
Gala menghampiri ranjang tempat Nyonya Mawar terbaring lemah. Rasa sedih kembali menyeruak dari dalam hatinya. Perlahan ia menyentuh tangan keriput mamanya, menciuminya dengan sayang.
"Ma, panjang umur ma. Maafin Gala yang masih sangat sibuk." bisik Gala lembut disela-sela tangisnya. Kembali ia mengutuki dirinya yang selama ini masih juga sibuk mengurusi perusahaan padahal sudah ada Rama sebagai penerusnya. Harusnya ia mulai menyisihkan waktu bersama mamanya dimasa-masa tuanya seperti ini.
"Mama, maafin Gala dan anak-anak." ujarnya lagi pelan.
"Ra ma..." gumam Nyonya Mawar tiba-tiba. Gala tersentak kaget, ia pikir mamanya sedang tertidur.
"Istirahat saja Ma, jangan mikirin yang dikatakan Rama. Itu tidak penting." ujar Gala cepat. Ia tak mau pikiran mamanya jadi terganggu lagi karena itu. Tangan mamanya segera ia raih kemudian ia elus lembut.
"Mama akan sembuh dan melihat cucu-cucu mama tumbuh besar dan menikah." ujar Gala menghibur. Pokoknya mamanya harus tenang dan berpikir yang baik-baik saja.
"Ga la," panggil Nyonya Mawar lagi dengan suara lemah. Alat bantu oksigen pada hidungnya membuatnya kesulitan untuk berbicara.
"Mama, sudah jangan bicara lagi kumohon, istirahat saja." ujar Gala semakin sedih. Tapi sepertinya Nyonya Mawar sedang ingin menyampaikan sesuatu karena ia sampai menggerakkan tangannya mencari tangan Gala.
"Ma..."
"Baiklah ma, bicaralah." ujar Gala pada akhirnya. Ia tahu mamanya sejenis orang yang keras kepala jika menginginkan sesuatu.
"Ma ma pu nya se su atu di ka mar ma ma. Ada di la ci di le mari pa kai an ma ma." ujar Nyonya Mawar dengan suara tersendat-sendat karena nafasnya begitu pendek -pendek. Gala tak tahan lagi, air matanya mengalir deras. Ia kasihan dengan penderitaan mamanya.
"Sudah ma, plis. Aku akan cari yang mama mau tapi kumohon jangan bicara lagi." ujar Gala berusaha memotong perkataan mamanya agar ia tidak melanjutkan.
"Pang gil kan Ra ma, Ma ma mau BI ca ra,"
"Iya, ma, Gala akan panggil kan Rama okey? tapi jangan bicara lagi." putus Gala cepat, kemudian ia segera bergerak keluar dari ruangan itu, mencari Rama yang sedang duduk di kursi tunggu bersama istrinya.
__ADS_1
"Ram, eyang putri memanggilmu, cepatlah masuk dan Ingat jangan ungkit tentang Reksadana." tegas Gala memberi ultimatum pada putranya. Matanya merah bukan karena marah tetapi air mata yang tak berhenti keluar. Tiba-tiba hatinya merasa tak ingin kehilangan mamanya secepat ini.
"Iya Pa, aku tidak akan membicarakan hal itu." ujar Rama kemudian segera masuk ke ruang ICU sambil tak lupa memakai pakaian khusus pengunjung dan juga sebuah masker.
"Mas, ada apa sama mama?" tanya Vita ikutan menangis. Hatinya menduga akan suatu hal yang buruk sampai suaminya menangis begitu.
"Do'akan mama cepat pulih." jawab Gala kemudian memeluk tubuh istrinya itu. Ia bagai seorang anak kecil yang sedang menangis, Ia butuh dukungan dan hiburan sekarang.
"Iya mas, Insyaallah mama masih panjang umur." ujar Vita menghibur.
"Aku ke rumah dulu ya, ada sesuatu yang mama suruh ambil di sana."
"Iyya mas, bentar lagi anak-anak menyusul kok kemari." Vita mencium pipi suaminya agar lebih tegar menghadapi semua ini. Ia tahu bagaimana rasanya dalam kondisi seperti ini. Apalagi ia juga sangat menyayangi ibu mertuanya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Hati-hati mas." ujar Vita sambil memandang punggung Gala yang semakin menjauh. Dalam hati Vita semakin penasaran dengan apa yang akan suaminya ambil.
🍁
Sementara itu di dalam sana, Rama duduk diam di samping Nyonya Mawar tanpa melakukan sesuatu. Ia hanya merapalkan do'a-do'a sebagai pengharapan dan juga penghiburan bagi dirinya sendiri yang merasakan kesedihan yang semakin dalam. Ia tak mau mengganggu istirahat eyang putrinya yang nampak kesulitan bernapas.
"Ra ma..." suara Nyonya Mawar yang lemah bagai gumaman membuat Rama tersentak. Rupanya eyang putrinya menyadari keberadaannya di sana.
"Iya eyang, Rama di sini."
"Ra ma sa yang." panggil Nyonya Mawar lagi dengan suara lemahnya.
"Iya eyang, tidak usah bicara eyang, Aku di sini tidak akan kemana-mana." bisik Rama ditelinga Nyonya Mawar. sebuah cairan bening mengalir dari pelupuk mata perempuan tua itu. Rama trenyuh melihatnya, ia segera menghapus air mata itu dengan selembar tissu yang ada di dekatnya.
__ADS_1
"Ma af kan e yang sa yang. Pa pa dan ma ma ka mu..." ujar Nyonya Mawar dengan suara tersendat-sendat. Nafasnya semakin pendek-pendek. Kalimatnya tidak jadi ia lanjutkan.
"Iya eyang, Aku maafin semua kesalahan eyang tapi kumohon jangan bicara lagi, Lagipula eyang juga tidak ada salah sama Rama." timpal Rama cepat, ia tak tega melihat kondisi eyangnya yang seperti itu. Begitu menderita. Air matanya sendiri sudah tak bisa ia bendung. Pecah mengalir membasahi pipinya, tapi ia sendiri menahan untuk tidak terisak. Takut perasaan eyangnya semakin terpuruk.
"Eyang diam dan ucapkan istighfar saja dalam hati ya, aku tak mau dengar eyang bicara." lanjut Rama sambil mengelus lembut tangan perempuan yang sudah melahirkan papanya itu. Hingga Nyonya Mawar diam kemudian kembali tertidur. Rama menarik nafas lega. Setidaknya ia tidak melihat eyangnya menderita untuk sementara waktu. Rama terus menuntun eyangnya membaca kalimat-kalimat istighfar dengan membisikkannya terus di telinga eyangnya sampai nafasnya kembali normal.
Sementara itu di kamar Nyonya Mawar. Gala meminta Sarah yang baru datang dari kampus untuk membantunya mencari sesuatu yang dimaksud mamanya. Ia takut karena terlalu tegang ia malah membongkar sembarangan.
"Cari di lemari pakaian Sar! katanya di bagian bawah." seru Gala pada Sarah karena ia sendiri mencari di lemari pakaian yang lain yang ternyata sangat banyak di dalam kamar itu.
"Bentuknya kayak apa sih Pa, supaya gampang nyarinya." tanya Sarah sedikit kesal karena capek mencari benda yang kita tidak jelas ciri-ciri nya seperti apa.
"Iyya ya, eyang putri juga tidak bilang seperti apa dan aku juga tidak bertanya. Pokonya cari aja benda yang mencurigakan, Hem." ujar Gala sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sarah langsung memutar bola matanya malas. Papa memang suka begitu, aneh.
Mereka berdua bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Kurang petunjuk hanya dengan modal semangat. Apalagi lemari pakaian eyangnya begitu banyak, mirip seperti butik.
"Yang ini bukan pa?" tanya Sarah setelah membongkar sebuah lemari antik dalam walk in Closet itu. Tangannya ia masukkan ke dalam sebuah laci yang sepertinya sudah lama tidak pernah dibuka. Gala segera menghampiri Sarah dan memperhatikan benda yang terdapat dalam sebuah amplop coklat.
"Hem, mencurigakan. Kayaknya ini benda yang eyang maksud." ujar Gala dengan senyum terkembang.
"Makasih Sarah, sekarang kamu siap-siap, trus kita bawa ini ke Rumah Sakit."
"Asyiap Pa." timpal Sarah semangat sembari mengelap keringat yang membasahi dahinya. Ia sampai kepanasan di ruangan ber AC itu gara-gara mencari sesuatu yang kurang jelas.
----Bersambung---
Hai hai readers tersayangnya othor, mana nih hadiah bunganya, like dan komentarnya juga...
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍