Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 115 Terima Kasih Untuk Semuanya


__ADS_3

Gala terbangun dengan perasaan kesal sisa dari semalam. Ia meraba sisi tempat tidurnya yang kosong dan dingin. Vita Maharani istrinya biasanya berada di sini menghangatkan ranjangnya tetapi kini ia tidak menemukannya.


"Kalo lagi sholat kan harusnya ia memanggilku dan kita bisa sholat berjamaah, " gerutu Gala dalam hati. Akhirnya ia sholat subuh sendiri kemudian turun ke dapur mencari Vita tetapi tak ia temukan juga. Kakinya ia langkahkan ke arah kamar Rama. Tanpa mengetuk terlebih dahulu ia langsung masuk dan mendapati istrinya masih tidur sedang memeluk Rama putranya. Rasa cemburu dan kesal muncul lagi dihatinya.


"Aku sampai ketiduran menunggumu semalam, dan eh enaknya berpelukan dengan orang lain." gerutunya lagi sembari menghampiri tempat tidur.


"Vit, bangun." Ia menggoyang-goyang lengan Vita yang masih terlelap.


"Vita sayang, sholat dulu." sekali lagi ia membangunkan dengan mengelus lembut wajah istrinya. Vita menggerakkan tubuhnya kemudian membuka kelopak matanya dan mendapati suaminya tepat ada di depan wajahnya.


"Mas, hemmmm." ujar Vita pelan kemudian menguap.


"Jam berapa mas?" tanya Vita berusaha mengumpulkan nyawanya.


"Udah hampir subuhnya lewat, ayo bangun."


"Iyyakah?, badan capek banget mas, jadi tidurnya kayak orang mati."


"Ayo buruan wudhu, keburu Sovia bangun." Gala seketika kehilangan rasa kesalnya. Ia merasa kasihan juga sama istrinya yang seharian mengurusi anak-anak dan dirinya sendiri. Vita pun bangun dan melangkah ke kamar mandi tetapi ia baru menyadari sesuatu. Langkahnya ia hentikan kemudian berbalik ke arah Gala suaminya.


"Mas, maaf aku ketiduran di sini." ujarnya merasa bersalah, ia baru ingat kalau semalam ia meminta suaminya itu menunggunya di kamar. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah imut. Gala tersenyum dibuatnya.


"Jangan menggodaku ya, atau aku akan melakukannya di sini." ujar Gala menyeringai yang membuat Vita langsung kabur ke kamar mandi sembari tertawa. "Setidaknya mas Gala tidak marah, semoga Malaikat tidak mencatat kesalahanku semalam." ujar Vita dalam hati dengan senyum samar.


Sementara itu di kamar Nyonya Mawar. Ia juga sedang melaksanakan sholat subuh sendiri. Lama ia duduk di atas sajadah sembari mendoakan putranya yang telah lama tiada. Rindunya pada Tama membuat hatinya menghangat. Air matanya mengalir dan menganak sungai di pipinya yang masih sangat mulus diusianya yang sudah tidak muda lagi.


"Ya Allah, ampuni segala dosa hamba, yang telah banyak membuat anak-anak hamba menderita selama ini." ujarnya di sela-sela tangisnya. Ia bersujud lama memohon ampunan sang kuasa dan meminta kelapangan pada kubur anak dan menantunya itu.


"Semoga Rama tumbuh menjadi anak yang Sholeh dan bisa memberatkan pahala kebaikan untuk orang tuanya di sana, Aamiin ya Allah."


🍁🍁🍁🍁🍁


Sarapan pagi yang begitu hangat di meja makan menandakan penghuni rumah sedang dalam perasaan yang sama yaitu bahagia. Ada banyak hal yang mereka syukuri pagi ini. Acara ulang tahun Rama berjalan dengan sukses dan menyisakan banyak kenangan lucu dan menggembirakan.


"Makasih semuanya atas partisipasinya mensukseskan acara pentingnya kakak Rama kemarin." ujar Gala berpidato singkat di meja makan setelah semua anggota keluarga menyelesaikan sarapannya.

__ADS_1


"Terima kasih mamaku sayang sudah jadi eyang putri yang baik untuk Kakak Rama dan Dedek Sovia." Gala menatap mata Nyonya Mawar dengan pandangan sayang. Nyonya Mawar mengangguk dan tersenyum.


"Sama-sama." jawab Nyonya Mawar dengan gerakan bibirnya tanpa suara.


"Terima kasih sayang udah mau repot bikin kue raksasa Tayo untuk kakak Rama." Gala mengecup pelipis istrinya lembut dihadapan semua orang yang membuat pipinya merona merah.


"Mas, malu." ujar Vita sembari menutup wajahnya dengan telapak tangannya. semua yang ada di sana tertawa melihat kemesraan mereka berdua. Deka yang kebetulan duduk berdekatan dengan Rama langsung menutup mata polos anak itu dengan jari-jarinya. Ia mengutuki Gala yang suka bebas mempertontonkan adegan dewasa di depan anak di bawah umur.


"Selanjutnya, terima kasih banyak untuk om Deka dan Tante Risma yang sudah sukses menjadi kepala keamanan pada acaranya kakak Rama." Rama langsung terbahak mendengar papanya menyebutkan kalimat itu.


"Om Deka hebat jadi kelapa keamanan hahahah." Rama sampai memegang perutnya tertawa ia membayangkan Om Deka memakai kostum inspektur Ladu Sing dengan kumis tebal dan berdiri di depan pintu sambil membawa tongkat di tangannya. Risma ikutan tertawa.


"Bukan kelapa sayang tapi kepala hihihi." Risma meralat ucapan Rama dan semuanya ikut tertawa kecuali Sovia yang terbengong-bengong dengan kelucuan yang tidak ia mengerti.


"Udah, bubar, nanti pada lambat ke Perusahaan kalau bercanda terus." ujar Nyonya Mawar mengingatkan. Ia segera berdiri dan menuju kamarnya untuk bersiap berangkat. Sengaja ia meninggalkan meja makan lebih cepat karena ia ingin menyembunyikan air matanya yang meleleh karena bahagia sekaligus sedih. Ia betul-betul merindukan Tama ada diantara kebahagiaan mereka tapi sayangnya hal itu tak akan pernah terjadi. Dunia mereka sudah berbeda.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hany datang ke Perusahaan dengan tergesa-gesa. Beberapa kali ia melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya karena merasa sudah sangat terlambat. Ia bangun kesiangan efek dari tidurnya yang terlalu lelap semalaman.


" Hany," sapa Ira Zerni sang manager di depan mesin finger print.


"Bisa kita bicara di ruangan saya sebentar." ujar Ira Zerni dengan pandangan tak biasa ke arah Hany.


"Eh iya Bu." Hany menunduk sembari memilin ujung kemejanya.


Setelah mengabsen kehadiran pagi itu. Hany melangkah ke dalam ruangan ibu Manager dengan tanda tanya besar di kepalanya.


"Semoga ini bukan karena Pandu." bisiknya dalam hati.


"Silahkan duduk Han." suara Ira terasa sangat dingin dan menakutkan di telinga Hany.


"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Ira to the point. Hany yang ditanya seperti itu langsung membuka mulutnya membentuk huruf O.


"Eh?"

__ADS_1


"Maksud saya pacar." Ira meralat pertanyaannya yang pada intinya maksudnya sama.


"Belum ibu. Saya ditinggal kawin Bu." jawab Hany cengengesan.


"Orang Kantor?" tanya Ira penasaran.


"Mantan orang sini Bu,"


"Siapa?"


"Eh, Ibu... haruskah saya ceritakan semuanya Bu?' tanya Hany dengan wajah ditekuk tapi sangat lucu bagi Ira. Ia berusaha menahan senyumnya.


"Saya cuma mau mastiin kamu itu masih free atau sudah sold out."


"Eh, maksudnya apa tuh Bu? emangnya saya barang?" tanya Hany tanpa sadar. Ira semakin lucu dibuatnya. Ia kenal Hany memang suka blak-blakan dan mungkin karena itu adiknya si Pandu itu kepincut dan berhasil move on dari Vita Maharani.


"Kamu udah kenal sama Pandu kan?" Hany Mengangguk, "Iya bu.'


"Nah itu, saya ingin menjodohkan kalian, mau kan?"


"Apa Bu?" tanya Hany dengan mata melotot karena kaget.


"Iya. Pandu suka sama kamu." jawab Ira santai. Hany langsung menarik nafas berat. Ia tak menyangka urusan perasaannya juga diatur oleh atasannya sendiri.


Nasib, nasib.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor, jangan lupa like dan komen ya setelah membaca.


Eh, beneran nih gak pada tertarik sama karya baru aku?


Yuks mampir dong ayang beb semuanya. dijamin oke punya lho.

__ADS_1


**Ex Mafia Hot Daddy by Bhebz**


Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍 😍😍


__ADS_2