Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 142 Rahasia Si Gadis Kriwil


__ADS_3

"Sovia!" sebuah suara nyaring membuat dua kakak beradik yang sedang jalan di pelataran parkir Mall MP itu langsung menghentikan langkahnya.


"Ada yang manggil tuh kak," ujar Sarah pada kakaknya yang sedang komat-kamit mengikuti alunan lagu K-Pop favoritnya.


"Kak, Sovi!" teriak Sarah sembari memukul bahu gadis itu yang sama sekali tidak memberi respon.


"Ada apa sih sampe mukul gitu." gerutu Sovia sedikit kesal kemudian melepaskan headset di kupingnya.


"Kenal gak sama cewek itu, dari tadi manggil-manggil kakak." tunjuk Sarah dengan dagunya melihat seorang gadis kriwil jingkrak-jingkrak tak jelas dihadapan mereka berdua.


"Sovia kan?" tanya gadis itu sambil menyipitkan matanya ingin memastikan gadis yang ia panggil tadi benar-benar Sovia. Teman masa kecilnya.


"Iyya aku Sovia." jawab gadis cantik itu dengan wajah heran.


"Kamu gak kenal aku lagi? aku Rara ingat?" jawab gadis kriwil bernama Rara itu sembari mengedip-ngedipkan matanya lucu.


"Ahai iya aku ingat!" teriak Sovia sambil memandangi teman masa kecilnya itu dari atas sampai ke bawah.


"Tapi, kamu benar Rara kan? kok kucel banget." ujar Sovia ragu.


"Jangan percaya kak, jangan-jangan gembel yang lagi nyamar." bisik Sarah dikuping kakaknya. Sovia mengangguk setuju.


"Buktikan kalau kamu Rara teman aku."


"Rambutku Ini Sovi masak tidak kamu kenal sih. Hanya aku yang punya rambut seperti ini di dunia ini." ujarnya bangga.


"Ish, rambut kusut kayak indomi goreng gagal itu aja bangga." ujar Sarah mencibir.


"Kalian gak percaya?" tanya Rara lagi gemas seperti ingin meremas udara. Padahal mamanya sudah memberi ia motivasi kalau ia makhluk istimewa, gampang dikenali karena spesial.


"Nih!" Rara menyodorkan handphone nya yang berisi percakapan mereka berdua lewat WhatsApp. Setelah pertemuannya beberapa tahun yang lalu di pesta pernikahan Tante Hany mereka saling bertukar nomor dan akhirnya bersahabat meskipun hanya di dunia maya. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah dewasa karena Rara harus ikut Granny nya ke Luar negri.


"Nah sekarang kamu percaya kan?" tanya Rara dengan senyum cerah melihat Sovia terpana akan ribuan chatnya yang tidak pernah di hapus oleh gadis di depannya ini.


"Rara!" Sovia akhirnya memeluk gadis itu sangat erat sampai Rara terbatuk karena pelukannya terlalu kuat.


"Eh, sorry, maaf aku gak percaya ini kamu. Habisnya kalau kamu kirim foto selalu nampak cantik sih tapi kok sekarang beda banget ya," Sovia menilik kembali penampilan sahabatnya itu dengan perasaan aneh.


"Kamu lebih mirip pengemis deh." Rara langsung tertawa terbahak-bahak dengan asumsi temannya ini.


"Tapi aku suka tampil kayak gini, lebih nyaman tau gak."

__ADS_1


"Iyya kamu nyaman tapi orang lain yang tidak nyaman sama kamu hellow?"


"Gak papa yang penting kamu akui aku sebagai temanmu hahaha."


"Hei kenalkan ini adik aku Sarah. Yang sering aku ceritakan itu."


"Hai Sarah, senang bertemu denganmu."


"Hai juga Kak Rara."


"Btw. Kamu ngapain di sini? eh kapan kamu tiba?" tanya Sovia dengan dua pertanyaan beruntun.


"Cuma mau jalan aja sih. Bosan tinggal di rumah. Jadinya aku kesini cari inspirasi."


"Cih. cari Inspirasi kayak sastrawan aja." cibir Sovia lucu.


"Eh, aku emang sastrawan lho."


"Buahahaha." Sovia dan Sarah saling berpandangan kemudian tertawa berbarengan.


"Oke, kami pura-pura percaya biar kamu senang, okey?" ujar Sovia dengan menahan tawanya lagi.


"Hah! Pede ya minta ditraktir."


"Ya iyalah kalau gak Pede itu kita gak bisa hidup." ujar Rara Kemudian menarik tangan Sovia dan Sarah memasuki sebuah restoran yang terdekat dengan posisi mereka saat ini.


"Orang Indonesia itu ramah-ramah lho. jadi jangan jutek gitu dong kalau aku minta traktir."


"Ih siapa yang jutek, silahkan makan yang kamu mau sampai kamu kenyang. Pesan apa saja."


"Apa saja?" tanya Rara antusias.


"Iyyalah. Sebagai Wellcome meal gitu."


"Makasih yah, aku akan pesan semua yang ada dalam menu ini."


"Perut kamu muat Ra?"


"Iyalah sekalian kasih makan peternakan cacing dalam perutku. Sudah lama mereka puasa. Di LN itu mereka cuma makan roti setiap hari jadi mereka bosan."


Pesanan Rara pun datang. Gadis itu langsung makan dengan lahap seperti tak pernah makan selama sebulan. Sarah menatap kakaknya karena risih dengan tingkah Rara yang makan seperti itu.

__ADS_1


"Pelan-pelan Ra." ujar Sovia mengingatkan.


"Hem." jawab Rara sembari mengunyah dengan cepat. Setelah makan dan bersendawa. Ia pun pamit dengan cepat seolah-olah sedang diburu oleh seseorang.


"Makasih ya Sovi, nanti aku hubungin ya, aku lagi buru-buru nih." ujar Rara kemudian dengan gerakan cepat ia langsung menghilang dari hadapan dua gadis yang terbengong-bengong dengan kejadian yang baru saja terjadi.


"Itu beneran teman kak Sovi?" tanya Sarah dengan wajah cengo.


"Iya sih, aku juga merasa yang tadi itu makhluk jadi-jadian deh. Bukan Rara yang sebenarnya." jawab Sovia dengan wajah tak kalah cengo dari adiknya.


"Maaf mba, gadis yang makan tadi disini, kemana ya?" tanya seorang pria besar berkacamata hitam lengkap dengan stelan jas hitam yang membalut tubuhnya yang tinggi kekar macam seorang bodyguard pada umumnya.


"Udah hilang pak." jawab Sarah cepat.


"Hilang bagaimana?" bentak pria itu dengan suara mengintimidasi.


"Ya mana kami tahu. Tiba-tiba aja gitu menghilang." jawab Sarah cuek.


"Awas ya gadis kecil!" gumam pria itu dengan menggeram marah.


Sementara itu Rara yang masih di lokasi restoran itu sedang bersembunyi di balik pot besar berisi tanaman pohon palem menarik nafas lega. Ia sengaja cepat kabur dari dua orang temannya itu karena ia melihat seseorang yang selalu mengikutinya kemana pun ternyata ada juga di sana sedang memantau pergerakannya.


Orang itu adalah suruhan seorang keluarga bangsawan yang telah menjodohkannya sejak masih kecil dengan seorang cucunya yang tidak pernah Rara inginkan. Itulah kenapa ia selalu tampil urakan dan tidak sopan dengan harapan perjodohan itu akan gagal mengingat keluarga laki-laki itu selalu memandang status sosial dan penampilan terhormat calon menantunya bak putri raja.


"Hari ini aku selamat, tetapi bagaimana dengan besok?" gumamnya dalam hati sambil melangkah keluar dari Restoran itu. Otaknya ia paksa untuk berpikir mencari jalan keluar atas masalah yang dihadapinya. Sampai tak sadar ia menabrak mobil yang sedang mengatur posisi untuk parkir di depannya.


"Ini semua ulah granny yang sok-sokan kepingin punya menantu orang terpandang dari keluarga bangsawan. Makanya aku jadi korban, Hem." gumamnya kesal.


"Awww, " teriaknya kesakitan. Ia mengelus lutut dan pahanya yang mungkin sedang memar kini akibat dari tabrakan tak disengaja itu.


"Kalau mau jadi petugas parkir harusnya belajar dulu sana! main nabrak aja." teriak seorang gadis seksih dari kaca jendela mobilnya yang terbuka.


Rara tidak meladeni perempuan itu meskipun ia sangat ingin memberinya juga satu kali saja semprotan makian, ia malah melanjutkan langkahnya karena tak mau pengendara yang lain juga akan menganggapnya sebagai petugas parkir dan akan berakhir ditangan bodyguard tuan Raksadana.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiah berupa bunga setaman atau votenya aja....


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2