Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 131 Tidak Semua Laki-Laki Sama


__ADS_3

Risma mereemas kuat tangan Deka karena menahan sakit yang teramat sangat pada pinggulnya. Sejak ia mendengar kalau Vita Maharani mengalami kecelakaan yang mengakibatkannya harus operasi Caesar ia menjadi sering merasa kontraksi pada setiap sepuluh menit sekali.


"Hufffft." ia menarik nafas lewat hidung dan membuangnya lewat mulutnya.


"Kak, aarghhhh..." Deka merasa tulangnya ikut ngilu melihat penderitaan istrinya. Tangannya sampai berdarah karena diremas begitu kuat oleh Risma saat rasa sakit itu datang.


"Astagfirullah, Kak...aku gak kuat. Aaargh..." Risma semakin mengadu kesakitan.


"Yang sabar, andai aku bisa menggantikanmu." bisik Deka dikuping istrinya yang sudah dipenuhi peluh yang cukup banyak. Ia memberi semangat pada istrinya dengan membacakan doa-doa atau mengelus perut istrinya yang semakin mengeras karena kontraksi.


"Kak, maafkan aku. Huffft..."


"Iyya, aku maafkan lagipula kamu gak pernah ada salah."


"Tarik nafas bu. jangan mengedan dulu ya...ini baru pembukaan tiga, bentar lagi ya sayang yang sabar ya..." ujar Bu bidan yang menanganinya disamping sekarang dokter kandungan terbaik yang menangani Nyonya muda Vita Maharani.


"Kak, Artghh.." teriak Risma lagi saat rasa nyeri itu datang lagi dan itu berlangsung sekitar lima menitan.


"Dokter, di caesar saja." ujar Deka pada dokter itu. Ia sudah tidak kuat melihat penderitaan istrinya.


"Gimana bu masih kuat gak?" tanya dokter itu sembari membuka paha Risma lebar-lebar. Ia memeriksa jalan lahirnya dengan memasukkan jari-jarinya.


"Nah tuh bentar lagi, tahan ya tarik nafas jangan ngedan, banyak berdo'a."


"Huffft aaahhh." Risma menarik nafas dan membuangnya pelan sesuai petunjuk dokter. Keringat sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Pakaiannya sampai basah semua.


"Yap, bagus Bu, dikit lagi...ya pintar, ini termasuk bagus lho Bu posisinya. Emang kalo saat hamil tua harus rajin dijengukin sama papanya nih supaya dedek bayi bisa cari jalan keluar sendiri." ujar Bu Bidan memberi semangat. Deka langsung menatap istrinya. Ia menyesal tidak menjenguk si dedek tadi pagi. Dalam pikirannya pasti akan mudah lahirannya kalau ia ikuti instruksi bidan itu.


"Aaaarggh." jeritan Risma membuyarkan lamunannya, belum lagi tangannya yang sudah berdarah akibat remasan tangan istrinya ketika rasa sakit itu kembali hadir.


"Nah sekarang ngedan ya satu kali yang panjang, kepalanya dah kelihatan sayang."


"Aaaaaaargh...." Risma mengeluarkan semua tenaga yang tersisa dan,

__ADS_1


"Oweeeee." lengkingan suara bayi memenuhi ruangan itu pertanda perjuangan seorang ibu melahirkan seorang bayi telah sampai digaris finish. Rasa sakit yang teramat menyiksa kini hilang, menguap entah kemana seiring hadirnya bayi yang sehat dan lucu dengan tangisan kebahagiaan.


"Alhamdulillah, terima kasih sayang." ucap Deka sambil mencium kening istrinya yang penuh peluh. Senyum lega dan bahagia menghiasi wajah Risma yang sudah berjuang sekuat tenaga melahirkan bayi yang sudah lama mereka impikan.


"Bayinya sehat Pak, Alhamdulillah. Semua anggota tubuh lengkap dan tangisannya wah melengking." ujar Bidan sembari membersihkan tubuh ibu dan bayinya.


"Terima kasih Bu dokter dan Bu Bidan."


"Iyya sama-sama."


"Ini Ibu termasuk pintar lho melahirkan, padahal anak pertama ya? lihat ini gak dapat jahitan, dan Alhamdulillah ini termasuk cepat lahirnya."


"Gak papa Bu dokter dijahit aja supaya rapat lagi." ujar Deka dengan tampang polos. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana seorang bayi yang cukup besar keluar dari jalan lahir istrinya pasti itu sangat luar biasa.


"Lho pak, ini elastis lho. yang keluar besar dan kecil sama aja akan kembali rapat dan singset. Hayooo lagi mikirin itu ya?" ujar Bu Dokter tersenyum penuh arti kepada Deka yang tiba-tiba merasa malu sama kata-katanya sendiri.


"Kak, astagfirullah." ujar Risma sambil mencubit pinggang suaminya.


"Permisi dok. Saya mau cari obat merah dulu." ujar Deka sambil memperlihatkan tangannya yang sudah menjadi korban kebrutalan istrinya yang sedang melahirkan.


"Di azanin dulu bayinya pak." ujar dokter itu menahan agar Deka tidak keluar dari ruangan bersalin itu.


"Oh iya, dokter terima kasih." Deka pun mengazani putranya dengan khusyuk seiring banyaknya untaian do'a semoga anaknya menjadi anak yang Sholeh yang membanggakan agama, negara, dan keluarganya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hany akhirnya pulang bersama Pandu setelah mengunjungi Vita dan bayinya. Awalnya Hany menolak tetapi Pandu tetap ngotot karena melihat tampilan Hany yang begitu mengkhawatirkan. Wajah yang kusut dengan maskara yang cukup belepotan di sekitar matanya membuat Pandu merasa ada hal besar yang terjadi pada gadis ini.


"Seharian ini kamu nangis?" tanya Pandu setelah rasa penasaran sudah tak bisa ia tahan.


"Eh, tahu dari mana aku nangis, kamu cenayang ya?" jawab Hany menatap Pandu yang sedang memandang jalanan yang cukup macet di depannya.


"Kamu gak bawa kaca?" tanya Pandu lagi tanpa mengalihkan pandangannya. "Nih." tunjuk Pandu pada kaca kecil di atas kepalanya. "Atau tuh!" ia kembali menunjuk kaca spion mobil yang berdekatan dengan posisi Hany duduk.

__ADS_1


"Aaaaaa." teriak Hany histeris. Ia melihat dirinya bagai seorang hantu yang baru bangkit dari kuburnya. Wajahnya begitu menakutkan. Rambutnya yang biasanya lurus dan rapi kini nampak kusut dan hancur. Sedangkan matanya, oh ya ampun, Maskara yang biasa memperindah matanya kini belepotan dan melumer kemana-mana.


"Gini nih kalau pakai maskara yang bukan waterproof pasti meleleh kalau kita nangis." ujarnya pelan sembari mengambil selembar tissue basah dan mulai membersihkan wajahnya. Pandu sampai tersenyum miring dibuatnya. "Gadis aneh, gak ada jaim-jaimnya." gumamnya pelan tetapi sempat terdengar oleh Hany.


"Ngomong apa kamu?" tanya Hany mendelik.


"Gak, cuma ngomongin gadis yang itu yang aneh bin ajaib." Jawab Pandu sekenanya.


"Lagi ngomongin aku kan? malu kan jalan sama aku yang kayak hantu ini?"


"Tidak, suer. kamu cantik kok." jawab Pandu sambil mengangkat dua jarinya.


"Hahhaha." tawa Hany menggema di dalam kotak yang bisa berjalan itu. Pandu tiba-tiba merinding, jangan-jangan Hany berubah betul jadi hantu.


"Laki-laki semuanya sama, tahu gak? mulutnya manis kalau ada maunya, tapi kalau udah punya yang lain mulutnya gampang menyakiti, hiks." tiba-tiba tawa Hany berubah menjadi isakan. Hatinya sangat sakit mengingat perlakuan Arman padanya. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu menyakitinya dengan begitu rupa hingga ia tak ingin lagi berhubungan dengan pria lain. Rasa percaya pada laki-laki sudah menguap tak bersisa.


Hingga ia belajar membuka hati dan mulai mengagumi sosok Reno Sebastian asisten ibu Presdir TGR Global Company itu yang justru belakangan ia dengar kalau pria itu telah menikah dengan Miska Todler karena sebuah insiden kecelakaan, Miska telah hamil duluan oleh pria idolanya itu. Hatinya kembali hancur dan bertekad tidak akan lagi membuka hati karena pada akhirnya rasa kecewalah yang ia rasakan.


"Tidak semua laki-laki sama Han, aku contohnya, aku baik dan ganteng, dan juga tidak makan sabun trus perhatian sama kamu." ujar Pandu menghibur dengan leluconnya yang tidak lucu.


"Gak, kamu sama saja." timpal Hany membuang muka ke jendela.


"Aku buktikan ya kalau aku laki-laki baik." ujar Pandu serius.


"Buktikan aja. Tidak peduli juga." Ucap Hany cuek tapi hati kecilnya berharap bisa menemukan laki-laki yang baik yang akan membahagiakannya kelak.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya ya untuk karya receh ini dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey???


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2