Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 207 Bukan Cuma Butuh Cinta


__ADS_3

Andika benar-benar ingin melakukan demonstrasi besar-besaran kalau niatnya untuk segera menghalalkan Sovia masih ditunda-tunda juga karena alasan kesibukan dua keluarga besar, Raditya dan Sebastian.


"Eyang, aku tak akan pulang ke rumah dan menginap di kantor saja sampai waktu yang tidak ditentukan!." ujarnya pagi itu pada Ninick sang eyang putri kesayangannya.


"Lho kenapa Sayang? kamu udah gak betah ya tinggal di rumah?" tanya Ninick penasaran. Ia menatap cucu tampannya itu yang sedang melipat tangannya di dada khas orang ngambek.


"Pokoknya aku gak akan pulang ke rumah kalau tuntutanku tidak juga di loloskan." ancam Andika dengan wajah bersungut-sungut marah.


"Memangnya kamu nuntut apa?" Ninick tersenyum lucu karena cucu pertamanya itu bertingkah seperti anak kecil yang menginginkan sebuah balon gas di sebuah hajatan. Mogok pulang dan mengancam.


"Segera percepat pernikahan aku sama Sovia, eyang ku sayang."


"Hahahaha, kirain tuntutan minta harga minyak turun." Ninick sampai memegang perutnya karena merasa Andika sangat lucu dan menggemaskan. Ia lantas mencubit pipi cucu tampannya itu dengan gemas.


"Udah kebelet ya?" tanya Ninick dengan senyum dikulum.


"Banget eyang. Sovia suka jual mahal, disentuh pun tak mau. Kan aku jadi keki."


Plak


Ninick langsung menabok punggung cucunya itu keras.


"Ih, eyang. Kok aku ditabok sih?"


"Itu karena Sovia gadis yang bisa menjaga kehormatannya. Ia mau semuanya fresh, segar dan hanya kamu yang pertama membuka dan mencicipinya nanti saat sudah halal." jelas Ninick dengan senyum bangga punya calon cucu mantu yang sangat menjaga dirinya.


"Tapi kan cuma mau pegang tangan doang." gerutu Andika sedikit mendramatisir.

__ADS_1


"Eh, bermula dari pegangan tangan kemudian pegang yang lain dan akhirnya kebablasan trus berakhir penyesalan." ujar Ninick sembari menatap cucunya itu dalam. Ia berharap putra dari Reno Sebastian itu paham maksudnya. Andika hanya tersenyum simpul. Kemudian ia kembali menatap balik eyangnya.


"Aku tunggu kabar eyang tentang penentuan hari akad itu ya. Harus bulan ini." ujar Andika kemudian berlalu dari hadapan eyangnya. Ia sampai membawa satu buah kopernya yang berisi pakaian dan perlengkapannya selama ia akan menginap di kantornya.


"Dika! kamu serius gak akan pulang ke rumah sayang?" tanya Ninick dengan wajah khawatir. Ia tak percaya kalau ancaman anak itu benar-benar ia buktikan.


"Serius eyang. Masak Dika bercanda sih. Ini tuh isinya pakaian dan perlengkapan lainnya." jawab Andika sembari mendorong koper besarnya keluar rumah. Ia tampak seperti seorang penyanyi yang sedang tereliminasi dari ajang pencarian bakat. Ninick hanya bisa memandang punggung Dika yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Anak itu ya. bener-bener beda sama papanya." ujar Ninick Kemudian mengambil handphonenya. Ia ingin membuat janji dengan Vita Maharani dan Gala Putra Raditya. Mereka harus segera membicarakan waktu yang tepat untuk pernikahan cucunya itu dengan Sovia putri Raditya secepat mungkin. Ia tak rela Andika bermalam di kantor dan akhirnya digoda oleh Wewe gombel yang berwujud karyawan yang sedang lembur.


🍁


Hari pernikahan Sovia dan Andika akhirnya diputuskan akan berlangsung pekan ini. Keluarga besar memutuskan tidak mengadakan perayaan atau resepsi besar-besaran seperti pada pernikahan Rama dan Rara beberapa waktu yang lalu.


"Sovi, Kamu gak keberatan kan, kalau pesta pernikahanmu tak semewah kakakmu?" tanya Vita hati-hati. Ia tak mau dianggap sebagai orang tua yang tidak adil pada putra-putrinya dalam hal apapun.


"Ya tidaklah Ma. Kok bisa sih mama berpikir aku keberatan?" ujar Sovia sembari memandang wajah mamanya yang masih sangat cantik diusianya yang sudah matang.


"Ya siapa tahu kan. Mama mau kalian semua bahagia, dan mama bersyukur kalian menikah dengan pilihan kalian masing-masing." Vita menyentuh bahu putrinya lembut.


"Itu berarti, kalian percaya bahwa cinta kalian akan membantu kalian mengarungi bahtera rumah tangga kedepannya." Sovia menunduk merenungi kata-kata mamanya yang bermakna sangat dalam.


"Sebentar lagi kamu bukan lagi milik kami. Setelah ijab kabul selesai dan dinyatakan sah, kamu adalah milik suamimu. Milik Andika Sebastian. Patuhi dia. Dengarkan perintahnya. Dan jangan sekali-kali keluar rumah tanpa izinnya." jelas Vita dengan mata berkaca-kaca. Ia tiba-tiba merasa hatinya menghangat dan tak menyangka akan secepat ini berpisah dengan putri yang dilahirkannya beberapa tahun yang lalu.


Waktu ternyata begitu cepat berlalu. Vita memeluk putrinya dengan perasaan berkecamuk.


"Ma, jangan bersedih. Aku akan tetap tinggal di rumah ini kok sama Dika, meskipun kami sudah menikah." ujar Sovia menghibur mamanya. Ia juga sangat bersedih tetapi ia berusaha menahannya. Ia tak mau mamanya malah semakin berat melepasnya.

__ADS_1


"Sovi, dulu mama sama Papa pernah marahan karena hal yang sangat besar. Kami mengalami krisis kepercayaan diantara kami berdua. Hingga kamu waktu itu menjadi korbannya dan hampir saja tidak selamat di kandungan mama." Sovia menegakkan tubuhnya ingin mendengar kisah sedih yang pernah terjadi pada keluarga papa dan mamanya. Ia kira kedua orang tuanya tak pernah mengalami pasang surut pernikahan. Mereka berdua tampak selalu mesra dan bahagia.


"Gimana bisa Ma?" tanya Sovia penasaran.


"Ada orang ketiga diantara kami, sayang." jawab Vita sembari membayangkan kembali kekacauan keluarganya pada saat itu.


"Dan juga kami tidak saling percaya. Dan itulah awal mula keretakan hubungan papa dan mama." Vita menarik nafas panjang kemudian melanjutkan, " Mama cuma mau kasih tahu ke kamu, kalau kalian berdua harus saling jujur sekecil apapun masalahnya. Jangan disimpan kalau ada sesuatu yang tidak beres karena dari situlah biasa muncul masalah baru."


"Iyya Ma.Terima kasih nasehatnya." Sovia memeluk mamanya dengan penuh perasaan. Dalam hati ia berjanji akan selalu mendengarkan mamanya agar keluarganya nanti bisa juga langgeng seperti kedua orangtuanya.


"Ingat nak, Pernikahan itu tidak hanya butuh cinta tetapi juga butuh rasa saling percaya dan jujur." lanjut Vita yang diangguki oleh Sovia. Ia kemudian bersiap-siap keluar dari kamar putrinya yang sudah disulap menjadi kamar pribadi. Selama ini Sovia dan Sarah selalu berbagi kamar sejak kecil. Tetapi karena ia sebentar lagi akan menikah makanya Sarah di deportasi ke kamar sebelahnya yang memiliki bentuk dan luas yang sama.


Sarah sempat tidak mau berpisah dengan kakak perempuannya itu, tetapi semua orang membujuknya kalau ia sudah dewasa dan juga tidak menutup kemungkinan akan segera menikah juga dan butuh kamar pribadi yang hanya dimiliki oleh ia dan suaminya.


Vita menutup kamar putrinya itu dengan rasa sedih yang masih bergelayut di relung hatinya.


"Sayang," ujar Gala yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Mas, aku kok gak kuat sih kalau Sovia cepat menikah. Belum rela gitu." ujarnya sembari menghapus air matanya yang menyeruak dari matanya.


"Saat mereka semua sudah dewasa, kita harus siap berpisah karena mereka akan diambil oleh keluarga baru yang akan menyayangi mereka sama seperti kita menyayangi mereka." ujar Gala tenang.


"Mas, aku belum rela, hiks." Gala langsung membawa Istrinya itu ke kamar. Ia akan memberikan sesuatu agar istrinya itu melupakan kesedihannya.


---Bersambung--


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat update nya.

__ADS_1


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2