Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 239 Terlambat Menemuimu


__ADS_3

Sarah hanya bisa menarik nafas berat saat ia hanya bisa melihat bagian belakang mobil yang ditumpangi Adam berlalu dan semakin menjauh.


Ia terlambat datang karena sebelum ke rumah pria itu ada insiden kecelakaan yang mengganggunya di tengah perjalanan tadi. Dan membuat kemacetan yang cukup panjang.


"Well, sampai berjumpa lagi Dam." ujarnya kemudian meminta sopir yang mengantarnya kembali pulang ke rumahnya.


"Kak itu kan mobil keluarga Raditya." ujar Risma Yanti memberi tahu Deka sang suami.


"Apa yang di dalam itu Sarah? kok malah langsung pulang dan gak masuk dulu sih." lanjutnya lagi dengan wajah bingung.


"Mungkin mau nyusul Adam ke Bandara. Biarkan saja sayang." jawab Deka sembari menarik istrinya untuk masuk ke dalam rumah.


"Ah iya kak. Aku kok heran sama mereka berdua. Sama -sama punya rasa tapi pada gengsi ngaku." Risma tersenyum membayangkan kedua anak itu.


"Lebih bagus seperti itu, biarkan mereka sama-sama belajar jadi dewasa dulu. Kalau mereka memang berjodoh, maka Tuhan pasti mempertemukan mereka." jelas Deka pada sang istri.


🍁


"Sudah ketemu Adam? kok pulangnya cepet?" tanya Vita heran, pasalnya baru saja Sarah minta izin keluar bertemu Adam kini malah sudah ada di rumah dengan wajah di tekuk.


"Adam sudah pergi Ma, dia gak nungguin aku." jawab Sarah sembari menghempaskan bokongnya di atas sofa empuk di dalam ruang keluarga itu.


"Mungkin karena kamu gak nelpon dulu kan."


"Iya sih, lupa Ma." jawab Sarah kemudian merogoh tasnya mencari handphonenya berniat menghubungi Adam.


"Ya Allah, pantas ini handphone gak ribut Sedati tadi, lowbet Ma." ujar Sarah sembari memperlihatkan kondisi sang handphone.


"Aku mau isi batere dulu, lagian mungkin Adam sudah sibuk nih di Bandara. Ditelpon pun pasti tak diangkat." lanjutnya lagi kemudian berdiri dari duduknya dan berniat mencharge handphonenya. Vita hanya memandang putri bungsunya itu dengan tersenyum maklum.


"Ma, Reza badannya panas." Sovia yang baru datang ke dalam ruangan itu membawa putranya yang sedang rewel. Ia menyerahkan tubuh mungil itu ke pangkuan sang Mama yang sedang menonton acara televisi favoritnya.


"Eh, Iya Sov. Ini kok badannya panas sekali." ujar Vita saat meraba kening Reza sang cucu benar-benar dalam keadaan sangat panas dan demam.

__ADS_1


"Kamu udah kasih obat sayang?"


"Udah ma, penurun panas tap belum juga turun panasnya."


"Kalo gitu kamu siap-siap kita bawa putramu ke Rumah Sakit."


"Iya Ma."


"Cup cup yang sabar ya sayang, kita tunggu mama ya." ujar Vita menemani Reza yang rewel sembari mengobrol dan memberi penghiburan pada anak itu.


Setelah Sovia sudah siap mereka pun membawa sang cucu ke Rumah Sakit untuk diperiksa sekalian di opname karena menurut pengakuan Sovia putranya yang sudah berusia 4 tahun itu sudah 2 hari muntah dan juga tidak ada nafsu makan.


"Kita tunggu hasil dari sampel darah dari Laboratorium ya Bu, jadi bisa membawa dedeknya ke ruang perawatan terlebih dahulu." ujar dokter anak yang sedang memeriksa keadaan Reza yang semakin layu dan lemas.


"Iya dokter." jawab Sovia dan Vita kompak.


"Aduh Ma, kok Reza bisa sakit sih? aku kan selalu jaga dia full. Gak barin ia main terlalu lelah." ujar Sovia dengan wajah sedihnya.


"Lho sakit dan musibah itu gak pernah kita minta sayang, itu adalah ujian bagi kita supaya kita sadar kalau kita ini hanya manusia biasa." hibur Vita dengan senyum di wajahnya. Meskipun ia juga sangat sedih melihat keadaan Reza yang hanya terus menangis dan juga lemas.


"Sovi jangan seperti itu. Reza itu lagi tidak enak perasaannya. Kamu yang sabar dong."


"Habisnya sebel Ma, Dari semalam Reza nangis terus gak berhenti bikin aku tidak tidur. Sekarang kepalaku kan jadi sakit Ma."


"Kalau gitu kamu istirahat, biar mama yang temenin Reza. Insyaallah kalau obatnya sudah bereaksi Reza juga akan tertidur."


"Iya Ma, aku tidur dulu ya... Mohon Maaf Ma, aku ngerepotin mama."


"Iya gak apa-apa. Itulah gunanya mama ada di sini. Nanti mama juga akan hubungi Sarah supaya ikut nyusul ke rumah sakit."


"Iya Ma, makasih banyak."


Vita mulai mengelus punggung Reza dengan mengunakan minyak telon kemudian menemani anak itu mengobrol dengan sabar. Ia ingat ia juga pernah seperti Sovia. Suka tak sabar jika anak sakit dan berakhir marah-marah padahal itu kan wajar kalau anak sakit. Tak lengkaplah rasanya jadi seorang ibu jika tidak pernah merasakan yang seperti ini. Menunggui anak yang kita sayangi sedang sakit dan butuh perhatian lebih dari sang orang tua.

__ADS_1


Reza akhirnya berhenti menangis dan mau meminum susunya kemudian jatuh tertidur. Vita menghubungi Gala sang suami kalau ia sedang ada di rumah sakit bersama Sovia dan juga Reza sang cucu. Ia menceritakan kalau Reza sakit dan sekarang sudah lebih baik agar suaminya itu tidak ikut khawatir yang berlebihan.


Sementara Sarah yang ada di rumah baru saja memeriksa charge handphonenya yang sudah terisi full dan berniat menghubungi Adam kini tak bisa lagi karena mamanya sedang meneleponnya


"Assalamu'alaikum Ma." sapanya ketika ia tahu yang menelpon adalah sang mama yang baru ditemuinya di ruang keluarga tadi.


"Waalaikumussalam Sarah." jawab Vita.


"Ada apa Ma? kok nelpon segala padahal sama-sama di rumah."


"Mama lagi di rumah sakit nih sayang, Reza demam tinggi jadi Sovia dan mamanya membawanya kemari." jelas Vita dengan suara tenang. Ia tak mau mengganggu dua orang kesayangannya yang sedang tertidur karena sakit dan lelah.


"Oh di rumah sakit? jadi apa yang mama butuhkan biar Sarah bawa ke sana."


"Bawa baju ganti untuk Reza sama mama ya."


"Iya, Ma. Aku mandi dulu baru ke sana."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumussalam."


Setelah menutup panggilan itu. Sarah kembali menghubungi Adam tetapi ternyata nomor pria itu sudah berada di luar jangkauan.


"Mungkin Adam sudah berada di dalam pesawat." ujar Sarah kemudian segera mandi dan lanjut mengambil pakaian Reza serta pakaian mamanya. Jarak tempuh antara Indonesia ke New York bisa mengambil waktu puluhan jam.


Dan ia yakin selama itu ia akan menunggu untuk mengucapkan salam perpisahan dan juga ucapan semangat untuk Adam agar serius belajarnya dan menjadi orang sukses dan membanggakan keluarga yang ada di Indonesia.


Tak cukup satu jam Sarah pun keluar rumah dengan membawa pesanan dari mama Vita. Sopir pribadi sudah siap mengantar Sarah ke rumah sakit.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2