
Vita Maharani terbangun pagi itu dengan perasaan yang kurang baik. Semalam ia tertidur dengan hati yang sangat kacau karena cukup kecewa dengan perlakuan Gala yang mendiamkannya seperti itu. Ia sampai menangis semalaman dengan pikiran-pikiran buruk menghantui kepalanya.
Badannya terasa sangat berat dan kepalanya juga sedikit pusing. Ia ingin beranjak dari ranjang tetapi rasa pening itu malah semakin datang menyerang kepalanya sampai ia terjatuh di samping ranjang yang ia tempati bersama Rama untuk tidur semalam.
"Awww," Vita menjerit pelan saat ia terjatuh dan kepalanya membentur nakas di samping ranjang. "Oh, sakitnya," gumamnya pelan sembari memijat pelipisnya yang semakin sakit yang membuat penglihatannya buram dan kemudian tidak sadarkan diri.
"Ma..mama..," teriak Rama saat terbangun dan tidak menemukan Vita di manapun.
"Huaaaa mama...mama mana..." Rama histeris dan menangis semakin kencang sembari mengedarkan pandangannya ke segala arah di kamar itu.
Sementara itu di kamar pribadinya, Gala Putra Raditya sedang bersiap-siap menuju ke Perusahaan pagi buta itu. Setelah melaksanakan sholat subuh sendiri tanpa Vita sebagai makmumnya ia mendapati smartphonenya tidak berhenti memanggil untuk diangkat.
Ia segera memakai pakaian kasual dibalut jaket kulit serta celana jeans dan dengan langkah terburu-buru ia meninggalkan kamarnya setelah mendapatkan kabar dari Head of Server IT TGR Global Company kalau data-data penting Perusahaan sedang dibobol oleh hacker sejak sejam yang lalu.
"Oh, Ya Allah!" ujarnya pelan sembari mengusap wajahnya kasar. Ia betul-betul dalam kondisi yang tidak baik sekarang.
"Semoga saja mereka belum berhasil mengacaukan data penting dalam Kode GV itu," harapnya cemas. Gala menarik nafas panjang untuk memberi ruang agar dadanya lebih lapang. Ia melangkah dengan cepat menyusuri ruangan-ruangan luas di dalam rumahnya sampai ia menghentikan langkahnya di depan kamar bang Tama.
Gala sempat memegang handle pintu besar bercat putih legam itu dan berniat membuka pintu itu tetapi tiba-tiba ia urungkan karena waktu yang ia miliki hanya sedikit untuk segera menutup akses penyerangan hacker itu dan kalau bisa ia akan menyerang balik para pengacau itu.
"Aku harus pergi sekarang, Vit," ujarnya pelan kemudian melangkah keluar dimana Deka sudah menunggunya di depan mobil dengan wajah yang tak kalah tegangnya.
"Ayok," Ajak Gala sembari masuk ke dalam mobil dengan pikiran yang bercabang.
🍁🍁🍁🍁🍁
Nyonya Mawar memasuki ruang makan yang sepi. Ia menunggu beberapa anggota keluarga yang lain yang selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama sejak Gala menikah tetapi sampai beberapa menit berlalu tak seorang pun yang ia tunggu menampakkan dirinya.
"Bik, panggil Tuan dan Nyonya muda!" perintah Nyonya Mawar kepada pelayanannya.
"Baik Nya," jawab pelayan itu sembari membungkukkan badannya hormat. Ia kemudian berlalu menuju kamar Tuan muda Gala dan istrinya.
"Tuan dan nyonya muda tidak ada di kamarnya Nya,"
"Mungkin mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya,"
"Apa Rama juga tidak ada di kamar itu?"
"Tidak ada, Nya...kamar itu sudah kosong,"
"Okey, kalau begitu panggil tuan Deka kemari."
__ADS_1
"Tuan Deka juga sudah tidak ada nyonya,"
" Mereka pasti sudah berangkat bersama-sama dan meninggalkan aku sendiri di sini."
Akhirnya setelah sarapan pagi nyonya Mawar pun berangkat ke Perusahaan diantar oleh seorang sopir pribadinya.
Di dalam kamar tidur bang Tama.
Vita sudah mulai membuka kelopak matanya setelah ditepuk-tepuk keras oleh jari-jari kecil Rama.
"Ma..mama..angun ma..." ujar Rama masih dengan sisa-sisa tangisnya. Vita.Ia sedari tadi menangis histeris karena berusaha membangunkan mamanya yang pingsan. Ia menepuk pipi kemudian menggoyang-goyang bahu dan lengan Vita terus menerus sampai terbangun.
"Mama...nyapa ma...angun ma..." tanya Rama terus mencerocos.
"Rama panggil eyang ya sayang, mama tidak bisa bangun, kepala mama pusing..." ujar Vita mengernyit. Kepalanya masih sangat pusing dan pandangannya berputar ketika ia membuka matanya. Rasa mualpun kembali menyerangnya.
"Ayo, anaknya mama...panggil eyang putri kemari..." Rama akhirnya berdiri sembari menyusut hidungnya yang beringus. Ia melangkah menuju pintu kamar yang terkunci dari dalam. kemudian ia berbalik lagi.
"Ma.. Pintunya cidak bica buka..."
"Mama...huaaaa pintunya cucah buka..." Rama mengaduh sembari menggoyang tangan Vita.
"Panggil sayang, bilang bibik..buka pintu," ujar Vita sembari memijat kepalanya yang semakin pusing. Bagaimana orang luar bisa masuk kalau pintunya terkunci dari dalam
"Bik...tolong..." teriaknya keras memenuhi ruangan luas itu. Ia berlari kesana kemari mencari para pelayan yang bekerja di rumah itu.
"Ada apa tuan muda," ujar salah seorang pelayan yang melihatnya berteriak-teriak.
"Mama cakit, mama pincang...huaaaa" Rama berkata sembari menangis keras.
"Tolong mama...huaaa" Para pelayan langsung berhamburan mengikuti langkah kecil Rama menuju kamar papanya.
Para pelayan mengangkat tubuh Vita yang sangat lemas ke atas ranjang dan berusaha mengatur posisinya agar bisa lebih nyaman.
"Apa yang bisa kami lakukan nyonya muda," tanya salah satu pelayan yang bernama Susan.
"Aku mau minum dan ambilkan obat pereda sakit di kotak obat," ujar Vita lemah.
Setelah meminum obat. Ia meminta Susan menyiapkan sarapan untuk Rama dan memandikannya.
"Apa perlu kami menghubungi Nyonya besar dan tuan muda?" tanya Susan meminta saran Vita. Ia hanya menggeleng lemah.
__ADS_1
"Tidak perlu, sebentar lagi pasti baikan kok, ini karena kecapekan dan kurang tidur saja," Vita menolah halus. Ia tak mau merepotkan semua orang.
"Bawakan sarapan untuk saya ya, biasanya setelah makan saya akan sehat lagi," ujar Vita dengan senyum di wajahnya yang pucat.
"Baik nyonya," Susan pun berlalu ke dapur.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Hari ini jadwal kontrol untuk kandunganmu," ujar Reno sembari menatap Miska dari dalam cermin besar di depannya. Ia berdiri di belakang istrinya itu yang sedang mengoleskan krim diwajahnya.
"Iya, Kak. Makasih diingatkan," jawab Miska tanpa menghentikan aktivitasnya. Matanya sempat terpaku pada mata Reno yang memandangnya lekat dari dalam cermin.
"Kamu gak ada keluhan kan?" tanya Reno masih dengan posisi yang sama. Mengamati kegiatan Miska yang akhir-akhir ini berhasil menarik perhatiannya.
"Banyak" jawab Miska singkat. Sekarang jari-jarinya lincah menyapu leher jenjangnya dengan krim yang lain. Mata Reno sepertinya betah di tempat itu. ia menatap lekat jari jemari lentik Miska menari dari wajah, rahang, sampai leher dan itu cukup membuat sesuatu dari dirinya berkedut.
"Apa saja?" tanya Reno khawatir. Ia takut janin dalam kandungan Miska dalam keadaan tidak sehat. Ia tanpa sadar menggerakkan tangannya ke arah bahu Miska yang terbuka dan meremas bahu putih itu lembut.
Eh
Miska tersentak dengan perlakuan Reno padanya. Apalagi punggung tangan besar itu perlahan mengelus lehernya lembut hingga naik ke kuping menuju tengkuknya. Ia tak sadar sangat menikmati sentuhan-sentuhan itu sampai menutup kelopak matanya.
Perlahan ia membuka matanya ketika sentuhan tangan suaminya berhenti dan melihat dirinya sendiri dalam pantulan cermin yang begitu menyedihkan. Ia bagaikan perempuan jablay yang haus akan sentuhan.
Sejak menikah Reno tak pernah menyentuhnya. Ia bahkan tak pernah merasakan belaian atau apapun itu namanya tetapi justru berakhir dengan tiba-tiba saja sudah langsung berisi.
Miska langsung berdiri dan berlari menuju toilet. Ia malu sekaligus sedih pada dirinya sendiri yang terlalu berharap sangat banyak pada Reno suaminya. Di dalam sana ia menangisi nasibnya yang begitu mencintai tapi tak juga berbalas.
"Miska?" panggil Reno dari depan pintu toilet. Ia heran kenapa Miska langsung pergi dan menghindarinya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reno lagi khawatir.
"Hem," jawab Miska dari dalam sana.
"Baiklah, cepatlah bersiap, aku tunggu di depan," Miska mengangguk seolah-olah Reno ada di depannya. Ia menghapus cairan bening yang masih tersisa dengan punggung tangannya kemudian keluar dari sana dan memakai pakaian kerjanya.
Memangnya apa yang kamu harapkan Miska
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, readers tersayang nya Bhebz yang kece badai...
__ADS_1
jangan lupa like dan komentar nya yah...
Happy reading 😍😍😍😍😍