Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
# Part 169 Modus Baru Klaim Asuransi


__ADS_3

Pagi yang cukup damai setelah banyaknya kejadian yang cukup menguras emosi dan pikiran bagi sang tuan rumah. Sarah yang baru saja sampai dari joging paginya menyapa semua orang yang sedang berada di meja makan untuk sarapan bersama.


Ada yang berbeda kali ini pada acara kumpul keluarga Raditya, Nyonya Mawar Raditya tidak bergabung karena kondisi kesehatannya sedang tidak bagus. Sedangkan Deka dan istrinya juga tidak ikut ngumpul karena sedang diutus oleh Gala keluar negeri untuk mengurus masalah bisnis di sana.


Seperti biasa sarapan pagi dilalui dengan canda dan tawa, mereka membicarakan banyak hal mulai dari menu makanan, cuaca, harga saham hingga kejadian-kejadian langka yang terjadi di dunia akhir-akhir ini.


Reno mengedarkan pandangannya ke seluruh meja makan yang sudah terisi, tetapi belum menemukan putra sulungnya ada di sana.


"Ma, kok Andika tidak ikut sarapan ya? apa dia belum bangun?" tanyanya pada istrinya. Miska hanya mengangkat bahu. Ia juga sedari tadi mencari dimana keberadaan putranya itu.


"Tanya sama Sovia dulu." usul Reno pada istrinya. Semua orang tahu kedekatan Andika dan Sovia putri kedua Gala Putra Raditya.


"Ada yang lihat Andika gak ya? Kok belum ikut sarapan bersama kita di sini." Miska mulai membuka suara sambil memandang kearah Sovia yang hanya sibuk mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya.


"Aku lihat Tante," jawab Adam cepat.


"Tengah malam tadi ia keluar dari rumah bawa mobilnya saat semua orang sudah tidur, kecuali aku hehehe." jawab Adam cengengesan. Sarah langsung menimpuknya dengan kerupuk sedangkan Sovia sedikit tak nyaman ketika ada yang menyebut nama Andika begitupun dengan Rama. Pria muda itu tiba-tiba merasa bersalah karena telah menghajar Andika sampai babak belur begitu.


"Lho kok?" ujar Miska bingung dengan tingkah putranya itu.


"Sudah, lanjut sarapannya trus kita pulang. Kita cari dia di rumah mama." ujar Reno cepat. Ia tak mau istrinya jadi mikir yang tidak-tidak.


"Enaknya punya keluarga besar seperti ini." ujar Mrs. Takeshi saat memperhatikan kembali jumlah anggota keluarga yang sedang ikut sarapan bersama itu.


"Aku harap bisa menghabiskan waktu yang banyak bersama kalian lagi pada suatu waktu." lanjutnya lagi yang langsung diamini oleh semua orang. Mereka semua ikut senang karena satu keluarga dari Jepang ini sangat bahagia dengan penyambutan mereka. Mereka pun melanjutkan sarapan dalam diam dan hening, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang sedang beradu di atas piring.


"Ma, aku mau jalan-jalan nanti ke Jepang sama Adam." ujar Sarah memecahkan keheningan sesaat itu. Vita langsung mendongak menatap putrinya itu yang sedang memohon dengan mengedipkan matanya lucu.


"Boleh, silahkan saja. Kamu nanti bisa mengunjungi kerumah kami," jawab Mr. Takeshi dengan wajah gembira.


"Wow. Kita tak perlu menginap di hotel dong hahaha." ujar Sarah dengan tawa renyahnya. Semua ikut tersenyum senang.


🍁


Setelah acara sarapan selesai. Mereka pun berpamitan kepada tuan rumah. Sebelum Pandu dan Hany masuk ke mobilnya Rama sudah berdiri di sana menunggunya.


"Om, boleh aku bicara sebentar?" tanya Rama meminta izin.


"Oh boleh." jawab Pandu dengan sejuta dugaan di hatinya.

__ADS_1


"Maunya ngomong dimana?"


"Di taman itu saja, om. Cuma sebentar kok." Jawab Rama Kemudian melangkah bersama Pandu dan Hany ke sebuah taman tempat Pandu dan Hany dulu untuk yang pertama kalinya bertemu.


Pandu dan Hany saling memandang menghantarkan pikiran yang sama yakni otak mereka sama-sama memutar ulang kenangan lucu itu.


"Ekhem." Rama berdehem untuk memutuskan acara saling tatap-tatap kedua pasangan yang tidak muda lagi itu. Seketika keduanya langsung malu.


"Om, bisa ceritakan pada saya kenapa pernikahan Rara dipercepat begini?" tanya Rama penasaran.


"Oh yang itu? om juga tidak tahu kenapa bisa darurat begitu padahal kan Rara sedang tidak kecelakaan sama cucu tuan Reksadana itu." jawab Pandu Berusaha berpikir.


"Kecelakaan itu maksudnya apa ya om?" tanya Rama cengo.


"Aduh mas, kok ngomongnya gitu sih. Kecelakaan itu maksudnya hamil nak Rama. Ya gak mungkin lah. Rara kan anak baik-baik." timpal Hany cepat.


Rama yang mendengar kata Hamil pada Rara langsung menggeram kesal.


"Hem enak aja tuh si Alif kalau itu kesampaian. Dijamin akan kujadikan samsak dia kayak si Andika semalam." ujarnya dalam hati.


"Tapi emang aneh sih kok tiba-tiba pernikahan itu dipercepat padahal kan ada nih yang ngaku sebagai suami Rara di sini." ujar Pandu menyindir Rama yang dengan percaya dirinya mengakui Rara sebagai istrinya. Hany langsung tersenyum lucu dengan kata-kata terakhir suaminya.


"Kata kak Dyah, mas Ilham sudah bebas karena terbukti tidak bersalah makanya itu pernikahan Rara dimajukan."


"Atau jangan-jangan???" ujar Hany dengan pandangan mata curiga akan benang merah dari masalah ini.


"Makasih Tante, om." Rama langsung memutuskan percakapan mereka bertiga kemudian pamit untuk melakukan sesuatu.


Ia segera meraih kunci mobilnya di atas nakas dan segera keluar dari kamarnya dengan langkah cepat.


"Ram, mau kemana sayang!" tegur Vita saat melihat putranya itu kelihatan terburu-buru.


"Ada urusan penting ma, do'akan aku ya semoga urusannya lancar." jawab Rama kemudian mencium pipi kiri dan kanan mamanya. Vita melepasnya dengan merapal doa agar putranya kembali dengan selamat.


Dengan kecepatan tinggi di pagi yang masih sepi itu Rama mengendarai mobilnya menuju rumah Rara, tempat ia pernah mengantar gadis itu setelah acara insiden singkat dengan Alif cucu Reksadana.


Dengan langkah cepat ia memasuki tempat parkir rumah mewah minimalis itu dengan segala kerinduan pada gadis kriwil penghuni rumah itu.


"Assalamualaikum Tante." sapa Rama pada seorang perempuan cantik yang usianya sekitar sama dengan mamanya. Ia sekilas mirip Rara.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, anda siapa ya?" tanya Dyah penasaran dengan pemuda tampan ini.


"Aku temannya Rara Tante, bisa aku ketemu?" tanya Rama sopan. Dyah tersenyum lalu bertanya lagi,


"Teman kerja, atau teman kampus?"


"Aku consumernya tante."


"Oh gitu ya? tunggu di sini ya, tante panggilkan dulu." jawab Dyah kemudian melangkah ke dalam dengan banyak pertanyaan dalam hati. " consumer kok sampai nyari ke sini padahal ini lagi weekend."


Perlahan ia membuka pintu kamar putrinya yang tidak terkunci itu.


"Ra' ada yang nyariin di luar."


"Siapa ma?" Rara yang baru selesai mandi dan bersiap healing-healing untuk menghilangkan stressnya itu mengernyit bingung. Ia tak ada janji sama siapapun hari ini. Ia hanya ingin Me Time sebelum acara pernikahannya yang terpaksa itu.


"Katanya sih consumermu. Mungkin mau klaim asuransi kali." ujar Dyah dengan segala dugaannya.


"Klaim asuransi kok di weekend ini sih ma, gak tahu apa pelayanan itu cuma senin sampai Jumat." gerutu Rara kesal karena ia menduga acara me time akan terganggu dengan kedatangan tamu yang tak diharapkan itu. Dengan langkah lemas ia mengikuti mamanya Ke ruang tamu.


"Hey kamu?" ujar Rara dengan ekspresi kaget. Ia sampai menunjuk wajah Rama di depan mamanya.


"Aku mau klaim asuransiku." ujar Rama percaya diri. Hatinya merekah bahagia karena bisa bertemu dengan gadis pujaannya itu.


"Nah, kan mama juga bilang apa, mau klaim asuransi kan?" Rama mengangguk sopan tapi pandanganya tak lepas dari sosok cantik kriwil di depannya.


"Tante, bisa aku bicara di luar dengan Nona Az-Zahra Aisyah ini?"


"Oh tentu saja nak. Apalagi ini berhubungan dengan pekerjaannya."


"Ma, ini bukan..." Rara berusaha menolak tetapi Rama sudah menarik tangannya keluar dari rumah itu.


"Aku pinjam dulu tante." Suara Rama sudah menghilang karena ia sudah melangkah cepat membawa Rara pergi dari rumah itu dengan tanda tanya di hati Dyah mamanya Rara.


----Bersambung---


Hai readers tersayangnya othor, dukungannya di kencengin dong, like dan komentar ya...


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2