
Miska masih bekerja di Perusahaan TGR Global Company walaupun kehamilannya sudah mulai menginjak 4 bulan. Reno Sebastian suaminya dengan sangat sabar mengantar dan menjemputnya ketika pergi dan pulang bekerja.
Miska menghentakkan kakinya kesal karena Ekspresi Reno ketika bertemu kembali dengan Vita begitu memancing rasa cemburunya.
Miska memanyunkan bibirnya kesal. Sesampainya di atas mobil ia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Ia tak mau menatap Reno yang menatapnya bingung.
"Ada apa?" tanya Reno dengan suara pelan. Ia tahu Miska sedang kesal dan marah entah pada siapa saat itu jika dilihat dari tampilan wajahnya yang ditekuk.
Miska bertahan tidak mau menjawab. Ia takut kalau mengeluarkan suaranya ia akan ketahuan kalau lagi emosi tingkat tinggi apalagi air matanya yang sebentar lagi akan membobol pertahanannya.
"Gak baik ibu hamil marah-marah, nanti bayinya ikut suka marah," ujar Reno lagi sembari menghidupkan mesin mobil kemudian melajukannya membelah jalanan yang cukup ramai sore itu.
"Bodo amat!" jawab Miska ketus.
Miska Todler dan Reno Sebastian menjalani pernikahan mereka layaknya sebagai dua orang sahabat dan bukannya sebagai pasangan suami istri layaknya pasangan yang lain.
Reno selalu siap melayani dan melakukan apapun yang Miska inginkan wujud dari rasa tanggung jawabnya sebagai pelaku utama atas apa yang terjadi pada Miska sekarang yang sedang mengandung anaknya.
Sedangkan Miska menginginkan hal yang lebih dari itu. Rasa cintanya pada Reno belum berbalas seperti yang ia inginkan. Mereka berdua sekamar tetapi Reno bahkan tidak pernah mau tidur seranjang dengannya. Pria itu setiap malam masuk ke kamar ketika Miska sudah tertidur dan memilih sofa menjadi ranjangnya ketimbang tidur dengan Miska istrinya.
Miska selalu menangisi nasibnya yang sangat tidak beruntung tetapi ia tak mau memperlihatkannya pada orang lain. Ia ingin kelihatan baik-baik saja. Ia maklum perasaan suaminya itu tidak bisa ia paksakan toh kejadian ini karena kesalahan papanya sendiri yang telah menjebak Reno.
Ia sudah sangat bersyukur karena Reno mau bertanggung jawab dengan menikahinya dan bahkan sangat memberinya perhatian. Itu saja sudah cukup menurutnya.
Tetapi kali ini kesabarannya pada Reno sudah tidak bisa ia tahan, ketika melihat pria itu malah memberikan perhatian besar pada Vita di depan matanya, seseorang yang selalu pria itu inginkan menjadi istrinya dan bukannya dia sendiri.
"Kamu gak mau mampir sebelum kita sampai di rumah?" tanya Reno lagi karena sedari tadi Miska tidak merespon setiap perkataannya. Ia tak mau ibu hamil itu rewel di tengah malam minta ini dan itu di jam-jam istrirahatnya.
"Gak!" jawab Miska dengan suara ketus dan agak keras, sampai membuat Reno menurunkan kecepatan mobilnya bahkan menepikannya.
"Ada apa?" Reno meraih bahu Miska yang selalu membelakanginya.
__ADS_1
"Tidak apa, kita pulang saja." jawab Miska bertahan tidak mau memandang Reno.
"Yakin tidak mau apa-apa?" tanya Reno lagi masih dengan suara yang tenang.
"Aku bilang tidak ya tidak!" ketus Miska. Reno hanya menarik bibirnya tersenyum samar. Ia ingat pesan mamanya, kalau ibu hamil itu punya emosi yang sulit dimengerti kadang marah dan bahagia di waktu yang bersamaan.
"Aku ada pekerjaan malam ini, jadi aku mungkin gak bisa keluar kalau kamu butuh sesuatu," sekali lagi Reno memberikan penawaran.
"Sudah kubilang tidak apa, aku tak akan merepotkanmu." Suara kesal Miska begitu kentara kini. Ia bergetar menahan rasa sakit dihatinya.
"Baiklah, kita pulang kalau begitu" putus Reno seraya menarik nafas panjang kemudian melajukan kembali mobilnya menuju ke rumah orang tua Miska. Yah, mereka berdua memang tinggal di sana sekarang. Mamanya Miska belum rela berpisah dengan putri semata wayangnya dan tinggal sendirian, apalagi suaminya juga masih dalam tahanan atas kesalahannya telah menghilangkan dua nyawa sekaligus.
Sementara itu di dalam perjalanan pulang, Gala tetap berdiam diri. Ada rasa kesal dan marah yang bergejolak dalam hatinya. Sampai di rumah pun ia tetap tidak mengajak Vita untuk mengobrol seperti biasa.
Vita betul-betul merasa sangat aneh pada tingkah Gala padanya. Ia merasa tak hati jika didiamkan seperti itu. Ia lebih suka jika suaminya menggoda dan merepotkannya seharian asal jangan mendiamkannya.
"Mas, aku tidak nyaman lho kalau mas diam terus seperti ini," ujar Vita saat ia sudah menyiapkan makan malam dan Gala kembali menolak untuk makan bersama.
Vita tidak ingin berlama-lama tinggal di kamar berdua dengan suaminya yang sangat tidak mengacuhkannya. Ia melangkah keluar dari kamar menuju kamar mama mertuanya. Ia ingin bertemu Rama di sana.
Tok
Tok
Tok
Vita Masuk ke kamar Nyonya Mawar setelah terdengar suara dari dalam mempersilahkannya masuk.
"Ma, boleh gak Vita tidur sama Rama malam ini?" tanya Vita pelan, ia tiba-tiba rindu sekali dengan anak itu.
"Mama..." ujar Rama saat melihat Vita dan langsung masuk ke dalam pelukannya. Rupanya anak itu sedang mewarnai gambar di atas sebuah karpet bulu berwarna merah.
__ADS_1
"Boleh saja sayang, Rama juga kangen banget sama kamu tetapi mama selalu cari alasan agar tidak menggangu kalian berdua." jawab Nyonya Mawar dengan tersenyum senang.
"Suamimu mengizinkan bukan?" tanya Nyonya Mawar hati-hati. Ia tahu betul sifat putranya itu yang posesifnya minta ampun setelah menikah. Vita mengangguk sembari tersenyum.
"Rama mau kan bobok sama mama?" tanya Vita sembari menciumi pipi gembul Rama yang sudah lama ia rindukan.
"Ama mau ma..." Rama menjawab sembari mengangguk-anggukkan kepalanya lucu. akhirnya Vita membawa Rama keluar dari kamar itu dan menuju kamarnya bersama Gala. Tetapi ditengah jalan ia berhenti dan malah berbalik ke kamar almarhum mas Tama.
"Napa bobok cini ma?" tanya Rama heran. Anak itu sudah hafal dimana letak kamar mama dan papanya.
"Karena bobok cini enak Ndak kayak di sana." jawab Vita berusaha menirukan gaya bicara. Perlahan ia membawa Rama naik ke atas ranjang almarhum mas Tama kemudian mendongengkan sebuah cerita favorit Rama yaitu kisah persahabatan seekor semut dan Belalang.
Sembari menepuk-nepuk pantat Rama ia mengingat bagaimana kenangan malam itu bersama Gala di Kamar ini. Perasaan cinta dan hasrat yang cukup tersulut malam itu begitu mengganggu pikirannya. Ia rindu Gala. Tetapi mengingat bagaimana ia tidak diacuhkan ia jadi tidak mau beranjak dari kamar ini.
"Aku izin mas, mau tidur sama Rama malam ini, "Ujar Vita membatin. Ia tak ingin kembali ke kamar suaminya dan berakhir dicuekin.
Sementara itu, Gala yang masih sangat resah dengan pesan-pesan WhatsApp yang dikirimkan Miska membuatnya semakin gelisah di kamarnya.
Antara marah dan cemburu menguasai pikirannya. Ia marah kepada Reno sekaligus cemburu akan keakraban antara pria itu dan Vita istrinya.
Gala sudah membuat tembok tinggi dan juga sangkar emas untuk Vita agar ia tidak bebas bertemu dengan laki-laki lain. Apalagi yang punya hubungan masa lalu dengan perempuan itu tetapi kini ia justru takut ketika mendengar cerita Miska kalau Vita adalah cinta pertama Reno.
Dan kini tangannya malah bergetar marah saat melihat pesan Miska yang mengirim emoticon menangis. Ia bisa membayangkan bagaimana Reno sekarang memperlakukan Miska sepupunya.
"Aku harus ke sana sekarang juga," ujarnya geram menahan marah.
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai, jangan lupa like, komen, dan kirim hadiahnya yah...
Kamu yang masih punya jatah Vote kirim ke sini yah...
__ADS_1
Happy reading 😍😍😍😍😍