Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 152 Aktivitas Baru Si Gadis Kriwil


__ADS_3

Rara tak bisa lagi menahan tawanya. Ia sampai berjongkok di depan Restoran itu sambil memegang perutnya. Ia merasa lucu dengan ekspresi Reksadana tadi saat melihat rambutnya yang baru.


"Ternyata orang tua itu mau jadikan rambut kesayanganku jadi tumbalnya." ujarnya menyeringai.


"Huh emangnya aku bodoh? tapi tenang sayang, seminggu juga kamu pasti balik lagi seperti semula." lanjutnya sambil mengelus rambutnya yang sudah lurus dan dicat pirang itu.


"Rara? Mama kira kamu udah pulang sayang." ujar Dyah yang tiba-tiba muncul dibelakangnya.


"Eh, mama...Udah selesai urusannya di dalam?" tanya Rara sembari berdiri dari jongkoknya.


"Udah beres sekarang kamu bebas." jawab Dyah dengan senyum terkembang.


"Eh, belum selesai, granny belum rela kalau kamu tidak jadi menikah dengan keturunan Reksadana itu." timpal Nyonya Wardah yang ternyata belum mau mundur juga dari rencana awalnya.


"Aduh granny...emang tidak malu apa kalau kita ini sudah ditolak?" tanya Rara mengernyit bingung dengan sikap grannynya yang masih ngotot.


"Kamu akan bahagia sayang jika jadi menantunya tuan Reksadana. Kekayaannya tidak akan habis sampai tujuh turunan." ujar Nyonya Wardah dengan wajah cerah menampilkam bola matanya yang bergambar rupiah itu.


"Astaga granny, harta bisa dicari tapi harga diri juga harus kita jaga, aku bisa kerja keras sampai kaya atau mencari calon suami anak presiden direktur perusahaan besar di dunia asal jangan dengan cucu si tuan Reksadana itu." jawab Rara sambil mengelus tangan grannynya yang sudah keriput.


"Iyya Bu, meskipun kita tak sekaya mereka tetapi harga diri juga harus kita jaga." timpal Ilhamsyah membenarkan ucapan putrinya.


"Lagipula Rara masih sangat muda Bu. Mimpi-mimpinya masih banyak." tambah Dyah membela putrinya.


"Aku sayang granny, kalau nanti aku sukses aku akan wujudkan cita-cita granny punya menantu kaya, sukses, tampan, dan hebat." Rara menengadahkan kepalanya ke langit malam yang dipenuhi bintang. Tetapi tiba-tiba sosok Rama muncul disana sedang mengecup bibirnya.


"Oh no!" teriaknya tiba-tiba dan membuat ketiga orang keluarganya berjingkat kaget.


"Ada apa sayang?" tanya Dyah masih dengan wajah kagetnya.


"Tidak ma, ayo kita pulang." ujarnya sambil menggoyangkan kepalanya agar sosok Rama yang dingin dan datar itu segera pergi dari kepalanya.


🍁


Hari-hari Az-Zahra Aisyah berikutnya menjadi tenang dan damai. Tak ada lagi ketakutan akan diikuti oleh mata-mata Reksadana. Hidupnya kembali normal sepert beberapa tahun yang lalu. Sebelum orang kaya tujuh turunan itu bertemu dengan grannynya dan membuat sebuah perjanjian konyol.


Rara kembali melanjutkan kuliah dan belajar dengan tekun. Keinginannya menjadi seorang wanita karir sangat didukung oleh mama dan papanya hingga ia akhirnya menyelesaikan studi strata satunya dengan nilai yang sangat memuaskan.


Rambutnya kembali kriwil tetapi selalu ia tutupi dengan sebuah topi. Penampilannya masih sama. Tomboi dan sedikit urakan.

__ADS_1


"Rara sayang sekarang apa nih rencanamu?" tanya mamanya setelah melihat gadis baru saja pulang dari joging di alun-alun dekat rumahnya.


"Rencana apa maksud mama?" tanya Rara bingung.


"Kamu gak mau cari pekerjaan?"


"Mau sih ma, sekarang nih sudah sering cari-cari lowongan kerja." jawab sembari mengelap keringat di leher dan di dahinya.


"Kamu gak mau ikut papa di kantornya? itung-itung cari pengalaman gitu."


"Nanti deh ma. Kalau seminggu ini gak dapat."


"Okey, mama do'akan yang terbaik lah untuk kamu."


"Makasih ma, Rara sayang sama mama."


"Mama juga sayang sama kamu. Sekarang kamu mandi trus makan." ujar mamanya dengan senyum teduhnya.


🍁


Setelah seminggu mencari lowongan di internet dan di koran, Rara belum juga menemukan lowongan yang pas dengan kualifikasi pendidikannya. Akhirnya ia memutuskan untuk ikut magang di perusahaan papanya yang bergerak di bidang asuransi.


"Jangan dipaksakan kalau belum cocok dengan hatimu." nasehat Ilhamsyah pada putri tunggalnya itu.


"Tak kenal maka tak sayang papa." jawab Rara tersenyum. Ia sudah membujuk hatinya kalau ia harus mencoba meskipun ia paling tidak suka jika papanya bercerita tentang asuransi dan sejenisnya.


"Wah hebat jawaban putriku." Ilhamsyah mengucek rambut kriwil putrinya lembut. Ia sering heran jika melihat rambut putrinya itu. Pasalnya ia dan Dyah sama-sama Berambut lurus tetapi kenapa putrinya malah memiliki rambut yang aneh seperti itu. Jangan-jangan betul kata readers kalau rambut Rara akan membawa hoki untuk keluarganya.


"Kapan kamu mulai masuk."


"Besok pa. Tapi tak apa kan aku tidak memakai uniform gitu. Belum bisa tampil feminim, hehehe." ujar Rara cengengesan.


"Boleh, tapi jangan kaget kalau kamu dianggap bodyguardnya papa hahaha." ujar Ilham tertawa.


"Ih papa.." Rara memanyunkan bibirnya pura-pura kesal.


"Habisnya masak mau kerja di kantor tapi penampilan tidak diubah sih. Ingat penampilan yang baik akan menjadi daya tarik bagi orang untuk mulai mengenal dan menyapa kita." jawab Papanya serius.


"Kalau gitu aku gak mau masuk di kantor papa. Aku jadi entrepreneur aja deh."

__ADS_1


"Lho kok mundur sih."


"Ya daripada gak nyaman kan."


"Ya udah kamu coba masuk dengan gaya mu sendiri. Kalau di sana kamu nyaman dengan pandangan orang-orang ya fix nikmati aja. Tapi jangan malah sebaliknya kamu yang membuat orang-orang disekitarmu tidak nyaman."


"Baiklah pa, akan aku pikirkan. Good night." Rara mencium pipi papanya kemudian masuk ke kamar berniat untuk tidur. Besok adalah hari pertamanya bekerja. Ia harus cukup tidur agar besok bisa lebih segar dan bersemangat.


🍁


Ilham dan Dyah menatap putri mereka dengan pandangan takjub. Penampilan Rara pagi ini begitu cantik dan feminim. Ia mengenakan blouse putih dengan dipadukan blazer hitam dan rok sepanjang lutut menampilkan kakinya yang jenjang yang jarang ia perlihatkan.


"Wow gak nyangka punya putri secantik ini pa." ujar Dyah dengan pandangan tak lepas dari Rara putrinya.


"Iya ma, jangan-jangan semalam ia kena sihir."


"Ih papa masak kena sihir sih yang benar tuh kena jampi-jampi, hehehe." jawab Rara dengan wajah bersemu merah. Karena baru kali ini papanya menyebutnya cantik.


"Tapi suer deh sayang kamu cantik sekali." ujar Dyah yang masih pangling dengan dandanan putrinya itu.


"Udah ah ma, kapan aku mulainya ini kalau dipuji terus, nanti hidungku mengembang lho."


"Iyya deh, semoga hari ini penuh berkah dan bisa kerja dengan baik."


"Makasih ma. Yuk pa kita berangkat sekarang nanti telat."


"Woahhhhh yang baru masuk kerja malah lebih aktif daripada papa." ujar Ilham bermaksud menggoda putrinya.


"Ya kan nanti malu kalau terlambat biarpun datangnya sama pak bos."


"Iyyadeh calon karyawan teladan. hahaha." Ilham pun berpamitan kepada Dyah sang istri sambil memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan perempuan yang telah melahirkan putrinya itu.


---Bersambung--


🍁🍁🍁🍁🍁


Jangan bosan ya kalau aku cuap-cuap terus di sini minta dukungan like dan komentar.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2