
Setelah mereka sampai di rumah kediaman Raditya dan menyantap makan malam bersama. Vita Maharani sebagai nyonya muda di rumah itu segera dibawa oleh Gala ke kamarnya. sedangkan Rama tetap tinggal bersama Nyonya Mawar Raditya eyang putrinya. Ia katanya ingin tidur di kamar eyangnya saja dan itu cukup membuat Gala tersenyum senang.
Vita Maharani memasuki kamar suaminya dengan perasaan takjub. Sebuah kamar yang sangat luas, elegan, dan rapi yang menunjukkan identitas pemiliknya. Semua perabot tertata dengan sangat cantik di tempat-tempat yang pas. Ia masih sibuk memandangi keseluruhan isi kamar itu ketika Gala sudah memeluknya dari belakang.
"Semua ini milikmu sayang,"bisiknya lembut di kuping istrinya. Vita tersentak kaget dengan kebiasaan baru suaminya itu tetapi entah kenapa ia juga sangat menyukainya.
"Kamu bebas di kamar ini, " lanjut Gala lagi tanpa merubah posisinya. Vita membandingkan kamarnya di kampung dan kamar ini yang ternyata tidak bisa dibandingkan karena terlalu jauh perbedaannya.
"Bisa melakukan apa saja," ujar Gala lagi yang memancing otak Vita traveling kemana-mana. Ia membayangkan kata apa saja. Ia lantas terdiam membayangkan ia bisa menari dengan bebas di sini seperti kebiasaannya bersama Kak Gita dulu setelah melihat satu set perlengkapan alat elektronik lengkap ada juga di kamar itu.
"Kenapa diam saja, Hem?" Gala belum mau melepaskan pelukannya dari belakang ia malah membalik tubuh Vita agar bisa memandang wajah sipencuri hatinya itu.
"Kamarnya luas dan semuanya lengkap," ujar Vita akhirnya setelah berhasil memindai keseluruhan isi kamar itu.
"Aku mau kamu segera mencoba ranjangnya, empuk atau tidak," ujar Gala mengerling dan langsung mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang kingsize nya secara tiba-tiba.
"Aaaakh ,"teriak Vita karena kaget. Tubuhnya serasa melayang dan mendarat dengan sempurna di atas benda yang sangat empuk, lembut, dan nyaman. Punggungnya langsung terasa rileks karena telah melakukan perjalanan jauh antar pulau tadi. Gala hanya menatap Istrinya yang menutup kelopak matanya merasai kenyamanan kasur di ranjang itu. Lama ia memandang Vita dengan posisi seperti itu.
"Mulai saat ini, tugasmu hanya menikmati kasur itu sayang,"ujarnya lagi saat melihat tubuh Vita tidak bereaksi. Sepertinya ia sudah tertidur karena nafasnya kelihatan teratur. Ia tak ingin berlama-lama di kamar itu dengan melihat tubuh Vita di atas ranjang yang selalu saja berhasil menggodanya.
Gala memilih melangkah ke arah ruang kerjanya di lantai 1 rumah itu. Ia ingin kembali bekerja setelah hampir seminggu meninggalkan Perusahaan karena urusan pernikahan ini. Ia membuka smartphonenya dan memeriksa semua laporan yang dikirimkan oleh Deka dalam bentuk soft file.
Hampir 2 jam ia berkutat dengan laporan-laporan itu dengan dahi yang kadang mengernyit karena menemukan banyak kesalahan di dalamnya. Ia memijat pangkal hidungnya dan kembali meregangkan otot-ototnya. Melihat jam besar di dinding ruangan ternyata sudah menunjukkan angka 1 dan itu berarti ia sudah lama meninggalkan Vita sendiri di kamarnya. Ia segera menutup dan menonaktifkan smartphonenya dan menyeret langkahnya kembali ke kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamar dan melihat Vita masih dalam posisi dan pakaian yang sama sebelum ia pergi dari kamar itu.
Gala mengganti pakaiannya dengan piyama dan berbaring di samping Vita, memandang istrinya yang sedang terlelap. Ia ingin mengganti pakaian istrinya itu dengan pakaian yang nyaman untuk tidur tetapi ia takut bukan saja Vita yang akan terbangun tetapi sesuatu dari tubuhnya pasti akan ikut terbangun dan akhirnya akan mengurangi lagi waktu istirahat keduanya.
Gala menarik nafas dan memandang kembali wajah Vita yang sangat ia cintai.
"Tidur yang nyenyak sayang, tugasmu akan semakin banyak ke depannya," bisik Gala kemudian mencium kening istrinya lembut dan akhirnya ikut terlelap.
__ADS_1
Vita Maharani terbangun dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. Perutnya terasa cukup nyeri dan badannya lemas begitupun kepalanya terasa berat. Gala yang sudah siap untuk sholat menghampiri istrinya yang masih meringkuk di atas ranjang .
"Yuk kita sholat dulu baru dilanjut tidurnya," ujar Gala sembari menyentuh lengan istrinya. Vita hanya menggeleng lemah,
"Mas, sholat sendiri ya...aku lagi sakit perut." jawab Vita dengan suara pelan.
"Okey, aku sholat ya. Setelah itu aku baluri perutmu dengan minyak kayu putih." ujar Gala kemudian melaksanakan sholat subuh sendiri di dalam kamar yang sangat luas itu.
"Bagaimana sayang? udah baikan..." tanya Gala kepada Vita setelah membalurkan minyak kayu putih di perut dan pinggul istrinya. Vita mengangguk dan tersenyum, ternyata suaminya juga sangat perhatian padanya.
"Kamu biasa seperti ini?" tanya Gala lagi sembari terus mengelus perut rata istrinya dengan minyak kayu putih.
"Biasanya kalau mau datang bulan aja," jawab Vita masih dengan senyum dan rasa geli. Soalnya tangan Gala bergerak kemana-mana.
"Wah, harus periksa ke dokter ya, gak boleh dibiarin begini terus kan sakit,"
"Gak papa mas, normal kok setiap perempuan kalau datang bulan yah gini sakit, tapi tidak lama. Kalau udah lancar haidnya sakitnya juga sudah berkurang."
"Mas, kok mikirnya kayak gitu terus sih,"
"Kamu tuh yang mikir kesana, aku kan cuma bilang libur, yah libur sholat..., dan hmm libur itu juga sih," Gala menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena memang otaknya hanya selalu mengarah ke sana.
"Tuh kan?" ujar Vita dengan bibir dimajukan pura-pura kesal.
Mereka berdua akhirnya tertawa bersama tetapi tak mau saling menatap, terutama Vita yang selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia heran pada dirinya yang sudah terkontaminasi dengan pikiran-pikiran mesum suaminya.
Vita Maharani tetap menjalani hari-harinya sebagai seorang istri dan juga karyawan di Perusahaan milik Suaminya itu. Semuanya berjalan normal setiap harinya.
Ia yang punya hobby memasak sekarang lebih suka berada di dapur untuk menyalurkan kesukaannya itu. Nyonya Mawar bahkan sering ikut memasak bersamanya ketika hari libur tiba. Mereka kompak seperti layaknya mama dan putri yang sangat akur.
__ADS_1
Tetapi tidak dengan Gala, ia kadang merasa diabaikan oleh istrinya itu ketika sudah sampai di rumah. Kesibukan istrinya di dapur ketika pagi tiba sangat mengganggunya. Seperti saat ini, Ketika mereka berdua telah selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah, Vita langsung ingin menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan sebelum mereka semua berangkat ke kantor. Gala dengan cepat menuju pintu kamar dan segera menguncinya. Ia tak ingin membiarkan istrinya keluar kamar di waktu-waktu dingin seperti itu.
"Ko' dikunci sih pintunya," ujar Vita sedikit kesal. Ia menatap Gala yang duduk di sofa dan pura-pura sibuk dengan gadgetnya. Vita melangkah mendekati suaminya itu.
"Mas,..."panggilnya lembut tetapi tidak dihiraukan olehnya. Sejak beberapa hari yang lalu Gala merasa sedikit kesal karena Vita berusaha menghindarinya, ia tahu istrinya itu sedang datang bulan atau orang kenal dengan istilah PMS jadi ia maklum tetapi ini saat sudah sucipun ia tetap diabaikan.
"Mas,..."panggil Vita lagi, kali ini ia duduk di sofa pas disamping suaminya.
"Kuncinya mana? aku mau nyiapin sarapan nanti kita semua telat loh berangkatnya." ujar Vita sembari menengadahkan telapak tangannya meminta kunci kamar.
"Kamu kan bukan pelayan, ngapain ngurusin masak dan urusan dapur," jawab Gala akhirnya setelah lama tidak merespon perkataan Vita. Ia memandang istrinya dalam.
"Untuk apa mereka dibayar mahal kalau cuma menontonmu memasak, kamu itu hanya punya satu tugas yaitu di kasur sayang," lanjutnya sembari membelai pipi istrinya.
"Tapi kan,..." ucapan Vita ingin memberi alasan sudah tak terdengar lagi, yang ada malah mulutnya sudah dibungkam oleh suaminya. Tubuhnya sudah tidak bisa ke dapur atau kemana-mana lagi pagi itu. Rayuan dan buaian Gala tak memberinya kesempatan untuk lolos. Akhirnya ia pasrah dan mulai saling memberi dan menikmati sarapan pagi dalam bentuk yang lain yang tak kalah nikmat dan bergizi dan tentunya cukup menyenangkan pagi itu.
Semua orang di meja makan menunggu sang ratu dapur yang selama beberapa hari ini menyediakan sarapan yang cukup enak dengan rasa berbeda dari sarapan yang biasa disajikan pelayan.
Nyonya Mawar Raditya kembali menatap jam dinding besar di ruang makan itu. Waktu sudah sangat siang sedangkan di meja makan hanya tersedia roti dan margarin serta susu saja. Rama sedari tadi minta makan dan mencari mamanya.
"Bik, nyonya muda mana?" tanya Nyonya Mawar kepada pelayan yang sedari tadi berdiri di sana siap melayani tuan rumah.
"Maaf, Nyonya...Nyonya muda belum turun dari tadi."
"Hmm...ini pasti kelakuan anak nakal itu," gumamnya pelan ia sudah bisa menebak apa yang mereka lakukan di atas sana.
"Kita makan ini saja ya sayang," ujar Nyonya Mawar sembari menyuapkan potongan roti kecil-kecil untuk Rama kemudian mereka berdua berangkat diantar sopir pribadinya. Sedangkan Deka masih tinggal di meja makan sendirian menikmati sarapannya sembari menunggu Pak GM dan istrinya yang masih belum muncul juga.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Selamat berakhir pekan, jangan lupa like, komen, dan kirim hadiahnya yah...
Happy reading 😍😍😍😍😍