Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 42 Pesonamu Menyesatkan


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Suara pintu dengan ketukan tak sabar menginterupsi kegiatan menyenangkan mereka berdua.


Vita Maharani segera melepaskan tautan bibir mereka. Wajahnya memerah karena malu. Ia memberi jarak pada tubuh mereka yang menempel sedari tadi. Tangannya bergerak merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan akibat perbuatan tangan nakal Pak GM.


Gala menarik Vita kembali ke pelukannya. Ia tak ingin melepaskan gadis ini lagi. Cukup sudah tahun-tahun berat yang ia lalui dalam kesepian.


Vita berusaha berontak karena ketukan pintu itu semakin kencang di luar sana.


"Sebentar saja, plis" bisik Gala pelan. Ia masih mau mencecap rasa gadis ini lagi dan lagi. Vita dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Gala agar pelukan itu terlepas. Dan tanpa mau melihat wajah Gala yang memohon ia lari bersembunyi ke ruangan pribadi sang bos.


Gala tersenyum miring melihat wajah malu Vita sembari merapikan rambutnya yang sedikit kacau karena ulah jari-jari lentik gadisnya tadi. Walaupun begitu ia rasanya ingin membunuh siapa saja di luar sana yang telah mengganggu kesenangannya.


Ia kembali duduk di kursi kebesarannya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu barusan meskipun bibirnya tak hentinya tersenyum karena senang luar biasa. Rasa manis dan kenyal dari Bibir Vita masih terasa dan terbayang-bayang.


"Maaf, pak mengganggu" ujar Deka membuyarkan lamunan Gala. Ia menatap tajam pada Deka karena jengkel luar biasa. Deka tahu sebentar lagi ia akan dikunyah habis oleh sang bos.


"Pak Robby Todler memaksa bertemu bapak" ujar Deka kemudian mengucapakan kata maaf sekali lagi lewat gerakan bibirnya. Ia sadar sudah mengganggu kesenangan sang bos.


"Persilakan masuk" jawabnya tegas. Robby Todler dengan wajah riang langsung menarik kursi dan duduk di depan Gala.


"Apa kabar Paman?" Tanya Gala sembari menyalami tangan Robby Todler.


"Seperti yang kamu lihat, paman sehat dan kuat" jawab Robby dengan ekspresi angkuh seperti biasa.


"Tumben mampir" ujar Gala langsung ke inti. Ia tak mau membuang waktunya dengan banyak berbasa-basi.


"Paman mau nengokin Miska sekalian mampir ke mari. Paman mau lihat ruang kerjamu" Jawab Robby Todler sembari memindai semua sudut ruangan Gala.


"Silahkan tapi jangan lama-lama paman, aku masih mau mengerjakan sesuatu" ujar Gala sembari membayangkan wajah Vita yang menunggunya di ruang pribadinya.

__ADS_1


"Kamu pintar bercanda nak. kamu tidak sedang mengusir paman kan?" Robby terkekeh pelan. Gala hanya memutar bola matanya jengah. Ia tahu pamannya yang satu ini pintar menjilat.


"Paman ke sini sebenarnya ingin membicarakan pertunanganmu dengan Miska"


"Urusan kerjaaan kita bisa bicarakan di sini paman, tetapi kalau mengenai pertunangan kita bicarakan di rumah saja"


Jedarrrr


Vita Maharani yang sedari tadi berdiri diam dibalik pintu yang sedikit terbuka di ruangan pribadi milik Gala seketika bagai terjatuh dari ketinggian langit ke tujuh.


Air matanya tanpa sadar meleleh membasahi pipinya yang mulus. Ia tak sanggup menahan Isak tangisnya. Dengan menutup mulutnya ia lari ke kamar mandi di ruangan itu.


Kecewa, sakit, dan malu hadir bersamaan menamparnya dalam balut kesedihan yang mendalam. Ia merutuki dirinya yang tanpa malu dan tidak terhormat menyerahkan dirinya ke dalam kenikmatan sesaat yang diberikan oleh sang General manager itu.


Berkali-kali ia mengusap air matanya kasar. "Aaaaaaa" hatinya berteriak marah. Padahal ia sudah tahu Gala sudah bertunangan dengan Miska tetapi kenapa ia masih mau saja kalah dan kalah berulang-ulang. Kalah akan rayuan hasrat besar Gala padanya. Sampai-sampai ia lepas kontrol.


Membasahi wajahnya dengan air dari kran, ia berharap ia mendapatkan kesegaran. Matanya tampak sembab karena menangis, belum lagi bibirnya yang masih kelihatan membengkak karena ulah Gala. Ia benar-benar kacau.


"Vit, kamu di dalam?" tanya Gala memastikan posisinya dimana sekarang.


"Aku dobrak pintunya ya, kalau kamu gak keluar" ancam Gala setelah lama menunggu. Ia cemas kenapa Vita lama sekali di dalam. Pintu pun terbuka tetapi Vita langsung berlari keluar dan tak ingin bertemu muka dengan Gala.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Gala yang berhasil menangkap tangan Vita.


"Lepas!" ujar Vita sembari menghempaskan tangan Gala hingga terlepas.


"Aku mau pulang" lanjut Vita lagi sambil berlalu mengambil tasnya dan keluar tanpa menoleh lagi.


"Aku antar" jawab Gala memburu kemana kaki Vita melangkah.


"Stop!" teriak Vita dengan suara melengking keras. Gala menghentikan langkahnya. Ia bingung akan sikap Vita yang tiba-tiba berubah drastis.


"Jangan ikuti aku, pak. plis!" ujar Vita memohon sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Okey" Gala mengangkat kedua tangannya menyerah. Ia akan diam dan tak akan memaksa. Ia hanya bisa memandang punggung Vita menjauh dengan ekspresi tak terbaca.

__ADS_1


Vita tidak tahu kemana kakinya melangkah yang ia tahu ia ingin sendiri. Meratapi dirinya yang sudah bertingkah diluar batas.


"Ya Allah, ampuni aku" gumamnya pelan dengan rasa sesal dan sesak yang meremas hatinya.


"Apa yang akan terjadi jika engkau tidak mengirimkan peringatan dari hambamu yang lain" ujarnya lagi mengingat tamu yang datang menginterupsi kegiatan mereka.


"Mungkin kami...aaaa lindungi aku ya Allah" Ia menunduk dengan sejuta penyesalan di dada.


Sementara itu, Di ruangannya. Gala Putra Raditya uring-uringan sendiri. Setelah kepergian paman Robby Todler ia masuk ke ruangannya dan tidak mendapati Vita disana.


Kekhawatirannya hilang saat tahu Vita ternyata ada di dalam kamar mandi. Ia takut gadis itu mendengarkan pembicaraannya dengan pamannya tentang pertunangan itu hingga salah faham. Ia berniat akan menceritakannya nanti pada Vita.


Tapi kini kenapa gadis itu bertingkah aneh, setelah apa yang sudah mereka lakukan tadi. Dengan cepat ia menghubungi seseorang agar mencari tahu kemana Vita berada sekarang.


"Sambungkan rekaman CCTV gedung ini ke Handphone ku sekarang!" ujarnya tegas kepada bagian operator Perusahaan.


Setelah beberapa menit, akhirnya ia bisa bernafas lega. Ternyata Vita sekarang berada di Daycare bersama Rama dari tampilan kamera 25 CCTV gedung TGR.


Ia tampak sudah ceria lagi bermain bersama anak itu.


"Kamu harus jadi istriku Vita, dan aku akan jadi papa dari anak-anakmu nanti" Ujarnya dengan pandangan menerawang. Ada senyum samar muncul dari ujung bibirnya. tiba-tiba ia ingin segera punya bayi dari gadis itu untuk menemani Rama nantinya.


"Pak..." suara Deka membuyarkan lamunannya. Ia berdecak sebal memandang Deka.


"Sekali lagi kamu menggangu kesenanganku aku pastikan dirimu keluar dari tempat ini dalam keadaan menjadi bubur ayam" geram Gala sembari mencengkram kerah kemeja Deka.


"Maaf, pak. tapi Ibu Presdir meminta bapak segera menemuinya sekarang" Ujar Deka membela diri.


"Kali ini kamu aman" Gala berdiri dari duduknya dan langsung menuju ruangan Presdir "TGR" Global Company.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, hai readers tersayang nya othor. aku udah double update nya.


Plis, jangan lupa kasih like, komen, n hadiah ya supaya aku tambah semangat.

__ADS_1


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2