Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 193 Aku Cuma Bercanda


__ADS_3

"Beberapa hari sebelum pesta pernikahan ini terlaksana, saya selalu mendapat telepon gelap yang meneror dan menakut-nakuti keluarga kami. Tapi tidak pernah saya ceritakan pada Rara takutnya ia stres dan membatalkan acara ini " jelas Dyah menceritakan kejadian yang sepertinya ada hubungannya dengan Kado Misterius itu.


"Terornya seperti apa Ma?" tanya Rama penasaran.


"Pokoknya ia meminta kami menyerahkan Rara padanya." jawab Dyah takut. Tiba-tiba ia merasakan bulu kuduknya merinding.


"Atau ia akan melakukan hal yang menakutkan." Dyah menutup wajahnya kemudian menangis. Ia tak menyangka nasib putrinya akan menderita seperti ini. Ilhamsyah langsung memberikan pelukan untuk menenangkannya.


"Kenapa kamu tidak pernah bilang sayang?" tanya Ilhamsyah karena ia juga tidak tahu titik masalahnya.


"Aku takut mas, kupikir kalau aku abaikan pasti akan berhenti sendiri, hiks." ujar Dyah dengan tangis sesenggukan.


Gala Putra Raditya menatap Rama memintanya melakukan sesuatu.


"Kita buka daftar tamu yang datang Ma, siapa tahu ada tamu yang kita tidak kenal dan mencurigakan." ujar Rama kemudian melangkah menuju meja ruang keluarga dimana ada buku daftar tamu undangan pada acara pernikahannya kemarin.


Mereka semua melihat dan memperhatikan dengan jelas, tetapi sepertinya tidak ada yang mencurigakan.


"Mari kita putar video acara resepsi, siapa tahu ada tamu yang mencurigakan yang bisa kita lihat di sana." ajak Rama lagi sembari membawa semua orang menuju home teater di dalam rumah itu untuk menyaksikan video yang memuat semua rentetan acara dari mulai akad sampai resepsi.


"Bisa di zoom yang itu gak Ram?" pinta Dyah pada menantunya saat melihat ada seorang pria muda yang ia kenali sebagai teman sekolah Rara dulu waktu di SMA.


"Siapa dia sayang?" tanya Ilhamsyah penasaran.


"Itu Iyan, teman sekolah Rara dulu, tapi seingatku kami tidak mengundangnya. Lagi pula dia kan teman lama ya. Kok bisa hadir sih?" ujar Dyah dengan nada curiga dan khawatir.


"Mama tahu dia sekarang tinggal di mana?" tanya Rama ikut mencurigai pria itu. Ia tak sadar mengepalkan kedua tangannya emosi.


"Mama juga tidak tahu, sudah lama sekali sih. Apalagi Rara kan tinggal di LN sama granny nya." jawab Dyah tanpa melepaskan pandangannya pada sosok muda yang bernama Iyan itu.


"Cari tahu Ram, siapa orang itu agar tidak menimbulkan lagi masalah untuk keluarga kita." titah Gala dengan maksud tertentu. Rama paham maksud papanya. Ia segera menghubungi orang-orang kepercayaan Papanya agar mencari tahu dimana keberadaan pria muda itu dengan mengirimkan foto orang tersebut.


Mereka semua pun bubar dan berharap teror tidak akan muncul lagi karena satu jam berikutnya mereka mendapatkan informasi kalau Iyan sudah meninggalkan negara ini tadi pagi dengan penerbangan pertama menuju Jepang.


🍁

__ADS_1


Masa cuti persiapan dan acara resepsi pernikahan Rama Putra Tama Raditya sudah lewat, semua orang sudah kembali beraktivitas normal. Gala kembali memimpin perusahaan TGR Global Company sebagai presiden direktur begitupun dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua kembali ke Perusahaan dengan semangat kerja yang baru.


Menyandang status sebagai suami adalah hal yang berat dan ringan secara bersamaan bagi Rama. Ia harus bisa menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga kecilnya. Mampu berlaku adil antara pekerjaan yang banyak dengan perhatian kepada sang istri.


Akhir-akhir ini Rara jadi penakut dan mudah kaget karena kasus kado misterius itu, hingga Rama sering merasa berat hati meninggalkannya sendiri.


"Ma, titip Rara ya." ujar Rama saat berpamitan akan pergi ke perusahaan pagi itu.


"Iyya sayang, percayakan semuanya sama mama, okey?" jawab Vita dengan wajah ceria. Pagi ini ia berdoa semoga urusan keluarganya lancar dan dimudahkan oleh Tuhan.


"Ra' aku pergi ya. Kalau kamu butuh sesuatu bilang sama mama, dia itu wonder woman." Rara cuma tersenyum kemudian mencium punggung tangan suaminya.


"Nah, hari ini kita mau lakukan apa ya?" tanya Vita sambil berpikir. Rara hanya tersenyum melihat mama mertuanya yang sepertinya selalu merasa muda dan menolak tua.


"Apa kamu mau kita masak-masak?" tanya Vita lagi yang dijawab dengan gelengan kepala menantunya. Ia tak suka masak soalnya. Ia hanya suka makan dan main.


"Suka nari?" tanya Vita lagi berusaha memberikan pilihan.


"Maunya Baring aja deh ma, Rara capek." jawab Rara dengan senyum di wajahnya.


"Iya ma. Habisnya gak enak nolak kan katanya dosa." jawab Rara cengengesan. Padahal setiap malam ia yang selalu memancing hasrat suaminya itu karena selalu merasa ketakutan ketika kamar sudah gelap dan meminta pelukan atau belaian dan akhirnya selalu berakhir di sebuah palung kenikmatan tanpa batas.


"Astaga Rama, mau tak ulek itu anak, persis banget kayak papanya. Modusnya banyak." gerutu Vita dengan wajah kesal. Ia takut menantunya malah tambah sakit nantinya.


🍁


Hari ini Sovia juga memulai aktivitasnya di restoran D'Sov dengan semangat baru. Senyum merekah tak lepas dari bibirnya. Pengunjung pun semakin banyak dari hari ke hari.


Arya benar-benar bisa diandalkan. Ia selalu ada saat ia membutuhkan sesuatu. Pria muda itu bukan hanya chef handal tetapi juga bisa sebagai asisten yang hebat.


Andika yang sejak tadi berdiri didepan Restoran itu merasa enggan untuk masuk. Ia merasa bersalah pada Sovia karena sudah bersifat kekanak-kanakan tidak memberinya kabar sedikitpun pada kekasihnya itu. Kesibukan di kantornya setelah acara pernikahan Rama membuatnya lupa menelpon atau sekedar menyapa Sovia sampai berminggu-minggu.


Rengekan Eyang Ninick agar ia mau membawa Sovia berkunjung membuat ia jadi berani untuk datang kemari.


Menarik nafas panjang ia melangkah memasuki Resto D'SOV berharap bisa bertemu dengan Sovia yang sudah lama ia rindukan.

__ADS_1


"Maaf, ibu Sovia ada di dalam ya?" tanyanya pada seorang waiters yang sedang ingin menawarinya menu andalan D'SOV.


"Iya, pak." jawab waiters itu ramah.


"Terima kasih mbak. Aku ingin bertemu dengannya." ujar Andika kemudian melangkahkan kakinya ke arah ruangan Sovia.


Dengan hati berdebar, Andika membuka pintu ruangan pribadi Sovia sang kekasih.


"Sovi!" sapa Andika dengan wajah penuh kerinduan.


Deg


Sovia merasakan dadanya bergemuruh karena ia juga sangat merindukan pria itu. Tetapi ia berusaha tetap tenang dan waras. Ia ingin marah dan meluapkan kekesalannya pada Andika.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya nya dengan wajah dibuat jutek dan kesal.


"Aku kira kamu sudah lupa jalanan kesini. Hem." lanjutnya lagi tanpa mau menatap Andika. Ia takut ia luluh dengan pria itu dan menerimanya begitu saja.


"Aku mohon maaf, Sovi. Plis maafkan aku ya?" ujar Andika kemudian menggenggam tangan gadis itu.


"Heh, kamu pikir semudah itu aku mau memaafkanmu. Sorry ya. Kamu selalu datang dan pergi semaumu, emangnya kamu pikir aku ini cewek apaan?" ujar Sovia dengan suara berapi-api. Ia melepaskan genggaman tangan Andika dengan kasar. Tadinya ia cuma mau berakting marah ternyata ia marah dan emosi betulan. Ia sampai membanting apa saja yang ada di depannya. Andika melongo tak percaya akan disambut seperti itu oleh Sovia yang ia rindukan.


"Keluar gak!"


"Sovi, maafkan aku, tidak akan kuulangi lagi." ujar Andika lagi dengan suara memohon.


"Kita PUTUS!" ujar Sovia yang bagaikan petir di telinga Andika. Pria itu langsung meninggalkan ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sovia baru tersadar setelah Andika benar-benar pergi. Ia kemudian meraung keras menyesali kata-katanya.


"Dika! balik kesini aku cuma bercanda." teriaknya disertai tangisan.


---Bersambung--


Duh Sovia, macam mana pula ini????


Like dan komen dong, nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2