujarnya lagi dengan melipat tangannya di dada.
"Miska sudah saya anggap sebagai adik sendiri, ia akan menikah tetapi bukan dengan saya"
"Permisi!" ujar Gala berlalu dengan langkah tegap.
"Nak Gala tunggu dulu. Dengarkan penjelasan paman" Robby masih berusaha melanjutkan rencananya. Ia rela mengemis agar keinginannya tercapai.
Gala menghentikan langkahnya menunggu. Ia tetap membelakangi paman Robby Todler.
__ADS_1
"Miska sangat mencintaimu nak. Ia rela menjadi istri keduamu andaikan kamu sudah memilih jodohmu sendiri" ucapan Robby Todler memohon dengan muka tebal bagai tembok membuat Gala tersenyum jijik.
"Saya tidak mengerti maksud paman apa tetap ingat satu hal saya juga tidak akan pernah mau membagi hati saya dengan orang lain"
"Dan ingat, jangan mau mengorbankan putri sendiri untuk ambisi paman" Gala meninggalkan Robby yang diam mematung dengan tangan terkepal marah.
Robby berbalik ke arah ruang tamu di mana 2 keluarga itu menunggu. Ia menuding Nyonya Mawar dengan ucapan menyakitkan.
"Kakak, kenapa tidak bisa memaksa Gala hah!"
"Ibu macam apa kau, tidak bisa mengatur anak sendiri!"
"Mas...kau sungguh tidak sopan" ujar Kapsari menegur suaminya yang bertindak di luar batas.
Nyonya Mawar Raditya hanya diam tanpa kata. Ia memang tidak bisa memaksa Gala walaupun sudah berbagai cara ia lakukan, anak itu tetap bertahan dengan keputusannya. "mungkinkah putranya mencintai perempuan lain?" pikirnya dalam hati.
"Batalkan saja perjodohan ini" akhirnya Nyonya Mawar berujar yang langsung membuat Robby Todler bertambah murka.
"Apa maksud kakak?" tanyanya dengan mata melotot.
"Iya, aku tahu kamu mengerti maksudku, pulanglah aku mau istirahat" Nyonya Mawar berdiri dari duduknya kemudian meninggalkan kedua tamunya.
"Sepertinya aku harus melakukan cara lain" desis Robby diantara gigi-giginya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah sampai ke meja kerjanya. Ia sibuk mencari dokumen kerjasama yang belum sempat ia kerjakan kemarin. Ia ingin bertanya kepada Pak GM tetapi ia enggan. Ia sudah berniat akan menghindari kontak dengan pria sejuta pesona itu.
Gala tahu dari ujung matanya Vita ingin mengerjakan sesuatu. Tetapi sepertinya ia enggan bertegur sapa dengannya.
"Hmm, baiklah" Ia berdiri dan menghampiri meja Vita Maharani. Ada banyak penjelasan yang ia ingin dengar dari mulut gadis itu tentang kejadian kemarin.
"Selamat ya" Gala mengulurkan tangannya ingin menjabat tangan Vita.
Eh
Vita tidak bergeming ia hanya memandang lekat mata Gala. "Untuk apa, pak?"
"M&G berhasil menembus pasar" ujar Gala datar.
"Aaaaa" teriak Vita histeris ceria ia tak menyangka aplikasi itu betul-betul berhasil. Ia melompat kegirangan seperti anak kecil. Ia akhirnya balas menjabat tangan sang Bos yang masih menggantung di udara.
__ADS_1
Senyum bahagia terbit dari bibir Gala, ia senang gadis pujaannya sudah meraih mimpinya. Ia ingin sekali memeluk gadis ini tetapi bayangan kedekatan Vita dan Reno kemarin membuatnya kecewa dan marah.
Sebelumnya gadis ini menggodanya dengan sentuhan yang membuatnya melayang tinggi, tetapi sore harinya ia malah bersama orang lain. Dan sehari sebelumnya bersama pria lain lagi
"Murahan" ujarnya tak sadar. Tangan Vita yang masih dalam genggamannya tiba-tiba terlepas.
Mata Vita memicing mencoba menelaah kata singkat yang begitu menyakitkan hatinya.
"Siapa yang bapak maksud?"
"Ngapain kamu seharian bersama Si Reno itu!" Gala tidak menjawab malah menuding Vita dengan pertanyaan lain.
"Pagi kamu beri aku surga trus siangnya kamu berikan apa si Reno itu!"
"Kalau bukan murahan lalu apa namanya, hah!"
Plak
Tangan Vita sudah melayang dengan keras di pipi Gala. Sakit. itu yang ia rasakan.
"Kenapa? kamu tersinggung?" ujar Gala dengan senyum meremehkan.
"Kamu bahkan memiliki anak yang tidak jelas siapa ayahnya" Vita sudah tidak sanggup menahan penghinaan ini. Air matanya sudah siap membobol bendungan pertahanannya.
"Yah, Bapak benar. Aku memang sangat murahan" ujar Vita sembari menyusut air matanya yang terus mengalir.
"Dan aku sangat menyesal memberikan ciuman pertamaku untuk bapak"
"Aku harap bapak juga menyesalinya"
"Lupakan! anggap kita tidak saling mengenal kecuali urusan pekerjaan titik" Suara Vita bergetar menahan emosi di dadanya. Ia segera berlari ke toilet. Ingin ia menangis sekeras-kerasnya di sana.
Gala mengusap wajahnya kasar. Sakit dari tamparan yang diberikan Vita padanya tidak sebanding dengan penyesalan yang menderanya.
"Shiii*t!" Ia tak menyangka kata-katanya yang meluncur ringan karena cemburu telah melukai hati gadis yang sangat dicintainya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Ada yang mau bantuin othor menjambak rambut Gala gak?...
Jangan lupa like, komen, dan kasih hadiah
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍