
Miska Todler dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis. Hampir sebulan ia menolak untuk makan dan minum. Ia hanya minum saat dipaksa. Kerjanya hanya menangis dan melamun. Tak ada lagi aura kesombongan yang selalu ia tampakkan di depan umum. wajah cantiknya berganti menjadi wajah pucat dan tirus.
Kapsari Prayanti sudah tidak tahu harus melakukan apa. Ia sudah mencoba mengajak bicara putrinya agar beban yang dipikulnya bisa ia bagi kepada dirinya. Miska tetap bungkam dan tak mau bicara. Hari-harinya ia isi dengan menatap layar handphonenya yang menampilkan kolase gambar-gambar Reno yang pernah ia ambil diam-diam.
"Nona Miska positif nyonya" suara seorang dokter membuyarkan lamunannya.
"Positif apa dokter?" tanya Kapsari dengan wajah takut. Ia takut akan pikirannya yang selalu mengarah ke sana. Melihat gejala yang ia lihat pada tubuh Miska.
"Ia hamil dan sudah ada janin yang tumbuh dalam perutnya" ujar dokter itu yang rasanya seperti petir yang menyambar di kupingnya.
"Mohon kesehatan calon mama dijaga. Karena akan berakibat buruk bagi janin yang ada dalam kandungannya" lanjut dokter itu sembari menatapnya yang hanya bisa terdiam.
"Terima kasih banyak dokter" ujar Kapsari dengan suara tercekat. Ia sudah bisa membayangkan masa depan Miska yang kelam. Dengan menghapus air matanya ia keluar dari kamar perawatan putrinya setelah menitip pesan pada suster jaga kalau ia ingin keluar sebentar.
Kapsari Prayanti tiba di kediaman Sebastian pagi-pagi sekali. Ia datang dengan menggunakan taxi. Tanpa mengucapkan salam ia langsung menerobos masuk ke dalam rumah mewah itu mencari tuan rumah. Ia yang seorang ibu rumah tangga tahu betul dimana harus mencari nyonya dipagi seperti ini tiada lain yaitu di dapur.
"Jeung Ninick" Panggil Kapsari dengan suara tercekat di tenggorokan menahan sedih dan amarah dalam hatinya. Ninick yang sedang menyiapkan sarapan langsung berbalik dan memandang tajam wanita paruh baya yang juga sedang menatapnya.
"Mari silahkan duduk dulu" ujar Ninick berusaha menahan perasaannya. Emosinya serasa diaduk. Ia sudah punya firasat tidak enak saat melihat tatapan yang tak biasa itu.
"Saya sedang tidak ingin berlama-lama jeung. Saya mohon dengan sangat pertanggungjawaban Reno putra anda"
"Miska sekarang sedang kritis di rumah sakit. Tadinya saya menganggap ini adalah nasib buruk putri saya yang harus kami terima dengan lapang. Dan saya berniat tidak akan meminta apa-apa" Kapsari menyusut air matanya dengan menggunakan sapu tangan yang sedari tadi dibawanya. Ninick diam mendengarkan, sebagai seorang Ibu ia sangat tahu perasaan Kapsari.
"Tetapi setelah mengetahui kalau ada janin yang tumbuh dalam perutnya. hiks... saya tidak akan sanggup jeung" tangisnya pecah. Ia menelungkupkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata di kedua telapak tangannya. Ninick menariknya dalam pelukan. Ia sangat menyesali kejadian ini. Karena putranya telah merusak dan menghancurkan hidup anak gadis orang lain.
"Ada apa ma?" Tanya Reno bingung melihat kedua perempuan itu berpelukan sembari menangis. Perlahan pelukan itu terlepas. Kapsari memandang Reno dengan wajah sendu. Ada banyak luka Dimata perempuan itu.
"Nak, jenguklah Miska" ujar Kapsari sembari meraih tangan Reno.
__ADS_1
"Sekali saja"
"Kalau kamu tidak bersedia menikahinya tidak apa, Tante ikhlas. Bujuk saja ia untuk hidup demi janin yang sedang dikandungnya" Kapsari kemudian pergi tanpa pamit. Ia sudah tidak bisa menahan kesedihannya.
Reno masih berdiri di sana dengan pandangan kosong sampai mamanya menepuk bahunya pelan.
"Pikirkan baik-baik nak"
"Mama tahu kamu tidak mencintainya tetapi ini terjadi karena kesalahanmu"
"Mama tahu kamu sudah dewasa dan pastinya bisa memberikan keputusan yang terbaik" Ninick juga meninggalkannya dengan segudang perasaan yang bercampur aduk.
Sejak niat baiknya ditolak oleh papanya Miska. Masalah ini tak pernah lagi diungkit oleh keluarga ini. Mereka berusaha menghindari pembicaraan tentang aib yang telah dilakukan oleh Reno. Tetapi tidak bagi Reno. Kenangan buruk itu selalu menghantuinya. Ia dihantui oleh wajah Miska yang kesakitan saat ia memaksakan hasratnya yang tak bisa ia kendalikan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Perlahan ia mendorong pintu besar itu. Matanya langsung terpaku pada seorang gadis yang masih meringkuk malas di tempat tidur. Begitupun balita tampan dengan posisi yang sama.
Mata Gala kembali mendapat vitamin A dengan pemandangan indah di depannya. Selimut Vita sudah tidak berada di tempatnya menampilkan lebih dari yang ia lihat semalam. Gala mati-matian menahan sesuatu di bawah sana yang sedang menggeliat sangar.
"Vit, bangun sayang" ujarnya sembari menyusuri wajah cantik itu dengan jari-jarinya. Vita hanya melenguh kemudian melanjutkan lagi tidurnya. Ia memang kurang tidur semalaman karena menangis hingga dini hari.
"Bangun sekarang atau..." bisik Gala ditelinganya hingga membuatnya geli dan langsung bangun dan lari ke kamar mandi.
"Baju ganti sudah aku siapkan di dalam" teriak Gala yang justru membangunkan Rama.
"Mama...mana mama..." ujarnya sembari mengucek matanya.
"Mama lagi mandi...sini sama papa" ujar Gala membujuk ia ingin belajar menjadi papa yang baik.
__ADS_1
"Ndak mau ..Ama mau cama mama..Huaaa" Rama malah menangis. Untungnya Nyonya Mawar cepat datang dan menggendongnya keluar.
"Ngapain kamu disini, Gal?" tanya mamanya curiga. "Masak pagi-pagi sudah ada di tempat tidur seorang perempuan?"
"Lagi mau lihat yang seger-seger ma" jawab Gala santai.
"Ayok keluar" Nyonya Mawar menarik tangan putranya agar segera menunggu di ruang makan saja.
Setelah mandi Vita pun langsung bergabung di ruang makan. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting tentang Rama. Semua orang menunggunya terutama Rama yang sedari tadi mencarinya. Ia belum terbiasa dengan orang-orang baru dan suasana yang baru ini.
"Mari Bu, saya gendong" Vita meraih tubuh Rama dari pangkuan nyonya Mawar.
"Mmm bau acem" ujar Vita sembari mengendus leher Rama dan menggelitiknya agar ia kembali ceria.
"Aaaa mama...udah ma... geli maa." Rama menjerit-jerit lucu yang membuat seluruh ruangan menjadi ramai. Semua orang senang melihat kebahagiaan mereka berdua. Nyonya Mawar sampai menitikkan air mata karena bahagia. Lama sekali rumah ini sepi tanpa kehangatan seperti ini.Mereka layaknya keluarga bahagia kerena kehadiran perempuan cantik yang ia curigai disukai oleh putranya.
"Ada yang mau Gala sampaikan ma" ujar Gala ketika mereka semua selesai menyantap sarapan. Nyonya Mawar memperhatikan Gala putranya yang sedari tadi berseri-seri dan itu tidak pernah ia lihat sebelumnya.
"Bicaralah"
"Begini ma..." lanjut Gala karena perhatian mamanya sudah ada padanya dan sekaranglah saatnya. Ia menatap Vita yang tersenyum malu dan semakin membuatnya bersemangat.
Bersambung
🍁🍁🍁🍁🍁
Hai, jangan lupa like, komentar , dan kirim juga hadiah nya.
Happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1