
Adi Nugroho memasuki ruangannya dengan rasa bangga sampai di ubun-ubun. Tangannya sudah melepaskan tangan Adam yang sedari tadi ditariknya untuk mengikuti langkahnya.
"Lihat! aku sudah jadi asisten pribadi manager divisi ini. Ruanganku hanya berbatas dinding kaca ini saja dengan Pak Rama." ujarnya sembari tersenyum lebar.
Adam menepuk bahu sahabatnya dengan rasa bahagia juga. Ia ikut gembira dengan pencapaian yang telah didapatkan oleh pria yang begitu banyak berjasa padanya selama menempuh pendidikan di Cambridge.
"Selamat Di, kamu memang layak mendapatkan ini semua. Aku tahu kamu sudah bekerja sangat keras hingga sampai pada titik ini." ujar Adam tanpa mengurangi tarikan senyum dibibirnya.
"Di, kenalin dong teman kamu sama aku," ujar seorang karyawan perempuan yang baru saja datang.
"Kenapa tidak darling, ini namanya Adam, sahabat aku waktu di Harvard University, masih lajang dan sedang butuh pendamping, hahaha." ujar Adi sembari tertawa. Sekali lagi Adam hanya tersenyum.
"Hai Adam, aku Titan, senang berjumpa denganmu." ujar perempuan itu dengan senyum diwajahnya.
"Hai Titan," jawab Adam singkat.
"Sahabatmu oke Di, tapi sayangnya aku lebih suka sama kamu Di." ujar Titan dramatis. Ia bahkan berani merengkuh tangan Adi dengan posesif.
"Ish, Titan!" Adi melepaskan tangan perempuan muda itu dengan kasar. "Aku sudah bilang kan kalau hatiku hanya untuk Sarah seorang," jelas Adi sembari memberi tatapan tajam pada Titan.
"Sarah itu sebentar lagi jadi kekasihku, ngerti?" ujar Adi lagi yang langsung membuat perempuan muda itu pergi dari sana dengan menghentakkan kakinya kesal.
Pria itu kembali menatap Adam dan tersenyum,
"Biasa Dam, fans berat sama aku." ia tak menyadari kalau orang yang ia temani bicara sedang menahan emosi yang siap meledak.
__ADS_1
"Kamu lihat Sarah kan tadi sewaktu di lift. Aku udah mau nembak lho tadi, tapi keburu kamu masuk jadi yah aku akan cari waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku padanya."
Adam mengepalkan tangannya marah. Tetapi ia tak ingin membuat kekacauan di ruangan itu. Ia lantas pamit dari sana untuk meminta penjelasan pada Sarah, tetapi ia keburu bertemu dengan Rama Putra Tama sang manager yang baru memasuki ruangan itu.
"Nah, itu manager aku Dam. Pak Rama. Aku akan memperkenalkan dirimu padanya. Siapa tahu kamu ada rezeki keterima di Perusahaan besar ini." ujar Adi sembari membawa Adam ke depan Rama yang sedang menatapnya tak percaya.
"Dam? kamu ada di sini? udah lama?" tanya Rama dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan Adi tadi. Sedangkan Adi langsung menatap Adam dengan Rama bergantian.
"Pagi-pagi sekali aku datang bersama Papa ke sini, kak." jawab Adam tersenyum.
"Udah lama di negara ini? kok gak pernah ke rumah?" tanya Rama lagi kemudian menyuruh Adam untuk masuk ke ruangan pribadinya. Adi menatap Adam dengan rasa ingin tahu yang tinggi tentang hubungan sahabatnya itu dengan managernya sendiri.
"Nanti aku jelaskan." ujar Adam dengan gerakan mulutnya saja. Adi langsung paham dan meninggalkan mereka berdua di sana.
Sementara itu di ruangan Presiden direktur.
Setelah sekian lama tak berjumpa, Adam benar-benar berbeda. Penampilannya keren dan juga tampak dewasa serta dingin.
Oh ya ampun, tolong aku Tuhan. Aku tak sanggup bertemu pria itu sekarang. Aku bisa meleleh.
Untungnya Pak Presiden Direktur belum juga tiba di ruangan itu, jadi ia masih ada kesempatan untuk menenangkan hatinya.
Astaga Sarah apa yang kamu pikirkan! Adam hanya memintamu menunggu di sini bukan menunggu dalam hal yang lain, lagian ia kan sudah jadian sama Eci Karin.
Sarah kembali duduk ditempatnya dan berpura-pura sibuk dengan beberapa dokumen yang ada di atas mejanya ketika ia mendengar ada yang membuka pintu ruangan itu.
__ADS_1
Ia merasa sangat gugup, takut kalau yang datang itu benar-benar adalah Adam.
"Sarah!"
"Papa...eh Pak Presdir?" ujar Sarah tersentak kaget. Ia mendongak dan menatap papanya dengan intens. Lalu kemudian Ia pun bernafas lega, karena ternyata bukan Adam yang datang tetapi Papanya sendiri.
"Kamu Melamun ya?" tanya Gala pada sekretaris pribadinya itu karena Sarah seperti orang linglung.
"Tidak Pak, aku sadar. Ada yang bisa aku lakukan untuk bapak?" tanyanya dengan wajah kembali serius.
"Tanyakan pada tamu itu, apa yang ia cari di ruanganku." ujar Gala sembari tangannya menunjuk Adam yang ternyata sudah lama duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"A apa?" seru Sarah dengan suara tercekat tak percaya dengan penglihatannya.
Perasaan, aku baru saja duduk disini, kenapa Adam malah sudah ada di ruangan ini tanpa aku sadari?
Sarah tarik nafas, tunjukkan kalau kamu marah padanya, okey?!
Semangat!
Ia terus memberi semangat pada dirinya dalam hati untuk mengurai kecanggungannya sendiri. Sedangkan Gala tersenyum miring, dengan segala rencana di kepalanya.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍