Gadis Pemimpi

Gadis Pemimpi
Part 243 Gara-gara Rambut Kriwil Lagi


__ADS_3

Setelah mendengar kabar dari polisi kalau jejak si pencopet handphone Sarah sudah terdeteksi. Rama bernafas lega dan memberikan kabar gembira itu pada Sarah sang adik yang masih saja berwajah muram.


"Kamu ganti deh wajahmu yang jutek itu jadi cantik. Atau aku kirim wajahmu yang jelek ini ke Adam sekarang juga." ujar Rama sedikit mengancam karena Sarah masih tampak tak bersemangat. Sarah langsung mendelik kesal.


"Ih kak Rama bikin kesel." ujarnya dengan nada manja.


"Udah ah, aku sama Rara pamit Ma. Ada acara lagi setelah ini." ujar Rama kemudian pergi dari ruang perawatan Reza itu dan melanjutkan kegiatan mereka berikutnya, mengajak sang istri untuk menghadiri acara dengan koleganya di sebuah restoran.


Rama merasa aneh dengan pria yang mungkin lebih tua daripada dirinya itu. Seorang kolega baru dari kota lain di negara ini. Sejak ia baru sampai di tempat itu dan memperkenalkan Rara sebagai istrinya. Mata kurang ajar dari kolega barunya itu seakan ingin menelan habis istrinya. Rasanya ia ingin mencongkel mata itu karena cemburu.


"Saya rasa kesepakatan kita tentang proyek itu sudah bisa kita buatkan MOU, pak Rama." ujar Pak Aril nama pria itu.


"Ah, iya anda benar sekali pak Aril. Akan saya kirim lewat email file MOU itu pada bapak, secepatnya." jawab Rama yang sudah mulai merasa jengah dengan tatapan kurang ajar Aril pada kekasih hatinya.


"Tidak usah dikirim lewat email pak Rama. Saya rasa kita bisa bertemu langsung seperti ini saja. Saya lebih suka daripada lewat daring Atua online. Apalagi kalau anda membawa istri anda itu pasti akan lebih menyenangkan."


Rama mengepalkan tangannya dibawah meja. Ingin rasanya memberikan satu pelajaran penting di wajah pria ini kalau ia tidak ingat tentang kesopanan.


"Rambut istri anda sangat seksih pak Rama, mengandung magnet tersendiri bagi saya." lanjut Aril lagi dan berakhir dengan satu pukulan diwajahnya dari tangan Rama yang sudah sangat gatal ingin mencari samsak.


"Awwww! Anda kurang ajar ya, apa salah saya pak Rama!" teriak pria itu sembari memegang mulutnya yang ia rasakan mulai mengeluarkan cairan asin.


"Mulut anda mengandung racun dan harus segera dibersihkan. Dan ini untuk mata Anda." ujar Rama sembari memberikan satu lagi tonjokan pada mata Aril yang begitu kurang ajar menatap istrinya seperti itu.


"Kerjasama ini batal!" teriak Rama dengan emosi. Ia menarik tangan Rara agar segera keluar dari tempat itu. Rasa marah semakin menguasai hatinya. Ia benar-benar tak rela ada yang memandang istrinya seperti itu.


'Mas, kendalikan emosimu." ujar Rara sembari mengelus lembut tangan sang suami. Rama tak bergeming. Ia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas..." Rara terus memanggil suaminya dengan suara pelan agar amarahnya turun. Tetapi sepertinya Rama benar-benar sedang kalap.


"Awwww, mas berhentilah dulu. Perutku sakit." seru Rara dengan suara dibuat sangat menyedihkan dan menyayat hati. Rama akhirnya menepikan mobilnya dipinggir jalan yang begitu ramai.


"Ada apa Ra'?" tanya Rama khawatir.

__ADS_1


"Sakit perut mas, awwwww." jawab Rara sembari meremas perutnya.


"Trus gimana? kita ke Rumah Sakit ya?"


"Gak, kita masuk aja kesana. Di sini gak boleh berhenti lama-lama takut bikin macet." jawab Rara sambil mengarahkan pandangannya ke arah sebuah bangunan tinggi dan mewah di depan mereka berhenti.


"Hotel?" tanya Rama bingung. Sakit perut kok malah cari hotel, bukannya Rumah Sakit.


"Awwww mas, cepetan, ini sakit sekali udah gak tahan." teriak Rara membuyarkan pikiran Rama yang masih kebingungan. Akhirnya ia ikuti keinginan sang istri untuk masuk ke hotel itu.


"Kuat Jalannya Ra'?" tanya Rama dengan wajah khawatir karena melihat wajah sang istri masih nampak mengernyit kesakitan.


"Iya mas, kuat kok. Ayok." jawab Rara sembari menggandeng tangan suaminya untuk masuk dan memesan kamar.


"Masih sakit sayang?" tanya Rama saat melihat Rara baru dari kamar mandi dan hanya mengunakan handuk putih yang sangat pendek. Rupanya ia bahkan sudah mandi dan keramas. Rambut Kriwilnya yang sedikit basah selalu membuat Rama betah menatapnya lama-lama. Betul kata pria yang ia pukul tadi rambut istrinya itu mengandung magnet.


"Udah gak sakit mas, udah plong." jawab Rara kemudian melangkah mendekati suaminya yang menatapnya tak berkedip. Ini adalah rencananya agar Rama tidak emosi dan berakhir celaka.


"Mas,"


"Mas Rama kok natapnya gitu amat, kayak gak pernah Lihat aku kayak gini." ujar Rara dengan suara rendah, ia bahkan sudah mulai duduk dipangkuan suaminya itu.


"Aku suka kamu tanpa pakaian Ra'" ujar Rama tiba-tiba yang membuat sang istri bersorak senang. Itu berarti emosi suaminya sekarang sudah berganti kearah yang positif.


"Aku juga mas, aku juga suka mas tanpa pakaian." bisik Rara dikuping suaminya. Ia bahkan mulai berani membuka kancing-kancing kemeja sang suami sembari bibirnya bergerak nakal menyentuh keseluruhan wajah Rama sampai berakhir di bibirnya dan bermain di sana cukup lama. Sampai Rama mengerang nikmat dengan permainan nakal jari-jari lentik sang istri.


Rasa marah dan emosinya kini ia salurkan ditempat yang tepat. Semua kekuatannya ia kerahkan untuk membuat mereka berdua larut dalam nikmat tak bertepi.


"Mas, kamu hebat." ujar Rara pelan saat mereka sudah sampai kepuncak berkali-kali.


"Aku ingin ini tersimpan di sini sayang." balas Rama kemudian mengurut lembut bagian bawah sang istri berharap bibit yang ia tanam akan berhasil dan menjadi janin. Ia masih ingin menambah generasi penerus Tama Putra Raditya.


Rara hanya tersenyum dengan perlakuan lembut sang suami. Ia siap mengandung berapapun yang Rama inginkan.

__ADS_1


Setelah ritual pengalihan rasa marah ke tempat yang tepat lagi berkah. Mereka segera membersihkan diri dan bersiap pulang untuk menjemput Qiya di tempat grannynya.


"Ra' boleh aku minta sesuatu sama kamu?" tanya Rama sambil memperhatikan sang istri memakai pakaiannya kembali.


"Hem, silahkan mas." jawab Rara tersenyum. Ramapun mendekat dan mencium ujung-ujung rambut kriwil sang istri yang masih sedikit basah. Ada rasa harum dan segar yang ia rasakan di sana, hingga ia betah menciuminya lama.


"Aku ingin, aku saja yang menikmati rambutmu ini sayang, boleh ya?" bisik Rama kemudian menggigit kuping sang istri lembut.


"Iya mas, hmmm." jawab Rara sembari menikmati apa yang suaminya lakukan padanya.


"Mulai hari ini ditutup ya sayang, atau aku akan mencongkel semua mata kurang ajar yang selalu melihat rambutmu ini." geram Rama dikuping sang istri. Rara sekarang paham kenapa tadi Rama begitu emosi dan memberikan bogem pada kolega itu. Ia lantas berbalik dan mengecup bibir suaminya.


'InsyaAllah mas, aku siap." jawab Rara tersenyum.


"Tapi kok aku mau lagi ya Ra'." ujar Rama sembari meremas tengkuknya gelisah. Hanya karena sentuhan sedikit saja, kini ia mulia terbakar lagi. Rara berkedip lucu.


"Bahkan rambutku pun belum kering mas."


"Gak apa-apa kan ada hairdryer." ujar Rama kemudian mulai melancarkan serangan ketitik-titik sensitif sang istri.


Dan akhirnya mereka berdua menginap di hotel itu dan hanya memberi kabar kepada mama Diyah kalau mereka baru bisa menjemput Qiya besok pagi saja.


🍁


Kesibukan Vita Maharani sebagai eyang putri bagi kedua cucunya membuat si raja Bucin Gala Putra Raditya merasa cukup terganggu. Ia merasa kasihan dengan istrinya itu yang mulai pagi mengurus putra dari Sovia dan Andika. Ia juga merasa dinomor duakan dan kurang mendapat perhatian lagi dari sang istri.


Sovia bertahan tidak mau menggunakan baby sitter untuk menjaga putranya itu kecuali kalau ia sedang mengunjungi Restoran D'Sov. Barulah ia membawa salah satu Bibik ART di rumah kediaman Raditya. Ia terlalu protektif pada putranya itu Hingga tidak mau ada yang merawatnya kecuali orang terdekat. Gala Putra Raditya sang kakek sempat menegur Andika agar ikut membantu menjaga putranya itu.


"Kamu jangan terlalu sibuk juga di kantormu Dika. Putramu juga butuh perhatian. Apalagi istrimu sekarang lagi mengandung."


"Iya Pa." Andika hanya menunduk dan menjawab teguran papa mertuanya dengan kata Iya saja. Ia merasa papa mertuanya benar juga. Ia hanya pintar mencetak tetapi ia sendiri jarang punya waktu untuk sang putra. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil cuti untuk menjaga Reza dan juga Sovia yang sedang ngidam parah.


----Bersambung---

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2