
Sebuah album foto kecil ditemukannya dalam laci nakas tersebut yang berisikan foto-foto abangnya dengan dua orang perempuan yang ia kenali adalah Vita Maharani dan seorang lagi adalah Gita Prameswari kekasih abangnya.Ia pernah bertemu sekali dengan perempuan itu di sebuah pesta. Dilembar berikutnya terlihat Bang Tama menggendong seorang bayi dalam sebuah selimut berwarna biru dan disampingnya ada Gita dan Vita sedang tersenyum menghadap kamera. Mereka kelihatan bahagia dan rukun. Begitupun lembaran berikutnya hanya ada mereka berempat di sana dalam berbagai pose dan tempat yang berbeda.
"Apakah bayi dalam gendongannya itu adalah Rama?" tanyanya dalam hati.
"Apakah Rama adalah putra abangnya?"
"Yang mana diantara dua perempuan ini yang merupakan ibunya Rama?"
"Vita atau Gita?"
Berbagai pertanyaan muncul bebas di kepalanya. Satu petunjuk sudah ia dapatkan walaupun belum terlalu jelas keterikatan keempat orang ini. Segera ia mengambil album foto itu untuk dibawa pulang.
Drrrt
Drrrt
Gala menatap layar smartphonenya dan melihat nama Reno tertera di sana. Setelah kejadian ia menemukan Reno di kamar perawatan Miska. Hubungan mereka sudah lebih dekat. Reno meminta bantuannya untuk membujuk paman Robby Todler untuk menerima lamarannya ke Miska.
"Ya Ren, ada apa?"
"Paman ada di Club X malam ini" jawab Reno dari seberang sana. Gala melihat jam yang menempel di pergelangan tangannya.
"Okey, kita akan bertemu di sana 30 menit dari sekarang. Gala masih ingin berada di kamar ini agar ia menemukan lebih banyak petunjuk. Tetapi panggilan Reno tadi tidak bisa ia abaikan. mereka harus segera meminta restu dari walinya Miska yang tak lain adalah si Robby Todler bajingan itu sebelum perut Miska semakin membesar.
"Album kecil ini semoga sudah bisa membuka tabir keberadaan bang Tama dan juga Vita Maharani" gumamnya dalam hati kemudian mengunci pintu kamar itu dan segera menuju Club X tempat ia janjian dengan Reno.
Club X pukul 23.00
Suara dentuman musik yang dimainkan oleh DJ perempuan **** diatas sana serta lampu-lampu disko yang menyinari ruangan dengan pencahayaan remang-remang membuat kepala Rama kepala Gala pusing dan berdenging. Ia hampir saja lari keluar andai ia tidak ingat kalau ia dan Reno hanya bisa menemui Robby Todler di tempat seperti ini. Menurut Tante Kapsari Prayanti Suaminya itu sudah jarang pulang dan juga sulit ditemukan keberadaannya.
__ADS_1
Ia tak pernah sekalipun ke tempat seperti ini. Penampakan gadis-gadis **** dengan pakaian yang sangat kurang bahan ini membuat Gala mual. Tangan mereka sepertinya sangat terlatih menggerayangi tubuhnya yang terbalut jas. Ia berjanji akan memecahkan kepala Robby Todler jika restu itupun belum mereka dapatkan saat ini.
Reno memberinya kode agar mengikuti langkahnya menuju sebuah ruangan VIP yang lumayan lebih baik dan damai karena hanya ada musik slow di sana. Mereka berdua masuk dan mendapati Robby Todler sudah dalam keadaan setengah mabuk dan sedang mengoceh tidak jelas.
"Ayo mari duduk dan minum ini" ujar Robby dengan tingkat kesadaran sudah menurun. Ia mengacungkan gelasnya yang berisi minuman laknat itu.
"Ayo minum... hiiik" Dengan bersendawa ia terus mengajak kedua tamunya untuk terus minum.
"Kita rayakan kemenangan ini, sedikit lagi...Aku akan mendapatkan yang aku mau...hiiik"
"Ayo tambah minumnya..." Robby meneguk lagi minuman itu dengan rakus. Reno dan Gala hanya mendengar dan menunggu sampai Robby Todler lelah mengoceh. Tetapi mereka ternyata salah orang mabuk tidak akan berhenti bicara kecuali sudah tidak sadarkan diri.
"Paman, saya ingin meminta restu untuk menikahi Miska" ujar Reno tanpa basa basi setelah lama terdiam dan menunggu.
Prang
Robby Todler melempar gelas minumnya dan hampir mengenai kepala Reno. Gala tak tinggal diam ia berdiri dan memegangi pundak pamannya yang tiba-tiba langsung emosi.
"Seharusnya bukan kamu yang minum obat perangsang itu tetapi Gala" ujarnya tiba-tiba yang membuat Reno dan Gala saling berpandangan.
"Aku mau Gala yang menjadi menantuku, mengerti kamu?" Robby mengarahkan telunjuknya ke wajah Reno dengan pandangan bengis. Ia lupa kalau Gala yang ia maksud juga ada disana memperhatikannya.
"Aku bahkan sudah menghabisi Tama kakaknya agar rencanaku mulus untuk menguasai TGR dan kau..." belum selesai ia mengoceh Gala sudah melompat dan mencengkeram erat kerah bajunya dan dengan sekali hentakan tubuh Robby sudah berada disudut ruang VIP itu dengan memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Reno menghadang tubuh Gala agar tidak merangsek lagi untuk memberikan tendangan pada tubuh Robby yang tidak bergerak itu.
"Gala, tenang kamu bisa membunuhnya" Reno berusaha sekuat tenaga menahan Gala agar tidak berbuat nekat.
"Aku akan membunuhnya dengan tanganku, lepaskan aku!"
"BrengSek!"
__ADS_1
"Aku tidak akan mengampunimu tua Bangka!" teriak Gala dan sekali lagi berhasil memberikan tendangan pas di wajah Robby yang sudah megap-megap bagai ikan lohan tak menemukan air.
Dengan sekuat tenaga Reno menahan tubuh Gala yang sudah seperti kesetanan. Untunglah ada bantuan dari beberapa bodyguard yang berjaga-jaga tadi di depan pintu ruang VIP itu dan langsung menahan tubuh Gala dengan sangat kuat.
"Jangan berbuat keributan di sini!" Bodyguard itu membawa keluar Reno dan Gala dengan paksa. Nafas Gala memburu karena emosi. Ia tak menyangka pamannya sendiri yang sudah menghabisi abangnya dengan sangat kejam. Pantas saja seluruh orangnya bahkan keluarganya sudah menyewa detektif untuk mencari keberadaan Tama tidak pernah mendapatkan hasil.
Reno dan Gala masih menunggu di luar Club itu. Gala sudah menghubungi langsung AKBP Supirman Kapolres Metro untuk membekuk Robby Todler si bajingan itu agar langsung menjebloskannya ke Penjara.
Dua buah mobil polisi tiba dalam waktu singkat. AKBP Supirman yang merupakan sahabat baik Gala turun langsung dalam penangkapan ini. Ia menyapa Gala terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam Club itu. Alhasil bukan saja Robby Todler yang menjadi tangkapannya malam ini. Beberapa orang juga diringkus karena kedapatan mengkonsumsi narkoba
"Pastikan bajingan ini mengakui semua perbuatannya kepada keluargaku!" ujar Gala masih dengan penuh kemarahan melihat Robby dipapah oleh beberapa anggota kepolisian dalam keadaan babak belur.
"Serahkan padaku Gal" jawab Supirman dengan senyum khasnya yang menyeramkan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Vita Maharani terbangun pada pukul 00.15 tengah malam. Tangisan dan jeritan Rama membuatnya terjaga. Tak seperti biasanya, Rama begitu rewel. Ia terus menangis tiada henti. Badannya ternyata demam. ia menjadi sangat panik. Berusaha menenangkan putranya dengan mengayun dalam buaiannya kemudian menepuk-nepuk pantatnya seperti biasa ia membaca surah Al Fatihah berkali-kali agar Rama bisa tenang.
Rama baru bisa terlelap kembali ketika jam sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Sampai pagi Vita pun terus terjaga. Ia sudah tidak bisa tidur karena rasa gelisah dan resah yang ia rasakan. Dalam hati ia berharap agar semua baik-baik saja.
Sedangkan di tempat lain dimana Gala berada. Rasa marah dan sedih ternyata membuat Gala tidak bisa memejamkan matanya.Ia takut menyampaikan kabar besar ini pada mamanya. Penyakit jantung Nyonya Mawar menjadi alasannya untuk menyimpan rahasia besar ini. Ia terus memandang album foto kecil yang ia ambil dari kamar Vita tadi sore.
"Dimana kamu Vit? kamulah kunci semua hal besar ini" gumamnya pelan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor...Nikmati alurnya ya...
jangan lupa like, komen, Favorit kalau belum. Hadiah bunga setaman atau kopi segentong juga boleh agar othor semangat updatenya.
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍