
Menu sarapan komplit pesanan Deka sampai pada saat Risma baru membuka kelopak matanya. Ia menguap sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mengumpulkan nyawanya sembari mengernyit merasakan perih dibagian intinya.
"Astaga, aku tidak bisa bergerak." ujarnya pelan ketika ia berusaha menggerakkan badannya untuk bangun.
"Ris, mau aku bantu?" ujar Deka yang muncul secara tiba-tiba di sampingnya. Ia tahu betul apa yang terjadi pada istrinya itu. Ia saja merasa sakit juga karena telah memaksa membobol gawang yang masih tersegel rapat itu. Apalagi sang gawang yang masih sangat baru dan pastinya rapat.
"Kak," ujar Risma pelan.
"Mandi dulu ya, supaya kamu nyaman makannya." Deka yang sudah menyiapkan air hangat di Bathtub segera menggendong tubuh Risma itu tetapi sebelumnya ia membuka terlebih dahulu gulungan selimut yang menutupi tubuh polos istrinya.
"Kak!," ujar Risma kaget diangkat ala bridal style dengan tubuh tak berpenghalang sedikitpun. Ia berusaha menutupi kedua asetnya dengan satu tangannya yang bebas dan yang satunya lagi menutup bagian bawahnya. Wajah nya memerah bak kepiting rebus karena malu.
"Aku sudah lihat dan hafal semuanya, sayang. Gak usah ditutup."
"Ya ampun kak," ujar Risma sembari menutup wajahnya. Ia bingung sekarang bagian mana yang bisa ia tutupi. Tangannya tidak cukup untuk menutupi semuanya. Akhirnya ia pasrah saja tanpa mau melihat netra suaminya yang menatapnya dengan pandangan memuja.
"Bisa mandi sendiri?," tanya Deka sembari menurunkan tubuh istrinya ke dalam bathtub yang sudah diisi air hangat dan juga aromaterapi.
"Astaga kak, emangnya aku bayi?" Risma semakin merasa malu dengan pertanyaan suaminya itu.
"Iyalah, bayi besar,"
"Kakak, keluar deh...aku bisa mandi sendiri." ujar Risma sembari menenggelamkan tubuhnya ke dalam air yang sudah penuh dengan busa agar penampakannya sedikit tertutupi.
"Jangan lama-lama nanti makanannya keburu dingin," ujar Deka kemudian keluar dari kamar mandi dan meninggalkannya sendiri dengan senyum aneh di bibirnya.
"Ya ampun, kami betul-betul sudah melakukannya," ujar Risma dengan wajah tak percaya.
"Aah, siapa bilang malam pertama tuh enak, yang ada sakitnya tuh minta ampun."
"Aku gak mau lagi deh, capek, sakit gak ada enak-enaknya," ujarnya lagi sembari menggosok bagian tubuhnya dengan sabun.
"Hei, ngomong apa Ris?" tanya Deka yang ternyata mendengarkan monolognya. Sepertinya ia tidak keluar dari kamar mandi besar itu. Ia hanya menunggu istrinya di balik tirai.
"Eh, tidak... tidak..." jawab Risma cepat.
Wadow kok bisa sih dia ada di sini
"Aku bantuin ya mandinya," ujar Deka lagi masih dari balik tirai.
__ADS_1
"Tidak usah kak, aku bisa sendiri," ujar Risma lagi. Setelah itu tak ada suara dari suaminya. Ia melorotkan badannya ke dasar bathtub berharap badannya kembali segar dan kuat lagi dan juga bagian inti yang ia rasa sepertinya mengalami pembengkakan agar segera kembali pulih.
Hmm, nikmatnya
Deka memperhatikan istrinya yang sedang menikmati waktu berendamnya sembari menutup matanya itu dengan tersenyum senang.
Lama ia menunggu tetapi Risma belum juga keluar dari sana. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengeluarkannya dari sana.
"Ya ampun sayang kamu bisa masuk angin." Deka menggerutu dan langsung mengangkat tubuh Risma yang sepertinya sedang tertidur di bathtub. Ia membawanya kembali ke atas ranjang sembari mengeringkan badannya dengan handuk.
"Astaga, Risma...Kamu betul-betul ya," ujar Deka ketika Risma menggeliat pelan karena sudah terbangun.
"Kamu harus bertanggung jawab." ujar Deka yang membuat Risma melotot bingung.
"Ada pa kak? maaf aku ketiduran di dalam." ujar Risma merasa tidak enak hati.
"Aku rasanya ingin memakanmu lagi," ujar Deka dengan senyum aneh.
"Oh, no..." jawab Risma cepat. Ia mengerti maksud suaminya itu. Perihnya saja belum hilang ini malah mau ditambah lagi. Ia segera menggeleng dan menutup tubuh polosnya dengan handuk tadi.
"Gak, jangan sekarang. Aku tidak kuat." lanjutnya dengan pandangan memohon. Ia tidak mau kesakitan lagi dan juga ia sangat lapar sekarang.
"Maaf ya, " Deka menyentuh wajah Risma dengan jari-jarinya.
"Katanya memang sakit awalnya, tapi lama-lama akan nikmat kok, itu karena masih saling menyesuaikan sayang," ujarnya pelan seakan berbisik di wajah istrinya.
"Kamu sempit sekali sayang," tambah Deka yang kini sudah meraup bibir istrinya lembut.
"Ya udah kita makan dulu ya, baru kita lanjut," ujarnya kemudian berdiri dan membawa troley yang berisi banyak makanan di atasnya.
"Ayo makan dulu," Risma mengangguk dan segera memperbaiki posisi handuknya yang sempat terbuka tadi. Ia memang butuh makan yang banyak sekarang. Ia butuh tenaga untuk melayani hasrat suaminya.
"Gimana? enak makanannya?" tanya Deka disela-sela suapannya. Risma hanya mengangguk. Entah kenapa ia selalu menghindari tatapan suaminya padanya. Ia masih sangat malu padanya. Seakan tak percaya bahwa mereka benar-benar sudah berbagi dan saling melihat sesuatu yang tersembunyi dari mereka.
"Kenapa sih, gak mau lihat aku," tanya Deka setelah sarapan selesai. Ia mendorong troley berisi sisa makanan dan piring kotor itu ke dekat pintu.
"Tidak apa-apa," jawab Risma menunduk. Ia sekarang juga sudah berpakaian.
"Mau kemana pagi ini Nyonya Deka Roland?" tanya Deka sembari menyentuh dagu Risma yang ia lihat selalu menghindari tatapannya. Lama istrinya itu diam dan terus menunduk.
__ADS_1
"Tatap mataku Ris? atau aku betul-betul memakanmu lagi," ujar Deka yang langsung membuat Risma mengangkat wajahnya dan memandang netra suaminya.
"Dimulai dari aku mengambilmu sebagai istriku, maka aku berhak padamu dan begitu juga sebaliknya, kamu berhak untuk semua yang aku miliki."
"Kamu bisa menolak keinginanku kalau kamu merasa tersiksa."
"Kamu bebas mengatakan apa keinginanmu padaku, aku akan selalu siap memberikannya,"
"Kita menikah bukan untuk satu atau dua hari. Jadi kemungkinan kedepannya kamu akan tahu sifat-sifat burukku begitu pun sebaliknya."
"Kita belajar terbuka, jangan ada yang kita sembunyikan kalau ada sesuatu, okey?" Risma mengangguk faham. Ia akan menjadi istri yang berbakti.
"Pagi ini kita sudah saling mengenali anggota tubuh masing-masing," kali ini Deka menyisipkan senyum samar dalam kata-katanya yang membuat Risma langsung berdesir lembut.
"Tapi sepertinya itu belum cukup," ujar Deka dengan senyum masih bertahan di bibirnya. Risma langsung berdebar karena merasa ada yang akan terjadi setelah ini.
"Kamu belum mengenalku dengan baik, Ris. Tadi itu terlalu buru-buru," Risma merasa udara diantara mereka semakin berkurang. Ia menarik nafas panjang berusaha santai.
"Kita ulangi ya, supaya lebih kenal lagi dan lagi," seketika Risma merasa tubuhnya sudah melayang ke atas tempat yang sangat empuk dan lembut. Berbagai rayuan dan sapuan lembut pada tubuhnya membuatnya lupa janjinya tadi untuk tidak akan mengulangi lagi kegiatan panas ini.
Nah lho 😬🙄
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor jumpa lagi kite pagi ini, Tetap semangat ya puasanya bagi yang menjalankan.
Dukung terus ya karya ini, berikan like dan komentar kalian agar othor semangat updatenya.
Kenalkan nih karya teman othor : Imamah Nur, dijamin bagus deh.
Rindu Maharani harus menerima kenyataan pahit saat terbangun dari koma, akibat kecelakaan yang menimpa diri dan keluarganya.
Tidak hanya kehilangan kedua orang tua, tetapi ia juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa kini wajahnya menjadi buruk rupa.
Bukan hanya wajah tetapi pekerjaan yang sebagai pencabut bulu itik dan ayam menjadi sorotan dan hinaan di sekolah.
Cobaan demi cobaan senantiasa menemani perjalanan hidupnya. Namun, Rindu tidak patah semangat. Dia menjadikan hinaan dan cercaan sebagai semangat untuk bangkit dan berkembang.
Mampukah ia mengubah takdirnya?
__ADS_1