
Sarah memasuki rumah kediaman Raditya dengan menutup wajahnya. Ia tak mau penghuni rumah tahu kalau ia sedang bersedih.
Tetapi mata dan perasaan seorang mama tak akan bisa dibohongi. Vita langsung menahan langkah sang putri yang ingin langsung ke lantai 2 dimana kamarnya berada.
"Sarah? kamu darimana sayang sampai jam begini baru tiba di rumah." Sarah tidak menjawab, ia hanya ingin menghindar.
"Sarah?" panggil sang mama sembari memegang tangan putrinya lembut.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa Ma, aku cuma mau sholat, ini sudah sangat lewat waktunya Ma, maaf." ujar gadis itu kemudian benar-benar berlalu dari hadapan sang mama.
Vita menarik nafas berat. Ia harus mencari suaminya. Masalah Sarah ini harus ia bicarakan dengan papa dari anak-anaknya itu. Ia pun menoleh kearah Sovia yang sedang sibuk nonton acara televisi bersama suaminya, Andika.
"Sovi, kamu lihat Papa gak?"
"Gak ma, tadi kan baru saja duduk sama kita di sini."
"Kemana ya?" tanya Vita bagai bertanya pada udara yang berhembus.
"Qiya lihat tadi papa sama glandpa masuk ke ruangan sana," tunjuk gadis kecil putri dari Rama itu kearah ruang kerja sang suami.
"Makasih cucunya uti, mmmuah." ujar Vita sembari mencium pipi Qiya sang cucu.
"Glanny bukan Uti." protes Qiya pada sang nenek.Vita hanya tersenyum dibuatnya. Cucunya itu tidak mau memanggilnya sebagai uti atau eyang Putri, ia lebih suka memanggil nenek dengan glanny atau glanpa.
Vita mendorong pintu ruang kerja sang suami dengan tenaga pelan. Ia ingin melihat ada apa di dalam sana. Dan ternyata matanya melotot tak percaya ketika ia melihat Adam sedang disidang di ruangan itu di depan Gala dan Rama putranya.
"Ada apa ini?" tanyanya penasaran. Pasalnya Adam seperti seorang terdakwa saja. Diberondong beberapa pertanyaan yang menjebak.
Gala, Rama, dan Adam sama-sama menoleh ke sumber suara. Ada Vita Maharani di sana memandang mereka bertiga.
"Adam? kamu ada di sini?" tanya Vita dengan wajah masih menyimpan tanda tanya besar.
"Iya, tante," jawab Adam kemudian berdiri dari duduknya dan menyalami Vita Maharani.
"Apa kamu datang bersama Sarah tadi?"
__ADS_1
"Iya tante."
"Darimana kalian?" sekarang giliran Vita yang bertanya dengan pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh suami dan putranya tadi.
"Aku membawa Sarah ikut reuni teman-teman kampus dulu, mereka yang memintaku untuk membawanya kesana.
"Trus Sarah pulang sambil nangis kenapa bisa, Adam? apa ada sesuatu yang terjadi di sana?" Adam diam dan menatap semua orang.yang ada di dalam ruangan itu.
"Apa kamu melakukan sesuatu yang buruk pada adik ku Adam?" geram Rama dengan tak sabar.
"Tidak kak sungguh, aku tidak melakukan apa-apa padanya. Aku hanya mengatakan kalau aku mencintainya dan dia lantas marah padaku." jelas Adam dan menatap wajah Gala yang juga sedang menatapnya.
"Sarah membenciku karena aku tidak pernah berkabar padanya selama ini. Padahal aku sangat ingin tetapi Om Gala yang melarang aku." Adam berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan,
"Sekarang Om bisa lihat apa akibatnya bagi hubungan ini. Sarah membenciku. Itu yang om mau?" tanya Adam dengan suara bergetar menahan emosi.
"Mas?" Vita memandang wajah sang suami dengan perasaan yang sangat sedih. Rupanya suaminya sendiri punya andil dalam segala kesedihan yang dialami sang putri.
"Yah, aku memang menyuruhmu untuk membatasi hubunganmu dengan Sarah putriku. Itu karena aku ingin kamu sukses di sana tanpa terganggu dengan urusan percintaan atau apalah namanya. Dan hasilnya apa? sekarang kamu pulang dengan nilai yang sangat bagus dan waktu yang sangat cepat kan? Sarah juga bisa bekerja dengan tenang." jelas Gala dengan wajah datar.
"Bagi om dan papamu sendiri. Perempuan itu nomor dua saat cita-cita dan pendidikan adalah hal yang harus kami raih terlebih dahulu."
"Warisan yang paling berharga untuk anak cucu adalah ilmu dan akhlak nak, harta ini bisa habis dalam sekejap mata, tetapi ilmu dan akhlak yang baik akan selalu bertahan dan menjadi modal yang kuat untuk masa depan kamu dan keluargamu kelak."
"Betul itu Dam, aku juga setuju dengan Papa," ujar Rama sembari menepuk bahu Adam.
"Kami disini menjaga Sarah untukmu. Yang penting kamu kembali dengan sukses membawa ilmu yang bermanfaat."
"Tapi gara-gara itu Sarah jadi berubah sama aku om, dia marah dan menuduhku yang tidak-tidak." ujar Adam dengan wajah menunduk sedih.
"Ngambek itu biasa. Sekarang kami beri kamu waktu untuk menjelaskannya pada gadis manja itu." ujar Gala memberikan izin untuk Adam menemui putrinya.
"Tapi Om, Sarah tidak mau mendengar penjelasanku." ujar Adam lagi dengan wajah masih cemberut.
"Hey anak muda, kupikir kamu bertahun-tahun di negara orang sudah tahu cara membujuk perempuan ternyata kamu masih harus belajar sama kami ya?" ujar Gala dengan senyum diwajahnya.
"Biar mama yang membujuk Sarah mas," timpal Vita menengahi.
__ADS_1
"Kali ini Adam yang harus jadi pria gentleman. Aku ingin lihat sejauh mana kamu bisa menaklukkan putriku yang keras kepala itu, sana cepat ke atas."
"Baik Om, tante, kak Rama aku ke atas ya." ujar Adam kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
"Tapi ingat! jangan macam-macam!" teriak Gala dari belakang punggung pria muda itu. Adam tidak menjawab ia hanya fokus untuk mendapatkan hati Sarah.
Dengan langkah cepat ia menaiki tangga dan langsung masuk ke kamar gadis itu. Ia tak sabar untuk menjelaskan semuanya. Kalau ia mengetuk takutnya Sarah malah menolaknya dan menyuruhnya keluar.
Dan apa yang dilihatnya di dalam kamar itu malah membuat konsentrasinya untuk menjelaskan semuanya jadi hilang. Sarah seperti biasa saat berada di dalam kamarnya, ia hanya akan memakai pakaian yang sangat kurang bahan, hanya beberapa saja yang bisa ia tutupi dari kain-kain yang sangat sedikit itu.
Saran othor, kalau ingin berkunjung ke tempat pribadi orang lain, haruslah minta izin dan mengetuk pintu dahulu, Adam!!!! atau kamu akan melihat sesuatu yang belum pantas kamu lihat.
Adam tak berkedip, rasa rindu dan juga hasrat yang mulai tak terkontrol membuatnya betah melihat gadis kesayangannya itu dengan penampilan seperti itu.
Ada rasa ingin memuji ciptaan Tuhan itu dengan sentuhan dari tangan dan bibirnya. Ia benar-benar terpesona dengan penampilan Sarah yang sekarang. Lebih berisi pada tempat favorit sejuta umat itu yang selalu tertutupi oleh pakaian longgar yang sering dipakai oleh sang Gadis.
Setelah sekian menit, barulah Sarah sadar kalau Adam sudah berada di dalam kamarnya dan melihatnya dengan pakaian yang sangat terbuka seperti itu.
"Adam?!!!" teriak Sarah sambil berlari mengambil selimut atau apa saja untuk menutupi tubuhnya yang putih mulus itu.
"Keluar kamu! tidak sopan banget sih, masuk kamar orang tanpa minta izin, keluar!" teriak Sarah dengan marah. Ia sampai melempari Adam dengan bantal dan menunjuk pintu keluar dengan tangannya. Adam tersenyum samar lalu keluar dari kamar itu.
"Gimana? sudah bereskan?" tanya Gala yang mendapati putra dari Deka Roland itu sudah sampai di lantai satu rumah besar itu.
"Iya Om. Dan sekarang aku ingin melamar putrimu untuk menjadi istriku, saat ini juga." ujar Adam dengan wajah datar. Hasratnya pada Sarah sungguh sudah berada dipuncak sekarang. Gala mengerti apa yang terjadi pada anak muda ini. Ia juga pernah merasakan hal yang sama dulu.
"Baiklah bawa Papa dan mamamu untuk datang secara resmi besok. Kami tunggu di sini " ujar Gala sembari menepuk bahu Adam. Pria itupun pamit untuk pulang ke rumahnya dengan segala pikiran mesum yang berkecamuk dalam hatinya.
Astaghfirullah Adam kamu harus sadar.
Tapi ya Ampun Sarah cantik sekali.
Sarah, semoga aku bisa tidur nyenyak malam ini.
Adam terus bermonolog sendiri sementara ia mengemudikan mobilnya. Ia ingin cepat sampai rumah dan memberitahukan niat baik ini untuk papa dan mamanya. Ia ingin menikahi Sarah secepatnya.
---Bersambung--
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍