
Berkat ketekunan dan kerja keras serta prestasi yang ia peroleh, Rama akhirnya diangkat menjadi manager divisi Riset dan Pengembangan. Dalam kurun waktu 4 tahun ini ia banyak menelurkan produk dan progam yang sangat mendukung kemajuan perusahaan.
Bukan hanya perusahaan TGR yang merasa bangga atas apa yang ia peroleh tetapi orang tuanya, Gala dan Vita pun tak luput dari rasa syukur karena telah berhasil mendidik dan membesarkan seorang putra penerus TGR group.
"Ram, kamu sekali-kali refreshing sayang," ujar Vita pada suatu waktu karena melihat putranya itu tidak lagi mengenal waktu luang. Semuanya diisi dengan kerja dan kerja.
"Gak papa ma, mumpung masih muda dan produktif jadi aku manfaatkan waktunya sekarang."
"Tapi kan perlu istirahat juga sayang. Jalan gitu sama gebetan." ujar Vita lagi berusaha memancing Rama. Ia ingin tahu apakah Rama masih normal atau tidak. Soalnya anak itu tak pernah sekalipun dekat sama perempuan atau setidaknya tertarik membicarakan sosok unik seperti perempuan.
Rama tak menanggapi ucapan mamanya. Ia hanya sibuk dengan gadgetnya membalas email yang masuk. Baginya yang namanya perempuan itu hanya akan membuatnya lemah.
🍁
Setelah bekerja di Perusahaan Double Insurance yang dikomandoi oleh papanya sekitar dua bulan ini Rara jadi tahu banyak hal. Bukan hanya tentang permasalahan asuransi dan ***** bengeknya melainkan juga tentang pentingnya sebuah kerja keras jika ingin berhasil dan mendapatkan pengakuan.
Kupingnya cukup panas ketika mendengar selentingan gosip murahan kalau ia sebenarnya tak ada bakat dan kemampuan tetapi karena dibekingi oleh orang dalam sehingga ia bisa diterima bekerja di salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia itu.
"Baiklah akan aku tunjukkan kalau aku bisa." ujarnya dalam hati. Ia mulai banyak membaca referensi tentang informasi terkait dengan perusahaan Double Insurance tempatnya bekerja.
Berhari-hari ia belajar dan memperbaiki penampilannya lebih feminim, sepatu kets yang selalu menyertainya sudah mulai ia tanggalkan. high heels setinggi 10 cm ia coba agar bisa tampil menarik di depan umum ketika menjelaskan produk yang mereka punya. Dengan bekal itu ia ingin turun gunung dan mulai merekomendasikan Double Insurance kepada beberapa Perusahaan di kota ini.
"Pa, aku mau ikut tim marketing produk ke beberapa perusahaan." ujar Rara pagi itu dengan suara percaya diri.
"Hah kamu?" tanya Ilhamsyah sedikit tidak percaya. Pasalnya putrinya itu baru bekerja selama beberapa bulan dan tentunya belum mengenal medan.
"Kenapa Pa, tidak percaya kalau aku bisa?" tanya Rara dengan wajah sedih. Ia tahu papanya belum yakin akan kemampuannya.
"Bukan tidak percaya sayang, cuma biasanya mereka, tim marketing itu akan membawa karyawan yang lebih senior dan sudah punya pengalaman dan juga jago bernegosiasi dengan klien atau konsumen. Kata mereka supaya efektif dan efisien." jawab Ilhamsyah memberi pengertian pada putrinya.
__ADS_1
"Lalu karyawan baru kapan bisa nya pa, kapan mereka akan dapat pengakuan kalau sistemnya seperti itu."
"Nanti." jawab Ilhamsyah singkat. Rara langsung merasa down dan tidak bersemangat lagi. Ia meninggalkan ruangan papanya dengan hati kesal.
"Ada apa, kamu kok manyun?" tanya Priska teman seruangannya.
"Gak apa-apa. Cuma mau manyun aja." jawabnya asal. Ia tak ingin mengeluhkan sistem kerja di Perusahaan itu karena itu artinya sama saja ia mencoreng nama baik papanya sebagai pimpinan.
"Eh, ikut dong manyun hahaha." Priska tertawa karena merasa lucu dengan gaya santai teman barunya ini.
"Ikut aja, gratis kok." Rara tersenyum dan mulai melupakan kata-kata papanya tadi. Meskipun begitu ia tetap akan membuktikan kalau ia bisa.
🍁
Siang yang cukup terik itu, Az-Zahra Aisyah memasuki sebuah gedung pencakar langit milik TGR Global Company dengan penuh percaya diri. Awalnya ia ragu apakah akan melanjutkan rencananya atau tidak. Tetapi setelah lama berpikir akhirnya ia melakukannya juga. Menawarkan produk pada Perusahaan multi raksasa ini. Dengan tekad dihati bahwa ia akan mendapatkan pengakuan setelah ini.
"Oh dari Double Insurance?" ujar security itu dengan pandangan meremehkan. Matanya memandang Rara dari atas ke bawah kemudian dari bawah ke atas dan akhirnya berhenti pada rambut kriwilnya.
"Oh, Double Insurance sekarang ganti icon ya?"
"Maksudnya pak? tanya Rara tidak mengerti.
"Jangan pura-pura tidak tahu ya, perusahaan mu itu bukannya seharusnya namanya Plus - Plus Insurance atau Asuransi Plus-plus." Rara semakin bingung dengan penjelasan security yang gayanya selangit itu, melebihi CEO di novel onlen yang pernah ia baca.
"TGR menolak perusahaan asuransi manapun masuk ke perusahaan ini, atas perintah presiden direktur Gala Putra Raditya. Paham!" Rara melotot mendengar kalimat perintah sekaligus pelarangan itu di depan hidungnya sendiri.
"Tapi kenapa?" tanya Rara dengan mata memandang ujung heelsnya. Ia merasa kecewa karena sudah penuh persiapan sampai kakinya lecet agar bisa tampil cantik dan menarik tapi pada akhirnya ia ditolak sebelum sempat presentasi.
"Karyawan double insurance pernah berniat menggoda Presdir dengan produk plus-plusnya. Dan itu mungkin saja adalah seniormu sehingga sejak saat itu Presdir mengharamkan perusahaan asuransi manapun masuk ke TGR, paham?"
__ADS_1
Rara tidak tahu harus menjawab apa, ia menunduk dan merasakan matanya mulai basah. Seketika semangatnya menguap.
"Hem, ternyata tidak gampang menjadi sukses." gumamnya pelan. Ia pun pamit dari security itu dan melangkah dengan gontai menuju parkiran dimana ia menaruh sepeda motornya di sana. Bahunya turun sedangkan langkahnya juga seringkali salah dan hampir terjatuh karena heels yang dipakainya, membuat dirinya semakin tampak menyedihkan.
Akhirnya ia mulai berjongkok dan berniat membuka heelsnya dan memilih untuk nyeker saja tetapi tiba-tiba punggungnya terasa mendapat hantaman yang cukup keras. Hingga ia terjerembab ke lantai jalan.
"Awwww, sakit!" teriaknya tanpa sadar. Gaya urakannya kembali muncul. Sedangkan orang yang menabraknya barusan adalah manager Divisi Riset dan Pengembangan yang tak lain dan tak bukan adalah Rama Putra Tama langsung menghentikan langkahnya. Tadinya ia ingin abaikan dan bersedia untuk marah. Ia sedang terburu-buru karena suatu hal penting tetapi seseorang malah berjongkok di tempat parkir saat banyaknya orang berlalu lalang, Tetapi rambut kriwil itu menarik perhatiannya.
"Maaf, ada yang sakit?" tanyanya berusaha sopan. Ia ingin gadis itu mengangkat wajahnya dan melihatnya.
"Tentu saja sakit. Kamu nabrak pakai badan atau besi hah!. sakit banget tahu gak." teriak Rara karena bibirnya ia rasakan Jontor setelah mencium tanah air. Ia mengangkat wajahnya tetapi bibirnya ia tutupi dengan tangannya.
"Hah sikucing kriwil!" seru Rama dengan mata berbinar senang.
"Ayo ikut aku!" ujar Rama sembari menarik tangan Rara keras.
"Awwww, Aku tidak bisa jalan." teriak Rara lagi. Kakinya sudah lecet dan ditarik paksa lagi membuatnya semakin kesakitan. Akhirnya Rama menggendong gadis itu ala bridal style ke dalam mobilnya.
"Aku ada meeting penting di sebuah tempat. Kamu ikut aku dulu." ujarnya dengan nafas memburu karena senang luar biasa. Ia tak mau meninggalkan gadis itu di sana atau ia tak akan bertemu lagi.
"Hey, aku mau pulang, motor ku ada di sana." ujar Rara mulai memberontak ketika merasakan mobil yang ia tumpangi sudah berjalan perlahan. Rama tidak mendengarkan gerutuannya. Ia terus melajukan mobilnya ke tempat meeting yang ia ucapkan tadi.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Like dan komentarnya dong, biar aku tahu, aku tak sendiri eyaaaak
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1