
"Wah ada pengantin baru nih, kok malah mau ngeluarin keringat di sini sih?" tanya Andika saat Adam ikut bergabung di ruangan Gym milik keluarga Raditya pagi itu.
"Dam? Kamu okey kan?" tanya Rama ikut kepo saat melihat adik iparnya itu benar-benar ada di sana bersama mereka para pria dari keluarga Raditya.
Adam hanya tersenyum kecut, ia sangat mengerti pertanyaan dua orang kakak iparnya itu. Mereka pasti ingin meledaknya.
"Dulu tuh aku gak keluar kamar sampai berhari-hari lho, Dam." ujar Rama lagi.
"Aku pun," lanjut Andika tersenyum simpul.
"Karena apa coba?" tanya Rama pada Adam yang sedang sibuk dengan treadmillnya.
"Karena gak rela Dam, kalo cuma sekali Hahahaha." ledek Rama sembari menepuk bahu adik iparnya itu yang sedari tadi cuma diam saja. Rama dan Andika saling berpandangan kemudian saling mengangkat bahu.
"Ada apa sih kok gak semangat? biasanya pengantin baru tuh pagi-pagi begini rambutnya basah trus senyumnya selalu merekah nah kamu wajah kok kusut begitu?" Rama menyentuh bahu adik iparnya yang masih berjalan dengan kecepatan sedang diatas treadmill.
"Apa Sarah tidak melayanimu dengan baik Dam?" tanya Rama lagi karena Adam masih bertahan tidak menggubris ledekan dari para pria yang sudah beranak 2 itu.
"Aku akan mengajari istrimu itu Dam," ujar Rama kemudian segera melangkah keluar dari ruangan itu. Tetapi Adam segera melompat dan menghalau kakak iparnya itu.
"Jangan Kak, Sarah sangat welcome kok, cuma ia lagi kedatangan tamu bulanan aja," ujar Adam pelan dan langsung membuat Rama tertawa terbahak-bahak.
"Kasihan kamu Dam, kamu harus liburan sekitar 7 atau 8 hari." ujar Rama kemudian meninggalkan sang adik ipar yang menganga tidak percaya.
Datang bulan sampai 7 hari? oh my God!
"Kenapa Dam? belum berhasil nyetak gol ya, sampai muka kusut begitu?" tanya Andika yang ikut menghampiri Adam di depan pintu.
__ADS_1
"Hem," jawab pengantin baru itu singkat.
"Kasihan, kasihan, kasihan," ujar Andika meniru gaya Upin dan Ipin dan meninggalkan Adam sendiri dengan segala kemelut dihatinya.
π
"Sayang, Zydan masih bobok ya?" tanya Rama dengan berbisik di kuping sang istri yang juga sedang terkantuk-kantuk saat sedang menyusuui putra keduanya yang sudah berusia 1 tahun itu.
"Hemm, mas Rama? darimana Mas?" tanya Rara sembari memperbaiki posisi tidurnya menjadi menghadap ke atas. Tadinya ia sedang tidur miring sembari mengeloni sang baby boy, putra kedua mereka.
Rama begitu terkesima dengan pemandangan indah di depannya. Aset istrinya nampak menyembul keluar karena kancing- kancing baju bagian atasnya masih terbuka dengan bebas.
"Ra' kamu ngantuk gak?" tanya Rama tanpa melepaskan pandangannya pada pemandangan indah di depannya.
"Sedikit mas, habisnya semalam Zydan rewel banget kan, jadi aku kurang tidur." ujar Rara memandang wajah sang suami yang sepertinya menginginkan sesuatu darinya.
"Boleh aku minta itu gak sayang, haus banget nih habis olahraga," pinta Rama sembari dagunya menunjuk benda favoritnya yang begitu menggodanya pagi ini. Rara cuma tersenyum dan menarik tangan sang suami untuk mendekat padanya.
Perlahan ia mendekat dan ikut naik ke tempat tidur dan membuka semua kancing depan sang istri agar ia lebih bebas bereksplorasi menggunakan tangan dan mulutnya.
Tetapi baru saja tangannya mulai bergerak menyentuh tombol berwarna pink penghantar energi ke seluruh sistem sarafnya dan Rara tiba-tiba Qiya sang putri pertama muncul di depan mereka sembari mengucek matanya karena baru bangun tidur.
"Mama! aku bermimpi buruk huaaaaa," gadis kecil itu langsung menubruk sang mama yang sedang dalam posisi dan kondisi yang sangat tidak memungkinkan.
"Cup cup sayangnya mama? kok bisa mimpi buruk sih?" tanya Rara dengan tangan cepat menutupi tubuhnya yang sudah terbuka semuanya.
Rama hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal dan segera bangun dari tempat tidurnya. Ia nampak sangat frustasi dan kecewa. Tetapi ia tetap mengelus rambut sang putri.
__ADS_1
"Jika mendapat mimpi buruk, meludahlah tipis ke sebelah kiri sebanyak tiga kali sayang," ujarnya sembari menatap wajah putri pertamanya itu.
"Apa seperti ini Pa?" tanya Qiya kemudian melakukan seperti yang dikatakan sang Papa. Rama mengangguk.
"Kemudian bacalah ta'awudz, yaitu Audzubillahi minasyyaithaanirrajiim," lanjut Rama dan diikuti sekali lagi sama sang putri.
"Terus apalagi Pa?" tanya Qiya sembari menghapus airmatanya.
"Kembalilah tidur dan ubah posisi tidurmu sayang," jawab Rama kemudian menggendong putri kecilnya ke arah kamarnya yang bersebelahan dengan kamar mereka berdua.
"Tapi Qiya sudah tidak ngantuk Pa, ini kan sudah pagi ngapain tidur lagi? lihat matahari pun sudah bersinar terang." ujar Qiya yang langsung membuat Rama tersenyum canggung.
"Karena Papa ada urusan dulu dengan Mama boleh ya?"
"Boleh Pa, bawa Qiya keluar bertemu glanny trus Papa bisa lanjutkan yang tadi," jawab Qiya yang langsung membuka Rama tersentak kaget.
"Emang kamu lihat Papa bikin apa sama Mama sayang?" tanya Rama hati-hati.
"Lihat dong, Papa kayak dedek Zydan hihihi suka mimcus sama Mama," Rama meremas tengkuknya karena malu. Ia merasakan pipinya memanas.
"Jangan bilang-bilang ya kalau Papa suka seperti dedek Zydan," ujar Rama kemudian mencium pipi putrinya itu.
"Siap Pa, Qiya kan anak pintar jaga rahasia, hihihi." sekali lagi Rama merasakan pipinya memanas. Mulai sekarang ia harus mengunci semua pintu dan jendela jika ingin kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
---Bersambung--
Hai readers tersayangnya othor mohon like dan komentar dong, supaya aku merasa ada dan dihargai gituπ€
__ADS_1
Aku merasa ngehalu sendiri lho.
Nikmati alurnya dan happy reading πππππ