
Hari ini adalah hari yang sangat spesial bagi keluarga Raditya. Setelah kesedihan berkepanjangan karena meninggalnya Mawar Raditya, sang perempuan tangguh yang banyak mencurahkan kasih sayangnya pada anak dan cucunya kini berita baik datang di keluarga mereka.
Sovia dikabarkan sedang mengandung penerus Raditya dan Sebastian. Semua keluarga dari pihak Sebastian datang membawa banyak hadiah dan juga ucapan kebahagiaan. Mereka bahkan membawa jasa katering khusus untuk membuat sebuah pesta kecil di tengah taman yang terletak di samping rumah.
"Wah senengnya kalau semua orang menyambut berita bahagia ini dengan cara makan besar seperti ini." ujar salah seorang pelayan di kediaman Raditya.
"Kita semua jadi bebas tugas hari ini." ujar yang lain sembari menikmati jajanan dan juga makanan berat yang disajikan oleh tim panitia acara.
"Ini baru berita bahagia belum juga acara 4 bulanan dan 7 bulanan, kita sudah mendapat hadiah sebanyak ini." jawab pelayan yang lainnya lagi yang tangannya sudah penuh oleh hampers dari kedua belah pihak keluarga.
Udara di sekitar Rumah itu dipenuhi oleh ucapan syukur dan kebahagiaan tetapi tidak bagi seorang Az-Zahra Aisyah, ia berusaha menahan sakit dan sedih hatinya ketika sepanjang acara, semua orang menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Ra' kamu udah berobat belum?" tanya Miska pada istri dari Rama Putra Tama itu.
"Berobat apa tante?" tanya Rara dengan wajah ingin tahu maksud pertanyaan mama dari Andika itu.
"Berobat kesuburan lah. Lihat Sovia sudah langsung tekdung begitu. Itu karena bibit dari keluarga Sebastian itu tokcer."
"Ah, gak perlulah tante. Entar juga dikasih sama Yang di Atas. Lagian kami berdua sehat kok." jawab Rara dengan tersenyum sopan.
"Eh, Rama itu tampan lho Ra' dan kaya lagi. Biasanya laki-laki itu mau secepatnya punya keturunan, hati-hati lho nanti dia cari yang lain." ujar Miska lagi dengan ucapan-ucapan provokasinya. Bibir Rara yang tadinya tersenyum langsung berubah sedih.
"Semoga saja tidak tante. Aku yakin mas Rama sangat mencintaiku." jawab Rara dengan rasa yang mulai meragu.
"Yah syukur deh kalau begitu. Cuma tante mau bilang aja ke kamu. Hati-hati saja. Kamu harus selalu membuat suamimu senang." ujar Miska sembari mengelus lembut lengan Rara.
"Makasih tante udah sangat perhatian sama aku." balas Rara dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Tuh mas Rama sudah pulang, aku ke sana dulu ya tante." Miska mengangguk dan mempersilahkan perempuan cantik itu pergi menjemput suaminya. Ia lalu melanjutkan acara bagi-bagi hadiah pada semua tamu yang datang.
"Kok rumah rame banget sih Ra'?" tanya Rama sembari melangkah ke kamarnya.
"Mas, tidak tahu ya? kalau keluarga Sebastian datang merayakan kehamilannya Sovia. Mereka membawa banyak hadiah dan makanan lho mas." ujar Rara antusias. Ia lalu membantu suaminya untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.
"Oh, kirain acara apaan." jawab Rama singkat.
"Lho, mas gak senang kalau Sovia sebentar lagi punya bayi? kalau aku sih seneng banget mas." ujar Rara wajah berbinar bahagia.
"Udah ah, aku mau istirahat." jawab Rama kemudian berbaring di atas ranjangnya.
"Lho, mas. Kok malah mau tidur sih, ayok sapa mereka kan gak sopan kalau kita tidak ikut berbahagia bersama para tamu di luar." Rara berusaha menarik tangan suaminya itu. Tapi Rama menepisnya dengan kasar.
"Aku capek Ra', seharian ini pekerjaan di kantor begitu banyak. Aku mau tidur dulu." ujar Rama sembari menutup matanya dan tidak menghiraukan Rara yang merasa sedih dan kecewa. Ia tak pernah diperlakukan kasar seperti itu oleh suaminya.
"Maafkan aku sayang." ujar Rama dalam hati. Ia berusaha menutup matanya tetapi isakan istrinya di balik punggungnya membuatnya berbalik kemudian memeluk perempuan yang sangat dicintainya itu selain mamanya sendiri.
"Rara sayang, maafkan aku ya?" ujarnya lembut kemudian mengeratkan pelukannya ketubuh istrinya yang bergetar karena semakin menangis.
"Ayok bangun, kita keluar. Kita sapa mereka." ujar Rama lagi karena istrinya itu tidak merespon malah semakin menangis semakin kencang.
"Aku angkat kamu keluar kalau kamu tidak dengar aku Ra'." perempuan cantik itu langsung bangun dan merapikan pakaiannya. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangannya kemudian tersenyum.
"Ayo mas, kita harus ikut berbahagia dengan kehamilan Sovia supaya bisa menular juga ke aku." Rama tersenyum, ini yang ia suka dari istrinya. Ia selalu bisa merubah moodnya dalam waktu singkat. Ia selalu ingin tampak bahagia di depan semua orang.
"Ayok cepetan, Nanti mereka semua pada pulang." ujar Rara sembari mendorong tubuh suaminya ke arah pintu.
__ADS_1
🍁
"Sini deh Ram, ikut gabung bersama kita-kita di sini." panggil Vita pada putranya. Rupanya yang sedang duduk di sofa melingkar itu adalah semua anggota keluarga Sebastian dan juga Todler.
Rama dan Rara ikut duduk diantara mereka semua. Mereka seperti biasa membicarakan hal-hal yang berbau bayi dan kehamilan.
Rama ingin berdiri karena matanya tak sengaja bertemu pandang dengan seorang pria tua yang sudah membungkuk karena usia dan penyakit yang dideritanya. Tangannya mengepal marah, hingga dengan sangat tak sopan ia meninggalkan ruangan itu tanpa basa-basi.
"Rama! mau kemana kamu?" tanya Gala yang merasa putranya itu tidak berlaku sopan pada semua tamu yang ada.
"Maaf Pa, aku ke kamar dulu."
"Kenapa Ram? kan baru gabung." ujar Miska sembari ikut berdiri.
"Mohon maaf aku belum bersedia se ruangan dengan seorang pembunuh." ujar Rama kemudian berlalu dari hadapan mereka semua yang menganga tidak percaya. Ia diikuti oleh Rara di belakangnya.
"Mas, aku bilang juga apa?" ujar Vita sambil berbisik di telinga suaminya. Hatinya juga sebenarnya sangat tak rela melihat Robby Todler itu ada di hadapannya. Meskipun itu sudah sangat lama berlalu dan juga si tua bangka itu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal tapi ia belum mau bertemu muka dengan sang pembunuh kakaknya.
"Aku bisa apa Vit? apa aku harus mengusir orang yang sudah tua dan tak berdaya seperti itu?" jawab Gala kemudian meninggalkan semua tamunya setelah berbasa-basi seperlunya. Mereka akhirnya mengurung diri di kamar sampai semua tamu pulang ke rumah masing-masing.
Sovia yang paling merasa tidak enak di sini. Karena kebahagiaan keluarga jadi berkurang karena kehadiran kakek dari suaminya. Ia hanya bisa menarik nafas panjang berharap keutuhan keluarganya tidak rusak oleh terbukanya rahasia besar tentang Om Tama Putra Raditya dan juga kakaknya Rama Putra Tama.
---Bersambung--
Dukung terus karya ini dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey???
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1