Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 61 Ada Udang Dibalik Bakwan


__ADS_3

Gala Putra Raditya tersenyum samar saat membuka email dari Abdul Razak Accing Manager Maskapai G Group bandara Internasional SH. Disana tertera jelas data penumpang asal Kota J berangkat pada pukul 15.10 dengan tujuan Kota M tiba pada pukul 18. 40 atas nama Vita Maharani, perempuan usia 24 tahun.


"Got you!" ujarnya sembari menjentikkan jarinya. Dengan cepat ia membalas email itu dengan ucapan terima kasih serta menyertakan voucher menginap di Hotel TGR bersama keluarga dimana saja manager itu mau. sekedar informasi Hotel milik TGR ada di semua kota Di negara ini.


Gratifikasi


"No, maaf pembaca ini bukan gratifikasi ya" ujar Gala sembari menatap pembaca yang sedang menahan air liurnyaπŸ₯΄πŸ˜Ž


Ia bergegas menandatangani banyak dokumen penting yang sudah lama menumpuk dan berteriak minta disentuh oleh tangan dinginnya. Ada rasa lega dalam hatinya. Setidaknya Ia tahu dimana bisa menemukan pencuri cantik itu tetapi ia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu sebagai GM sebelum menjemput dengan paksa Vita Maharani serta Rama.


Rasa senang dan bahagia memenuhi relung hatinya hingga bibirnya tak bisa berhenti berkedut dan mengulas senyum merekah. Berkali-kali ia melipat bibirnya agar suara sorakan gembira tak meluncur keluar dari mulutnya.


Tubuhnya terasa ringan hingga jari-jarinya begitu indah menari di atas lembaran-lembaran dokumen itu. Ia mencoret beberapa laporan yang menurutnya tidak sesuai dengan prosedur kerja perusahaan. Rupanya otak cerdasnya masih berfungsi dengan normal. Hingga masih bisa menemukan kesalahan dalam beberapa dokumen yang sedang antri untuk ia periksa.


"Deka... Hubungi penanggungjawab Divisi HRD, sekarang!" teriak Gala menggelar seakan ingin meruntuhkan plafon ruangannya. Deka sampai terlonjak kaget dibuatnya.


"Hmm...aku kira orang jatuh cinta sudah kehilangan konsentrasinya" gumamnya pelan tetapi suaranya sempat tertangkap Indra pendengaran sang GM yang sedang bertanduk.


"Ngomong apa kamu!" Gala melemparinya dengan tatapan tajam.


"Siap tidak ngomong apa-apa Bos!" Deka segera menghubungi Risma Yanti penanggung jawab divisi HRD dan berharap gadis itu punya jawaban atas kesalahannya kali ini.


Tidak cukup Lima menit Risma Yanti sudah berada di ruangan General Manager.


" Selamat siang Pak" ujarnya takut-takut. Ia tidak tahu kenapa disuruh menghadap GM dengan waktu yang sangat sempit seperti itu. Ia melirik Deka yang juga kelihatan gelisah.


"Ada yang bisa kamu jelaskan tentang dokumen ini?" Gala melempar dokumen yang terbalut map folder berwarna merah itu dengan keras hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring di ruangan yang sepi itu.


Risma Yanti semakin ketar-ketir dibuatnya. Ia yang sudah bekerja di bagian HRD tidak pernah mengalami hal semacam ini. Semua urusan admistrasi Perusahaan ini cukup bagus di tangannya tetapi apa ini? ia dipanggil karena ada sebuah kesalahan besar yang mungkin tidak ia sadari.


Perlahan ia meraih dokumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar Ia tahu pak GM orang yang paling teliti dan sangat disiplin dalam bekerja. Ujung matanya melirik ke arah Deka seakan memohon bantuan dan untungnya sekretaris sekaligus asisten pak GM mengerti kerisauannya.

__ADS_1


Deka yang sedari tadi berdiri tegap di samping Gala perlahan melangkah ke arah Risma Yanti. Ia ingin memberi dorongan semangat dan kekuatan pada gadis manis ini.


Risma Yanti perlahan membuka lembaran demi lembaran dokumen yang berisi proposal permohonan tunjangan yang lebih besar dari para karyawan yang memiliki masa kerja lebih lama di Perusahaan besar ini. Walaupun Anggaran Dasar Aturan Rumah Tangga Perusahaan sudah memberikan undang-undang yang jelas terkait tunjangan tetap saja beberapa karyawan senior ingin memasukkan proposal ini melalui divisinya.


Risma Yanti menarik nafas panjang. Ia sudah berusaha mencari kesalahannya tetapi tidak menemukannya dalam dokumen ini. Bahkan coretan tinta merah yang biasa Pak GM berikan untuk mengoreksi pada bagian yang kurang pas juga tidak ia temukan. Semuanya bagus menurutnya.


Ia mendongak menatap Pak GM yang juga sedang memperhatikannya.


"Apa kamu menemukan kesalahanmu?" Tanya GM dengan nada tak biasa. Ada senyum samar terlihat dari bibirnya.


"Tidak Pak. Atau saya yang kurang teliti, maaf pak" jawab Risma Yanti menunduk.


"Kamu memang kurang teliti sampai memasukkan curhatan hatimu dalam dokumen itu!" ujar Gala yang langsung membuat ia kaget dan malu setengah mati. Pipinya langsung bersemburat merah. Walaupun ia masih bingung curhatan seperti apa yang dimaksud pak GM.


"Ini lihat!" Gala memberikannya secarik kertas yang ditulis tangan dan tidak begitu rapi. Risma menautkan kedua alisnya bingung.


"Maaf pak, tapi ini bukan tulisan tangan saya" Risma menyangkal setelah memperhatikan dengan baik bahwa itu memang bukan tulisan tangannya.


"Ini tulisan tangan dia" ujar Gala sembari menunjuk wajah Deka yang tiba-tiba berubah kaku bagai kanebo kering. Ia tahu betul tulisan tangan itu dan ia mencurigai sesuatu. Ada udang dibalik bakwan. Ada yang diam-diam disembunyikan oleh Deka sepupunya.


Karena sudah tertangkap basah akhirnya ia mengaku juga kalau ia yang menaruh kertas yang berisi pernyataan cinta kepada Risma Yanti kepala divisi HRD itu. Ia tak menyangka akan seteledor ini dan akhirnya ketahuan sama Gala sang bos yang juga merupakan sepupunya sendiri.


Gala ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi keduanya. Deka dengan tampang cuek tapi butuh sedangkan Risma Yanti wajahnya datar tak terbaca.


Demi menjaga wibawanya sebagai pimpinan. Ia memberi waktu bagi kedua orang ini untuk menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan ditempat lain bukan di ruangan kerjanya. Setelah keduanya keluar ia betul-betul tertawa sampai puas. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Deka ketika ditolak oleh Risma Yanti.


🍁🍁🍁🍁🍁


Reno Sebastian baru saja berkunjung ke tahanan Polda Metro. Ia mengunjungi Robby Todler untuk meminta tauliyah atau surat izin resmi memberikan hak perwaliannya kepada wali hakim atau petugas penghulu yang akan menikahkan putrinya dengan Reno Sebastian.


Ia bisa bernafas lega sekarang. Setelah mengantongi surat izin ini. Maka secepatnya tanggal baik akan dipilih untuk melakukan akad nikah sederhana. Kondisi Miska juga perlahan-perlahan membaik dan mengalami kemajuan pesat berkat perhatian yang ia berikan pada gadis yang menjadi korban kebejatannya sendiri.

__ADS_1


Ia tahu ia belum bisa mencintai Miska seperti apa yang gadis itu inginkan. Tetapi ia berharap waktu yang akan memberinya kesempatan untuk melupakan Vita Maharani dan menerima calon istrinya ini calon ibu dari anaknya.


Dengan langkah ringan Reno Sebastian mengunjungi kediaman Raditya. Ia ingin menyampaikan langsung pada Gala agar siap menjadi saksi pernikahannya dengan Miska pada hari Sabtu besok. lama ia duduk menunggu di ruang tamu barulah Gala muncul dengan menarik sebuah koper kecil.


"Hai, Ren udah lama?" tegur Gala ramah kemudian duduk di depan Reno yang diantarai oleh sebuah meja kaca besar.


"Baru saja. Eh, mau kemana kok bawa koper gitu" tanya Reno penasaran. Ia takut mengganggu kesibukan calon sepupunya ini.


"Aku sudah tahu dimana Vita Maharani berada dan aku ingin segera menemuinya" jawab Gala dengan wajah yang senang luar biasa.


"Dimana?" tanya Reno lagi. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang tiba-tiba sedikit nyeri mendengar Vita akan bertemu dengan Gala.


"Di kota M dan aku akan berangkat malam ini juga" ujar Gala mantap.


"Aku tahu dimana rumahnya Vita Maharani" ujar Reno pelan.


"Hei, sedekat apa kamu dengannya sampai tahu rumahnya di mana?" tanya Gala mulai gusar wajahnya berubah tidak ramah lagi. Reno hanya tersenyum lalu menjawab " Kami dulu sekolah di tempat yang sama dan...ah sudahlah" Reno mengibaskan tangannya berusaha mengusir kenangan-kenangannya tentang Vita yang ingin ia peristri. Gala menatapnya curiga.


"Bisa aku minta kamu batalkan keberangkatanmu ke sana?" Gala semakin curiga tetapi ia tidak menjawab.


" Aku akan menikah dengan Miska besok. Dan aku berharap kamu mau jadi saksi pernikahan kami" Gala akhirnya tersenyum. Ia bahagia akhirnya Miska menemukan kebahagiaannya.


" Aku akan memberikan alamat Vita yang lengkap sebagai imbalannya" ujar Reno dengan pandangan mata lurus ke arahnya. Gala menepuk bahu Reno santai. "Aku tak perlu imbalan seperti itu walaupun aku butuh. Kalian menikah saja sudah membuatku bahagia luar biasa"


"Baiklah aku akan berangkat setelah acara pernikahan kalian selesai" Mereka berduapun tertawa dengan renyah bersama.


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai, hai, readers tersayangnya othor...


Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5, favorit kalau belum trus Votenya juga dong. Hadiah sudah pasti ya buatku supaya semangat update nya.

__ADS_1


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2