
"Gak kerja kamu? kok pagi-pagi udah ada disini?" Pandu yang sedang memilih-milih buku di ruangan kakaknya langsung menghentikan kegiatannya ketika perempuan cantik itu menegurnya.
"Kerjaan dah beres kak, sekarang waktunya santai lah." jawab Pandu kemudian duduk di sofa dekat kakak nya duduk.
"Kak, aku izin lagi ya, " ujar Pandu sambil memandang manager divisi IT itu dengan ekspresi memohon.
"Izin apalagi nih, jangan macam-macam ya." jawab Ira menatap balik adiknya.
"Mau ngajak Hany keluar, boleh?" tanya Pandu meminta persetujuan.
"Emangnya gadis itu mau?" tanya Ira balik. Ia ingin menguji sejauh mana perasaan kedua muda mudi ini.
"Ya harus mau dong kak, dia udah jadi kekasihku sekarang." Pandu tersenyum simpul.
"Ah yang bener?" tanya Ira tidak percaya.
"Gak tapi boong. Ya benerlah hahaha." jawab Pandu gembira. Ia senang membuat saudara satu-satunya itu kesal.
"Jawabanmu yang mana sih yang benar." tanya Ira betul-betul kesal.
"Aku masih usaha kak, tapi by the way on the bus way Kakak kok dukung aku banget sih padahal kan ada banyak cewek yang dekat dengan kakak di Perusahaan ini. Semuanya cantik-cantik pula kenapa malah pro ke Hany?"
"Lah, kamu kok suka sih sama Hany?" balas Ira bertanya.
"Ya gak tahu pokoknya suka aja." jawab Pandu sambil tersenyum samar. Menurutnya tak perlu ada alasan untuk menyukai seseorang. Suka ya suka saja.
"Lah kakak, kenapa? jangan jawab ikut-ikutan ya?" canda Pandu sambil tersenyum menggoda.
"Maaf yah, tapi aku punya jawaban sendiri. Dan itu RAHASIA, ngerti?" jawab Ira kesal karena ia juga ingin menjawab sama tapi adiknya itu malah lebih duluan memberi jawaban y semuaang seperti itu. Ia suka pribadi Hany yang natural tidak terlalu menjaga image. Mengalir begitu saja dan itu sangat cocok dengan adiknya yang kadang tingkat kewarasannya sering ia ragukan. Lagi pula ia ingin melihat adiknya itu move on dari seorang Vita Maharani.
"Jangan terlalu sering ngajak anak gadis keluar kalau status kalian belum jelas!" ujar Ira mendelik. Pandu langsung tertawa."Kakak sensi amat sih." ujar Pandu masih dengan tawanya.
__ADS_1
"He, aku kasih tau ya perasaan perempuan. Kami tuh suka yang pasti-pasti. Yang pasti sayang, yang pasti banyak uang dan yang pasti mau bertanggung jawab."
"Aku cowok pasti kok kak, lihat aja nanti kalau Hany pasti jadi milikku, aku traktir kakak sebulan." ujar Pandu jumawa. Rasa bibir Hany yang akan memotivasinya kini. Terlalu manis untuk dilupakan hem.
"Hahahha, mentang-mentang habis dapat proyek besar mau nraktir kakak, okey. Deal!" jawab Ira senang. Ia berhasil memancing di air asin hehehehe. Hany sudah lama sebatang kara karena ditinggal orang tuanya. Sekaranglah waktunya Pandu bertanggung jawab untuk menjaga gadis itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Ngajak makan lagi nih?" tanya Hany ketika Pandu betul-betul mengajaknya lagi keluar dan berakhir di sebuah Cafe.
"Iyya, aku kan suka makan dan suka lihat orang makan." jawab Pandu santai. Baginya dengan makan bersama orang yang dicintai itulah cara dan saat yang paling tepat untuk menunjukkan perhatian spesial kita pada pasangan. Bukankah cinta bisa dimulai dari perut yang kenyang.
"Ada-ada aja alasannya," jawab Hany mencibir. Dia mencebikkan bibirnya lucu.
"Eh, bibir itu dikondisikan ya, entar aku makan baru tahu rasa kamu." ucapan Pandu yang frontal membuat Hany langsung diam.
"Ayo pesan apa?" tanya Pandu karena Hany cuma diam.
"Jadi mulai suka apa yang aku suka ya?" tanya Pandu sambil tersenyum menggoda.
"Terserah. Kamu kan suka maksa. Jadi sekarang aku ngikutin aja." jawab Hany lagi. Pandu sungguh tak suka dengan jawaban gadis itu. Dengan wajah kesal ia menatap Hany.
"Kamu ya, belum faham juga perasaan aku padamu." Hany langsung balas menatap Pandu dengan senyum mengejek.
"Perasaan apa?" pria itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah kehadapan Hany, ini tidak sesuai rencananya sebenarnya. Ia ingin melamar gadis itu dalam suasana romantis, tetapi kenyataannya Hany masih saja meragukan perasaan tulusnya.
"Aku melamar mu menjadi istriku." ujar Pandu tanpa ekspresi dan menyerahkan kotak kecil itu ketelapak tangan gadis itu. Hany langsung melotot tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dia dilamar begitu santai seperti sedang membicarakan harga minyak goreng di pasar tanpa embel-embel yang manis. Ckckck, bikin miris.
"Heloow aku terharu." jawaban Hany yang singkat itu membuat Pandu tertawa. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan dirinya yang impulsif melamar tanpa persiapan hanya karena kesal dengan balasan gadis di depannya ini. Dia menarik kembali kotak kecil berisi cincin itu dari tangan Hany lantas berucap.
"Maaf, tidak jadi. Aku salah orang." ujar Pandu santai kemudian mengambil kembali kotak berisi cincin itu.
__ADS_1
"Hah, ini untukku kan?" ujar seseorang yang dengan percaya dirinya menarik kursi di samping Pandu dan mengambil alih kotak cincin itu.
"Makasih Pandu sayang." ujarnya manja dan langsung memeluk lengan pria itu posesif.
"Ningsih, ngapain kamu disini?" tanya Pandu kaget dengan kedatangan dokter anak itu.
"Lha ini kan Cafe aku, baru tahu ya?, kalau aku gak ada shift ya aku ada disini jaga Cafe jadi pramusaji hehehe." jawab Ningsih dengan wajah gembira. Tetapi saat melihat sosok Hany yang sedang duduk di depannya ia langsung memasang wajah jutek. Ia membuka kotak bludru berwarna merah itu dengan senyum mengembang dan langsung memasang cincin indah itu dijari manisnya.
"Wow, makasih ya Pandu. Ini kok cocok banget sih dijariku." ujar Ningsih penuh drama. Ia sengaja memancing emosi gadis yang bernama Hany itu tetapi sepertinya tidak berhasil. Gadis itu diam melempem tanpa reaksi apapun.
"Ningsih, ini tuh bukan untuk kamu." ujar Pandu merasa tidak nyaman.
"Lalu untuk siapa dong kalau bukan untuk aku?" tanyanya lagi dengan nada manja tapi hatinya bergemuruh menahan marah.
"Tadinya untuk seseorang tapi karena dia menolak ya kamu bisa pakai." jawab Pandu berusaha santai dengan ekor mata memperhatikan ekspedisi Hany. Gadis itu nampak menarik nafas dan berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum.
"Wah makasih ya, suka banget. Tambah sayang deh sama kamu." jawab Ningsih dengan sangat gembira ia sampai tidak sadar langsung memberi kecupan di pipi Pandu. Tangan Hany mengepal di bawah meja. Ia berusaha menahan perasaan kecewa dan cemburunya. Dan Pandu menangkap ekspresi itu. Ia semakin bersemangat mengerjai gadis itu.
"Nah, Ningsih sayang, kami pesan makanan yang paling enak ya." ujar Pandu dengan senyum samar. Hatinya berdendang riang dengan irama yang cukup menarik.
"Dengan senang hati. Aku kasih gratis deh untuk kalian." jawab Ningsih sambil berdiri dengan memamerkan cincin yang tersemat di jarinya. Gadis Pemimpi Cafe itu berlalu dengan semangat. Tetapi tidak dengan Hany. Ia berpura-pura memasang wajah biasa padahal matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Maaf ya Han. Aku tadi ngeprank kamu." ujar Pandu santai. "Jangan diambil hati ya." Hany mengangguk tetapi tak ingin berkedip takut air mata yang ia tahan akan jatuh dan membentuk sungai kecil di sana.
"Aku ke toilet, permisi." ujar Hany akhirnya setelah menarik nafas dalam. Tetapi suara yang keluar cukup bergetar dan membuat Pandu semakin senang. Ia memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh dari penglihatannya.
"Yes. Berhasil!" ujarnya sembari meninju udara.
---Bersambung---
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat untuk updatenya.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍