Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
# Part 170 Siap Terluka Demi Untukmu


__ADS_3

"Apaan sih masih mau klaim aja, padahal uangnya udah aku kembalikan." ujar Rara saat mobil Rama berhenti di sebuah taman dekat alun-alun kota.


"Ya iyalah, kamu itu melanggar perjanjian kita. Aku kan jadi rugi." jawab Rama sambil membuka sabuk pengamannya.


"Ih rugi apaan. Uangnya juga kembali utuh." cibir Rara semakin kesal karena orang ini malah ingin menambah masalah dalam hidupnya.


"Plus dapat bibir aku lagi," tambahnya dalam hati semakin geram.


"Pokoknya aku rugi dan sekarang aku mau klaim ganti atas sakit hatiku karena kamu tinggalkan begitu saja saat itu." ujar Rama percaya diri.


"Hem, lagi asyik juga eh malah ditinggalin." ujar pikiran kotornya menimpali.


"Tidak ada penolakan atau aku tuntut kamu ke OJK." ujar Rama ngotot dengan pandangan tajam ke arah bola mata gadis itu.


"Ya Allah, ada ya orang kayak anda. Gak jelas banget." Rara menepuk jidatnya sendiri dengan rasa kesal yang teramat sangat. Kepalanya serasa berasap disertai rambut kriwilnya yang berdiri. Rama hanya tersenyum samar, kemudian meminta untuk gadis itu turun tapi Rara tidak mau, ia malah minta supaya diantar ke pinggir laut untuk Me Time. Ia ingin sendiri dan rasanya ingin melempar ke laut semua kesedihannya karena akan menikah beberapa hari lagi dengan orang yang sangat ia benci.


Rama pun melajukan mobilnya ke arah pantai Tope Jawa sekitar 10 km dari tempatnya sekarang.


"Aaaaaaah." Rara berteriak sekencang-kencangnya di atas hamparan pasir putih dengan diiringi deburan ombak di bibir pantai itu. Tangannya ia rentangkan kemudian berlari di sepanjang pantai itu. Hatinya sangat sakit tapi tak tahu harus berbuat apa. Masa depannya sudah digenggam oleh si Reksadana sialan itu.


"Aaaaaaah." Sekali lagi ia berteriak melepaskan beban berat di dadanya. Ia duduk bersimpuh dan menangisi nasibnya yang begitu buruk. Perlahan Rama melangkah menghampiri gadis itu dan memberinya sebuah pelukan.


"Menangislah." ujar Rama dengan kemarahan tertahan.


"Aku benci mereka, aku benci hiks." geram Rara sesenggukan. Tubuhnya bergetar hebat dalam pelukan putra Raditya itu. Rama mengelus punggung gadis itu pelan, Hinga Rara merasa tenang dan melepaskan dirinya dari pelukan pria yang akhir-akhir ini mengganggu kestabilan hatinya.


Rama menatap dalam mata Rara yang masih digenangi air mata sedih.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, biar hatimu lega." ujar Rama sembari mengajak Rara duduk di bibir pantai itu memandang ombak yang sedang berkejaran.


Rara lama terdiam, awalnya ia tak mau bercerita tetapi Rama memaksanya mengatakan bahwa Om Pandu dan tante Hany juga sudah menyampaikan hal pernikahannya yang cukup mencurigakan itu.


"Kita akan hadapi bersama, asal kamu mau berjanji padaku satu hal." ujar Rama serius sesaat setelah Rara menceritakan semuanya. Termasuk penangkapan papa atas tuduhan yang tidak terbukti itu.


"Janji apa lagi? Nanti kamu minta klaim lagi, gak sudi aku." Rama tak menjawab ia hanya menatap gadis itu dengan tatapan sendu.


"Ish!" Rara merasakan berdebar ditatap seperti itu. Ia lantas beranjak pergi kemudian berujar,

__ADS_1


"Kamu malah mau menambah masalah aku, tau gak?"


"Ra aku serius nih."


"Gak, aku gak percaya lagi. Kamu sama saja dengan si Alif itu, sama-sama menyebalkan!" teriak Rara dan berlari menjauh.


"Besok aku buktikan ya!"


🍁


Andika termenung sendiri di kamarnya mengingat kembali apa yang sudah ia lakukan semalam.


Flashback on


Setelah mendapat beberapa pelajaran yang cukup berarti dari Rama, ia segera meninggalkan Rumah kediaman Raditya dan mendatangi rumah Elsa. Ia harus segera mengkonfirmasi apa yang telah dilakukan oleh gadis itu kepada Sovia.


"Andika, kamu datang nak." ujar Gilang yang menyambutnya pas di depan pintu rumahnya.


"Iya om. Saya mencari Elsa, apa dia ada di rumah?" tanyanya berusaha sopan sambil menahan emosi di dadanya.


"Dika, akhirnya kamu datang juga hiks." ujar Elsa menangis dan langsung berlari memeluk tubuh Andika, tetapi pria muda itu langsung mengangkat tangannya menolak hingga Elsa hanya bisa berdiri mematung di depan Andika. Tangisnya semakin pecah karena Andika betul-betul tak bisa lagi ia dapatkan.


"Apa yang sudah kamu katakan sama Sovia hah?" tanya Andika dengan wajah merah menahan marah. Sungguh, Andaikan di hadapannya ini adalah seorang laki-laki, maka pasti sudah ia beri pukulan sebanyak Rama tadi memukulnya.


"Oh jadi karena laporan gadis manja itu hingga kamu datang kemari?" cibir Elsa.


"Baguslah, karena dengan itu kamu jadi datang ke rumah ku untuk membuktikan janjimu."


"Papa sudah lama menunggumu." lanjut Elsa lagi dengan wajah bahagia. Andika baru menyadari bahwa ternyata ini adalah sebuah jebakan.


Ia kemudian duduk berusaha tenang. Ia harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab.


"Jadi nak Dika, kapan janjimu itu kamu tepati?" tanya Gilang yang langsung duduk di depan Andika.


"Mohon maaf sekali lagi om, tadinya saya ingin menepati janji saya jika seandainya om betul-betul meninggalkan dunia ini sesuai kata-kata om dulu. Tapi kenyataannya om Gilang masih panjang umur kan? jadi otomatis kata-kata saya waktu itu juga sudah tidak berlaku." jelas Andika panjang lebar kemudian dengan senyum mencemooh, dia melanjutkan.


"Sandiwara anda dan putri anda mudah ditebak."

__ADS_1


Plak


Satu tamparan keras mengenai wajah Andika dengan telak. Pria muda itu merasa pusing dengan bibir pecah mengeluarkan darah. Dalam satu jam ia sudah banyak mendapat hadiah ditubuhnya tetapi itu tak seberapa dibanding sakit hatinya jika Sovia menolaknya.


"Kurang ajar kamu ya, kupikir kamu laki-laki baik dan bertanggung jawab. Keluar kamu dari rumahku brengsek!" seru Gilang emosi. Tanpa pikir panjang ia malah mengusir Andika yang selama ini sudah ia pancing dan menjadikan Elsa putrinya sebagai umpan.


Andhika pergi dari rumah itu disertai teriakan histeris Elsa yang memanggil namanya bagai orang gila.


Flashback off


"Dika!"


"Andika!"


Panggilan Ninick berkali-kali itu membuyarkan lamunan Andika. Ia langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.


"Astagfirullah, apa yang terjadi sama kamu Dika?" seru Ninick saat melihat wajah cucunya yang sudah tak berbentuk. Wajah tampannya sekarang tersamarkan oleh banyaknya luka lebam berwarna keunguan pada pipi dan sudut bibirnya.


"Habis latihan boxing eyang," jawabnya santai kemudian masuk lagi ke kamar menuju ranjangnya untuk berbaring.


"Boxing apa digebukin kamu, sini eyang kasih obat." Ninick berusaha mencari kotak P3K di kamar itu lalu mulai mengolesi cairan Betadine meskipun itu sudah cukup terlambat karena kejadian itu sudah lama berlalu.


"Apa ini tentang kejadian semalam kamu pulang dari rumah kediaman Raditya malam-malam?" tanya Ninick penuh selidik.


"Eyang tahu darimana?"


"Papamu yang menghubungi eyang, katanya kamu pergi dari sana di tengah malam. Ceritakan sama eyang apa yang terjadi!" ujar Ninick berusaha ingin tahu kenapa cucu kesayangannya malah berakhir bonyok begini.


"Aku sudah menyakiti hati Sovia eyang, jadinya ya begini."


"Astagfirullah. Kamu apakan Sovia hah?" seru Ninick sembari memukul bahu Andika keras hingga membuat pria muda itu berteriak kesakitan.


"Awwww eyang, cukup. Lukaku saja belum sembuh. Eyang lebih sayang Sovia daripada aku ya, cucu kandung eyang sendiri." gerutu Andika yang kemudian mendapat jeweran ditelinganya.


---Bersambung--


Mana nih dukungannya untuk karya receh ini, Jangan bosan ya gaess. Tetap nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2