Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 198 Pengakuan Alif Reksadana


__ADS_3

Dyah dan Vita saling berpelukan, mereka bersyukur kecelakaan yang menimpa anak atau menantu mereka tidak mengakibatkan korban jiwa dan hanya mobil saja yang mengalami kerusakan yang cukup parah.


"Ma, sebenarnya Rara juga keguguran." ujar Rama saat mereka bertiga sudah berada di luar ruangan dimana Rara dirawat.


"Innalilahi, ya Allah." ujar Dyah kemudian menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Rasa nyeri dihatinya semakin bertambah kini. Ingin rasanya ia masuk kembali ke ruangan Rara dan memeluknya dan memberi penghiburan tetapi putrinya sedang diberikan obat agar ia bisa istirahat.


"Ya Allah, Rara. Mama sangat sedih mendengar ini Ram. Tapi bersabar saja nak. Insyaallah kalian akan diberikan kesempatan lagi mempunyai momongan." ujar Vita kemudian memeluk putranya.


"Iyya Ma, Rara sebenarnya belum tahu juga kalau ia hamil, jadi sebaiknya kita tidak usah membahas atau menceritakan ini semua padanya. anggap tidak terjadi apa-apa agar ia tidak bersedih." jawab Rama kemudian duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan. Dyah dan Vita juga ikut duduk. Mereka semua diam, sampai Dyah mulai membuka mulutnya karena merasa janggal akan waktu kecelakaan Rara, putrinya.


"Rara kok bisa berada di jalan pada jam kerja seperti itu ya, Ram?" ujar Dyah seperti sebuah pertanyaan.


"Iyya Ma, bukannya ia sedang bekerja. Kenapa ia tiba-tiba pulang dan menurut keterangan dari polisi kecepatan mobilnya sangat tinggi saat kecelakaan itu terjadi." jawab Rama ikut berpikir.


"Apa mungkin Rara sedang terburu-buru pulang, maksud kalian?" tanya Vita berusaha menangkap makna dari pembicaraan anak dan besannya.


"Bisa jadi sih Ma. Rara tuh paling sering negur aku kalau bawa dia dengan kecepatan tinggi katanya ia suka takut gitu." Rama mulai berspekulasi dengan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terkait dengan kecelakaan istrinya.


"Tunggu ya, aku coba hubungi Papanya di kantor." ujar Dyah menjeda percakapan mereka dan mulai menghubungi suaminya.


"Mas, tahu gak kalau Rara gak ada di kantor saat ini?" tanya Dyah ketika suaminya mengangkat panggilan teleponnya.


"Iyya aku tahu Ma.Tadi Tina teman barunya itu bilang ke papa katanya Rara memutuskan berhenti setelah dipanggil oleh Presiden direktur yang baru ke ruangannya, emangnya kenapa sayang?" jelas Ilhamsyah dari ujung telepon.


Dyah terdiam, ia sedang berpikir ini pasti ada hubungannya dengan hal tersebut.


"Dyah? aku sih setuju sekali kalau Rara keluar soalnya presiden direktur itu adalah Alif Reksadana." lanjut Ilhamsyah lagi mengeluarkan pendapatnya.


Duarrrr


Seketika Dyah menjatuhkan handphone ditangannya karena merasa kaget dengan berita yang baru diterimanya.


"Mama, ada apa Ma?" tanya Rama panik karena ibu mertuanya langsung linglung setelah bercakap lewat telepon bersama suaminya sendiri.

__ADS_1


"Rara berhenti bekerja karena pimpinan sekarang di Double Insurance adalah Alif Reksadana." jawab Dyah dengan suara datar. Ketakutan dan kecemasannya semakin bertambah saja.


"Ya Allah." Rama meraup wajahnya kasar. Ia mulai curiga, pasti ada yang tidak beres di sini. Sekarang ia semakin yakin kalau kecelakaan istrinya pastilah ada hubungannya dengan si Alif itu. Dengan langkah cepat ia segera meninggalkan kedua mamanya dan mengendarai mobilnya ke Double Insurance. Ia ingin membuat perhitungan dengan teman lamanya itu.


🍁


Setelah menerima telepon dari istrinya tadi, Ilhamsyah memandang keluar jendela dari ruang kerjanya yang baru. Sambungan telepon yang diputus tiba-tiba oleh istrinya tadi membuatnya ikut memikirkan Rara putrinya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!" serunya memberi izin orang yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya itu.


"Pak Ilhamsyah diminta ke ruangan Pak Presdir sekarang." ujar staf tersebut dengan sopan.


"Oh iya, saya akan segera kesana." jawab Ilhamsyah kemudian menarik nafas panjang. Ia berharap semoga semuanya baik-baik saja.


Ini adalah pertama kalinya Ilhamsyah dan Alif berada di ruangan yang sama, sewaktu acara pertunangan yang sudah gagal untuk yang kedua kalinya itu mereka bertemu tetapi bersama-sama dengan orang lain.


"Maaf Pak Ilhamsyah, saya mengganggu waktu anda." ujar Alif dengan suara datar.


"Tidak apa pak Presdir. Saya adalah bawahan Anda. Bapak bebas memanggil saya kapan saja selama itu berhubungan dengan pekerjaan." jawab Ilhamsyah dengan pandangan lurus menatap mata Alif.


"Saya berharap anda bisa bekerjasama dengan baik mengembangkan perusahaan ini bersama dengan saya, pak."


"Tentu saja pak Presdir. Itu sudah merupakan kewajiban saya." jawab Ilhamsyah dengan tegas.


"Saya masih baru di bidang ini, dan saya yakin bapak sebenarnya lebih berkompeten di sini dibandingkan dengan saya, Pak." ujar Alif Reksadana dengan tatapan teduhnya. Ilhamsyah balas menatap kembali pria muda di depannya. Ia tak percaya cucu Reksadana ini bisa bicara dengan sangat sopan seperti ini.


"Saya cuma menang di usia pak. Tapi mengenai ilmu saya yakin anda lebih mampu daripada saya." jawab Ilhamsyah merendah.

__ADS_1


"Baik pak Ilhamsyah. Anda bisa kembali ke ruangan bapak. Anggap saja saya adalah putra anda yang sedang memohon bimbingan." ujar Alif lagi dengan ramah.


Deg


Ilhamsyah semakin bingung dengan tingkah laku Alif yang begitu baik dan sopan. Sedangkan Rara pernah mengatakan kalau Alif adalah pria kejam dan seorang psikopat.


"Baik Pak, saya permisi." ujar Ilhamsyah kemudian melangkah menuju pintu. Tetapi belum juga tangannya menyentuh handle pintu itu, tiba-tiba Rama, menantunya muncul di sana dengan emosi yang memenuhi wajahnya.


"Brengsek kau Alif!" teriaknya dengan suara menggelegar dan langsung melompat menerjang Alif yang sedang tidak siap. Ia meraih kerah kemeja presiden direktur Double Insurance dengan kalap.


"Apa yang kau lakukan pada istriku hah?" tanya Rama sembari memberi satu pukulan pada rahang pria muda itu.


"Heh, apa-apaan ini!. Anda bisa saya tuntut tuan Raditya karena berani masuk ke ruangan saya tanpa izin dan melakukan tindakan yang tidak menyenangkan." balas Alif dengan wajah marah. Rasa sakit di rahangnya masih bisa ia tahan, tetapi ia tidak mau dipermalukan seperti ini di depan Ilhamsyah bawahannya.


"Rama! hentikan nak. Bisa kamu jelaskan apa maksudmu?"


"Rara kecelakaan sehabis dari sini. Ia sampai kehilangan bayi kami Pa." jawab Rama tanpa melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Alif.


"Lepaskan aku brengsek!" ujar Alif sembari mendorong tubuh Rama ke arah dinding.


"Kamu yang merebut Rara dariku dan akhirnya pernikahan kami batal karena laporan keluargamu itu pada kakekku. Lalu sekarang kamu menuduh aku yang mencelakai istrimu? enak saja. Keluar kamu dari sini!" nyalang Alif menatap Rama dengan senyum miring di bibirnya yang sudah pecah karena pukulan Rama.


"Aku tak akan keluar kalau kamu tidak mengakui teror yang selama ini kamu kirimkan untuk istriku."


"Apa aku harus mengakui sesuatu yang tidak aku lakukan tuan Raditya? keluar sekarang juga!"


"Tidak!" jawab Rama tegas. Ia sudah sangat capek dengan rentetan teror ini. Dan hari ini ia harus tahu semuanya.


"Pak Presdir, saya sangat menghormati anda karena anda adalah pimpinan saya di sini. Tetapi jika benar anda yang melakukannya pada putri saya, maka saya pastikan saya akan menjebloskan anda ke penjara." ujar Ilhamsyah dengan emosi di wajahnya. Ia membayangkan bagaimana putrinya ketakutan selama ini dan akhirnya kecelakaan karena Alif ini.


"Aku bersumpah bukan aku yang melakukan apa yang kalian tuduhkan. Jadi silahkan keluar dari ruangan ini sekarang juga. Dan kamu Rama, andai aku tak ingat kalau kita pernah berteman dan kakekku penyebab nenekmu menderita, aku pastikan akan merebut Rara darimu saat ini juga." tegas Alif sembari memencet tombol untuk memanggil security agar membawa Rama keluar dengan paksa.


---Bersambung--

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2