
Pukul 4 sore setiap hari Sabtu Sarah akan mengikuti les menari setelah mata kuliah selesai. Seperti biasa ia selalu meminta Adam untuk menemaninya tetapi kali ini sepupunya itu sedang ingin pulang lebih cepat, katanya ia rindu sama adek kecilnya yang sudah pintar tersenyum.
"Uh, lebay, kayak gak pernah lihat bayi aja." gerutu Sarah dengan bibir manyun.
"Makanya kamu minta sama Om Gala dan tante Vita dong supaya dibuatin dedek lagi kayak aku." ujar Adam dengan senyum jahilnya.
"Ih, gak lucu. Mama sama Papa tuh tinggal nunggu cucu. Lagian aku pasti malu sekali kalau sebesar ini masih punya adek, iiii sereeem." jawab Sarah sembari bergidik ngeri kemudian turun dari mobil Adam. Ia memasuki sanggar tari itu dengan langkah cepat karena merasa sudah terlambat.
Bugh
Karena terlalu terburu-buru ia jadi tak melihat jalan dan menabrak seseorang di hadapannya.
"Eh, maaf kak. Aku tidak sengaja. Maaf ya?" ujarnya dengan tak enak hati. Pria muda itu hanya menatapnya kemudian tersenyum samar.
"Gak apa-apa, lain kali kalau jalan harus fokus biar gak celaka apalagi nabrak orang." ujar pria itu ramah.
"Makasih kak. Aku masuk dulu sudah terlambat nih. Permisi." ujar Sarah kemudian berlalu dari hadapan pria itu dengan langkah cepat. Ia tak sadar kalau pria itu terus menatapnya sampai ia memasuki sanggar.
🍁
Hari ini Rara sudah boleh pulang setelah dirawat selama 3 hari di rumah sakit. Ia sudah dalam keadaan fit secara fisik tetapi tidak bagi psikisnya. Ia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
Darah. Ya darah, ia takut melihat darah bahkan darahnya sendiri. Matanya seakan melihat ada darah di mana-mana. Hingga Rama jadi semakin bingung dan khawatir.
"Ra' coba deh cerita ke aku, apa sebenarnya yang terjadi hari itu?" tanya Rama dengan hati-hati, takut istrinya kembali histeris seperti yang sudah-sudah jika dokter mulai memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke kejadian tersebut.
Bagi Rama, ia pasti akan menanyakannya karena tidak punya cara lain lagi untuk mengoreksi informasi daripada cara yang ini. Ia harus melakukan pendekatan persuasif kepada istrinya agar teka-teki ini cepat terjawab.
"Hemm, aku selalu dihantui oleh ceceran darah segar itu mas, Hiks." ujar Rara kemudian menangis. Ia takut bahkan teramat takut. Tubuhnya kembali gemetar.
"Dimana kamu melihatnya, sayang?" tanya Rama lagi sembari mengelus lembut punggung istrinya.
"Waktu itu aku ke Valet untuk mengambil mobil dan berniat pulang tapi tiba-tiba di sekeliling mobil aku sudah banyak darah segar di sana. Seolah sengaja di letakkan di situ untuk menakutiku, mas." jelas Rara sembari menutup matanya rapat-rapat. Ia tak mau bayangan darah itu muncul lagi di penglihatannya.
__ADS_1
"Tapi kenapa orang brengsek itu selalu bawa darah, apa kamu dulunya memang phobia darah?" tanya Rama dengan wajah serius memandang istrinya. Rara mengangguk pelan.
Dulu ia pernah tidak sengaja melukai teman kelasnya dengan menggunakan pulpen. Hingga kepala temannya itu mengeluarkan darah yang banyak di depan matanya sendiri. Hingga saat itu ia paling takut melihat darah. Sampai ia dibawa ke dokter oleh mamanya selama satu bulan untuk diterapi barulah ia perlahan-lahan sembuh. Tetapi sekarang trauma itu kembali kambuh.
"Kamu harus ikut terapi lagi sayang. Dan aku pikir peneror itu pasti tahu kelemahanmu makanya ia selalu mengirim darah agar traumamu kambuh lagi." ujar Rama dengan sejuta praduga di hatinya.
"Sekarang kamu istirahat. Dan mulai saat ini, kamu sering-sering lah membaca ayat-ayat suci agar hatimu tenang sayang." ujar Rama kemudian mengecup kening istrinya lembut.
"Aku keluar dulu ya, jangan kemana-mana. Mama akan aku minta menemanimu di sini."
"Iyya mas." jawab Rara sembari tersenyum. Setelah keluar dari kamarnya. Rama segera menemui mamanya untuk minta izin keluar dulu sebentar.
"Mau kemana Ram?" tanya mamanya penasaran. Rama hanya tersenyum kemudian menjawab.
"Doakan aku ma, ada hal penting yang harus aku pastikan hari ini." ujar Rama sembari mencium punggung tangan mamanya.
"Iyya sayang, semoga semuanya baik-baik saja. Dan Rara juga segera sembuh."
🍁
"Makasih lho kak, udah mau nganterin aku sampai di rumah." ujar Sarah pada pria muda yang tadi ia tabrak di depan sanggar. Rupanya pria muda itu menunggunya sampai selesai latihan menari dengan alasan ingin berkenalan.
Flashback on
"Dek Sarah ya namanya?" tanya pria muda yang sempat ditabrak oleh Sarah tadi.
"Eh iya kak. Kok tahu namaku?" tanya Sarah bingung. Kenapa orang ini mengenalnya.
"Oh, siapa sih yang tidak kenal gadis cantik dan manis putri dari seorang Gala Putra Raditya."
"Kalau kakak namanya siapa?" tanya Sarah dengan rasa penasaran yang tinggi. Kenapa orang ini mengenalnya sebagai Putri dari Gala Putra Raditya.
"Apa perlu aku menyebut namaku?"
__ADS_1
"Tentu saja kak. Nama adalah sebuah identitas yang sangat penting." jawab Sarah dengan senyum di wajahnya.
"Aku Ahyan tapi orang lebih mengenalku dengan nama Iyan."
"Oh kak Iyan. Senang berjumpa denganmu kak." ujar Sarah gembira. kemudian ia melanjutkan, "Aku permisi dulu kak. Sudah sore sekali ini "
"Kamu bawa mobil?" tanya Iyan sembari menjejeri langkah Sarah.
"Tidak kak. Aku nanti pesan Grab aja."
"Eh, tidak usah naik Grab. Aku bisa mengantarmu sampai ke rumah mu." ujar Iyan menawarkan bantuan.
"Baiklah Kak, kalau kamu memaksa." jawab Sarah berusaha melucu.
"Eh, aku belum memaksamu ya." ujar Iyan sembari tersenyum samar.
"Anggaplah seperti itu." jawab Sarah meladeni tanggapan Iyan. Ia kemudian naik ke Mobil pria muda itu. Setelah dibukakan pintu oleh yang punya mobil.
Flashback off
Dan sekarang di sinilah ia di depan rumahnya bersama Iyan.
"Terima kasih banyak kak, gak mampir dulu?" ucap Sarah berusaha berbasa-basi. Padahal ia berharap sekali pria itu mau menolak undangannya. Sejak kakak iparnya mendapatkan teror dari orang yang tidak dikenal. Semua tamu harus melalui pemeriksaan yang cukup serius.
Iyan menatap sekeliling rumah mewah dan besar itu dengan ekspresi tak terbaca.
"Mungkin lain kali saja," ujar Iyan tersenyum. "Dah Rara ..." lanjutnya kemudian memutar setir kearah gerbang. Ia pergi dari sana dengan banyak ide di dalam kepalanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah yang sangat banyak agar aku tetap semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1