
Hembusan nafas lega saat melihat bangunan megah kediaman keluarga Raditya begitu terasa saat mobil yang ditumpangi Gala Putra Raditya beserta istri dan asistennya sudah menapaki halaman luas rumah itu. Wajah bahagia tampak begitu jelas di wajah Gala dan istrinya karena masih diberi kesempatan kembali ke rumah ini dalam keadaan sehat.
"Mama..." Rama berlari dari tangga lantai dua sembari meneriakkan nama mamanya. Ia ingin menubruk mamanya tetapi Gala segera meraihnya dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Ia takut anak kecil itu menabrak perut mamanya yang sudah jelas membesar dari waktu ke waktu.
"Papa... cuyun... ahahhahhahahaha" Rama menjerit-jerit karena lehernya diciumi oleh papa Gala.
"Yama mau cama Mama...aaaaa," teriak Rama lagi sambil sesekali tertawa karena merasa geli.
"Mas, nanti Rama gak nafsu makan kalau digelitikin terus," tegur Vita yang melihat Rama meronta kegelian. Gala akhirnya melepaskan putra abangnya itu dengan tak rela pasalnya ia suka sekali kalau Rama tertawa seperti itu.
"Mama...lama cekali pelgina..." ujar Rama sembari memeluk leher mama Vita sembari menggesekkan hidungnya di sana.
"Yama linduuu cekali...," hati Vita menghangat karena bahagia dan nyeri bersamaan. Sekali lagi rasa sesal menyeruak ke dalam hatinya karena akhir-akhir ini ia cukup berjauhan dengan Rama belahan hatinya yang ia rawat sejak masih berusia 6 bulan.
Vita menciumi seluruh permukaan wajah Rama dengan gemas, ia juga sangat rindu dengan anak ini, tetapi keadaan dirinya yang sudah menjadi milik Gala seutuhnya membuat waktunya berkurang untuk putra Kak Gita ini.
"Yama mau bobok cama Mama," ujar Rama merajuk tanpa melepaskan pelukannya ke tubuh mama Vita.
"Iyya sayang, malam ini kita bobok sama-sama," Vita menyanggupi permintaan Rama sembari memandang wajah Gala yang sedikit berubah masam.
"Mas, aku tidur sama Rama ya?" ujar Vita meminta izin pada suaminya. Gak mengangguk tanda mengizinkan.
"Di kamarnya, tepatnya kamar bang Tama," tambah Vita yang langsung membuat Gala mendelik tidak setuju.
"Kenapa tidak di sini aja sih, sayang." tanya Gala mencoba bernegosiasi.
"Rama kan tidurnya di sana, jadi aku ikut, mas bisakan tidur sendiri dulu di sini."
"Gak, aku ikut kalian." jawab Gala tegas, mana mau ia tidur tanpa bersama istrinya itu bisa-bisa ia tidak bisa nyenyak. sejak menikah ia punya mainan baru yang bisa membuatnya tidur nyenyak tanpa segelas susu putih terlebih dahulu. mainan yang menjadi favorit dan candu baginya.
"Okey mas, tapi jangan ganggu waktu kami ya," ujar Vita memperingatkan.
"Siap sayangku," jawab Gala dengan senyum menggoda. Akhirnya malam itu mereka bertiga tidur lagi di kamar mendiang bang Tama yang sekarang resmi ditempati oleh Rama putranya. Sebenarnya ada banyak kamar di rumah itu yang cocok untuk Rama tetapi Nyonya Mawar merasa putranya itu perlu dibiasakan bersama dengan kenangan-kenangan dari papanya supaya kedekatan emosionalnya bisa terjalin walaupun mereka sudah berpisah dan tidak akan mungkin bertemu lagi.
Gala memperhatikan interaksi Vita dan Rama dengan senyum yang terus mengembang. Ia duduk di sofa menyimak pembicaraan anak dan mamanya itu di tempat tidur.
__ADS_1
"Mama..."
"Hem, ada apa sayang,"
"Kalau dedek cudah celual dali cini, " sambil mengelus pelan perut Vita, Rama melanjutkan, " mama macih cayang ma Yama?" ia memandang ke atas ke wajah Vita yang tersembunyi teduh.
"Tentu saja sayang, mama tambah sayang sama Rama, karena Rama sudah jadi Kakak, bisa menjaga dedek,"
"Ceyus, kalo Yama cuka nyayis mama cidak mayah kan?"
"Tidak sayang, Rama jangan suka nangis dong nanti dedeknya juga suka nangsi,"
"Rama anak kuat kan,?" Rama mengangguk kemudian menguap tapi sepertinya ia masih ingin bicara banyak hal.
"Nah, kita bobok yah, supaya Rama bisa cepat bangun pagi," Rama menggeleng ia masih mau berlama-lama bersama mamanya dalam pelukannya. walaupun tidak seperti dulu karena perut mamanya menghalangi tubuh kecilnya menempel pas dengan Vita.
"Celitakan dongeng ma, eyang utiliti biaca baca dongeng cebelum bobok," ujar Rama sambil menguap. Vita tersenyum kemudian meminta Rama untuk membaca doa sebelum tidur terlebih dahulu takutnya dalam perjalanan mendongeng Rama sudah jatuh tertidur.
"Bismillahirrahmanirrahim, Bismika Allohumma ahya wa bismika amuut, aamiin,"
"Mmm anaknya mama pintar banget, mmuahh," Vita menciumi leher Rama sampai ia terkekeh geli.
"Ini kisah tentang Seekor bangau yang sombong, suatu hari ia berjalan dengan langkah yang anggun di sepanjang sebuah sungai kecil, matanya menatap air sungai yang jernih, leher dan paruhnya yang panjang siap untuk menangkap mangsa di air sebagai sarapan paginya. Saat itu, sungai dipenuhi dengan ikan-ikan yang berenang, tetapi sang Bangau merasa sedikit angkuh di pagi hari itu."
"Ceyus, bangaunya cenapa,"
"Saya tak mau makan ikan-ikan yang kecil," katanya kepada diri sendiri. "Ikan yang kecil tidak pantas dimakan oleh bangau yang anggun seperti saya."
"Sekarang, seekor ikan yang sedikit lebih besar dari ikan lain, lewat di dekatnya."
"Tidak," kata sang Bangau. "Saya tidak akan merepotkan diri saya untuk membuka paruh dan memakan ikan sebesar itu!"
"jadi bangonya mamam apa ma," tanya Rama penasaran. Vita belum menjawab karena ia merasa ada pergerakan di belakangnya. Gala sepertinya naik keatas ranjang dan mulai menelusupkan tangannya ke dalam pakaian tidur istrinya mencari benda favoritnya. Ia berusaha tidak terganggu dan melanjutkan dongengnya.
"Saat matahari mulai meninggi, ikan-ikan yang berada pada air yang dangkal dekat pinggiran sungai, akhirnya berenang pindah ke tengah sungai yang lebih dalam dan dingin. Sang Bangau yang tidak melihat ikan lagi, terpaksa harus puas dengan memakan siput kecil di pinggiran sungai."
__ADS_1
"Nah begitulah ceritanya sayang, cerita ini mengajarkan kita untuk tidak bersikap angkuh ya sayang," ujar Vita mengakhiri tetapi Rama sepertinya sudah tertidur karena ia sudah tidak bereaksi dan dengkuran halusnya pun sudah mulai terdengar.
"Vit," bisik Gala dari belakang telinganya. Ia tahu suaminya itu menginginkan sesuatu merasai tangan besarnya itu sudah mulai bergerilya kemana-mana.
"Mas, ada Rama di sini," jawab Vita tanpa membalikkan badannya. Ia tetap memunggungi suaminya itu dan menghadapi Rama yang sudah terlelap.
"Aku juga mau dongeng sayang, selama ini aku tidak pernah dengar kalau kamu bisa baca dongeng," ujar Gala masih berbisik di kupingnya yang membuatnya meremang. Ia menggeliat pelan agar bisa lebih bebas dari kungkungan suaminya itu.
"Mas, jangan modus ya, aku tahu mas bisa tidur tanpa dongeng,"
"Tapi malam ini aku juga mau dongeng kayak Rama, boleh ya?"
"Ish, mas kayak anak kecil," jawab Vita yang kemudian membalikkan badannya dan memandangi suaminya itu dengan tersenyum.
"Vit," ujar Gala memohon. Bukan dongeng sebenarnya yang ia inginkan, ia hanya ingin menatap bibir istrinya itu saat berbicara padanya.
"Mas,.."
"Hem,"
"Tidur yah, aku tidak punya dongeng untuk orang dewasa,"
"Kalau adegan untuk orang dewasa, ada?"
"Mas,..baca do'a tidur dulu dua pulih kali baru ada," ujar Vita memberi alasan walau ia tahu ia tak akan bisa menghindar dari keinginan suaminya itu. Dengan semangat Gala membaca doa yang di perintahkan istrinya itu sampai ia sendiri terlelap dalam pelukan suaminya itu. Serasa ialah yang dibacakan dongeng oleh suaminya itu. Gala mendengus mendapati istrinya sudah nyenyak dalam pelukannya.
"Hahahaha Gala suka modus sih, gak dapat kan?" othor tertawa jahat dari sini.
🙄🙄🙄🙄😬
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, hai readers tersayangnya othor, dukung terus karya ini ya gaess, dengan cara klik like, ketik komentar, dan kirim hadiah yang banyak, bunga and kopi juga boleh...
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1
Sambil menunggu update berikutnya, yuks kepoin karya teman aku, dijamin bagus kok.