Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 138 Akhirnya Kau Jadi Milikku


__ADS_3

"Ayo cepetan!" ujar Ira Zerni sembari mendorong tubuh Pandu keluar dari rumah Hany. Adiknya itu disuruhnya pulang duluan ke rumahnya. Meskipun Pandu menolak ia tetap harus mengikuti perintah kakaknya.


"Tapi kak," ucapan pria itu terpotong karena tatapan tajam dari kakaknya seolah menembus jantungnya.


"Papanya Zahwa menunggumu di rumah. Sekarang!" teriak Ira karena sudah tidak sabar dengan kelakuan adik semata wayangnya itu.


"Jangan marahin Hany ya kak karena aku yang salah." ujar Pandu lagi dan langsung mendapat lemparan sendal di kepalanya.


"Iyya bawel, kamu kalau masih tinggal di sini aku kebiri kamu." ancam Ira dengan tegas.


"Jangan dong kak, gimana nasib Hany nantinya."


"Astaga ini anak." Pandu pun kabur ke mobilnya dengan nafas lega. Setidaknya Hany akhirnya menerima lamarannya meskipun ia harus melakukan tindakan yang sangat riskan. Ia hampir saja membobol gawang perempuan cantik itu jika saja kakaknya tidak cepat datang.


Ira Zerni masih duduk di sofa setelah kepergian Pandu. Ia sedang menunggu sang pemilik rumah bersiap-siap untuk dibawa ke rumahnya malam itu juga, karena sesuatu dan lain hal.


Ada rasa syukur dalam dirinya yang tak henti-hentinya ia lafalkan karena ia bisa datang tepat waktu sebelum sebuah kejadian buruk terjadi pada dua muda mudi ini, adiknya dan seorang bawahannya sendiri di divisinya.


Entah kenapa sedari tadi ia memiliki firasat buruk terhadap Pandu dan Hany setelah siang tadi adiknya itu menanyakan tentang keberadaan gadis itu. Dan ternyata rasa tidak enak yang muncul dihatinya terjawab ketika ia mengikuti kata hatinya untuk menemui Hany malam ini juga. Ia sangat khawatir pada gadis itu.


"Ehem, maaf Bu, saya sudah siap." ucap Hany dan berhasil membuyarkan lamunan perempuan itu.


"Baiklah, ayok kita berangkat. kamu sudah menelpon Paman mu kan?"


"Iyya Bu." jawab Hany menunduk malu. Andai ia masih punya pilihan. Ia akan mengubur diri saja di lubang daripada bertemu dengan keluarga Pandu karena malu yang teramat sangat terciduk oleh atasannya sendiri sedang melakukan hal yang melanggar norma.


Setelah beberapa menit berkendara, mereka berdua sampai di rumah minimalis nan mewah milik Ira Zerni dan suaminya.


Hany dipersilahkan masuk ke kamar tamu sedangkan Ira menemui seseorang yang juga baru saja tiba di ruangan itu.


"Assalamualaikum pak ustadz." sapanya sopan kepada seorang pemuka agama di komplek mereka tinggal. Rupanya ia tadi sudah menghubungi suaminya untuk menjemput sang ustadz ke rumahnya malam itu juga.


"Gak nunggu besok aja?" tanya suaminya ketika ia menghubunginya sesaat setelah ia menangkap basah adiknya sedang berada diatas tubuh Hany.


"Pokoknya harus malam ini. Atau keduanya malah tidak bisa tidur dengan tenang." jawabnya memaksa. Dan disinilah mereka berempat sekarang membahas tentang bagaimana cara menyelamatkan nama baik keluarga dan kehormatan seorang gadis yang menjadi korban anggota keluarganya. Jalan satu-satunya adalah dengan menikahkan kedua orang itu.

__ADS_1


Ira memasuki kamar Pandu dan membantu adiknya itu berpakaian.


"Udah siap nih jadi suami?" tanya Ira menggoda adiknya.


"Insyaallah siap kak." jawab Pandu semangat. Ia tersenyum senang karena sebentar lagi ia sah menyentuh Hany tanpa takut ada acara penggerebekan lagi.


"Huh tentu saja kamu semangat karena sudah ambil DP duluan, dasar!"


"Maaf, Kak itu tadi khilaf kak. Khilaf terdalam kak." ujar Pandu membela diri.


"Ya sudah kamu siap-siap dan hafalkan ijab Qobulnya.


"Siap kakakku sayang."


"Huh!" Ira mencibir kemudian mendatangi Hany yang sedang di make up sederhana oleh salah satu ART di rumah itu.


"Han, kamu cantik sekali." ujar Ira saat memasuki kamar dan melihat penampilan Hany yang membuatnya pangling.


"Pantas Pandu gak mau melepasmu." bisik Ira ditelinga calon pengantin itu dan langsung membuat rona di wajah Hany semakin memerah.


"Jangan panggil aku ibu lagi ya, panggil kakak aja seperti Pandu memanggilku. Nah sekarang kamu duduk aja di sini sampai mempelai pria selesai mengucapkan ijab qobulnya." jawab Ira kemudian segera berdiri lagi dan langsung keluar dari kamar itu. Hari ini ia betul-betul dibuat sibuk oleh Pandu. Tetapi ia sangat senang melakukannya. Setidaknya janji setianya pada almarhum ayahnya Hany sebentar lagi akan terbayar.


"Karena rukun nikah sudah terpenuhi, ada mempelai pria dan perempuan. Ada wali yang meskipun secara virtual tetap terhitung ya karena paman mempelai berjarak cukup jauh dari tempat ini dan tidak sempat menghadiri acara yang sakral namun sederhana ini dan juga sudah ada dua orang saksi dan yang terakhir adalah ijab qobul." ujar pak ustadz dengan sangat jelas.


"Saya terima nikahnya Hany Zainuddin binti Zainuddin dengan mas kawin satu set perhiasan emas dibayar tunai karena Allah!"


"Sah!" ucap kedua saksi yang tak lain adalah ayah kandung Pandu dan juga suami Ira Zerni. Semua bernafas lega sambil mengucap syukur Alhamdulillah.


Pandu segera dibawa oleh kakaknya untuk menemui istrinya di kamar tamu.


Pandu dibuat pangling juga saat memandang wajah perempuan yang sangat cantik itu yang ternyata adalah istrinya sekarang.


"Selamat ya Han. Kamu sudah sah menjadi istrinya Pandu yang otomatis juga menjadi keluarga kami. Terima segala kelebihan dan kekurangan suamimu. Hormati dia dan jaga nama baik keluarga." Hany mengangguk pelan.


"Aku tinggal ya," ujar Ira kemudian meninggalkan kamar itu juga dan menyisakan mereka berdua saja di dalam.

__ADS_1


"Han!" ujar Pandu sembari mencium dahi istrinya lembut.


"Maafkan aku ya?" ujar Pandu menatap dalam ke mata istrinya yang juga menatapnya. Hany mengangguk. Perlahan ia mendekatkan dirinya ke tubuh istrinya itu. Dan mulai menyapukan bibirnya keatas bibir perempuan itu. Hany tidak menolak ia malah meraih tengkuk suaminya agar ciuman itu lebih dalam. Pandu sekali lagi bersorak dalam hati. Rupanya yang mereka lakukan di rumah Hany tadi dengan cepat dipelajari oleh istrinya.


"Han, aku menginginkanmu." ujar Pandu dengan suara parau. Ia menginginkan lebih dari sekedar saling membelit. Hany menatapnya dalam dengan bibir yang terasa kebas dan tebal.


"Gak mau ah," jawab Hany manja. Ia melepaskan dirinya dari suaminya itu bermaksud menggoda tetapi tangan Pandu segera meraih pinggangnya yang membuat mereka terjatuh di ranjang bersama.


"Ndu!" panggil Ira dari luar pintu kamar. " Pak ustadznya udah mau pulang nih. Ayo keluar sebentar."


"Iya kak," jawab Pandu dengan suara cukup keras juga. Ia segera bangun dari ranjang dan memperbaiki penampilannya. "Aku keluar dulu ya, kamu santai saja." ujar Pandu kemudian keluar menemui pak Ustadz yang telah menikahkannya di tengah malam itu.


"Terimakasih Ustadz sudah mau direpotkan oleh keluarga kami." ujar Pandu saat mengantar laki-laki paruh baya itu ke halaman depan.


"Sama-sama nak Pandu. Satu saja nih pesanku, agar kamu menghargai perasaan istrimu, dan buat ia selalu senang agar kalian bisa hidup bahagia. Dan semoga keluarga baru kalian sakinah, mawaddah warahmah."


"Terima kasih banyak doanya pak ustadz."


"Sama-sama. Dan ingat secepatnya pernikahan ini di daftarkan di Kantor Urusan Agama dan segera diumumkan supaya tidak terjadi fitnah."


"Baik ustadz."


Mereka berdua pun berpisah dan menuju tujuan masing-masing. Pandu memasuki kamar tamu tempat Hany berada dan mendapati ruangan itu kosong.


"Han!, kamu dimana?" ujar Pandu mencari-cari. Karena ia tak menemukan istrinya di dalam kamar, ia menuju ruang keluarga yang ternyata cukup ramai.


"Oh disini kamu ya?" bisik Pandu pelan. "Iya, dipanggil sama kak Ira supaya menemui ayah mertua untuk meminta restu." jawab Hany dengan wajah yang sangat bahagia.


"Ke kamar yuk." ujar Pandu dan menarik tangan istrinya ke kamarnya sendiri. Disana lebih aman dan kedap suara. Hingga ia berharap akan membuat istrinya berteriak nikmat malam ini tanpa di dengar oleh orang lain.


---Bersambung---


🍁🍁🍁🍁🍁


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2