
Sebuah mobil mewah berwarna hitam dengan kecepatan sedang memasuki halaman luas kediaman Raditya yang membuat perhatian seorang anak kecil yang sedang dituntun bersepeda teralihkan.
"Papa..." teriak Rama saat melihat Gala Putra Raditya baru turun dari mobilnya. Ia yang sedang belajar bersepeda 3 roda di halaman depan Rumah kediaman Raditya itu langsung turun dari sepedanya dan berlari mendekat ke arah mobil yang baru berhenti itu.
"Papa..." Nafasnya terengah-engah karena berlari cukup kencang. Ia kelihatan sangat bahagia sekali.
"Den Rama jangan lari nanti jatoh," teriak Susan yang memburu di belakangnya dengan panik. Ia takut Rama terluka.
Gala merasakan hatinya menghangat. Ia yang selama ini jarang berinteraksi dengan Rama merasa hatinya tersentuh. Panggilan Papa itu membuat dunianya berhenti sejenak. Hanya dia dan Rama saja di sana.
"Papa..." panggilan Rama yang kesekian kalinya menariknya ke dunia nyata. Ia tersentak mendapati Rama sudah memeluk kakinya yang panjang. Ia kemudian berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Rama yang masih balita itu.
"Ada apa sayang," tanya Gala sembari menatap wajah Rama yang memamerkan giginya yang sudah penuh, putih, dan rapih.
"Papa, Yama mau punya adek kicil..." ujar Rama dengan aura gembira sembari menunjukkan ujung telunjuknya yang ia dempetkan dengan ibu jarinya pertanda kata KECIL.
"Hahahaha," Gala tertawa karena merasa lucu dengan ekspresi Rama yang menggemaskan.
"Kok kicil,..."
"Iyya Papa, kicil Cali..."
"Dimana adeknya sekarang?"
"Di cini..." Rama menunjuk perutnya kemudian tertawa sendiri kerana merasa geli.
"Bukan, menggelengkan kepalanya dramatis..."Adeknya ada di pelutnya mama...hahaha tapi kicil Papa..." Rama semakin tergelak karena Gala mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
"Awww...geli papa," suara Rama melengking keras memenuhi halaman yang luas itu. Gala menggendong sembari menggelitiknya.
"Papa penasaran sama adek kicilnya Rama, ayok kita lihat," ujar Gala tanpa menurunkan tubuh gembul Rama dari gendongannya.
Suara tawa bahagia Rama masih saja terdengar memenuhi sudut-sudut ruangan yang sepi dan lengang itu. Gala menurunkan tubuh gembul Rama dan bertanya sambil berbisik pelan,
"Mama dimana Hem?"
"Mama bobok cama adek," Rama balas berbisik.
"Dimana?"
__ADS_1
"Di acas di kamal Papa," Rama menunjuk kearah lantai atas di mana mamanya berada. Gala menarik nafas lega, karena istrinya itu mau kembali ke kamarnya dan tidak di kamar yang lain lagi.
"Ayok kita lihat mama,"
"Cidak mau, mama nanti mayah mayah cama Yama...Yama mau main cepeda lagi, dah papah.." Rama melepaskan diri dari pegangan tangan Gala. Ia berlari Keluar halaman yang diikuti oleh Susan di belakangnya.
Senyum hangat terbit dari bibir Gala. Ia merasa sudah menjadi papa sekarang sebelum anak kandungnya lahir.
"Bang Tama, Kak Gita semoga kalian bahagia di sana, putra kalian yang akan jadi kebanggaan Raditya kelak," ujar Gala pelan.
Deka yang sedari tadi mengikuti di belakang seperti sesosok bayangannya mengaminkan ucapannya.
"Aamiin," Gala menoleh dan baru sadar kalau Deka ternyata ada disana dan melihat interaksinya dengan Rama.
"Udah lama di sana?" tanya Gala kepada Deka.
"Hemm."jawab Deka singkat.
"Aku ke atas ya," Gala melangkah cepat menaiki tangga yang cukup panjang dan berkelok itu dengan hati riang dan ringan. Beberapa masalah sudah terselesaikan dengan baik. Ia cukup bersyukur Deka sang Asisten dan juga sepupunya itu selalu setia berada di sampingnya.
Langkahnya kini sudah berada di depan kamarnya. Ia ingin mengetuk tapi juga tidak ingin Vita terganggu. Akhirnya ia masuk saja dengan pelan. Di sana ia melihat Vita berbaring di atas ranjang dengan tenang. Gala melangkahkan kakinya mendekat memandang istrinya yang sedang tertidur dengan wajah polos.
Tangannya ingin menyentuh wajah cantik itu tapi ia urungkan. Teringat beberapa kali ia ditepis dan ditolak akhirnya ia melangkah menjauh dan menuju Walk in Closet untuk mengganti pakaiannya.
Ia takut kalau ia mendekat Vita akan menolaknya. Mamanya pernah bilang, terkadang bau suamipun akan sangat buruk di hidung istri yang lagi ngidam atau hamil. Jadi ia berusaha maklum. Ia akan menjauh sampai Vita sendiri yang memintanya.
Terdengar suara lenguhan dan pergerakan dari arah ranjang, Gala cepat-cepat menutup matanya pura-pura tertidur. Vita mengerjapkan matanya berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu di kamar itu. Kemudian ia alihkan pandangannya ke arah sofa dimana suaminya berada.
"Mas Gala kok tidur di situ sih?" gumamnya dalam hati. Ia sedikit kesal dengan cara Gala menghindarinya. Apa karena si Sashi Aurora ular betina itu? pikirnya dalam hati.
"Hem, baiklah. Aku akan lihat sampai dimana kamu bertahan mas," ujarnya pelan kemudian bangun dari tidurnya. Ia melangkah menuju Kamar mandi untuk membersihkan diri dan memulai rencananya.
Gala perlahan membuka matanya ketika mendengar suara pintu kamar mandi di buka dan ditutup. Ia bangun dari sofa itu dan melangkah ke arah nakas untuk mengambil air minum. Ia tiba-tiba merasa haus. Ia tenggak segelas air putih itu dengan rakus tetapi ternyata hausnya belum hilang saat ujung matanya menangkap siluet Vita yang melangkah melewatinya dengan pakaian yang sangat terbuka.
Vita Maharani perempuan berkulit putih mulus itu melangkah ke arah meja rias dengan hanya menggunakan piyama sutra tipis berwarna hitam. Potongannya yang cukup pendek itu berhasil menampakkan pangkal pahanya yang cukup menggoda imannya.
Gala menuang lagi air putih itu ke dalam gelasnya yang sudah kosong dan kembali meneguknya rakus. Ia merasa kepanasan di dalam ruangan yang sangat dingin itu.
Vita tahu ada yang merasa gelisah di sana seperti yang ia rasakan. Tetapi ia berusaha menahan dirinya. Ia ingin melihat seberapa besar usaha suaminya itu.
__ADS_1
Drrrrt
Drrrrt
Suara smartphone Gala yang terletak di samping meja riasnya membuyarkan rencananya selanjutnya. Ia memandang benda pipih itu sedang bergetar dan minta diangkat.
Tanpa Vita sadari Gala sudah menyambar smartphone itu dengan cepat bagai hembusan angin yang lewat di sekitarnya. Ia hanya sempat menghidu harum maskulin suaminya yang memenuhi seluruh indranya. Ia jadi merinding takut, jangan sampai ia yang akan kalah akan pesona suaminya itu.
"Ya Haloo,"
"Mama,?"
"Aku kesana ma," Gala menutup panggilan itu kemudian meninggalkan Vita yang merasa garing sendiri.
Ish
Vita menghentakkan kakinya kesal. Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Rasa dongkol semakin mendominasi dalam hatinya. Akhirnya ia naik ke tempat tidur dan memutuskan untuk tidur lagi padahal ia belum makan malam. Aaaa Bodo amat.
Gala baru kembali dari kamar mamanya setelah beberapa menit berlalu. Ternyata Nyonya Mawar memanggilnya menanyakan perkembangan kasus Cybercrime itu. Setelah itu ia dipaksa oleh mamanya kembali ke kamar menemui Vita untuk meminta maaf karena tidak menjemputnya tadi di rumah sakit.
Nyonya Mawar bisa melihat wajah Vita yang kurang bersemangat waktu pulang dari Rumah Sakit tadi. Sebagai Perempuan ia tahu kalau menantunya itu berharap suaminya lah yang menjemput dan mengurusnya.
Gala tersenyum senang saat kembali ke kamar. Ia langsung menghampiri tubuh istrinya yang sudah tertidur itu. Ia perlahan meniup kuping istrinya itu kebiasaannya ketika Vita lagi merajuk padanya.
"Vita sayang...huuuft," Gala meniup lagi dan lagi hingga menimbulkan sensasi geli pada kuping istrinya itu.
Vita membuka kelopak matanya dan mendapati wajah Gala begitu sangat dekat dengannya hingga ia bisa merasakan deru nafas suaminya itu.
"Maafkan aku ya? aku tidak sempat menjemputmu karena ada urusan dengan dalang penyerangan server kita, " bisik Gala lembut sembari menyentuhkan keningnya ke kening Vita. Ia menahan bobot tubuhnya dengan satu tangannya yang lain agar tubuhnya tidak langsung menindih ibu hamil di bawahnya. Vita tak menjawab ia hanya langsung meraup bibir suaminya itu dengan lembut. Ia tak ingin ada urusan lain yang menggangu hatinya sekarang. Ia tanpa sadar mengendalikan tautan bibir mereka. Hormon kehamilannya membuatnya lupa diri.
"Vita sayang, aku takut akan menyakitimu, " bisik Gala dengan suara serak menahan sesuatu yang ingin ia lepaskan. Kondisi istrinya belum pulih benar termasuk janin yang sedang dikandungnya. Ia takut kebablasan.
"Vit, kumohon jangan memancingku," ujar Gala sembari menutup matanya menikmati sensasi lain yang diberikan istrinya ini. Ia merasa terbuai akan keagresifan Vita yang lagi hamil muda itu. Akal sehat Gala untungnya mendominasi. Ia lepaskan dirinya secepatnya.
Vita menatapnya kecewa kemudian menangis. Gala jadi serba salah. Ia langsung menghubungi dr.Mega Risma, dokter yang menangani istrinya, ia ingin meminta pendapatnya akan situasi yang ia alami sekarang.
🍁🍁🍁🍁🍁
Othor penasaran kira-kira dokter cantik itu memberi solusi apa yak?🤔🙄
__ADS_1
Mohon dukungannya dengan cara tap Favorit, klik like, and ketik komentar, serta kirim hadiah dan Votenya.
Nikmati alurnya and happy reading 😍😍😍😍😍