Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 137 Lamaran Ala Pandu Gemilang


__ADS_3

Hidangan istimewa pesanan Pandu sudah tertata cantik di atas meja tetapi Hany masih belum muncul juga. Berkali-kali pria itu menatap jam tangannya karena merasa Hany sudah lama sekali berada di toilet. Perasaan khawatir semakin memenuhi hati Pandu dan akhirnya ia menyusul gadis itu ke toilet. Sesampainya di sana ia tidak menemukan gadis itu di tempat itu. Ia kembali ke mejanya sendiri dengan perasaan kesal dan marah.


"Oh, sial!" Umpatnya kesal karena ternyata Hany pergi dari Cafe itu tanpa bilang padanya terlebih dahulu. Ia baru sadar kalau telah melukai perasaan gadis itu padahal ia hanya ingin bermain-main sebentar saja.


"Han, tadi itu aku cuma bercanda." gumamnya dalam hati kemudian meninggalkan Cafe itu serta semua menu yang sudah disiapkan oleh Ningsih. Ia segera melajukan kendaraannya untuk mencari keberadaan gadis yang sudah ia sakiti perasaannya itu.


"Halo, kak. Hany udah kembali ke kantor belum?" tanyanya setelah panggilannya dibalas oleh Ira Zerni sang manager gadis itu.


"Lho? bukannya kamu dah izin mau keluar seharian sama gadis itu?" tanya Kakaknya balik.


"Oh belum ya, makasih kak."


Tut


Pandu segera menutup sambungan telepon itu sebelum kakaknya mengeluarkan khutbahnya yang cukup bisa menyegarkan telinganya.


"Han kamu kemana sih?" ia berusaha menghubungi terus nomor telepon gadis itu tetapi yang ada selalu suara operator saja yang menjawab panggilannya. Dan akhirnya ia menuju rumah Hany dan menunggunya di sana. Ia sempat tertidur di dalam mobil dan melihat jam tangannya kalau waktu sekarang sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam tetapi rumah gadis itu masih gelap. Belum ada tanda-tanda kalau bisa sudah pulang.


Saat ia memutuskan untuk pulang saja dan akan menemui Hany esok harinya, ia malah melihat gadis itu keluar dari sebuah taxi. Dengan cepat ia turun dari mobil dan mengejar langkah Hany yang sedang menuju rumahnya.


"Tunggu Han!" teriaknya agar gadis itu menghentikan langkahnya. Hany tidak bergeming. Ia melangkah saja tanpa menoleh kearahnya. Gadis itu mencari kunci rumah di dalam tasnya dan membuka pintu kemudian masuk tetapi ketika ia ingin menutupnya tangan Pandu berusaha menahan dan mendorongnya.


"Han, dengarkan aku dulu." ujar Pandu yang masih bertahan di depan pintu. Hany tidak menjawab kemudian meninggalkan Pandu di sana di depan daun pintu yang terbuka.


Pandu melangkah masuk mengikuti kemana Hany berjalan.


"Stop!" bentak Hany karena Pandu bahkan sudah berada di dalam kamarnya.


"Ngapain kamu masuk kamarku!" tanyanya dengan mata mendelik kesal.

__ADS_1


"Kamu kan tidak mempersilahkan aku duduk di ruang tamu jadi aku ikuti saja kamu kesini." jawab Pandu santai.


"Ih, keluar! kamu tak pantas masuk ke sini. Tidak sopan tahu!" ia mendorong tubuh Pandu yang cukup tinggi itu keluar tetapi pria itu tidak bergerak sedikitpun.


"Aku mau minta maaf Han, aku tadi tidak bermaksud menyakitimu." ujar Pandu dengan tatapan mata tajam ke arah wajah Hany yang memilih duduk di ranjangnya.


"Siapa juga yang sakit. Jangan terlalu percaya diri ya." jawab Hany sengit. " Nah sekarang keluar! aku tak mau ada gosip di sekitar sini kalau aku membawa laki-laki masuk ke kamar ku."


"Maafkan aku Han. Aku tak akan keluar dari sini kalau kamu tidak memaafkan aku soal yang tadi."


"Yang mana ya, aku sudah lupa tuh." jawab Hany dengan bibir mencibir.


"Han aku akan melamar mu sekarang."


"Cih! kamu pikir aku mau saja kena prank lagi darimu hah! sudah kubilang keluar dari sini. Keluar atau aku akan teriak." Hany mulai berdiri dan bersiap mendorong tubuh tegap Pandu agar keluar. Ia muak dengan laki-laki ini yang selalu memaksakan kehendaknya sama seperti Arman mantannya dulu.


"Teriak saja Han," ujar Pandu santai. Ia ingin melihat sejauh mana Hany menolaknya karena ia punya banyak rencana agar mendapatkan gadis keras kepala ini yang untungnya cantik dan manis.


"Ayo, katanya mau berteriak. Aku bantuin kalau perlu." Pandu menahan senyumnya karena Hany masih diam.


"Kamu tahu? aku justru senang kalau warga menggerebek kita di kamar ini. Supaya kita segera dinikahkan, bagus kan?"


"Ish. Dasar pria aneh." gerutu Hany jengkel. Ia tak ada lagi cara untuk menghindar. Dan tiba-tiba Pandu berlutut dihadapannya dengan sebuah kotak kecil berisi cincin.


"Han, maukah kamu menikah dengan ku?" tanya Pandu sembari menarik tangan gadis itu dan memasangkannya cincin berlian yang sangat indah. Hany langsung menarik tangannya berusaha menolak.


"Aku tidak mau. Siang tadi kamu kasih cincin lain sama gadis lain. Emangnya kamu pikir aku gadis apa an?"


"Han, cincin yang tadi itu imitasi. Yang ini yang asli." jawab Pandu tanpa mau melepaskan tangan Hany.

__ADS_1


"Hah, sama saja. Aku bilang tidak mau ya tidak mau." Hany tetap kekeuh dengan ucapannya ia tak mau diduakan dengan gadis manapun. Meskipun ada istilah imitasi atau asli.


Pandu sudah tidak punya cara lain lagi untuk memaksa gadis ini agar mau menerimanya. Ia langsung berdiri dan mengangkat tubuh Hany ke ranjang yang ada di kamar itu. Ia menindih tubuh gadis itu dan memberikan ciuman panas pada bibir manis yang selalu terbayang-bayang itu.


"Pandu!" kamu kurang ajar ya." teriak Hany saat pria itu memberinya waktu untuk mengambil nafas.


"Kamu mau terima aku baik-baik atau menunggu warga di sini menggerebek kita?" tantang Pandu tanpa merubah posisinya yang berada di atas gadis itu.


"Tidak! kamu sama saja dengan laki-laki lain." Hany tetap menolak dan berusaha memberontak.


"Sepertinya kamu ingin cepat dan instan sayang," Pandu melabuhkan kembali bibirnya ke bibir Hany lebih dalam sedangkan tangannya yang satu menahan tangan gadis itu yang memberontak. Lama ia memagut dan mengekplore benda kenyal itu dengan lidahnya hingga sebuah de sa han akhirny.a keluar dari mulut Hany barulah Pandu melepaskannya. Ia tahu gadis itu mulai menikmati sentuhannya.


"Mau ya?" tanya Pandu dengan pandangan berkabut.


"Mau apa hah?" tanya Ira Zerni sang kakak yang tiba-tiba muncul di pintu yang lupa mereka kunci. Pandu segera turun dari tubuh Hany yang sudah tampak kacau. Ia menghampiri kakaknya berniat menjelaskan apa yang perempuan itu lihat.


Plak


Sebuah tamparan panas mendarat di pipi Pandu. Ia meringis menahan sakit.


"Kak, biar aku jelaskan." ucap Pandu sembari meraih tangan kakaknya. Tetapi Ira menepisnya dengan marah.


"Kalian berdua, ikut saya!" titahnya masih Dengan wajah merah menahan marah. Ia menatap keadaan Hany yang cukup kacau dan berantakan.


"Hany perbaiki pakaianmu!"


---Bersambung--


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Ha readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor tetap semangat update nya


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2