Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 215 Mendadak Harus Pulang


__ADS_3

Rama dan istrinya kembali ke hotel dan melakukan sarapan sandwich isi daging sapi yang ia pesan khusus dari sebuah restoran halal di Tokyo yang sudah direkomendasikan sebagai tempat aman dan nyaman bagi wisatawan Muslim seperti mereka.


Rara mengetuk pintu kamar Sovia karena sudah siang tapi mereka berdua belum juga menampakkan batang hidungnya di luar kamar.


Tok


Tok


Tok


Andika membuka pintu itu dengan masih wajah bantalnya.


"Astagfirullah, kamu baru bangun Dik?" tanya Rara melongo tak percaya. Ia mengangkat tangan kanannya dimana ada jam tangan mungil ada di sana.


"Ini sudah hampir jam 9 pagi." ujar Rara sambil menatap jarum mungil pada jam tangannya itu.


"Kami ketiduran. Kami mandi dulu ya." ujar Andika kemudian menutup pintu kamarnya pas di depan hidung Rara.


"Ish tidak sopan!" gerutu Rara kesal kemudian kembali ke kamarnya. Tadinya ia membawakan sushi dan juga sandwich isi daging sapi untuk pengantin baru itu tapi perlakuan Andika padanya membuatnya membawa kembali makanan itu ke kamarnya.


Rara masuk ke kamarnya dengan ekspresi kesal tetapi ia ingat harus menjaga hubungan baik antara suaminya dan juga saudara iparnya itu.


"Kok makanannya dibawa kembali? emangnya mereka tidak lapar?" tanya Rama sambil menonton TV yang ada di dalam kamar itu. Rara tidak menjawab, ia masih kesal.


"Udah kasih tahu kalau kita berangkat jam 9 kan?"


"Tidak"


"Kenapa? nanti kita telat lagi gimana?"


"Mas Rama aja yang telpon Sovi, aku gak mau lagi." jawab Rara sembari membuka handphonenya. Ia lebih baik membuka berita yang menarik daripada mengingat kelakuan Andika tadi padanya. Rama menatapnya penasaran kemudian menelpon Sovia adiknya tetapi ternyata yang mengangkat telepon itu adalah Andika.


"Halo Dik.Kalian segera bersiap ya kita segera berangkat jam 9. Oh yang itu pantas. Nanti aku sampaikan." Rama menutup sambungan telepon itu kemudian menghampiri istrinya.


"Ra' Andika minta maaf, tadi itu ia baru bangun tidur trus kamu datang nah dia itu kebelet ke kamar mandi katanya lagi sakit perut dan tidak sengaja membanting pintu. Ia minta maaf." jelas Rama dan membuat istrinya kembali tersenyum.


"Hampir saja aku buang makanannya, habisnya kesel." ujar Rara memanyunkan bibirnya.


"Hush, gak boleh begitu sayangku. Semua yang dilakukan orang itu pasti ada alasannya. Jadi kita tidak boleh langsung menilai orang itu baik atau buruk."


"Iyya deh, tuan ER TE PE." ujar Rara sembari memeluk tubuh kekar suaminya. Hatinya sudah mulai membaik sekarang.

__ADS_1


"Mas, namamu kok Rama Putra Tama Raditya sih gak kayak Sovia Putri Gala Raditya?" tanya Rara penasaran.


"Ah, apalah arti sebuah nama. Gak penting." jawab Rama kemudian menghujani pipi istrinya dengan ciuman.


"Ra' kok kamu legit banget sih sayang?" tanya Rama disela-sela kesibukan mencumbu istrinya.


"Ih, kayak kue lapis legit aja."


"Eh, beneran lho. Pengen nyicip lagi deh." ujar Rama dengan pandangan menggoda. Rara yang sudah sangat hapal niat suaminya itu langsung melepaskan diri dengan segera.


"Nanti kita gak jadi berangkat mas. Entar malam aja ya?"


"Takut banget sih kan yang aku mau icip yang itu aja. Boleh ya bentar aja." ujar Rama sembari menunjuk bagian depan istrinya yang sudah terbuka oleh aksi tangannya barusan.


"Kalau Sovia dan suaminya datang bagaimana?"


"Suruh nunggu. Gantian." jawab Rama santai dan langsung menarik istrinya tak sabar. Ia benar-benar ingin icip-icip dulu sebelum berangkat ke destinasi wisata lain yang belum mereka kunjungi. Rara pasrah saja. Semua yang ia miliki adalah milik suaminya begitu pun sebaliknya.


🍁


Setelah membuat Sovia dan Andika menunggu di lobi hotel. Rama dan Rara baru keluar dari kamar setelah Jam menunjukkan pukul 9.15.


Dugaan Sovia benar. Rama telah membekali dirinya pagi itu dengan minuman segar yang bisa membuat tubuhnya berenergi ribuan volt. Sedangkan si sumber energi yaitu Rara hanya bisa menggaruk rambut Kriwilnya yang tak gatal. Ia malu karena akhirnya ia dan suaminya yang datang terlambat.


Pukul 9.30. Dari Tokyo Tower, mereka menuju ke Meiji Jingu tanpa didampingi lagi oleh Akihiko yang ternyata sedang berhalangan karena ada pekerjaan penting di kantornya Meiji-jingu (Meiji Shrine) adalah kuil Shinto yang dibangun pada tahun 1921 untuk arwah Kaisar dan Permaisuri Meiji.


Kuil ini terletak di seberang distrik Harajuku dalam sebuah hutan kecil yang merupakan jantung kota Tokyo.


Untuk menuju kuil ini mereka bisa menggunakan kereta ** Chiyoda line atau Fukutoshin line. Dari stasiun Meiji Jingu Mae Harajuku, mereka cukup berjalan kaki 1 menit saja.


Dari Meiji Jingu, mereka melanjutkan perjalanan ke Akasaka State Guest House adalah tempat yang digunakan oleh pemerintah Jepang sebagai fasilitas bagi tamu negara.


Biasanya bersamaan dengan datangnya tamu kenegaraan, aktifitas diplomatik juga dilaksanakan di sini. Seperti konferensi kenegaraan, kongres, dan lain-lain.


Awalnya tempat ini tidak dibuka untuk umum, tetapi sejak tahun 1975 dibuka untuk umum dengan tanggal-tanggal tertentu. Untuk melihat kapan Guest House ini dibuka untuk umum, bisa di cek di website Cabinet Office.


Destinasi terakhir yang mereka datangi hari ini setelah mengunjungi Ginza Shopping Street, dimana mereka bisa lunch atau makan siang di tempat itu.


Ginza adalah shopping distrik terbesar di Tokyo dan merupakan salah satu shopping street termewah di dunia.


Di Ginza tidak hanya budaya modern dan budaya tradisional Jepang bercampur baur menjadi satu.

__ADS_1


"Ini nih tempat Buat kamu Sov, yang suka belanja barang-barang dengan merek ternama, Ginza adalah tempat yang cocok untuk kamu." ujar Rara pada Sovia yang punya Hobby shopping.


"Iyya nih mau beli oleh-oleh untuk semua orang.do rumah." jawab Sovia dengan wajah bahagia. Perlahan ia keluarkan catatan nama-nama yang akan ia belikan souvernir atau oleh-oleh.


"Sarah, Adam, mama, Papa, Antika, Andira, Om Deka, Tante Risma, eyang putri, dan oh my God semuanya harus kita belikan Dik." ujarnya dengan mata membola. Kertas panjang yang ia bawa belum memuat karyawan di Resto D'SOV dan para pelayan di rumah besarnya.


"Ada lagi yang kamu lupa Sovi."


"Apa?"


"Belikan juga oleh-oleh untuk para readers setia Gadis Pemimpi, othornya juga jangan lupa. Gantungan kunci gak papa lah untuk neng othor itu. hehehe." ujar Rara dengan tawa cekikikan.


"Ide yang bagus." jawab Andika cepat.


"Lebih murah dan efisien." tambah Rama dengan senyumnya.


"Awas kalian!" teriak othor yang masih ada di Tokyo Tower. Ternyata ia ketinggalan kereta gaess,🤭.


Setelah membeli banyak oleh-oleh dan langsung mengepak dan mempaketkan barang-barang tersebut lewat jasa pengiriman online ke Indonesia agar pas mereka sampai paket mereka pun sampai juga.


Mereka masih ingin melanjutkan perjalanan ke The Kokyo Higashi Gyoen Garden (Imperial Palace East Garden) adalah taman dari istana kekaisaran Jepang yang dibuka untuk publik sejak tahun 1968.


Taman seluas 115 hektar ini memiliki 9 jembatan yang menghubungkan Honmaru (Main castle) dengan taman yang terpisah oleh parit raksasa. Kita bisa berkeliling taman ini dengan sepeda.


Taman ini terletak di dekat stasiun ** Tokyo dan stasiun Tokyo Metro Otemachi Station. Mereka bisa.saja berjalan kaki dari stasiun menuju ke taman ini.


Drrrrt


Drrrrrt


Drrrrrt


Rama mengangkat panggilan teleponnya dengan wajah berubah khawatir. Mereka semua harus pulang sekarang juga ke Indonesia karena sedang ada kejadian buruk di rumah keluarga Raditya.


---Bersambung--


Mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


.

__ADS_1


__ADS_2