
Hai readers tersayang, jangan lupa like dan komen yah
Selamat membacaπππ
πππππ
Deka Roland membuka pintu kamar presiden suite itu dengan wajah kusut dan kacau. Matanya tampak kuyu dengan rambut acak-acakan. Kemeja putihnya sudah sangat berantakan dan bahkan keluar dari celananya.
Penampilan nya yang selalu rapi dan necis kini sudah tak tampak lagi. Ada garis hitam di sekitar matanya yang tampak kuyu. Belum lagi bekas cakaran di pipinya yang mulus begitu sangat kontras. Membuatnya lebih mirip seorang prajurit kalah perang daripada seorang sekretaris pribadi seorang Gala Putra Raditya.
Matanya melotot kaget melihat sekumpulan para pemburu berita sedang berbaris rapi di depan pintu. Lampu Blitz kamera pun sedari tadi berkilat tanpa permisi.
Seorang wartawan perempuan sudah menodongkan mikrofon pertanda ingin mengajukan pertanyaan. Tetapi dengan secepat kilat ia kembali masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menguncinya.
"Kurang ajar!" geramnya setelah mulai sadar akan apa yang terjadi.
Flashback On
Shasi Aurora melangkah dengan penuh percaya diri. Tampilannya yang glamour dan cukup seksi mengundang banyak mata lapar seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Gaun panjang tetapi kekurangan bahan di pakainya untuk menonjolkan lekuk-lekuk rahasia yang seharusnya hanya bisa dinikmati oleh pasangan halal nya.
Semuanya ia ekspose kecuali yang paling intim. Bahu yang putih bagai susu. leher putih nan jenjang . Dua buah gunung kembar yang masih ranum. Paha putih diantara belahan gaun panjang yang seakan tak berguna menutupi apa pun.
Senyum cerah tak pernah lepas dari bibirnya yang merekah indah. Hatinya cukup puas karena berhasil memaksa Sang lajang paling diminati yaitu Gala Putra Raditya menjadi pasangannya pada launching produk baru di perusahaan nya sendiri.
Kedatangan Gala saja sudah merupakan kepuasan tersendiri buatnya, mengingat bagaimana seorang Gala tak pernah merespon dengan baik ajakan atau undangannya selama ini.
Dan kini ia bagaikan mendapat kan bulan dari langit. Gala Putra Raditya bersedia menjadi pasangannya pada acara ini. Sungguh diluar ekspektasi nya, dan ia harus memanfaatkan momentum penting ini.
Berjam-jam mematut diri di depan cermin memeriksa kembali penampilannya. Ia harus berhasil memikat Gala malam ini. Dengan cara apa pun.
"Okey ,fix!" ujarnya senang setelah menyemprot kan parfum jenis tertentu ke bagian yang paling intim dari dirinya. Ia menautkan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O dengan sangat puas.
Gala Putra Raditya di kerumuni para awak pencari berita ketika baru saja membuka pintu mobilnya. Ia turun dengan setelan jas berwarna hitam menambah aura ketampanan nya. Blitz berkilat menyambarnya tanpa izin.
Para pencari berita malam ini berusaha mencegatnya tetapi Deka Roland sang asisten berusaha menghalau mereka. Ia tak ada waktu untuk melayani pertanyaan para wartawan saat ini.
Shasi Aurora datang menyapa Gala Putra Raditya dengan senyum mengembang karena senang. Ia berusaha mendekatkan dirinya ingin bercipika cipiki tetapi Gala berusaha menahan diri. Ada raut wajah kecewa yang tiba-tiba muncul ditengah senyum bahagia nya tadi.
"Sabar, Shasi belum saatnya" bisiknya menyemangati dirinya sendiri. tangan nya meraih lengan Gala agar mereka bisa melangkah berdampingan menuju kursi VVIP di Gedung itu.
Gala tidak berusaha menampik tangan Sashi yang sudah berhasil terselip manja di lengannya. Ia tak mau mempermalukan sang tuan rumah. Hati Sashi bergirang senang.
"Oh, sok jual mahal kamu ya?" gumamnya dalam hati dengan lirikan menggoda.
__ADS_1
Setelah acara hiburan dari beberapa seniman ibu kota menyuguhkan berbagai macam pertunjukan menarik. Acara utama launching produk baru Indo inc. pun terlaksana dengan sangat baik.
Perjamuan malam malam mewah digelar sebagai salah satu rangkaian acara yang sekaligus menutup event besar tersebut.
Sashi tak berhenti menatap nakal wajah tampan Gala Putra Raditya. Ia menawarkan segelas anggur merah ke arah Gala dengan gerakan sensasional.
Pesta kaum atas hampir selalu menyuguhkan minuman beralkohol sebagai bagian dari adat penghormatan.
" No, thanks" Gala berusaha menepis gelas itu dengan mendorongnya pelan. Ia tak biasa meminum minuman seperti itu. Ia betul-betul menjaga kesehatan tubuhnya.
"Juice aja yah" Sashi menawarkan gelas baru yang berisi cairan berwarna kuning.
"Baiklah" Ujar Gala tidak ingin mengecewakan Sashi yang sibuk memberinya pelayanan khusus.
"Malam ini kita jalan yah?" ujar Sashi merajuk dengan suara dibuat selembut mungkin. Gala melihat waktu pada pergelangan tangannya. Waktu memang belum terlalu larut.
"Bersenang-senang sebentar tidak masalah" pikirnya dalam hati. Hatinya perlu di refresh ulang, terlalu full dengan nama Vita Maharani yang tak mungkin bisa ia gapai.
"Kamu mau kemana?" Tanya Gala sambil menyeruput minuman juicenya. Tampak Sashi menyeringai aneh dari balik gelas nya.
"Hemmm, gak usah jauh-jauh deh"
"Kita bisa ko' bersenang senang di sini aja" Sashi menggoyang-goyang gelas anggurnya dengan pandangan menggoda. Gala menyeruput kembali minumannya, Sashi semakin senang dibuatnya.
"Ikan sudah masuk dalam perangkap" bisik Sashi Aurora disela-sela giginya.
Berkali-kali Gala menggelengkan kepalanya karena rasa pusing yang tiba-tiba melanda.
"Hey, kamu kenapa?" tanya Sashi Aurora pura-pura polos. Ia mulai berani bergelayut manja di lengan Gala dan menyentuhkan kulitnya yang mulus ke tangan Gala.
"Kamu butuh istirahat sejenak" Bisik Sashi lembut di telinga Gala. ia hanya mengangguk dan berharap tidur atau berbaring sebentar akan meredakan rasa pusingnya. Ia mengikuti langkah Sashi menuju lift yang akan mengantarkan nya ke sebuah kamar presiden suite yang sudah di booking nya atas nama Gala Putra Raditya.
Di sudut sana Deka Roland yang merasa ada yang aneh dengan sepupu sekaligus bosnya langsung meninggalkan pembicara nya dengan salah satu kolega "TGR" Golbal Company. Ia mengikuti kemana Sashi membawa Gala.
Dengan mengendap-endap, ia berhasil menemukan kamar yang dituju oleh mereka. Dengan secepat kilat ia menghubungi resepsionis dan meminta salah seorang OB agar mengantarkan kunci duplikat dari kamar itu.
Jangan ditanya bagaimana Deka dengan mudahnya mendapatkan kunci kamar itu dengan begitu mudah. Hotel ini adalah salah satu milik "TGR".
Di dalam kamar.
Sashi berusaha melepaskan semua pakaian yang menempel pada tubuh atletis Gala.
Gala menurut saja karena memang ia merasa sangat gerah. Bulir-bulir keringat begitu tampak di wajahnya. Sedangkan rasa pening dan perasaan aneh lainnya semakin membuatnya tidak menyadari apa yang dilakukan Sashi padanya.
"Sabar sayang, kita akan melakukan nya dengan santai" bisik Sashi dengan pelan. Saat menyadari tangan Gala sudah mulai tidak terkontrol. Ia meninggalkan Gala yang sedang berusaha menahan hasratnya yang begitu menggebu-gebu. Ia butuh sebuah pelepasan.
__ADS_1
Sashi ingin mempersiapkan dirinya dengan sangat baik malam ini. Ia menuju kamar mandi dan memulai ritual membersihkan dan membuat seluruh tubuhnya nya wangi.
"Gala pasti bisa menunggu sebentar saja" gumamnya sambil membayangkan kegiatan apa yang akan dilakukannya bersama Gala.
Sementara itu, Deka Roland yang berhasil mendapatkan kunci duplikat kamar segera membuka pintu dan mendapati Gala sudah tidak mengenakan apa pun kecuali boxer yang masih terpasang manis di situ. ia dalam keadaan yang cukup mengerikan.
"Shi*iit!" umpat Deka dengan sangat marah. Rupanya ia telah kecolongan. Sashi sialan itu mau memperkaus sepupunya yang masih perjaka. matanya nanar mencari keberadaan Shashi tapi tidak ditemukannya.
"Rupanya perempuan sialan itu ada di kamar mandi" ujar Deka setelah mendengar suara dari sana. ia segera mengunci pintunya dari luar dan membiarkan Sashi ada di dalam sana sendirian.
"Rasakan kau, cewek Kunti" ujar Deka senang. Tapi kini ia tiba-tiba merasa takut akan pandangan Gala padanya. Ia mundur tapi Gala terus menyerempetnya. sekarang ketakutannya adalah ia yang akan diperkaus oleh Gala.
"Rupanya pengaruh obat perangsang ini tidak memandang bulu" ujar Deka kemudian lari dan dikejar oleh Gala. mereka saling kejar-kejaran di ruangan yang cukup luas itu.
Gala yang mempunyai tenaga bagai kuda efek dari obat perangsang itu tak berhenti menggapai dan memburu Deka.
Dimatanya Deka tampak seperti Vita Maharani pujaan hatinya. ia ingin memeluk dan mencium nya dengan penuh perasaan.
"Stop! aku tidak kuat" Deka terengah-engah.
"Masak sih kita mau main pedang-pedangan" Deka menggerutu kesal. Ia tak pernah membayangkan kalau ia betul-betul menyerahkan keperjakaannya kepada sepupunya sendiri.
"Hiiii" ia bergidik ngeri. Sedangkan di dalam kamar mandi suara Shasi berteriak histeris minta dibukakan pintu. Deka semakin pusing.
Ia segera menghubungi layanan kamar untuk dibawakan obat pereda nyeri dan juga es batu untuk Gala.
Setelah mendinginkan suhu tubuh Gala dengan es batu dan juga meminumkan obat, akhirnya Gala bisa tidur dengan tenang, ternyata obat yang diberikan Sashi bukanlah dosis tinggi.
Tugas selanjutnya menanti yaitu mengamankan Sashi yang masih histeris di dalam sana.
ceklek
Deka membuka pintu dengan perlahan, ia menemukan Sashi sudah tidak sadarkan diri dengan hanya menggunakan lingerie seksi.
"Hmmm, kau mempersiapkan diri dengan baik yah" matanya sempat melihat hal yang tidak seharusnya ia lihat.
Ia bernafas lega, rupanya si pembuat jebakan malah terjebak sendiri di kamar mandi.
Segera Deka membopongnya ke arah sofa dan menidurkannya di sana. Ia bingung bagaimana nantinya mengatasi dua orang ini. akhirnya malam yang panjang itu ia lalui dengan begadang sambil berjaga-jaga.
Flashback Off
Deka memandang tajam ke arah Shasi yang tertidur dengan pulas, semalam karena sudah terlalu capek berjaga. Akhirnya Deka mencekoki mulut Sashi dengan pil tidur, supaya ia tidak bangun sampai pagi.
"Beraninya kamu mengundang wartawan untuk meliput kejadian ini!"
__ADS_1
"Aku pastikan saat kau bangun, kau sudah lupa siapa dirimu!" Ancam Deka sambil menunjuk-nunjuk wajah polos Shasi yang mungkin sedang bermimpi ***'-***'.