
Rumah kediaman Raditya semakin ramai dari hari ke hari. Bertambahnya anggota keluarga semakin menambah keriuhan dalam rumah besar dan mewah itu. Dua bayi yang lahir nyaris bersamaan membuatnya dinamai dua bayi super.
Acara syukuran aqiqah kedua bayi itu juga dilaksanakan di tempat dan waktu yang sama. Yakni di sebuah panti asuhan di kota itu. Keluarga besar Raditya ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yang tidak merasakan indahnya kebersamaan kebahagiaa dengan sebuah keluarga yang komplit.
Berbagai macam hadiah dan paket bantuan mereka bawa ke panti asuhan sebagai wujud rasa syukur atas lahirnya generasi penerus keturunan Raditya.
"Ini kembar ya Bu?" tanya seorang petugas panti yang menjemput rombongan keluarga besar Raditya. Ia sedang berhadapan dengan dua bayi mungil yang sedang digendong oleh dua perempuan berbeda.
"Tidak Bu. Ini Sarah putri saya, dan ini adalah putra pertama ibu Risma." jelas Vita singkat.
"Oh kirain kembar, mirip sih Bu yang satu cantik dan satunya lagi ganteng." ujar ibu itu lagi ramah dan membuat Vita dan Risma saling berpandangan dan tersenyum.
"Terima kasih, Bu. Mohon doanya semoga mereka berdua sehat selalu dan jadi anak yang Sholeh dan Solehah," ujar Risma.
"Aaamiin Alllohumma Aamiin." semua yang ada disana mengaminkan do'anya.
Mereka kembali ke rumah setelah rentetan acara pembacaan sholawat nabi oleh semua anggota keluarga beserta para anak yatim di panti asuhan itu.
"Mas, terima kasih sudah mau bawa kami ke tempat seperti ini." ujar Vita sesaat setelah rombongan mereka bertolak dari panti asuhan itu.
"Kenapa?" tanya Gala sambil menatap istrinya yang sangat cantik dengan balutan pakaian muslimah berwarna putih begitu pun putri-putrinya Sovia dan Sarah.
"Aku pernah mas merasakan yatim piatu meskipun waktu itu aku sudah besar. Tetapi kehilangan orang tua begitu menyakitkan mas, apalagi mereka yang masih sangat kecil atau bahkan ada yang baru lahir sudah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya." tanpa sadar ia menitikkan air mata. Bayangan Rama yang ditinggal oleh kedua ayah bundanya juga menari-nari di kepalanya hingga air mata yang sudah kering kini meleleh lagi.
"Iyya sayang, aku juga ikut bersedih. Papa juga meninggalkan kami untuk selama-lamanya saat aku berusia 16 tahun waktu itu. Untung Bang Tama sudah lebih dewasa ketika papa pergi sehingga ia bisa menghibur mama dan aku." ujar Gala menerawang mengingat masa-masa kesedihannya juga saat papanya meninggal dan mengakibatkannya jadi anak yatim.
"Sekarang kita harus banyak-banyak bersyukur atas nikmat Allah yang begitu banyak pada keluarga kita." ujar Gala lembut, ia mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan.
"Iyya mas. tapi aku rasanya pengen mudik mas, aku ingin bawa anak-anak kita berziarah di makam ayah dan ibuku." ujar Vita sembari menatap mata elang Gala.
__ADS_1
"Akan aku kabulkan, tapi Sarah saja masih merah begitu sayang, tidak aman baginya bepergian terlalu jauh, nanti ya kalau Sarah udah agak besar kita semua kembali ke kampungmu." ucap Gala menghibur kegundahan hati istrinya.
"Iyya mas. Terimakasih banyak." jawab Vita kemudian bersandar di dada bidang suaminya. Mobil pun semakin menambah kecepatannya untuk kembali beristirahat di rumah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kali ini kita akan mengintip kehidupan rumah tangga Miska dan Reno Sebastian.
"Ren, kamu gak ke kantor sayang?" tanya Ninick ketika melihat putranya itu masih malas-malasan di meja makan. "Malas ma, badan Reno pegel-pegel semua." jawabnya sembari meregangkan otot-ototnya.
"Kamu gak tidur nyenyak ya semalam?" tanya Ninick lagi kemudian memijit bahu putranya agar lebih rilex.
"Andika ma, rewel terus jadinya aku dan Miska terjaga sampai pagi." jawab Reno loyo.
"Kenapa gak manggil mama sih? Mama kan bisa bantuin." ujar Ninick tanpa menghentikan pijatannya.
"Miska gak enak ma, kan mama lagi istirahat masak digangguin hanya karena cucunya rewel gitu."
"Iyya ma subuh tadi baru bisa nyenyak. Kasihan Miska ikut tidak bisa tidur." jawab Reno dengan suara pelan.
"Wajar lah nak. Begitulah pengorbanan kedua orang tua saat merawat dan membesarkan anak-anaknya apalagi seorang ibu. Tidur dan makan sudah tidak seperti dulu lagi saat kita sudah mempunyai anak. Kasih sayang serta semua perhatian kita curahkan pada anak-anak kita." jelas Ninick dengan penuh kesabaran.
"Makan lah, biar mama yang lihat ke kamarmu." ujarnya sembari menepuk pelan bahu Reno. Ia kemudian melangkah menuju kamar Reno memastikan cucunya sudah tenang apa belum. Perlahan ia membuka pintu kamar dan melihat Miska sedang terlelap di samping Andika.
Ia menutup kembali pintu kamar itu dan menghampiri Reno yang sedang sarapan bersama Sebastian suaminya. " Papa, gimana kalau Andika tinggal di sini aja sama kita. Sejak Reno menikah rumah ini sepi." ujar Ninick sambil menarik kursi untuk ikut duduk dan bergabung untuk sarapan bersama.
"Jangan tanya papa dong ma, tanya sama orang tuanya. Mau ndak anaknya kita rawat di sini." jawab Sebastian santai sambil mengunyah nasi goreng buatan istrinya.
"Ren, kamu setuju tidak?" tanya Ninick lagi kali ini kepada Reno yang juga sedang menguyah nasi goreng spesial buatannya.
__ADS_1
"Aku sih setuju saja ma, nanti deh aku tanyakan sama Miska."
"Iyya kami tanya Miska. Tapi kasih alasan yang tepat supaya dia faham. Mama tahu tidak ada orang tua yang mau pisah jauh-jauh dengan anaknya tapi kan kalian harus pikirkan mama sama papa juga, Ren." Ninick menjelaskan dengan panjang lebar alasan dan keinginannya.
"Dan juga ingat, kamu harus nambah momongan supaya keluarga ini ramai. Dari pihak Miska kan anak tunggal dan Kamu juga anak tunggal masak Andika juga tidak punya saudara bisa punah keluarga kita Ren." lanjut Ninick dengan penuh semangat. Dua pria yang menjadi pendengar hanya manggut-manggut setuju pendapat sang nyonya Ratu.
"Lihat tuh Pak Gala Putra Raditya sudah punya anak tiga. Kamu juga usaha lagi dong yang keras." Reno dan papanya geleng-geleng kepala oleh ucapan nyonya ratu yang semakin ke sini semakin menunjukkan otoritasnya sebagai penguasa rumah.
"Mama kok bandingin aku sama Gala sih." ujar Reno mulai kesal. Ninick menatapnya tajam. " Mama hanya memberi satu contoh motivator. Bukan membandingkan. Mama yakin kamu cukup tokcer kalau hanya mencetak 2 atau 3 lagi saudara Andika." jawab mamanya tersenyum. Ia sengaja memancing Reno supaya semangat mencetak calon adek Andika supaya cucunya tambah banyak.
"Mama ah, tokcer tokcer kayak jamu kuat aja." timpal Sebastian dengan senyum menggoda seperti biasa.
"Lah iyya kan pa, Reno dulu cuma satu kali Miska langsung ngisi. Lah ini masak berkali-kali belum juga nambah." ujar Ninick membalas ucapan suaminya.
"Mama..." ujar Reno malu. Ia langsung berdiri dari kursinya. Dan berniat kembali ke kamarnya.
"Andika biar mama yang jaga, kamu ajak Miska ke kamar atas." ujar mamanya frontal.
"Astaga mama." Reno mendelik ke arah mamanya antara kesal dan malu dibuatnya.
"Ayo, kamu belum pernah kan nyetak di sini."
"Mama!" ujar Reno dan Sebastian kompak. Ninick hanya tersenyum penuh arti.
---Bersambung---
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang banyak supaya othor tetap semangat update nya okey.
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍