
Hari demi hari pun berganti. Sarah semakin menunjukkan kemampuannya dalam bekerja.
Meskipun dikupingnya sering mendengar banyak bisik-bisik tak sedap, ia tetap semangat bekerja.
Gosip tentang keberadaannya yang secara tiba-tiba di dalam Perusahaan yang langsung menempati posisi yang cukup bagus yakni menjadi kepercayaan Presiden Direktur tak ia hiraukan.
Karena memang begitulah adanya. Ia berada disana karena ia punya hubungan spesial dengan sang presiden direktur dan biasanya yang membuat cerita ini semakin panas adalah dari karyawan baru yang sudah tahu menahu akan siapa dirinya sebenarnya.
Ada yang sampai bilang kalau ia hanya menjual tubuhnya saja hingga ia bisa sampai di tahap itu dengan sangat cepat.
Itu disebabkan karena ini untuk pertama kalinya sejak menjabat sebagai Presiden Direktur, Gala Putra Raditya mengambil seorang sekretaris perempuan. Dan itu adalah dia sendiri, seorang gadis muda yang masih sangat segar untuk dipetik.
Sarah hanya bisa menutup kupingnya dengan segala desas-desus itu. Ia tak ingin peduli atau ia akan berakhir memberikan pelajaran yang cukup berarti bagi tukang fitnah itu.
Kecantikannya membuat gosip-gosip itu semakin sedap untuk digoreng hingga suatu waktu ia mengeluh pada mamanya yang sudah ia jadikan sebagai sahabatnya yang paling mengerti dirinya.
"Gimana kalau kamu memakai hijab sayang? supaya kamu terhindar dari pandangan jahat dari orang-orang yang berniat tidak baik." ujar Vita menyarankan dengan kalimat lembut. Sarah hanya diam sampai mamanya melanjutkan,
"Kamu sayang gak sama Papa?"
"Ya sayang dong, gak usah ditanya deh Ma, Papa itu cinta pertama aku Ma, gak akan tergantikan."
"Kamu gak mau kan papamu dimintai pertanggung jawabannya karena punya putri yang tidak menutup auratnya."
"Lihat tuh Sovia dan Rara, semuanya sudah menutup aurat. Dan Alhamdulillah masalah-masalah yang berhubungan dengan penampilan fisik tidak pernah lagi kita dengar." lanjut Vita dengan memberikan perumpamaan yang cukup membuatnya sadar.
"Iya Ma, insyaallah Sarah akan ikuti jejak mama dan juga mereka. Tapi aku mau nanya sama mama nih, dulu waktu mama kerja di Perusahaan Papa, pernah gak difitnah untuk yang sesuatu yang tidak mama lakukan?" tanya Sarah sembari meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya.
Rambutnya yang panjang tergerai indah dielus oleh sang mama.
"Gak sih, seingat mama cuma tante Miska tuh musuh bebuyutan mama. Tidak ada yang lain. Semua karyawan di sana baik-baik kok."
"Tante Miska pernah musuhan sama mama? serius? pantas tuh wajahnya gak pernah ramah begitu."
"Hush! kok ngomongnya kayak gitu sih? gak baik ah." ujar Vita menegur sang putri yang langsung illfill sama ibu mertua dari kakaknya itu.
"Kami musuhan eh, bukan. Dia yang musuhi mama karena ngira mama suka sama Om Reno, padahal kan enggak banget. Mama cintanya sama Papa seorang dari dulu sampai sekarang."
__ADS_1
"Cieee yang punya cinta sejati."
"Iya dong, hati itu harus setia pada satu orang saja supaya gak repot. Dan juga jangan pernah ngijinin ada ruang kosong untuk orang lain memasukinya."
"Mama sih enak karena Papa orangnya jelas. Lah aku Ma, masak mau nungguin Adam yang gak jelas itu, kan bikin males." ujar Sarah tidak sadar kalau ia sudah memproklamirkan perasaannya pada Adam.
"Sarah? emang Adam pernah menyuruh kamu menunggu?" Vita mulai kepo dan ingin mencari tahu sejauh mana hubungan mereka berdua.
"Enggak ma, Adam gak pernah membuat komitmen sama aku. Jadi andaikan aku memilih orang yang jelas, gak apa-apa kan?" ujar Sarah dengan pandangan menerawang jauh.
Adam sungguh tega padanya. Hanya sesekali berkabar itupun kalau Sarah bertanya dan hanya dijawab Ya atau tidak, setelah itu tidak ada pembicaraan yang lainnya.
Liburan kedua musim panas ini pun ia tidak pulang dengan alasan ia sibuk.
"Tanya hatimu sayang, apakah dengan berpindah kelain hati kamu jadi lebih bahagia atau malah sebaliknya."
"Iya Ma,"
"Lagipula kamu sebaiknya mengejar karirmu dulu, belajar yang banyak untuk hal-hal baru. Insyaallah jodoh itu akan datang dengan sendirinya."
🍁
Pagi yang cukup penuh semangat bagi semua keluarga Raditya, 4 perempuan berhijab itu sedang asyik bergelut di dapur di hari libur itu.
Rara yang sedang hamil besar dan sedang ingin makan yang enak-enak dan sedap memaksa semua perempuan penting di rumah itu untuk membuatkannya makanan.
Sarah yang tidak punya hobi memasak hanya mendapatkan giliran membantu memotong sayuran saja. Alasannya adalah, sayuran yang paling gampang dan cepat dikerjakan.
Rara mengelus perutnya yang sudah memasuki bulan kedelapan. Air liurnya sampai menetes melihat begitu banyak menu kesukaannya tertata di atas meja.
"Kak Rara enak, hamil kali ini makannya bagus, lah aku sampai Renzy lahir aku mual muntah terus." ujar Sovia, mama muda yang sudah melahirkan dua anak itu.
"Alhamdulillah Sov, yang kedua ini lebih aman, dulu waktu ngandung Qiya, aku juga mual muntah, dan suka ngerepotin mas Rama." timpal Rara kemudian mencicipi gado-gado spesial buatan mama mertuanya.
"Ini enak banget Ma, makasih ya." lanjutnya dengan ekspresi se heboh mungkin.
"Ih kakak, semua menu yang dicicip enak semua, bilang aja doyan." ujar Sarah tersenyum.
__ADS_1
"Ya iyalah Sar, semua harus kita nikmati dan syukuri, selama kita masih diberi kesempatan sama yang punya dunia ini." jawab Rara sambil terus mengunyah.
"Katanya kalau udah mau lahiran gitu, gak bisa makan terlalu banyak nanti bayinya terlalu besar dan susah keluarnya kak." Sarah ikut mengambil makanan dari atas meja itu.
"Tahu darimana? Dokter kandungan gak pernah bilang begitu kok." ujar Rara masih dengan kunyahannya.
"Dari cerita para emak-emak di Perusahaan yang lagi ngerumpi hehehe."
"Katanya sih begitu sayang, makannya yang mengandung banyak gizi dan vitamin untuk bayimu. yang lebih berkualitas untuk kesehatan bukan cuma kuantitasnya saja." timpal Vita yang juga ikut duduk dan makan bersama putri-putrinya.
"Kalo yang kayak gini kan bisa ya ma?" tanya Rara sembari memperlihatkan sepiring gado-gado dan juga stik daging sapi yang sudah hampir ia habiskan.
"Iyya sayang, makanan itu kan juga bergizi karena berisi sayuran dan daging untuk perkembangan otak bayimu." jawab Vita tersenyum.
"Nah, tuh kan. Aku bisa makan semua yang ada di sini." Semua orang yang ada di dalam ruangan itu tertawa akan ekspresi Rara yang sangat lucu itu.
"Wah ini pada ngumpul lagi ada acara apa sih?" tanya Rama yang baru ikut bergabung bersama para suami lainnya.
"Lagi acara penggemukan mas, sini deh ikut makan sama kita di sini." jawab Rara sembari melambaikan tangannya pada suaminya yang sedang membawa Qiya putri pertama mereka.
Andika juga mendekat dan duduk disamping sang istri. Ia juga membawa Reza ditangannya.
"Gimana jogingnya sayang?" tanya Sovia pada putra pertamanya yang sudah berusia 6 tahun itu.
"Asyik Ma, tapi capek. Qiya tuh enak minta digendong sama papanya terus." jawab Reza sembari menunjuk Qiya sang sepupu.
"Kan capek jalannya, jadi harus digendong." jawab Qiya memberi alasan dan membuat semua orang di ruang makan itu tertawa.
"Gak apa-apa sayang yang penting harus banyak makan supaya kuat berolahraga. Sini eyang suapin." ujar Vita sembari meraih cucunya dari tangan Rama. Gala tersenyum hangat melihat kebahagiaan semua anggota keluarganya. Ia bersyukur masih panjang umur dan bisa berkumpul bersama seperti ini.
Pagi itu mereka semua menikmati liburan yang sangat berkualitas di rumah saja.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya. Okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1